
Cukup lama Nindya berendam dalam air hangat untuk melemaskan otot-otot nya yang terasa nyeri, dan pada akhirnya setelah ia selesai mandi, Nindya memilih untuk berjalan sendiri tidak ingin membuat keadaan canggung dengan meminta tolong pada Dirga.
Meski Dirga suaminya, namun Nindya masih merasa tidak nyaman apalagi pernikahan mereka bukan atas dasar dari saling suka dan saling cinta belum lagi Nindya baru saja mengenal Dirga sebagai atasannya.
Nindya memakai handuk kimono milik Dirga, dan berjalan perlahan meski kaki nya masih terasa lemas serta gemetaran, sedang diantara paha nya masih terasa sangat nyeri.
Ketika membuka pintu kamar mandi, dan belum benar-bebar beranjak keluar, tanpa sengaja Nindya mendengar percakapan Dirga entah pria itu berbicara dengan siapa.
"Aku melamarnya tadi malam, dan dia menolak. Tapi dia tidak akan pernah bisa kabur, dia harus merasakan dan membayarnya, Felix sedang mengurus semua nya di kantor catatan sipil. Alexa harus tahu bagaimana perasaan ku yang sebenarnya sampai saat ini." Kata Dirga.
Seketika jantung Nindya terasa runtuh, semalam ia mendengar dengan jelas Dirga memanggil nama Alexa dan ternyata yang Dirga maksud punya urusan adalah melamar Alexa.
"Apa ini? Aku menjadi istri siri, lalu melayaninya hingga pagi, memohon dan meminta berhenti karena tenagaku sudah tidak kuat, sampai aku pingsan, dan sekarang aku mendengar dengan telingaku sendiri Tuan Dirga berniat menikahi Alexa secara agama dan secara hukum? Apa yang terjadi, lalu aku bagaimana, aku akan jadi apa, dia sudah mengambil keperawaananku, aku juga sudah melaksanakan semua kewajibanku padanya, apa dia akan membuangku begitu saja? Atau dia berniat ingin mempunya 2 istri?"
Sekuat mungkin Nindya menahan air matanya agar tidak jatuh dan berderai, hati nya sesak, lehernya tercekat naik dan turun. Kepala nya pun terasa pening, kaki yang terasa lemas dan gemetar makin tidak dapat menopang tubuhnya.
"Aku harus kuat.... Aku harus kuat..."
Tak berapa lama seorang pembantu wanita paruh baya mengetuk pintu. Saat itulah Nindya dengan cepat keluar dari kamar mandi dan menyelinap keluar dari kamar Dirga, meski dengan berjalan sedikit menganga dan tertatih karena sakit dan perih.
Melihat tingkah Nindya yang aneh, Dirga hanya mengernyitkan dahi nya dan melihat bagaimana Nindya berlenggang pergi tanpa melihat dan tanpa mengeluarkan sepatah kata, apalagi Nindya masih memakai handuk kimono, karena Dirga sedang berbicara dengan Mbok Winarsih, pria itu tidak bisa menahan Nindya keluar dari kamarnya.
Sarapan pagi sudah siap, Mbok Winarsih adalah istri dari Pak Purbo dan mereka adalah orang yang sudah di percaya oleh Dirga untuk mengurus vila-vila nya, dan kali ini pasangan itu di tarik untuk bekerja dan menemani Nindya di rumah baru nya.
Suasana di meja makan cukup tenang, Nindya juga telah siap memakai pakaian kerjanya yang sudah di sediakan oleh Felix.
"Tuan, hari ini saya akan berangkat kerja." Kata Nindya memecah keheningan.
Felix dan Mbok Winarsih saling menatap, Dirga paling tidak suka ketika makan ada suara meski hanya piring dan sendok sekalipun yang saling membentur. Namun di luar dugaan mereka, Dirga justru menjawab pernyataan Nindya dengan santai.
"Hal seperti itu tidak perlu meminta ijinku. Terserah kamu saja." Kata Dirga mengakhiri sarapannya dan mengelap mulutnya dengan tisu makan.
Pria itu berdiri dan hendak beranjak pergi, Nindya pun mengikutinya.
"Tuan..." Sahut Nindya
Dirga berbalik dan menatap Nindya dengan ketidaksukaann.
__ADS_1
"Anu..." Nindya gelagapan karena tiba-tiba saja Dirga berhenti dan memutar tubuhnya.
"Apa lagi?"
"Motor saya... Bagaimana?"
"Hari ini naik mobil ku, nanti biar Felix yang belikan kamu motor baru."
"Tapi saya... Anu... Saya tidak mau motor baru, jangan motor baru, motor lama saya juga tidak apa-apa." Kata Nindya.
"Aku sudah tidak mau berurusan dengan warga di kampungmu, kalau ada yang gampang dan mudah buat apa harus di persulit, jangan merengek seperti wanita yang menyusahkan.”
Dirga mengakhiri kalimatnya dan berlenggang pergi.
