
Dirga tidak bisa memungkiri, semua memang kesalahannya dan Nindya berhak untuk marah padanya.
Sebelum itu semua pun, Dirga telah tersiksa dengan ingatan-ingatan yang selalu menghantuinya, hingga sampai detik ini Dirga tidak dapat tidur dengan nyenyak. Dirga harus mengkonsumsi obat agar ia bisa mengistirahatkan dirinya.
Dan selama berbulan-bulan Dirga masih gencar mencari kemana Nindya pergi. Meski semua pengawal di kerahkan tetap saja jejak Nindya sulit ditemukan, apalagi Nindya juga mengganti nomor telfonnya, seolah keberadaan Nindya sedang di sembunyikan oleh Tuhan agar tidak terjamah oleh Dirga.
"Aku melewati masa-masa sulit dalam hidupku Nindya, kehilangan dirimu adalah hal yang paling berat dan aku selalu hidup dalam penyesalan." Kata Dirga masih berlutut di depan Nindya.
"Aku cukup senang mendengarnya, aku justru berdoa kamu mati dalam penyesalan Dirga."
Dirga yang berlutut di depan Nindya kemudian menundukkan kepalanya. Dirga mengerti jika Nindya tidak bisa dengan mudah untuk memaafkannya, kesalahan nya memang sangat fatal.
"Aku akan menginap di hotel dekat sini." Ujar Dirga lagi.
Nindya melengoskan wajahnya pertanda bahwa ia ingin mengatakan dengan gestur tubuhnya "Terserah Dan Aku Tidak Peduli."
"Aku yakin itu adalah anakku dan aku berhak atas anak itu." Kata Dirga.
Dirga hendak pergi dan meninggalkan kamar Nindya.
"Ini anak Dino, bukan anakmu Dirga..." Kata Nindya dengan bergetar dan berurai air mata.
Dirga berdiri mematung di depan pintu yang lebih pendek darinya. Mencengkram gawang pintu tersebut dan menoleh ke arah Nindya dengan tatapan penuh keputus asaan.
Nindya mengangkat alis nya seolah mencemoh Dirga.
"Kamu tidak berhak apapun atas anak ini..." Sahut Nindya.
"Kamu dan Dino...? Tidak mungkin Nindya, aku tidak akan mempercayai itu..."
"Aku berkata yang sebenarnya Dirga, aku dan Dino melakukannya..."
Nafas Dirga menderu hebat, membuatnya harus menahan semua amarah yang siap meledak di kepalanya. Mata Dirga memerah, dan setitik air jatuh dari salah satu matanya. Dirga menangis untuk sebuah pernyataan Nindya. Dirga kembali teringat bagiamana hebatnya dan bagaimana kenangannya ketika aroma tubuh Nindya beradu dengan suara indah milik Nindya dan semua itu sudah di jamah oleh adiknya.
"Dan untuk ucapanku itu masih berlaku Dirga, aku meminta kita bercerai, itu karena aku dan Dino sudah tidur bersama."
Dirga hanya mengangguk pelan dan pasrah.
"Kita lihat nanti Nindya..." Kata Dirga lirih hampir berbisik suaranya tercekat seolah tertelan oleh tenggorokannya sendiri.
Kemudian Dirga pergi dari rumah kecil itu, ia tidak ingin lepas kontrol dengan amarahnya dan membuat Nindya semakin membencinya.
Dalam perjalanan menuju hotel terdekat, berulang kali Dirga memijit pelipisnya sendiri. Mengingat-ingat bagaimana ia selalu menyiksa Nindya.
__ADS_1
"Aku memang pantas menerima ini semua. Tapi aku tidak rela melepaskan Nindya, dan aku yakin mereka tidak pernah tidur bersama."
"Joe, kita putar balik, setuju atau tidak aku akan membawa Nindya pulang bersamaku." Kata Dirga penuh keyakinan.
Dirga benar-benar tidak bisa lagi kehilangan Nindya setelah ia melihat Nindya ada di depan matanya. Setelah waktu yang sangat lama tersiksa dengan kepergian Nindya, Dirga tidak akan sanggup lagi menahannya. Bahkan setiap malam ia hanya bisa memeluk baju milik Nindya.
Sedangkan setelah kepergian Dirga, Nindya menangis sesenggukan di dalam kamarnya, yang kemudian Rudi pun masuk menenangkan Nindya. Sejak tadi Rudi berdiri di depan rumah Nindya, pria itu ingin menjaga Nindya takut jika "si pria aneh" sebutan yang ia berikan pada Dirga, menyakiti Nindya.
"Kamu pasti melalui hari dan bulan demi bulan dengan sangat berat. Kenapa kamu memilih menanggungnya seorang diri Nindya." Kata Rudi sembari memeluk tubuh Nindya.
Nindya menangis dengan tersedu-sedu hingga ia sendiri tidak bisa mengontrol emosi nya yang meletup-letup.
Tiba-tiba perutnya terasa kram, Nindya merintih kesakitan.
"Aakk... Aaauuww... Aaah...!!!" Nindya meringis kesakitan sembari memegangi perutnya.
