TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS

TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS
Pengemis


__ADS_3

Pagi itu seperti biasa Nindya memasak dan menyiapkan sarapan pagi, karena Dirga tidur di apartmennya, dan kali ini Nindya harus bangun lebih pagi.


Saat Nindya menyiapkan hidangan masakan sederhana, hanya nasi goreng dan telur dadar Dirga pun turun dan sudah terlihat tampan dengan kemeja berdasi serta jas yang berada di lengannya.


Dirga kemudian menaruh jas nya di sofa dan menuju kamar Zidan, pria itu mencium anaknya di bagian kedua pipi, dahi serta bibir, tak lupa juga mencium tangan mungil Zidan.


Setelah itu Dirga duduk di kursi makan, Nindya mengambilkan piring dan menyiapkan sarapan untuk Dirga.


Tak berapa lama pintu terbuka dan itu adalah Felix, beberapa waktu lalu saat Hartono datang semua sepakat jika keluarga serta pengawal harus mengetahui pin apartmen Nindya untuk berjaga-jaga.


"Kamu mau ikut sarapan Felix?" Kata Nindya menawari.


"Terimakasih saya tidak biasa sarapan pagi Nona Nindya." Ucap Felix.


Nindya hanya diam dan melihat Dirga melahap sarapan paginya dengan tenang dan tanpa banyak bicara.


Setelah Dirga selesai Nindya menuangkan jus jeruk di gelas untuk Dirga.


"Air putih saja." Kata Dirga sembari mengelap mulutnya.


Nindya beralih menuju teko putih yang berisi air putih dan memberikan pada Dirga.


Setelah selesai Dirga memakai jasnya dan berpamitan pada Nindya.


Dengan cepat Dirga menarik pergelangan Nindya, sontak membuat Nindya pun terkejut dengan gerakan itu.


"Aku akan pulang sedikit malam." Kata Dirga.


Kemudian pria itu memeluk erat tubuh Nindya dan mengecup bibir Nindya.


"Dirga..."


"Aku masih suami sah mu Nindya." Ujar Dirga dan berlenggang pergi meninggalkan Apartmen.


Setelah Dirga pergi dan menuju lift Nindya menahan sedikit jas milik Felix.


"Apa tidak apa-apa Dirga berangkat kerja?" Tanya Nindya.


"Tidak apa-apa Nona, kita sedang berusaha memberikan therapi dengan mengurangi sedikit demi sedikit dosis yang di berikan pada tuan dirga hingga tuan Dirga pada akhirnya memakai dosis paling kecil dan terbebas dari barang itu. Sebenarnya itu hanyalah sejenis morfin yang di gunakan juga di dunia kesehatan medis, selama dosis yang di berikan sesuai dan tepat itu hanyalah obat penghilang rasa sakit biasa, namun akan menjadi barang terlarang jika dosis yang di berikan melebihi dari aturan."


"Baiklah, aku hanya kuatir. Aku percaya padamu." Kata Nindya memasang wajah cemas.


"Saya permisi Nona."

__ADS_1


Setelah kepergian mereka, Nindya pun pergi membereskan meja makan kembali, kesibukan itu cukup lama dan kini Nindya ingin bersantai duduk di sofa sembari menonton tv namun matanya tertuju pada dompet serta ponsel milik Dirga yang tertinggal mungkin tidak sengaja jatuh dari jas nya.


Nindya pun bersiap ingin mengantar namun terlambat, mobil Dirga sudah melaju meninggalkan apartmen, saat itu Nindya berdiri di dekat jendela.


Kemudian ada seberkas rasa penasaran yang menggelitiki hatinya, Nindya pun duduk di sofa dan membuka ponsel itu, ia kembali menekan beberapa angka untuk memasukkan pin, rangkaian angka tanggal permikahan masih menjadi pin di ponsel tersebut.


Nindya pun membuka laman pesan membaca satu persatu, tidak ada yang aneh hanya pesan milik Felix dan beberapa petinggi perusahaan mungkin itu di fikiran Nindya, karena pesan-pesan itu membicarakan tentang rapat dan saham.


Kemudian Nindya melihat galeri dimana ada beberapa foto miliknya dengan wajah marah dan cemberut saat sedang sibuk menggendong Zidan, lalu ada banyak foto-foto Zidan dan seketika membuat senyuman di wajah Nindya mengembang.


Hingga akhirnya ia sampai di foto-foto jaman dimana Dirga dan Nindya baru saja menikah, ada beberapa foto yang di jepret tanpa sepengetahuan Nindya,


"Aku ingat ini saat aku memeluk motor baru pemberian Dirga."