"Mau kerja atau tidak, kalau tidak, diam di rumah saja dan jangan pergi kemanapun!" Teriak Dirga.
"I... Iya." Nindya berlari tergopoh menahan rasa sakit dan ikut masuk ke dalam mobil.
Perjalanan dari rumah menuju pabrik tidak terlalu lama, karena rumah mereka berada di kawasan industri. Kawasan industri itu masih sepi karena hanya pabrik milik Dirga yang berdiri menjulang tinggi dan besar.
Lahan yang di miliki Dirga sangat luas, hingga pria itu masih saja belum merasa puas dan ingin membeli setiap tanah bukit lalu ingin membangun pabrik lagi.
Dirga menghentikan mobilnya tanpa mengeluarkan kalimat apapun. Terlihat Nindya sibuk melepaskan sabuk pengaman.
Nindya keluar dari mobil dan di susul Dirga yang juga menekan gas nya meninggalkan Nindya tanpa melihat dan acuh, kini Nindya berada di pinggir jalan aspal yang sudah dekat dengan pabrik.
"Jalan sedikit saja tidak apa-apa kan... Pasti tidak akan apa-apa..." Kata Nindya menyemangati dirinya.
Dengan sesekali meringis, dan dengan kaki yang sedikit di buka karena nyeri di pangkal pahanya membuatnya benar-benar kesusahan, Nindya merasa kali ini jarak pabrik terasa sangat jauh. Padahal dengan kondisi Nindya yang biasanya ia bisa berjalan dengan cepat dan tidak akan membutuhkan waktu lama.
Terlihat Dino yang dari arah berlawanan sedang mengendarai motornya, bukannya masuk ke dalam pabrik justru mendatangi Nindya.
"Kenapa kamu jalan kaki dari arah sana." Tanya Dino melepas helmnya.
"Kamu masih sakit? Wajahmu pucat. Kamu parkir motor di luar?"
Dino mengeluarkan rentetan pertanyaan yang membuat Nindya tidak bisa lagi berfikir, di kepalanya sekarang hanya lah ingin segera duduk dan melemaskan tubuhya, di bawah sana benar-benar terasa sangat perih dan nyeri. Apalagi sebentar lagi kaki nya pasti akan lemas dan tidak bisa menopang tubuhnya lagi.
__ADS_1
"Naik!" Perintah Dino.
Nindya yang juga sudah tidak kuat, perlahan naik ke atas motor dengan posisi duduk miring.
"Boncengnya miring begitu apa enak? Kamu nyaman begitu?"
"Cuma deket kan, duduk begini biar lebih mudah dan cepet turunnya." Kata Nindya.
"Ya sudah pegangan, aku takut kamu jatuh duduk kayak gitu, soalnya motor ku tinggi."
Nindya memegang perut Dino, mau tidak mau Nindya seperti memeluk punggung Dino, ia tidak mungkin membonceng dengan posisi seperti biasanya, membanyangkannya saja ketika membuka kaki nya dan mengangkanng pasti akan sangat lebih menyakitkan.
"Tidak ada pilihan lain, aku yakin bisa pingsan kalau nggak nebeng Dino." Batin Nindya.
"Terserah semua mau bilang apa, dari pada aku kesakitan dan pingsan di jalan toh gosip lama kelamaan juga bakalan layu."
Akhirnya mereka sampai di depan pabrik, terlihat Dirga yang berdiri dengan seorang karyawan sedang mengecek bahan-bahan mentah yang baru saja tiba di dalam halaman pabrik.
Pria itu melihat Nindya yang memeluk tubuh Dino dan perlahan turun dari motor dengan raut wajah meringis. Dirga hanya diam, entah apa yang sedang pria itu pikirkan.
Dengan langkah pelan Nindya berjalan menuju ke dalam pabrik, masih dengan langkah kaki yang sedikit menganga agar tidak terlalu kentara, ia ingin terlihat normal saat berjalan meski kesakitan.
"Kalau tidak kuat kenapa maksain diri berangkat kerja." Kata Dino setelah memarkir motor, kemudian memapah Nindya.
Para karyawan menatap Nindya dan Dino, mereka menjadi pusat perhatian serta menjadi bahan gosip yang panas dan menjadi perbincangan paling menarik di kalangan karyawan.
"Kamu duluan aja Dino, aku tidak enak banyak yang lihatin kita."
"Kenapa tidak enak, biarkan saja orang mau ngomong apa, kalau masih sakit aku antar ke ruang kesehatan biar di periksa sama dokter di sana."
"Ha?!" Nindya melongo.
"Dino, kamu nggak tau apa-apa kenapa aku jalan kayak gini... Kalau kamu tahu pasti kamu nggak bakal nolongin aku..."
Nindya merintih di dalam hati, ia ingin menangis karena telah membohongi Dino dan sangat menyesal seolah sedang membodohi pada Dino.
__ADS_1
~bersambung~