
ADEGAN SERTA CERITA DI DALAM NOVEL INI TIDAK UNTUK DI TIRU, SAYA ANGGAP SEMUA PEMBACA SUDAH BIJAK MEMILIH BACAAN NOVEL. SEMUA CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA, JIKA ADA KEMIRIPAN DI DALAMNYA SEMATA-MATA HANYA KEBETULAN.
****
Dino meminum air putihnya, pria itu hanya melirik dengan mata dingin ke arah tangan Dirga. Nindya pun melihat ke arah Dino yang memasang wajah dingin, ia menarik tangannya perlahan dari genggaman Dirga.
"Aku ada rapat mendadak, kalian lanjutkan saja makan malamnya."
Setelah berpamitan Dino beranjak pergi bersama Felix, kemudian Jasmine yang mengantar Dino keluar pun sudah kembali duduk di meja makan.
Beberapa minggu berlalu...
Beberapa minggu dan hampir sebulan penuh Hartono dan Jasmine berada di apartmen Nindya, dan hari ini Hartono memilih untuk pulang.
"Aku hargai keputusanmu tetap tinggal di sini Nindya." Kata Hartono.
Jasmine pun hanya tersenyum dan menggosok lengan Nindya pelan.
"Jadi aku dan Jasmine yang akan ke sini untuk melihat cucuku, tapi aku harap kamu dan Dirga membawa cucu ku sesekali untuk mengunjungi kami." kata Hartono.
"Baik pah, jika Dirga luang kami akan datang." Sahut Nindya.
"Dimana Dirga?" Tanya Hartono mengedarkan pandangan.
"Akhir-akhir ini dia tiba-tiba menghilang, atau mungkin sedang keluar." Tanya Jasmine.
"Ya sudah biarkan saja. Kami pulang dulu Nindya." Kata Hartono menepuk bahu Nindya pelan.
Setelah kepergian Hartono serta Jasmine dan para pengawal mereka, apartmen pun seketika berubah menjadi sepi kembali.
Namun Nindya masih kebingungan dimana Dirga berada, pria itu akhir-akhir ini sangat mencurigakan. Nindya pun mencari Dirga kemana-mana namun tidak di temukan, akhirnya kamar mandi di atas pun terasa aneh bagi Nindya, ia pun mencoba membukanya namun terkunci dari dalam.
"Dirga apa kamu di dalam? Jika kamu di dalam bukannya seharusnya kamu pergi, papah dan mamah kamu sudah pergi." Kata Nindya sedikit mengeraskan suaranya.
Masih tidak ada jawaban, Nindya pun melengkungkan bibirnya dan memilih untuk turun.
Bell pintu pun berbunyi dan itu adalah Felix.
"Maaf Nyonya pagi-pagi saya datang." Sapa Felix.
"Iya, tapi..."
"Tuan Dirga menghubungi saya. Permisi." Kata Felix bergegas naik ke lantai atas.
"Aneh sekali." Kata Nindya.
Hingga siang hari Nindya hanya melihat Felix terus berdiri di depan pintu kamar mandi yang terkunci, Nindya mengernyitkan dahi dan tak mengerti ada apa sebenarnya dengan Dirga.
Setelah semakin sore Felix turun bersama Dirga. Saat itu Nindya sedang berada di meja makannya, menikmati beberapa cemilan buah.
Dirga berjalan santai dan mengambil segelas air minum, Nindya hanya melirik sekilas dan melanjutkan memakan buah.
"Saya permisi tuan." Kata Felix pamit.
Dirga pun hanya mengangguk pelan dan menaruh gelasnya di atas meja marmer berwarna hitam.
"Aku mau melihat Zidan." Kata Dirga meminta ijin pada Nindya dan pergi melesat ke kamar Zidan.
__ADS_1
"Tapi..." Nindya hendak memberitahu pada Dirga apa sebaiknya Dirga pulang, namun kalimatnya tidak sempat karena Dirga sudah berlenggang pergi.
Pada akhirnya, malam pun tiba dan Dirga tidur di kamar Zidan, pria itu terlihat sangat pulas. Namun Nindya mulai merasa aneh melihat wajah Dirga, wajah yang terlihat sangat lelah dan tidak segar.
"Apa dia masih sakit atau dia hanya terlalu lelah." Tanya Nindya lirih pada dirinya sendiri.
Kemudian Nindya mengambil sebuah selimut dan menyelimuti Dirga, dengan cepat alam bawah sadar Dirga terbangun dan ia pun mencengkram tangan Nindya dengan erat, membuat Nindya juga terkejut kemudian Dirga membuka matanya perlahan. Melihat itu adalah Nindya Dirga pun kembali memejamkan mata dan melepaskan cengkramannya.
Nindya kembali ke kamarnya untuk tidur.
****
Malam kian larut dan Zidan pun menangis cukup keras, perlahan Nindya membuka mata dan menghidupkan lampu kamar. Dengan rasa kantuk yang hebat Nindya beranjak dari ranjangnya menuju kamar Zidan, ketika Zidan menangis ia tidak melihat Dirga dimanapun.
Nindya pun menyusui Zidan, beberapa jam kemudian Zidan tertidur kembali.
"Kamu sudah kenyang dan sekarang tidur lagi, kamu memang tidak bisa tenang kalau lapar ya." Kata Nindya mencubit pelan hidung mancung milik Zidan.
Kemudian Nindya pun membaringkan Zidan kembali di box bayi.
