
"Tapi kenapa papah tidak menjelaskannya dari awal, ketika salah paham itu mencuat dan membuat kami tidak akur..."
"Papah juga ingin memberitahukan itu pada kalian, berulang kali papah ingin sekali meluruskannya, papah berusaha untuk menekan perasaan malu papah, namun lagi-lagi papah tidak memiliki nyali yang cukup besar untuk mengakui masa kelam papah. Papah merasa jika masa lalu itu sangat membuat harga diri papah jatuh, papah belum bisa menyingkirkan ego papah karena masa lalu yang memalukan dan sangat menjijikkan untuk di ungkapkan pada anak-anak papah."
"Dan sekarang semua sudah terlambat..." Kata Dirga meremas tepian ranjangnya.
"Maafkan papah, Dirga... Papah memang pengecut, terlalu malu untuk mengakui kisah itu, terlalu malu padamu untuk bercerita jujur dan menjelaskan semuanya, papah memang pengecut."
"Keadaan sudah terlanjur membuat kami saling asing pah, sudah bertahun-tahun kami hanya saling bertarung dalam diam, saling membenci, dan saling dendam."
"Papah minta maaf Dirga, mungkin ini juga hukuman Tuhan untuk papah entah dosa apa yang telah papah perbuat sebelumnya, tapi percayalah kamu dan dino bersaudara, kalian satu ibu, Maryam bukanlah ibu kandungmu, dia hanya ingin menyetir dan mendoktrin serta mengontrol kamu untuk menghancurkan keluarga kita."
"Dan seharusnya papah menceritakan semuanya dari awal sebelum semua ini terjadi!!!" Teriak Dirga marah.
"Papah minta maaf Dirga!" Kata Hartono meraih tangan Dirga.
Namun Dirga menyentak dan mengibaskannya dengan cepat. Kemudian pria itu meraih ponselnya dan menelfon Joe.
"Joe siapkan mobil, Kita cari Nindya sekarang." Kata Dirga.
"Nindya? Siapa dia?" Tanya Hartono.
"Bukan urusan papah, dan karena masalah ini yang tidak papah ceritakan dari awal membuat semuanya kacau!"
Joe kemudian membawa seorang dokter untuk memeriksa Dirga.
"Tuan, anda belum bisa keluar dari rumah sakit."
"Persetan cepat lepaskan ini atau ku tarik sendiri." Kata Dirga mengancam.
"Baik tuan..."
Dokter itu pun melepaskan infusnya, setelah itu Dirga berganti pakaian dan pergi meninggalkan Hartono yang tidak mengerti siapa itu Nindya.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit milik Farel, Dirga berulang kali mengutuki dirinya sendiri, berulang kali menyesal bahkan ia tak sanggup membawa dirinya kehadapan Nindya. Tak sanggup menatap mata Nibdya bahkan ia tidak tahu kata apa yang harus ia ucapkan pada Nindya.
Namun Dirga harus dan ingin meminta maaf karena telah melibatkan Nindya dalam pusaran yang seharusnya tidak pernah ada jika saja Hartono Jaelani menceritakan semuanya dari awal.
Sesampainya di rumah sakit, mobil pun berhenti tepat di depan lobby, kemudian Dirga keluar dan mencari dimana Nindya di rawat.
__ADS_1
Pria itu berjalan dengan cepat diikuti Joe di belakanganya.
Sebuah kamar kemudian ada di hadapannya, kamar yang membuatnya sangat ragu untuk memasukinya, ia pasti akan bingung dan takut bagaimana harus memulai untuk meminta maaf.
Tangan kekar itu pun memegang gagang pintu dan membukannya. Dirga mengedarkan pandangan matanya namun yang terlihat hanya kamar kosong yang sudah rapi.
"Maaf tuan, pasien di kamar ini sudah pergi." Kata seorang perawat yang sedang lewat.
"Pergi kemana?" Tanya Dirga.
"Saya tidak tahu tuan... Saya permisi."
"Dimana dia Joe..." Tanya Dirga.
"Saya akan mencari tahu tuan..." Kata Joe menundukkan kepalanya menyesal.
Dirga pun pulang dengan perasaan kecewa, ia merasa sangat bersalah dan menyesal. Namun, kemana Nindya pergi.
Sesampainya di villa miliknya, villa yang pernah ia tempati dengan Nindya meski hanya kenangan buruk bagi Nindya namun setidaknya di sinilah Dirga merasakan satu atap bersama Nindya.
Meski semua perlakuan Dirga tidak ada kesan hangat sama sekali pada Nindya. Namun, itu juga pertama kali bagi dirinya untuk berbagi ranjang dengan seorang wanita.
