TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS

TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS
Menyerah


__ADS_3

Setelah beberapa lama Zidan minum dan mulai terlelap, dengan perlahan Nindya kembali membenarkan kemeja putihnya.


Nindya melirik sebuah pintu lain yang mungkin itu adalah tempat istirhat.


"Apa ada ruangan yang bisa untuk menidurkan Zidan?" Tanya Nindya.


Dirga tersenyum tipis dan berjalan menuju sebuah pintu yang sempat Nindya tatap, kemudian membukannya lebar dan masih berdiri di depan ruangan itu.


Memang benar, ruangan itu lebih mirip dengan kamar pribadi, dengan kaca besar dan lebar membentuk pemandangan luar yang penuh dengan gedung-gedung pencakar langit.


Nindya dengan pelan membaringkan tubuh Zidan ke atas ranjang, namun tiba-tiba mata Zidan pun terbuka kembali, membuatnya harus menyusuinya lagi.


Dirga hanya berdiri dan menyandarkan bahunya di gawang pintu sembari memasukkan kedua tangannya di saku celana.


Setelah beberapa menit berlalu, Zidan mulai tertidur kembali, tubuh montok dan kulit putihnya membuat Nindya gemas dan mencium pipi Zidan seolah ia ingin sekali menggigitnya.


Nindya duduk di tepi ranjang dan membenarkan kancing kemejanya namun pergelangan tangan Nindya seketika di raih oleh tangan besar Dirga.


Nindya yang saat itu fokus membenarkan kancing pun seketika mendongak.


Dirga mengangkat tangan Nindya memberikan kode agar Nindya berdiri.


"Kenapa?" Tanya Nindya.


"Ijinkan aku mencium mu satu kali saja." Kata Dirga meminta ijin.


"Tidak Dirga!" Ucap Nindya tegang.


Nindya berusaha melepaskan tangannya namun Dirga masih mencengkram kuat pergelangannya.


"Dirga lepaskan." Pinta Nindya dengan pelan namun penuh penekanan.


"5 menit, beri aku waktu 5 menit saja." Kata Dirga menatap mata Nindya dan kemudian beralih pada bibir ranum milik Nindya.


Nindya masih diam tanda tak setuju.


"3 menit."


Nindya masih enggan dan masih diam tanpa melihat Dirga.


"1 menit."


Nindya melepaskan nafas kesalnya dan masih berusaha melepaskan diri dari cengkramanya Dirga.

__ADS_1


"10 detik aku mohon Nindya, aku sangat merindukanmu." Pinta Dirga dengan sangat memelas.


"Tidak Dirga, lepaskan dan aku akan pulang menggendong Zidan."


"5 detik. Aku memohon padamu Nindya." kata Dirga mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Nindya.


Nafas Dirga sudah mulai memanas apalagi kancing baju Nindya belum sepenuhnya tertutup.


"Aku mohon..." Pinta Dirga lagi semakin mendekatkan wajahnya hampir menyentuh bibir Nindya.


"Dirga, aku tidak bisa. Maafkan aku, dan aku mohon kita harus benar-benar serius membicarakan ini, aku tetap ingin bercerai dari mu, aku tidak ingin terkesan memberikan harapan apapun padamu." Kata Nindya memalingkan wajahnya.


Dirga pun hanya menelan ludahnya kasar dan meredam semua sakitnya kekecewaan bahkan sakitnya memendam hasratnya pada Nindya.


Pria itu kemudian melepaskan tangan Nindya dan pergi ke ruang mejanya tanpa sepatah kata.


Tak berapa lama, secara bersamaan dengan Dirga yang hendak duduk telpon kantor pun menyala.


Dirga menekan tombol dan Felix pun berbicara.


"Tuan Dino datang dan akan masuk." Kata Felix.


"Biarkan dia masuk." Ucap Dirga.


Nindya terkejut dan berulang kali mendorong Dirga namun ia tidak dapat bergerak dari pelukan kuat Dirga.


Hingga suaranya terdengar seolah seperti sedang mendesahh.


Dirga meraih dada Nindya dengan satu tangannya, di saat bersamaan itu Dino pun melihat.


Melihat itu Dino mundur perlahan dan keluar kembali pergi dari ruangan Dirga.


