
Beberapa bulan kemudian...
"Hueekk... Hueek.... !!!"
Nindya berulang kali memuntahkan makanan yang sudah masuk ke dalam perutnya. Semakin hari Nindya semakin merasa mual. Tidurnya pun tidak nyenyak.
Tante Susi dengan sabar memijit bahu Nindya yang masih muntah di wastafel.
"Jadi jam berapa mau periksa?" Tanya Tante Susi.
Setelah Nindya membasuh mulutnya, ia mengambil tisu di dekat wastafel.
"Sebentar lagi ke sana, setelah adzan maghrib Tante."
"Biar di antar Rudi ya..." Kata Tante Susi.
Rudi adalah anak Tante Susi, pria itu seumuran dengan Nindya dan bekerja di sebuah perusahaan ternama di kota metropolitan. Wajah Rudi memang cukup tampan karena mewarisi wajah ayahnya yang keturunan bule.
Rudi lahir karena kisah cinta satu malam Tante Susi yang cukup menghebohkan di kalangan para TKW. Saat itu Tante Susi tidur dengan majikannya sendiri sehingga membuat Tante Susi harus pulang ke negara asal setelah menjalani sidang dan membayar pinalty yang cukup besar, istri dari majikannya lah yang melaporkan dan membawa perkara itu.
Singkat cerita, semua pinalty itu di bayarkan lunas oleh sang majikan yang mengajaknya tidur. Entah pelet apa yang ada pada Tante Susi, sampai hari ini semua masih percaya jika Tante Susi memiliki ilmu layaknya orang pintar.
" Rudi sudah pulang?" Tanya Nindya.
"Sudah, biar Tante panggilkan dulu." Tante Susi kemudian pergi untuk memanggil anaknya.
Rudi yang baru pulang bekerja pun kembali mengeluarkan mobil honda jazz nya dari garasi untuk mengantar Nindya periksa.
"Aku periksa ke puskesmas Rud, tidak usah pakai mobil?"
"Kita langsung ke rumah sakit saja Nin." Ajak Rudi.
Pria itu membukakan pintu mobil untuk Nindya, dan kota metropolitan sangat padat, menyebabkan jalanan begitu macet.
"Kaaaann... Tadi kalau periksa ke puskesmas kita tidak akan terjebak macet Rud..." Kata Nindya melenguh dan menyandarkan kepalanya.
Rudi hanya tersenyum melihat Nindya.
"Justru macet nya yang ku cari Nin..." Batin Rudi.
Tak berapa lama mobil pun melaju kembali, ketika berhenti di traffic light Nindya melihat seorang penjual kaki lima yang berderet di pinggir jalan, salah satunya ia melihat rujak bangkok.
Seketika membuat air liur nya keluar, Nindya tak henti melihatnya., dan tiba-tiba mobil pun berhenti untuk menepi.
"Lhoh kok berhenti?" Tanya Nindya.
"Aku belikan rujak bangkok dulu buat kamu Nin..." Kata Rudi yang kemudian keluar.
"Eh, tidak usah Rud, keburu malam." Cegah Nindya.
Namun Rudi tidak memperdulikan itu dan tetap membelikan rujak bangkok tersebut. Rudi melihat wajah Nindya begitu sangat menginginkannya.
Tak butuh waktu lama Rudi pun kembali membawa sekotak toples plastik yang berukuran sedang berisi rujak bangkok, namun sebelum masuk ke dalam mobil seseorang mentlaksonnya dari belakang.
__ADS_1
"Tin!"
Mobil Sport berwarna merah pun mengagetkan Rudi, pria itu terkejut dan seketika membalikkan tubuhnya.
Seorang pria tampan keluar dari mobil Sport tersebut dan terlihatlah kewibawaan dan kematangannya yang sukses.
"Sedang apa..." Tanya pria itu.
Pria yang tinggi jangkung dengan berat badan proporsional dan memiliki perut Six Pacx.
"Tuan Dino... Kapan sampai? Katanya besok baru tiba di kota ini?" Kata Rudi.
Dino tertawa melihat Rudi membawa rujak bangkok.
"Ternyata benar kamu... Bukannya kamu tidak suka makanan pedas dan asam."
"Sejujurnya ini untuk..."
"Tuan ini saya tambah bumbu pedasnya kalau istrinya baru ngidam..." Kata sang penjual.
"Buat istrimu?" Tanya Dino tersenyum.
"Anu..." Rudi hanya menggaruk-garuk kepalanya bingung harus menjelaskan bagaimana.
"Yasudah aku mau ke hotel dulu, jangan lupa besok ada rapat." Kata Dino tersenyum yang kemudian masuk ke dalam mobil dan pergi.