Kemudian ada pula foto ketika Nindya sedang tidur pulas, dengan selimut menutupi tubuhnya, hanya terlihat wajah lelah dan mata yang menutup karena pulas tertidur dan bahu polos serta kulit putihnya.


"Aku tidak tahu dia memfotoku saat tidur." Kata Nindya tersenyum dan mengingat malam panas nya bersama Dirga.


"Ini..." Nindya menghentikan kalinatnya dan memperbesar foto tersebut, sebuah foto motor yang ia naiki pemberian Dirga.


"Plat motor itu juga memiliki angka pernikahan." Kata Nindya.


Kemudian Nindya semakin penasaran menelusuri setiap foto yang ada di galeri ponsel milik Dirga.


Ternyata Dirgalah yang membeli rumah milik orang tua Nindya, melalui perantara orang lain. Saat itu Nindya belum pergi dan belum mengganti nomor telfonnya. Setelah kepergian Nindya tentu saja keberadaan Nindya di sembunyikan oleh Joe.


Nindya menghela nafasnya, ia bahkan tidak tahu harus melupakan kejadian dimana Dirga telah menghilangkan nyawa kedua orang tuanya dan memaafkan semua kesalahan Dirga atau tetap mengajukan surat perceraian.


Kemudian Nindya bergulir melihat isi kontak Dirga, terdapat nama kontak dengan tulisan Istriku dan kontak bernama adik bangsat.


Nindya melihat nomor tersebut, dimana itu adalah nomornya dan nomor Dino.


Nindya pun menekan kontak Felix dan menghubunginya.


"Ya tuan..." Kata Felix diujung panggilan.


"Apa kalian sudah sampai di perusahaan?" Tanya Nindya.


"Nona. Iya, kami baru saja tiba dan Tuan Dirga sedang rapat terbatas di dalam."


"Ponsel Dirga tertinggal beserta dompetnya."


"Baiklah akan saya ambil."

__ADS_1


"Tidak, tidak, biar aku antar, aku dan Zidan juga sedang butuh udara segar di luar, kamu berikan alamat perusahaan nya saja, aku akan datang." Kata Nindya.


"Baik Nona, maaf merepotkan, di bawah ada sopir dan mobil anda bisa memakainya."


Nindya menutup ponsel dan bersiap kemudian menggendong Zidan yang masih tidur.


Perjalanan menuju perusahaan pun dilalui dengan sedikit macet, karena pada saat itu adalah jam dimana semua manusia sedang sibuk beraktifitas.


"Sudah jam makan siang, apa sebaiknya aku beli makanan sekalian agar Dirga bisa makan siang." Batin Nindya.


Setelah Nindya memberikan perintahnya, mobil pun menepi untuk membeli makanan box di sebuah restoran ayam goreng. Cukup lama Nindya menunggu dan bermain dengan Zidan, karena saat itu Zidan sudah bangun.


Setelah pesanan nya selesai, Nindya melaju kembali menuju perusahaan.


Mobil pun berhenti tepat di depan perusahaan yang menjulang tinggi dan itu terlihat sangat besar. Gambaran yang ada di kepala Nindya sangat jauh berbeda.


"Aku pikir perusahaan Dirga seperti pabrik yang dulu, dimana aku bekerja." Kata Nindya lirih.


"Jadi, kemana aku harus masuk. Lewat mana." Ujar Nindya lagi.


Sedangkan mobil yang mengantarnya sudah melesat masuk menuju basement untuk parkir.


"Astaga, makanan nya masih di dalam mobil, sopir itu tidak peka sekali." Kesal Nindya.


"Tapi aku sendiri juga yang salah, karena terlalu bingung dan syock melihat perusahaan ini sangat besar, dan aku tidak tahu harus lewat mana." Ujar Nindya.


Seorang resepsionis pun memanggil security dan juga temannya yang lain.


"Ada pengemis, kasih uang ini dan suruh dia pergi." Kata sang resepsionis.


"Baik. Saya akan usir." Kata security tersebut.


"Pagi-pagi sudah ngemis bawa-bawa bayi." Kesal resepsionis itu.


Setelah sang security keluar dan terlihat seperti saling beradu mulut sang resepsionis pun juga keluar karena merasa jengkel, dimana sang pengemis tidak juga mau pergi.


"Pagi-pagi sudah mengemis, apa kamu punya anak tanpa ayah!" Teriak resepsionis tersebut kesal.


Nindya hanya diam dan akhirnya mengeluarkan ponsel milik Dirga, ponsel Iphone 12 nya, dan kemudian menelfon Felix sembari mendesahhkan nafas pasrahnya.


 


 

__ADS_1


~bersambung~


__ADS_2