"Nindya ada apa..." Tanya Rudi.
"Perut... Aakk... Perutku sakit sekali...." Kata Nindya terbata, keringatnya pun mulai mengucur bercampur dengan air matanya.
"Berbaring dulu, aku panggil mamah dulu."
Rudi panik dan berlari memanggil mamahnya.
"Ya ampun, cepat angkat Nindya ke mobil, dia mau melahirkan!" Teriak Tante Susi dengan kesal pada anaknya.
"Kenapa kamu tidak sigap Rud...!!!" Teriak Tante Susi lagi pada anaknya.
"Aku mana tahu beginian mah, memangnya aku pernah melahirkan!" Sahut Rudi sembari membopong Nindya.
"Memangnya untuk apa mamah mu ini menyekolahkanmu setinggi gedung nirwana!!! Memangnya sekolahmu tidak mengajari mu tentang organn vitall dan reprodukksi!!!" Kesal Tante Susi pada anaknya Rudi.
Rudi hanya diam, dan tidak ingin melanjutkan perdebatan tak bermutu itu.
Rudi menggendong Nindya masuk ke dalam mobil, dan saat itu tepat dimana Dirga pun sampai di rumah Nindya kembali, pemandangan itu membuat Dirga penasaran apa yang terjadi, dan kenapa ribut sekali.
Kemudian Dirga mengetuk kaca mobil milik Rudi dengan cemas, dan Rudi pun menurunkan kaca mobilnya.
"Mau naik atau tidak, kalau tidak jangan mengganggu!" Teriak Rudi.
Melihat Nindya kesakitan Dirga pun spontan naik ke dalam mobil.
Sedangkan Joe mengendarai mobilnya untuk membuka jalan.
__ADS_1
Namun, ternyata perjalanan ke rumah sakit membutuhkan ekstra sabar untuk Rudi dan juga Dirga, pasalnya saat itu jalanan begitu macet, meski Rudi sudah menghidupkan lampu hazard, dan 1 mobil milik Dirga telah membuka jalan mobil-mobil lain tetap tidak mau mengalah.
Rudi pun mentlakson-tlakson kendaraan di depan namun kendaraan-kendaraan itu tidak kunjung menyingkir.
Kemudian sebuah mobil Sport melaju di samping mobil Rudi dan mentlakson. Mobil sport itu menggerung dan Rudi tahu mobil sport itu milik siapa. Mobil hitam lainnya pun juga mengawal mereka.
Kini 3 mobil memberi pengawalan pada mobil Rudi. Orang pasti akan kagum atau iri saat mereka semua mengetahui siapa yang sedang di kawal, seorang wanita lusuh yang akan melahirkan, sedangkan ayah dari anak tersebut masih menjadi misteri dan tanda tanya besar di antara para pria tersebut.
Setelah sesampainya di Rumah Sakit, Rudi serta Dirga keluar dan sang pemilik mobil Sport juga keluar.
"Ada apa Rud, untung aku hafal plat mobilmu." Kata Pria itu.
"Istri saya mau melahirkan Tuan Dino?" Sahut Rudi asal menjawab karena di bawah tekanan panik.
Dirga memasang wajah tidak suka dengan pernyataan Rudi. Bersamaan itu juga, Dirga serta Dino hanya saling menatap canggung, mereka berhadapan tanpa mengucapkan sepatah kata.
Namun keheranan dan tanda tanya besar benar-benar mengelilingi benak Dino, apalagi keberadaan Dirga di situasi tersebut membuatnya semakin bingung, mengapa Dirga keluar dari mobil Rudi.
Nindya masih di dalam bersama Tante Susi sedangkan para perawat dan dokter bersamaan keluar sembari membawa ranjang dorong.
Dirga membuka pintu dan membopong Nindya tidur di atas ranjang dorong. Dino terpaku melihat seorang wanita dengan perut besar dimana wajahnya sangat tidak asing baginya.
"Nindya..." Kata Dino.
Felix yang ada di samping Dino pun terkejut begitu juga Nuel.
Nindya...?!" Kata Dino lagiĀ lirih dan melihat pada Dirga yang mendorong ranjang pasien.
"Tuan Dino kenal?" Tanya Rudi.
"Bagaimana mungkin aku tidak mengenalinya, bagaimana ceritanya, dan kenapa kalian bersama Dirga?!" Dino terlihat kesal.
"Nanti akan saya jelaskan tuan, sebelum itu mari kita urus Nindya terlebih dulu."
Semua hanya saling diam di koridor menunggu persalinan Nindya.
Terlihat Rudi duduk tidak tenang, sedangkan Dino bersandar di dinding juga tidak tenang. Lalu Tante Susi tak berhenti komat-kamit membaca doa-doa.
Di ujung yang lain pengawal setia Dino, Nuel serta Felix juga berjaga.
Lalu, tepat di dekat pintu ruang bersalin berdirilah Dirga yang cemas dan sesekali berjalan mondar-mandir kesini dan kesana untuk meredam kepanikannya.
Joe pun bersiaga di dekat Dirga.
__ADS_1
~bersambung~