TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS

TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS
Flashback


__ADS_3

Beberapa jam sebelum kejadian...


Dirga sedang berkutat dengan semua pekerjaannya di meja kantornya nya yang luas, sesekali ia juga tersenyum melihat foto anaknya yang sengaja dipajang memakai figura kecil di atas meja dan tepat di hadapannya.


Ponselnya pun kini penuh dengan foto-foto bayi Zidan dan foto-foto Nindya yang menggendong Zidan, beberapa juga terdapat ekspresi marah Nindya ketika wanita itu tidak suka di foto oleh Dirga dan mengomel.


Setiap detik, setiap menit Dirga memandangi mereka, pria itu selalu merasa rindu dan selalu ingin dekat dengan Zidan.


Tak lupa wallpaper nya pun terpasang foto selfinya menggendong Zidan dan ada Nidnya yang sedang berkutat dengan baju-baju Zidan.


Dirga tersenyum dan tertawa dalam pose tersebut, wajah yang sungguh teramat langka terukir di wajah Dirga sebelum kelahiran Zidan di dunia.


"Tuan, anda harus rapat." Kata Joe yang berada di dekat Dirga.


"Apa sudah waktunya..."


Joe hanya mengangguk dan berjalan untuk membuka pintu kantor Dirga, Joe mempersilahkan Dirga untuk pergi ke suatu tempat yang sudah di janjikan, seorang pemilik perusahaan ternama mengundangnya datang guna membahas sebuah proyek.


Mobil Dirga melesat dengan cepat dimana saat itu Joe lah yang menyetir.


Sampailah Dirga di sebuah bangunan apartmen yang sepi, selama di dalam gedung Dirga sudah cukup curiga. Mengapa rapat di lakukan di apartmen yang belum di huni oleh siapapun.


Namun, ia tidak menaruh curiganya terlalu dalam karena pemilik perusahaan memang lebih besar memilikinl peranan dalam bidang konstruksi.


"Tuan Nicholas ada di dalam..." Kata Joe sembari mempersilahkan Dirga masuk.


Namun setelah Dirga masuk seseorang memukulnya dari belakang, Dirga sempat berbalik ingin melihat siapa yang melakukannya, pandangan matanya tertuju pada Joe yang sudah memegang kayu balok dan juga beberapa pengawal sudah berdatangan.


Dirga ambruk dan tak sadarkan diri.


Beberapa menit kemudian Dirga terbangun dan sudah terikat di kursi dengan tanpa kemejanya, pria itu hanya memakai celana panjang, dan kakinya pun tanpa memakai alas.


"Kenapa..." Tanya Dirga lemah dan melihat Joe berdiri di depannya.


Joe hanya diam, dan seorang pria paruh baya pun juga datang membawa tongkat untuk menyangga tubuhnya.


"Senang bertemu denganmu." Kata pria paruh baya itu.


"Farhat..." Kata Dirga, kesadarannya berangsur membaik.


Kepala Dirga sudah melelehkan darah yang turun hingga lehernya.


"Aku memang tidak menyukai anak perempuan, dan Alexa memang tidak berguna, tapi setidaknya ia juga anakku." Kata Farhat sembari menyesap rokoknya.


Leher keriput Farhat naik dan turun ketika pria paruh baya itu merokok.


"Kau membunuh anakku." Kata Farhat mengangkat dagu Dirga memakai tongkatnya.


"Plak!!!"

__ADS_1


Farhat memukul wajah Dirga memakai ujung tongkatnya yang runcing, dan membuat wajah Dirga mengalirkan darah.


Tak berapa lama pun seorang pria datang lagi, membawa beberapa suntikan.


Dirga tertawa sinis.


"Kacung tetaplah kacung?" Kata Dirga mencemoh.


"Ferdi pemilik perusahaan yang mengajak mu kerja sama, ia mendirikan perusahaan dengan nama Nicholas." Kata Joe.


Dirga menyeringaikan mulutnya.


"Apa karena itu perusahaan ku bangkrut? Dasar penghisap!" Geram Dirga.


"Terserah apa yang kamu katakan, yang penting aku mendapatkan apa yang ku mau, perusahaan atas namaku sendiri, dan bisa menyelamatkan perusahaan Farhat Jaya." Kata Ferdi.


"Baiklah kalian bekerja sama sekarang." Ujar Dirga tanpa rasa takut sedikitpun.


"BUGG!!!"


Tendangan Ferdi meluncur di perut Dirga, membuat kursi Dirga terpental dan Dirga terjatuh, beberapa pengawal pun mendirikan kembali kursi Dirga.


"Argh...!!" Dirga melenguh.


"Apa mereka sudah siap?" Tanya Farhat pada Joe.


"Sudah tuan."


"Kamu akan menemui anak mu." Kata Ferdi mengejek.


"Jangan macam-macam!!! Jika kalian berani menyentuh keluargaku aku tidak akan memaafkan kalian semua!!!" Teriak Dirga sembari mendengus-dengus.


