TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS

TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS
Keputusan Nindya


__ADS_3

Saat itu Dino memilih untuk pergi daripada akan terjadi pertikaian kembali antara dirinya dan Dirga di rumah sakit dan mengganggu Nindya.


Ingatan Dino kembali pada saat dimana ia kehilangan Nindya.


Beberapa bulan lalu, setelah kepulangan Dino dari USA, pria itu teramat terpukul mendengar kabar bahwa orang tua Nindya telah meninggal, sedangkan Nindya pun entah pergi kemana. Dino merasa gagal untuk melindungi Nindya.


Dino mencari dan mengerahkan seluruh pengawalnya untuk mencari hingga ke kota-kota yang lain. Namun tetap nihil pula.


Sampai dimana Hartono serta Jasmine pun memanggil anak-anak mereka untuk berkumpul.


Kemudian terjadilah kesepakatan bahwa Dirga akan mewarisi seluruh perusahaan Hartono di bidang jasa, konsumen, agraria, dan juga properti.


Sedangkan Dino akan mewarisi seluruh perusahaan Hartono di bidang ekstraktif, industri, dan juga kontraktor.


Selebihnya akan di bahas saat mereka sudah memperbaiki hubungan.


Maryam Husein masih mendekam di rumah sakit jiwa dan tidak ada yang bisa ia lakukan meski berulang kali mengajukan gugatan melalui pengacara namun kesehatan mental Maryam Husein membuatnya tersandung.


Hartono juga menceritakan kisah masa lalunya yang sebenarnya pada anak-anaknya, di sampingnya juga berdirilah Yasmine.


Hartono berkata jujur pada anak-anaknya bahwa Yasmine memang masih dinikahinya secara siri, karena terikat perjanjian bersama Maryam Husein. Hartono juga sedang berjuang menghapus perjanjian itu di pengadilan.


***


"Tuan, jadwal anda akan padat sampai akhir bulan." Kata Nuel membuyarkan lamunan Dino.


"Batalkan semuanya." Kata Dino yang sedang memandangi jendela kaca mobil, saat itu mobil melaju menerjang hujan dan air yang menggenang di jalanan karena hujan cukup lebat dan menyebabkan sedikit banjir di jalanan.


Sesampainya di apartmen, Dino melepaskan semua pakaiannya dan ia langsung menuju kamar mandi.


Dino berdiri di bawah shower air dingin, sembari kedua tangan kekarnya bertumpu pada dinding untuk menyangga tubuhnya.


Dino menutup mata ketika air membasuh dari atas kepala hingga ujung kakinya. Membayangkan wajah Nindya yang tersenyum padanya.


Sedangkan di rumah sakit, Dirga membawa anak bayi nya dari ruang observasi untuk di berikan pada Nindya. Seorang suster mendorong tempat tidur kecil di belakang Dirga untuk sang bayi. Dokter wanita yang membantu melahirkan Nindya pun juga ikut.


Nindya melihat anaknya di gendong, kemudian mengulurkan tangannya untuk meraihnya dan memberi asi padanya. Karena payud*ranya sudah semakin kencang.


Bayi itu sangat pintar, tidak butuh waktu lama dan sudah bisa menyusuu.


"Nyonya keadaan anda pulih dengan cepat, besok pagi saya akan merekomendasikan surat agar anda bisa pulang." Kata sang dokter.


"Terimakasih atas bantuannya dokter." Kata Nindya tersenyum.


Sang dokter dan perawat pun pergi setelah memberikan beberapa obat untuk Nindya.


Dirga masih berdiri dan mencium bayi itu yang masih menyusuu dengan penuh kasih sayang.


"Aku akan memberikannya nama Zidan Akhtar Jaelani." Kata Dino.


Nindya masih diam dan masih menyusuii anaknya.


"Bagaimana menurutmu sayang?" Tanya Dirga sembari mengelus punuk kepala Nindya.


"Zidan bagus..." Sahut Nindya tanpa ekspresi pada Dirga.


Nindya tidak menolak, karena ia belum sempat memikirkan nama untuk anaknya karena semua problema dalam hidupnya.

__ADS_1


"Jadi... Kamu akan tetap di sini atau pulang ke kota kita." Tanya Dirga duduk di samping ranjang Nindya.


"Aku, akan membeli apartmen murah di dekat sini, dengan uang penjualan rumah orang tua ku."


"Tinggallah di apartmen milikku."


"Tidak Dirga."


"Zidan juga butuh ayahnya Nindya." Kini Dirga bersembunyi di balik anaknya.


Nindya pun bimbang.


"Aku tetap ingin kita hidup terpisah."


"Apa agar Dino bisa datang mengunjungi mu?"


"Bukan, aku masih tidak bisa menerima mu. Ini tidak semudah yang kamu bayangkan Dirga."


Dirga pun menyerah.


"Tapi aku tetap bisa mengunjungi Zidan bukan?" Tanya Dirga.


Nindya mengangguk pelan tanpa melihat pada Dirga.


"Aku tidak akan memisahkan kalian."


"Baiklah, aku akan membelikanmu apartmen." Dirga pun berdiri dan menelfon Joe untuk mengurus semuanya.


Nindya hendak mencegah namun ia tahu akan sia-sia, yang jauh lebih penting ia tidak tinggal bersama dengan Dirga.


***


Apartmen yang di beli untuk Nindya sudah siap dengan segala perabotan dan isinya. Rudi menaruh perlengkapan bayi yang kemarin mereka beli di kamar bayi.