"BRUK!!!"
Suara barang jatuh di lantai atas.
"Apa itu?" Tanya Nindya lirih.
Nindya keluar dari kamar Zidan dan hanya berdiri, ia tidak berani naik ke atas.
"Dirga apa itu kamu..." Tanya Nindya dari ujung tangga di lantai bawah.
Terlihat Dirga sudah jatuh diatas karpet lantai, tepat di dekat sofa pria itu meringkukkan tubuh besarnya, beberapa barang pajangan pun juga ambruk mungkin karena tersenggol.
"Dirga...!" Nindya berlari mendatangi Dirga.
Tubuh Dirga meringkuk, menggigil dan bergetar hebat.
"Dirga ada apa..." Nindya panik dan tidak tahu harus melakukan apa.
"Dirga..." Panggil Nindya lagi.
Keringat sudah mengucur dengan deras di tubuh kekar milik Dirga.
"Fel-lix... Pang-gil Felix." Suara Dirga parau dan rancau.
Nindya dengan cepat mengambil ponsel Dirga yang ada di dekat tv berukuran sangat lebar, ponsel itu sedang mengisi daya.
Nindya mengambilnya dan menghidupkannya.
"Ayoo.... Cepat!" Geram Nindya, menunggu ponsel menyala.
Setelah ponsel menyala, Nindya harus memasukkan password ponsel tersebut.
"Berapa pin nya Dirga!" Tanya Nindya, tangannya gemetar karena takut.
"Tang-gal... Pernikahan... Ki-ta." Kata Dirga terbata, tubuhnya masih meringkuk dan menggigil.
Nindya membelalakkan mata karena terkejut mendengar ucapan Dirga, pasalnya ia sendiri lupa tanggal berapa mereka menikah.
__ADS_1
Dengan keras Nindya memutar kembali ingatan yang ada di dalam otaknya, ia masih mengingat-ingat tanggal gajian saat masih bekerja di pabrik, kemudian ia menambahkan harinya. Nindya ingat betul kejadian itu selepas ia mendapatkan gaji bulanan.
Nindya menutup mata dan berkonsentrasi. Kemudian menekan beberapa angka.
Ponsel pun terbuka, Nindya mencari-cari kontak Felix dan menghubungi Felix.
"Felix! Cepat ke sini, ada yang aneh dengan Dirga!" Kata Nindya panik.
Setelah menghubungi Felix Nindya menaruh ponsel mahal milik Dirga dan kemudian berniat mengangkat tubuh Dirga.
"Ayo, kamu harus pindah ke kamar."
Nindya mencoba memapah Dirga, berulang kali Nindya mencoba namun tidak berhasil.
Tak berapa lama, Nindya mendengar langkah derap sepatu menaiki tangga, dan itu adalah Felix.
"Akhirnya kamu datang Felix." Kata Nindya dengan wajah penuh kelegaan.
"Biarkan saya yang membantu Tuan Dirga ke kamar." Kata Felix dan memapah Dirga menuju kamar tidur.
Tubuh Dirga masih menggigil, bergetar, dan juga berkeringat. Dirga meringkukkan tubuh dan memeluk lengannya sendiri.
"Ada apa dengan Dirga Felix?" Tanya Nindya masih kebingungan.
Felix tidak menjawab dan hanya mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jas nya, Felix membukanya dan terdapat sebuah jarum suntik dan satu buah ampoule obat, Felix pun menyuntikkannya ke lengan Dirga.
Nindya masih berdiri di ambang pintu, dengan satu tangan bersedekap, dan siku tangan yang lainnya bertumpu sembari menutup mulutnya. Nindya merasa prihatin.
Beberapa menit kemudian Dirga mulai tenang dan tubuhnya tak menggigil lagi.
Nindya menutup penuh mulutnya dan melihat ke arah Felix. Tubuh kuat Dirga, tubuh kekar dengan kulit putih dan perawakan yang tinggi menyerah pada obat-obatan.
Nindya menyandarkan tubuh lemasnya di pintu hingga pintu itu membentur dinding, tidak percaya Dirga menjadi seperti ini.
"Efek dari heroin yang pernah di suntikkan ke dalam tubuh tuan Dirga." Kata Felix menyesal.
Kedua mata Nindya pun memerah, ia tidak bisa bayangkan bagaimana Dirga sepanjang waktu akan kesakitan seperti itu.
"Tuan Dirga sakaw, dan tidak ingin anda tahu."
Air mata Nindya tiba-tiba saja menetes.
"Tidak mungkin." Kata Nindya tak percaya.
"Kita tidak boleh membiarkannya seperti itu Felix, lakukan sesuatu, sembuhkan Dirga!" Kata Nindya berteriak dan mencengkram jas Felix.
"Kami sedang berusaha Nona, tapi saya mohon rahasiakan ini dari siapapun, dan jangan ceritakan ini pada siapapun, Tuan Dirga tidak ingin orang lain mengetahuinya bahkan anda."
"Jadi selama beberapa minggu ini sikapnya aneh karena ini semua?"
Felix mengangguk pelan.
"Mulai hari ini saya akan ada di apartmen bawah, hubungi saya kapan saja." Kata Felix undur diri.
Nindya termenung memandangi Dirga dengan rasa iba, apalagi nuraninya sedikit diketuk oleh pengakuan Dirga. Sejak kapan pin ponselnya menjadi tanggal pernikahan mereka.
~bersambung~
__ADS_1