"Jalankan rencananya." Perintah Farhat.


"BERANINYA KAMU!!! AKU AKAN MEMBUNUHMU FARHAT JIKA KALIAN BERANI MENYENTUH ANAKKU DAN ISTRIKU!!!"


Dirga memberontak marah, ia mengamuk, namun tidak dapat berbuat apapun karena kaki dan tangan serta tubuh terikat kuat di kursi.


"BRENGSEK!!!" Teriak Dirga berulang kali memaki.


"Nikmati saja." Kata Farhat.


Kemudian Joe menyalakan layar tv di hadapan Dirga, mereka menyaksikan bagaimana pengawal akan berpura-pura mengirim paket pada Nindya atas nama Dirga.


"Tidak... Tidak Nindya, ku mohon jangan buka pintunya!" Kata Dirga lirih.


Kemudian Dirga melihat seorang pengawal membekap mulut dan hidung Nindya.


"BEDEBAH KALIAN!!!" Dirga kembali memberontak.

__ADS_1


Joe kemudian mengambil sebuah cambuk yang sudah ia siapkan untuk menyiksa Dirga.


"Aku sudah sangat sabar berdiri di sampingmu, aku sangat sabar menunduk dan menerima perintahmu, setiap detik aku tersiksa ingin sekali membunuhmu, sampai suatu hari aku mengetahui jika Nindya hamil dan mengasingkan diri, aku menunggu hingga hari ini tiba." Kata Joe yang mengitari Dirga perlahan.


"Jadi, sebenarnya kamu menemukan Nindya dan kamu tetap diam?" Seringai Dirga mengembang di bibirnya, tak percaya bahwa batinnya di siksa oleh pengawalnya sendiri.


Dirga sangat tersiksa karena kehilangan Nindya, hingga ia depresi dan harus meminum obat agar bisa tidur. Sedangkan Joe sebenarnya sudah tahu dimana Nindya berada, pernyataan Joe benar-benar membuat sebuah pukulan berat di hati Dirga.


"Aku ingin kamu merasakan apa itu kehilangan Dirga. Kamu dan semua ide konyolmu membuat Xavier mati!!!" Teriak Joe dan memberikan cambukannya pada Dirga.


"Ya!!! Kamu dendam padaku, dan lampiaskan padaku, bunuh aku, tapi jangan sakiti keluargaku."


"Terlalu mudah jika aku membunuhmu, kamu tidak akan merasakan apa itu yang namanya di siksa karena kehilangan!" Teriak Joe dan kembali mencambuk tubuh Dirga.


"Siksa dia Joe, biarkan dia merasakan kesakitan." Perintah Farhat yang duduk menyaksikan.


Tak berapa lama seorang pengawal pun datang membawa bayi dalam gendongannya.


"Zidan..." Panggil Dirga lirih, tubuhnya sudah di penuhi darah dan luka.


"Papah di sini jangan takut... Jangan menangis..." Kata Dirga pada anakknya yang terus menangis.


"Singkirkan bayi itu, taruh di almari biarkan dia mati sesak!" Kata Farhat.


"Jangan... Jangan lakukan itu, bunuh aku saja, jangan anakku." Kata Dirga lirih dan menangis.


"Cepat! Aku sudah muak dengan suara tangisnya. Kita lihat secepat apa orang akan menyelamatkan bayi menyebalkan itu." Kata Farhat lagi.


"Apa sudah di kecohkan lokasinya?" Tanya Farhat pada sang pengawal.


"Sudah tuan, kami sudah berpencar, beberapa dari kami menuju pantai." Kata Sang pengawal.


Sang pengawal yang lain pun pergi menaruh Zidan di dalam almari dan menutupnya rapat hingga suara tangisnya pun tak terdengar.


"Anakku..." Kata Dirga lirih.


"Brengsek kalian semua, tidak punya nurani, kalian sangat menjijikkan!!!" Kata Dirga berusaha berteriak.


"Apa kamu tidak ingat dulu kamu seperti apa Dirga. Kamu juga seorang monster." Joe melotot pada Dirga.


"Ya tuhan, Selamatkan anakku. Aku bukan orang tua yang baik tapi selamatkan dia, berikan hidup untuk anankku." Dirga berdoa sembari menangis.


"Selamatkan Zidan..." Rintih Zidan kembali.


"Aku bisa membantumu Dirga, ini akan membuatmu tidak kesakitan melihat anakmu tersiksa dan mati sesak di dalam almari." Ferdi maju membawa suntikannya.


"Menyingkirlah bodoh! Jangan coba-coba memberiku barang kotor itu!!!" Teriak Dirga.


Namun Ferdi hanya tertawa dan menusukkan jarum berisi heroin ke dalam lengan kekar Dirga. Beberapa menit kemudian Dirga sudah merasakan efeknya dan membuat Dirga kehilangan kesadaran.

__ADS_1


~bersambung~


__ADS_2