"Tahta, Harta, Wanita." Kata Rudi sembari menaruh perlengkapan bayi.


"Kenapa?" Tanya Tata Susi menaruh bayi itu di box tidur.


"Lihatlah, orang kaya itu seperti membuat sulap, hanya dalam 1 hari sudah membuat istana ala bajak laut untuk sang bayi dan apartmen ini benar-benar mewah." Rudi melenguhkan nafasnya.


"Mamah sudah bilang kan, akan sulit saat kamu memcintai Nindya. Dia memiliki orang-orang yang kuat di sampingnya."


"Dari mana mamah belajar meramal, bisa kah mamah meramal siapa jodohku?"


"Plak!" Tante Susi memukul punggung Rudi.


"Menikahlah dengan wanita yang memiliki garis hidup biasa-biasa saja, mamah tidak menginginkan menantu wanita cantik, cukup yang baik hatinya."


"Baik hatinya? Seperti Nindya?" Tanya Rudi terkekeh.


"Kalau kamu bisa dan kuat berebut dengan mereka silahkan." Kata Tante Susi melirik ke arah luar dimana Dino serta Dirga berada.


Saat itu mereka sedang saling berhadapan.


"Kamu selalu kalah melangkah." Ejek Dirga.


"Aku tidak yakin Nindya menyukai apartmen ini, dia tidak suka dengan kemewahan." Sahut Dino.

__ADS_1


"Aku akan menemani Nindya di sini, dan jangan berharap kamu bisa datang ke sini.


Dino pun tersenyum sembari memasukkan tangannya ke dalam saku celana.


"Kamu tahu Dirga, kamu bisa memiliki Nindya, tapi tidak untuk hatinya." Dino menyeringaikan mulutnya sembari terkekeh dan masuk ke dalam kamar Nindya.


Dirga pun mengejar dan menarik bahu Dino.


"Siapa bilang kamu boleh masuk ke dalam kamar Nindya dan menemuinya di sana!" Geram Dirga.


Rudi datang ingin melerai mereka yang sudah saling mencengkram.


"Hey... Hey... Stop Stop...." Bisik Rudi dengan geram tidak ingin Nindya mendengar.


Namun, entah bagaimana justru ke-3 pria itu terlihat saling mencengkram.


Nindya pun keluar dari kamarnya, ia terjekut melihat para pria sudah berada di luar kamarnya, dan saling mendorong serta saling mencengkram baju, atau tangan dan mendorong wajah yang lain.


"Kalian sedang apa?" Tanya Nindya.


Para pria pun sontak saling melepaskan diri.


Nindya mendesahhkan nafas dan mengeratkan gigi.


"Semuanya pergi.... Dan untuk kamu Dirga, pin apartmen akan ku ganti jadi kamu tidak akan bisa masuk tanpa ijinku."


"Apa? Aku suami mu Nindya, aku lebih berhak dari pada mereka, aku ayah bayi itu."


"Kenapa tidak kamu saja yang mengandung dan melahirkannya? Kamu memang anak biologisnya tapi tidak untuk memilikinya sepenuhnya. Aku mengijinkanmu melihatnya karena kasihan pada bayi itu, bukan karena aku luluh pada mu Dirga. Aku berjuang sendiri Dirga, dan tidak ada yang boleh menggunakan bayi itu sebagai tameng!"


Dirga melenguhkan nafasnya, ia tidak ingin berdebat dengan Nidnya.


"Semuanya pergi sebelum aku marah." Kata Nindya.


Para pria itu pun pergi dari apartmen dengan cepat. Namun Rudi hanya tertawa melihat mereka putus asa.


"Kamu juga Rud..." Kata Nindya.


"Aku juga? Kenapa?"


"Aku mohon Rud..."


Rudi pun juga keluar dari apartmen dan menunggu di lobby luar apartmen Nindya.


Dino dan Dirga akhirnya pergi karena panggilan pekerjaan.


Sedangkan Rudi hanya duduk sendirian menunggu Tante Susi yang masih di dalam bersama Nindya.


"Jadi, apa kamu memutuskan rujuk?" Tanya Tante Susi.


"Belum tahu tante, masih berat untuk melihat pria itu kembali. Melihat wajahnya saja aku merasa muak."


"Lalu kenapa kamu memilih tinggal di apartmen yang di beli oleh suamimu?"


"Aku... Dalam hatiku, aku tidak tega memisahkan anak dan juga ayahnya, dia sangat semangat dan bahagia mendekor dan memilih apartmen untuk anaknya. Aku hanya tidak mau kelak anakku seperti diri ku tante... Semenjak kecil aku dan bapak tidak pernah dekat, bahkan dengan orang tua ku. Aku tidak benar-benar dekat dengan mereka, dari kecil batinku terluka dengan semua pertikaian mereka yang memaksaku untuk melihat mereka bertengkar dan saling memaki. Mereka sibuk bekerja dan sibuk saling mencaci dan bertengkar, sibuk mencari kesalahan."


"Sudah hampir 1 tahun, dan itu sudah cukup bukan untuk kamu mengambil keputusan? Setidaknya agar mereka tidak bertikai lagi."

__ADS_1


"Aku rasa itu sulit jika membuat mereka tidak bertikai, permasalahan mereka bukan hanya tentang aku, tapi memang sudah dari akarnya ada di dalam keluarga mereka. Aku akan memikirkannya baik-baik tante. Terimakasih." Kata Nindya memeluk Tante Susi.


~bersambung~


__ADS_2