TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS

TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS
Complicated 1


__ADS_3

UNTUK PEMBACA NOVEL TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS YANG SETIA DARI AWAL, LANJUTAN EPISODE KALIAN ADA DI EPISODE COMPLICATED 3 .


KARENA SAYA MENGUBAH JUDUL NOVEL SAYA HARUS MERUBAH AWALAN DAN MENAMBAH BAB BARU DI AWAL NOVEL JUGA.


INI BUKAN MENGULANG BAB TAPI BAB NYA MUNDUR KARENA SAYA MENAMBAH EPISODE ATAU MENAMBAH BAB DI AWAL.


***


Nindya hanya berdiri dan menundukkan kepalanya, menunggu mertua nya mengatakan sesuatu lagi.


Maryam menaruh bukunya dan melihat ke arah 1 set keramik mewah dengan harum teh kesukaannya.


"Kamu diem aja di situ? Nggak tau caranya menyajikan teh?!" Sindir Maryam.


"Ma... Maaf mah..." Kata Nindya.


"Mah?! Siapa yang nyuruh kamu memanggilku dengan itu!"


"Ma... Maafkan saya Nyonya..."


"Nyonya Besar....!" Teriak Maryam membenarkan.


"Baik maafkan saya Nyonya Besar..."


Kemudian Nindya menuangkan teko keramik yang sudah berisi teh seduh ke cangkir kecil. Maryam mengambil dan menyesapnya sedikit.


"Aaahh!!! Panas!!!" Pekik Maryam.


"Kamu sengaja atau memang bodoh,mau membuat lidahku terbakar!!!" Bentak Maryam.


"Maafkan saya Nyonya..."


"Kamu terlalu mudah bilang maaf, membuatku muak!!!" Bentak Maryam.


Dengan angkuh dan di liputi rasa marah, Maryam menyiramkan teh panas yang ada di cangkirnya pada dada Nindya membuat Nindya terkejut dan gelagapan karena panasnya, ia mundur dan mengibaskan pakaiannya dari dada.


"Pergi!!!" Teriak Maryam.


Mendengar teriakan Maryam, Dirga dengan cepat berlari ke arah kamar mama nya, karena di liputi kepanikan Dirga tidak memperhatikan Nindya yang sudah basah kuyup.


"Ada apa mah... Apa yang terjadi?" Tanya Dirga.


"Istri bodohmu ingin membuat lidah mamah mu ini terbakar...." Sahut Maryam dengan cemberut.


Kemudian Dirga melihat Nindya yang sudah basah kuyup, hanya berdiri mematung dengan meremas kedua tangannya.


"Biar nanti Dirga hukum..." Kata Dirga pada mamanya.


Dirga menarik tangan Nindya secara kasar, menyeretnya keluar dari kamar hingga Nindya harus terhuyung dan tergopoh mengimbangi langkah kaki panjang suaminya. Dirga membawa Nindya masuk ke dalam kamar.


"Bisa tidak jangan membuat masalah!!!" Teriak Dirga dengan tatapan marah.

__ADS_1


"Sa... Saya..."


"Jangan katakan alasan yang kamu sendiri bingung mau bilang apa, aku tidak suka!!!"


"Kalau anda tidak suka biarkan saya pergi..." Akhirnya Nindya mengatakan sesuatu yang ingin ia katakan sejak lama.


"Apa?!"


"Ijinkan saya pergi, anda bisa lebih tenang tanpa saya di sini..."


Dirga meraih rahang Nindya dan menatap nya dengan pandangan menusuk.


"Menurutmu untuk apa aku masih mempertahankan mu di sini? Kamu pikir kamu berharga?!" Seulas seringai mengejek di mulut Dirga menyayat harga diri Nindya.


"Aku ingin melihat bagaimana Dino hancur..." Bisik Dirga ke telinga istrinya.


"Ap... Apa maksud..." Kalimat Nindya tercekat, mata Nindya melotot dan berjalan mundur menjauhi Dirga.


"Kamu tidak akan pernah mengerti permasalahan di keluargaku... Jadi bersikap lah menurut daripada nantinya kamu akan menyesal."


Dirga meninggalkan Nindya sendirian, sedangkan Nindya masih tidak mengerti dengan ucapan Dirga.


"Apa maksudnya...." Kata Nindya menekan otak nya untuk berfikir lebih keras.


Namun sejauh Nindya berfikir ia masih tidak dapat menemukan jawabannya, tanpa ia sadari dada yang baru saja di siram air panas sudah memerah dan kini membuatnya meringis kesakitan.


Nindya masuk ke dalam kamar mandi sembari membawa perlengkapan P3K, ia membasuh tubuhnya dengan air dingin setelah itu mengoleskan salep luka bakar di dadanya. Dengan tangan gemetar Nindya hanya bisa menangis, sesenggukan.


Setelah selesai Nindya memakai bajunya dan berbaring di atas ranjang. Menenangkan diri agar tangisnya berhenti.