Awalnya Dirga hanya ingin membuat kesalahpahaman di antara Dino dan juga Nindya, namun ternyata itu justru membangunkan sisi liarnya yang sudah ia tahan begitu lama.


Tanpa bisa mengontrolnya Dirga pun membuka semua kancing kemeja Nindya, dengan cepat Dirga menjatuhkan tubuh Nindya di atas sofa.


Dirga sudah berada di atas Nindya sembari menutup mulut Nindya dengan tangan kirinya sedang tangan lainnya mencoba menurunkan setengah celana panjang Nindya secara paksa.


Nindya berontak ingin pergi dan mendorong tubuh Dirga namun lagi-lagi ia tidak bisa melawan kekuatan itu.


Dengan sekali gerakan Dirga sudah menyelami seluruh tubuh Nindya dan memompa tubuhnya dengan gerakan cepat. Melepaskan segala hasrat dan kerinduan dengan menggebu dan tanpa berfikir panjang.


Air mata Nindya pun jatuh menetes, untuk kesekian kalinya ia di perkos* oleh suaminya sendiri.

__ADS_1


Dirga masih terus memberikan sentuhan liarnya, dimana Nindya sudah berada pada kondisi tubuh yang tidak tertutup sebagian.


Berulang kali Dirga menyesapi dada Nindya, dan menciumi Nindya, kerinduan terdalamnya menyeruak hingga mengendalikan otaknya.


Kerinduannya menggebu dan tidak bisa di kontrol lagi. Kini yang Dirga butuhkan hanyalah Nindya.


Nindya menggigit bibirnya dan mata sayu sudah sembab karena basah oleh air mata, ia kesakitan ia tidak bisa menahannya lagi.


"Hentikan Dirga... Ini sakit." Kata Nindya dengan lemah.


"Sakit sekali..." Ucap lirih yang keluar dari mulut Nindya.


Mendengar itu, dari suara lemah Nindya, Dirga kemudian melepaskna tubuh nya, pria itu mengangkat tubuh Nindya yang sudah lemah, pergi menuju sofa yang lebih besar terletak di sudut ruangan di dekat kaca.


"Maafkan aku Nindya..." Ujar Dirga sembari mencium kening Nindya.


Dengan pelan Dirga mulai menyesap leher dan kemudian menuruninya hingga pada dada mulus milik Nindya.


Melakukan semua gerakan dengan lembut dan menciumi perut Nindya hingga terus turun dan turun membuat Nindya yang awalnya lemah karena kesakitan kini harus menyerah pada kelembutan Dirga.


Nindya menggigit bibirnya dan meremas rambut Dirga yang berada di bawah sana, memberikan sensasi permainan panasnya.


Sesekali desahaan pun mulai lolos dari mulut dan bibir Nindya.


Dirga kembali naik perlahan dan berbisik di telinga Nindya.


"Aku mohon padamu Nindya, jangan tinggalkan aku, jangan meminta perceraian pada ku, aku bisa gila." Bisik Dirga dan menyesap telinga Nindya dengan lembut.


"Aku mohon hentikan semua ini...." Kata Nindya terbata dan menggigit kuat bibirnya agar tidak mengeluarkan suaranya.


Nindya membenci dirinya sendiri, ia muak dan lelah. Dimana hati nuraninya tak ingin namun tubuhnya selalu saja ingin meminta lebih dan lebih.


Dirga melihat tubuh Nindya bergetar hebat seolah ingin menahan namun juga menginginkannya.


Dirga pun berhenti dan bertumpu di ke dua lututnya, memandangai wajah Nindya yang menutup matanya dengan serapat mungkin dengan air mata juga meleleh.


Dirga turun dari sofa dan mengambil sebuah selimut dari atas ranjang dan kemudian menyelimuti tubuh Nindya dengan pelan, membuat Nindya pun membuka matanya karena terkejut.


"Aku benar-benar minta maaf Nindya, aku tidak akan melakukannya lagi, semua ini di luar kendali fikiranku, jika kamu tetap ingin bercerai dariku, aku akan mengurus semuanya."


Dirga berlenggang pergi dengan seluruh penyesalan dan seluruh kehancuran hatinya yang berkeping-keping, ia rela melepaskan Nindya di saat pria itu benar-benar berada di puncak perasaan terdalam pada Nindya. Dirga menyerah untuk mempertahankan pernikahannya.


~bersambung~

__ADS_1


__ADS_2