"Tuan... Anda kembali? Mohon maaf, kemarin banyak pengawal masuk dan membawa Nyonya besar secara paksa, sepertinya suruhan dari Tuan Besar."
"Tidak apa-apa Pak Purbo, nanti biar saya sendiri yang jenguk Mamah." Kata Dirga.
Pria itu kemudian masuk ke dalam ruang kerja dan membuka brangkasnya, ia mengambil 2 buah buku kecil, yang tak lain adalah akta nikah mereka.
"Aku tidak akan pernah memceraikanmu Nindya." Batin Dirga.
****
Pemakaman umum...
Terduduklah dan bersimpuh tanpa daya, ia adalah seorang wanita yang memakai baju putih, senada dengan kerudung yang ia pakai dan melingkar di pundaknya, berulangkali angin meniup kerudung putih itu dan Terlihat wajah cantik yang pucat karena terlalu banyak menangis dan memikul kehidupan yang tidaklah ringan di pundaknya.
Air matanya masih saja mengalir meski sudah berulang kali ia tumpahkan. Matanya sudah menghitam bahkan mata itu sembab dan bengkak.
Jemari lentik nan putih berulang kali menaburkan bunga 7 rupa dan juga berulang kali mengelus pusara yang masih basah.
__ADS_1
Terakhir kali ketika kondisi Nindya membaik, Farel mengabarkan bahwa orang tua Nindya tidak dapat di selamatkan. Mereka mengalami syock yang menyembabkan penyumbatan oksigen di otak dan mengalami kejang saat menuju rumah sakit.
"Non... Sudah semakin sore."
Mbok Winarsih membuyarkan semua pikiran dan lamunan Nindya, sepertinya baru saja ia duduk di sana namun kenangan-kenangan bersama kedua orang tuanya membuatnya lupa waktu hingga Nindya hanya terduduk lesu di samping pusara mereka.
"Ayo mbok..." Kata Nindya.
Mereka menempuh perjalanan yang tidak terlalu lama. Sepanjang perjalanan Nindya hanya terus diam dan termenung menyaksikan pemandangan di luar jendelanya, semua pepohonan dan semua yang ada di luar seperti bergerak sedang dirinya hanya diam di tempat.
Akhirnya mereka sampai di rumah yang Nindya serta Dino tinggali. Setelah beristirahat sejenak Nindya mengemasi baju-baju yang bisa ia bawa.
Nindya datang hanya membawa diri tanpa membawa apapun dan ia ingin keluar dari rumah juga tanpa membawa apapun, hanya sedikit baju-baju pemberian Dino.
"Lhoh Non mau kemana..." Kata Mbok Winarsih.
"Pergi mbok..." Kata Nindya dengan senyuman penuh ketegaran.
"Kemana...?" Tanya Mbok Winarsih lagi.
"Tidak tahu mbok..." Kata Nindya sembari menggelengkan kepalanya pelan.
"Di sini saja Non sama mbok, Tuan Dino pasti menginginkan hal itu juga." Kata Mbok Winarsih.
"Ini bukan rumah saya mbok, lagi pula Farel mengatakan ada benturan di kepala Dino yang bisa saja membuatnya amnesia, saya ingin Dino cepat pulih namun saya juga takut saat Dino kembali pulih ia tidak mengingat saya sedangkan saya sudah tinggal di sini, dan sudah merasa nyaman, semua nya akan lebih sulit." Kata Nindya.
"Kalau begitu saya ikut... Atau tinggal di rumah saya Non..."
"Tidak Mbok... Saya tidak mau merepotkan Mbok Winarsih, lagi pula Dirga bisa menemukan saya dan menyeret saya lagi nanti." Kata Nindya duduk di tepi ranjang.
Mbok Winarsih pun ikut duduk di samping Nindya, memegang kedua tangan Nindya, wanita paruh baya itu mengeluarkan air mata yang tak henti dan mulai menangis tersedu-sedu.
"Non Nindya sudah saya anggap sebagai anak... Apalagi Non Nindya sedang hamil, pergi tanpa tahu tujuannya, itu bahaya Non. Saya akan bantu carikan tempat tinggal setelah anak ini lahir Non boleh mengambil keputusan apapun. Kasihan bayi nya Non Nindya. Saya mohon." Kata Mbok Winarsih memohon sembari menangis.
Nindya pun ikut menangis ketika Mbok Winarsih memeluknya. Entah kapan terakhir kali Nindya bisa menangis dalam pelukan penuh kehangatan.
Mata Nindya yang sudah sembab, lalu orang tua Nindya yang meninggal, dan segala permasalahn hidup yang menderanya membuat Nindya hampir putus asa dan ingin mengakhiri hidupnya namun ia ingat ada nyawa yang tak bersalah sedang mengharapkan perlindungannya.
~bersambung~
__ADS_1