Di sisi lain Dirga sudah berada di dalam mobil bersiap untuk pergi ke rumah utama bersama Felix. Mobil melaju pergi menerjang jalanan bukit yang lengang.


Saat perjalanan, pria itu melihat pabrik miliknya dan sudah beberapa hari ia tidak bekerja, terlalu sibuk dengan urusannya.


Felix menyetir dengan cukup cepat, hingga tak terasa mobil sudah sampai dan masuk terparkir rapi di garasi besar yang mewah.


Para pelayan yang cukup banyak sedang bekerja, melihat kedatangan Dirga, mereka kemudian tergopoh untuk menyambut kedatangannya, memberikan hormat dan menyapa.


"Selamat datang kembali Tuan Dirga..." Sapa mereka.


Dirga hanya berjalan dengan cepat diikuti oleh Felix di belakangnya, pria itu menuju ruang kerja milik Hartono Jaelani.


Dirga membuka laci meja, memeriksa semuanya, dan juga menghidupkan komputer besar yang memiliki logo apel, sedangkan Felix membantu menggeledah setiap rak buku.


"Kamu menemukannya...?" Tanya Dirga pada Felix sembari masih mengecek komputer.


"Masih belum Tuan Dirga..."


"Membawa mama mu pergi dari Rumah Sakit bukan ide yang bagus Dirga..." Sahut Hartono tiba-tiba dari ruangan lain yang tak berpintu.


"Papah..." Dirga melotot melihat Hartono.

__ADS_1


"Kenapa? Terkejut? Aku juga terkejut kenapa kamu menggeledah dan membuat ruang kerjaku menjadi berantakan." Kata Hartono maju dan mengambil buku yang tergeletak di bawah meja.


Felix berhenti mencari, dan hanya diam sembari sedikit menundukkan kepala memberikan hormat.


"Pah..."


"Dengan berat aku membatalkan perjalanan bisnis ku kembali ke Singapore, ketika tahu kamu membawa pulang Maryam."


"Aku memberikan tempat yang lebih nyaman dan layak!" Sahut Dirga.


"Kamu belum mengerti Dirga dengan sifat asli mama mu... Kembalikan dia ke Rumah Sakit atau akan ada banyak masalah yang dia timbulkan..."


"Papa yang paling ingin memasukkan mamah ke Rumah Sakit, kenapa? Apa karena wanita pelacurr itu?!!"


"PLAKKK!!!"


Tamparan keras mendarat di pipi Dirga.


"Jaga ucapanmu!!! Dia punya nama...!!!"


Dirga tertawa, matanya melotot tidak terima. Melihat hal itu Felix pergi, tahu pembicaraan mereka akan meranah ke masalah yang lebih intern.


"Sekarang justru sifat asli papah lah yang terlihat, bagaimana papah dengan sadar dan sangat ingin mengembalikan mamah ke Rumah Sakit Jiwa, bagaimana papah memukul anak sendiri dan justru membela pelacurr yang sudah menghancurkan keluarga kita!!!


"Sebelum Yasmine datang keluarga kita sudah hancur!!!"


"Aaarghh itu hanya alasan papa melindungi wanita itu!!!" Teriak Dirga tak mau kalah.


"Kembalikan Maryam ke Rumah Sakit atau aku sendiri yang akan bertindak..."


"Cobalah kalau berani..." Kata Dirga melotot.


"Dengan sikap mu ini papa ragu kamu bisa menjadi penerus Hartono Jaelani Group..."


"Lalu siapa yang bisa dan lebih pantas?... Apa itu Dino?!!" Sahut Dirga.


"Ya... Bisa saja dia jauh lebih pantas...!!! Ancam Hartono.


"Kalau papa berani melakukan itu, aku juga berani menghabisi wanita kesayangan papa dengan tangan ku sendiri..." Sahut Dirga geram dengan mengepalkan tangan menunjukkan pada Hartono.


Hartono hanya menelan ludahnya. Pria paruh baya itu tak menyangka Dirga akan berbuat sejauh ini, mengeluarkan Maryam Husein dari Rumah Sakit jiwa dan menempatkannya dalam masalah besar.


"Aku sudah selesai di sini..." Kata Dirga berlenggang pergi.


"Oh... Dan satu lagi, untuk masalah Alexa aku sudah mengurusnya... " Tambah Dirga lagi.


Hartono Jaelani hanya terdiam dan tidak bisa berkata apapun, setelah kepergian Dirga pria paruh baya itu menghubungi seseorang.


"Perketat penjagaan untuk Yasmine, jangan sampai siapapun menerobos masuk." Perintah Hartono.


Hari itu menjadi hari dimana hubungan Hartono dengan Dirga memanas, hubungan yang sudah sejak lama memang sudah retak dan kini perasaan yang di pendam dan di tahan bertahun-tahun tersampaikan meski belum dapat membuat hati Dirga puas atau lega.

__ADS_1


\~bersambung\~


__ADS_2