Rudi pun juga masuk ke dalam mobilnya, terlihat Nindya justru sedang ketiduran. Rudi membetulkan kepala Nindya yang sedikit menunduk, terlihat cukup menyakitkan tengkuknya.
Setelah itu Rudi menekan gas nya kembali untuk menuju Rumah Sakit.
"Nin..."
"Nindya..."
Kemudian Nindya membuka mata, melenguhkan nafasnya.
"Aku ketiduran..." Kata Nindya.
"Kita sudah sampai, ayo periksa dulu." Kata Rudi.
"Hm.. Iya..."
Mereka pun berjalan menuju Rumah Sakit, di sana Nindya harus mendaftarkan diri. Ketika ia harus mengisi form tentang nama suaminya tangannya pun gemetar.
Biasanya Nindya hanya periksa di bidan atau puskesmas melalui orang dalam suruhan Tante Susi, jadi ia hanya perlu datang membawa buku KIA nya.
"Tulis saja namaku.." Kata Rudi yang berdiri di samping Nindya.
Kemudian Nindya pun menulis nama Rudi Hernando sebagai wali nya.
Setelah pemeriksaan selesai dan berjalan lancar, mereka pun pulang cukup malam.
"Makasih banyak Rud..."Kata Nindya yang kemudian masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
Sedangkan Rudi tersenyum dan melajukan mobilnya kembali ke rumah.
Setelah memeriksakan diri dan di berikan vitamin sepaket dengan susu hamil, Nindya pun membuat susu untuknya. Susu rasa cokelat untuk mengurangi rasa pahit di lidah dan rasa mualnya.
Nindya meminumnya secara perlahan sembari menusukkan garpu pada buah-buahan potong yang ia beli juga di minimarket.
Nindya juga iseng membeli sebuah koran untuk mencari lamaran pekerjaan yang sekiranya bisa untuk dirinya.
"Tidak apa-apa sebelum perut ku membesar aku harus cepat mencari uang..." Kata Nindya.
Merasa tidak ada yang cocok dan tidak ada yang sesuai kriterianya Nindya pun melihat di laman internet.
Sangat sulit mencari pekerjaan di kota metropolitan, semua syaratnya haruslah yang memiliki gelar sarjana. Cleaning Service saja sekarang harus memiliki pendidikan khusus dan sertifikat khusus.
Nindya akhirnya menyerah dan mungkin akan jauh lebih baik jika ia tetap menjadi buruh cuci hingga anaknya lahir.
Setelah menyelesaikan kudapannya, Nindya memilih untuk merebajkan diri. Perutnya sudah sedikit membesar meski belum terlalu kelihatan jika tidak benar-benar di perhatikan.
Sedikit demi sedikit rasa kantuknya pun mulai hinggap di kedua matanya, dan akhirnya ia terlelap dalam tidurnya.
Sedangkan di tempat yang lain Rudi sedang makan malam karena selepas bekerja ia belum makan apapun.
"Rud... Kamu tidak ada rencana menikah?" Tanya Sang mama.
"Belum mah..."
"Belum ingin atau belum punya..." Desak Susi lagi.
"Belum semuanya..."
"Kalau kamu punya waktu luang nanti biar mamah atur kamu ketemu sama anaknya temen mamah."
Rudi sudah cukup jengah dengan semua pembicaraan mak comblang yang setiap kali dan setiap waktu Susi lontarkan.
"Kenapa tidak mamah saja yang menikah?"
"Lhoh kok mamah, mamah belum mau menikah dan tidak ada rencana untuk itu. Cukup ada kamu saja mamah sudah bahagia."
"Begitu pun aku mah, cukup ada mamah aku pun sudah bahagia." Kata Rudi memegang dan menggenggam punggung tangan Susi.
"Tapi... Kamu tidak ada perasaan kan sama Nindya?"
Rudi diam sejenak.
"Tidak mah..." Kata Rudi tersenyum dan melanjutkan makan malamnya.
"Syukurlah, bukan bagaimana Rud... Mamah senang jika punya menantu seperti Nindya, dia ulet, tekun, mandiri dan kuat, tapi..."
"Dia hamil, jadi mamah tidak suka." Sahut Rudi.
"Bukan itu, firasat mamah dia memiliki masalah yang rumit dan kedepannya juga akan semakin rumit jika kamu mencintai Nindya."
"Tenang saja mah tidak akan terjadi apapun, percayalah."
__ADS_1
Susi hanya menghela nafas, tidak ingin terjadi sesuatu apapun pada anaknya.
~bersambung~