TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS

TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS
Hati Dino berserakan


__ADS_3

"PYAARRR!!!"


Nindya belum menyelesaikan kalimatnya namun dengan gerakan cepat Dino melempar gelas di hadapannya. Gelas itu pecah berserakan di atas lantai, dan membuat semua pengunjung melihat pada tindakan Dino.


"Aku mohon cukup Nindya... Cukup... Jangan kamu lanjutkan lagi..." Dino benar-benar sudah menahannya.


Kini semua amarah yang ada di dalam dirinya, ia luapkan dengan membanting sebuah gelas minuman yang ada di hadapannya.


Bahkan Dino sendiri tidak yakin apakah bisa mengendalikan tekanan amarah itu lagi jika Nindya tetap melanjutkannya. Gumpalan dendam, sesak karena marah dan kebengisan sudah siap Dino luapkan namun yang ada di hadapannya adalah Nindya bukannya Dirga.


Perasaannya pada Nindya sudah lama sejak ia duduk di bangku SMA dan sekian lama itu juga Dino hanya bisa memendamnya karena takut akan membuat Nindya membencinya atau menjaga jarak, dan kini diamnya lah yang menjadikan dirinya seorang pengecut serta menjadi boomerang bagi impiannya meminang Nindya.


Cinta yang sudah mekar di hati Dino berubah menjadi mawar hitam yang durinya membuat kesakitan dan seolah ribuan jarum pun menusuk-nusuk hati serta tubuhnya, pria itu sedang berada di fase patah hati, hancur dan kehilangan harapan.


"Sudah waktunya kamu pulang kan, jangan sampai terkena marah." Kata Dino tersenyum.


Tangan dan tubuh Nindya gemetar, baru kali ini ia melihat bagaimana Dino marah. Ketika Nindya ingin pergi, Dino menahannya.


"Telfon aku jika terjadi sesuatu... Okey?" Kata Dino membelai kepala Nindya dengan lembut.


Nindya hanya mengangguk sembari menahan tangis.


"Jangan nangis, aku akan tetap ada untukmu." Kata Dino menenangkan dan mengusap air mata Nindya.


Akhirnya Dino hanya bisa melihat bagaimana sedikit demi sedikit punggung Nindya menghilang dari pandangannya, Nindya pergi bersama Felix.


Kini hanya tinggal Dino yang sudah duduk kembali dengan lesu di kursinya, dan saat itulah entah kebetulan atau bagaimana lagu yang di putar oleh restoran sejak pagi adalah lagu-lagu galau seperti milik Judika, Afgan dan lainnya.


Sekarang pun ketika Dino duduk termenung sendirian, tiba-tiba giliran lagu armada band yang menggaung di restoran.


Ku tak bahagia


Melihat kau bahagia dengannya


Aku terluka


Tak bisa dapatkan kau sepenuhnya


Aku terluka


Melihat kau bermesraan dengannya


Ku tak bahagia


Melihat kau bahagia


Harusnya aku yang di sana


Dampingimu dan bukan dia


Harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia


Harusnya kau tahu bahwa


Cintaku lebih darinya


Harusnya yang kau pilih bukan dia


Ku tak bahagia

__ADS_1


Melihat kau bahagia dengannya


Ku tak bahagia


Melihat kau bahagia


Harusnya aku yang di sana


Dampingimu dan bukan dia


Harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia


Harusnya kau tahu bahwa


Cintaku lebih darinya


Harusnya yang kau pilih bukan dia


Ho-wo-oh


Harusnya aku yang di sana


Dampingimu dan bukan dia


Harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia


Harusnya kau tahu bahwa


Cintaku lebih darinya


Harusnya yang kau pilih bukan dia


Sebelum memasuki area rumah Felix menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Kenapa berhenti..." Tanya Nindya sedikit tersedu.


"Akan banyak pertanyaan saat Tuan Dirga melihat anda menangis."


"Tidak apa-apa, nanti biar aku jawab keingat emak sama bapak..." Kata Nindya.


"Baik Nona..."


Felix kembali menyalakan mobil dan menekan gas nya menuju rumah, kemudian gerbang di buka oleh Pak Purbo dan mobil memasuki garasi, mobil Dirga pun sudah terparkir di sana pertanda pria itu sudah pulang dari pabrik.


Nindya turun dari mobil sembari membawa kursi yang baru saja ia beli, berharap bahwa Dirga tidak marah dengannya karena pulang terlambat.


Saat Nindya naik ke atas, dan menuju kamarnya ia terkejut melihat isi kamarnya kosong melompong.


"Kemana semuanya..." Kata Nindya terkejut sembari menenteng kursi kecil.


Samar-samar Nindya mendengar Dirga yang menaiki tangga, ia pun berbalik melihat ke arah Dirga.


"Bukannya aku sudah bilang, kalau mulai sekarang kamu tidur satu kamar denganku." Kata Dirga ketus dan hanya melirik sekilas sembari membawa secangkir kopi panas dan menyesapnya.


Nindya menghela nafasnya, membuangnya perlahan dan melangkahkan kaki menuju kamar Dirga. Kamar Dirga tidak terlihat berubah masih sama, kamar yang sangat luas dan di dominasi dengan warna grey atau abu-abu serta putih.


Seakan ingin menjawab pertanyaan yang ada di isi kepala Nindya, pria jangkung yang memiliki postur tubuh proporsional tegap itu membuka pintu yang lain, terlihat Walk in closet yang mewah dan luas pula.


Terlihat almari tanam yang berwarna hitam dan putih, sudah di pastikan hitam milik Dirga dan putih milik Nindya melihat almari itu pasti 1 set dengan meja rias yang juga terpampang mewah. Apalagi semua sepatu dan tas mewah wanita ada di almari berwarna putih yang di dominasi oleh kaca.

__ADS_1


"Mana kursinya."


Suara tegas dan juga berat milik Dirga membuyarkan dan memecah lamunan Nindya.


"Ah... Ini Tuan Dirga." Kata Nindya yang dengan cepat berbalik ke arah Dirga menaruh kursi kecil di hapadan Dirga.


"Tutup pintu kamarnya." Perintah Dirga lagi.


Nindya pun menurut dan menutup pintu kamar.


"Ambilkan kemeja dan dasi."


Nindya kemudian tergopoh masuk ke ruang ganti dan mengambil apa yang di sebutkan oleh Dirga kemudian ia kembali berdiri di hadapan Dirga.


"Naik." Kata Dirga sembari memberikan isyarat pada Nindya menggunakan matanya menunjuk pada kursi kecil yang telah Nindya beli.


"Kenapa kamu harus di beri perintah terus..." Omel Dirga.


"Sekarang belajar ikat dasi sampai kamu bisa..."


Dirga lebih dulu memberikan contoh bagaimana membuat simpulnya dan mengikat dasinya, kemudian Nindya memperhatikan dengan seksama.


Hingga beberapa jam mereka masih dalam posisi berdiri, Dirga tidak merasa kakinya lelah atau kram karena pria itu terbiasa berolah raga namun berbeda dengan Nindya yang sudah mulai kesemutan, dan kini pria itu mulai bosan serta uring-uringan karena Nindya tidak kunjung bisa.


"Astaga, Nindya belajar dasi ini mudah sekali, orang bisa dengan cepat mempelajarinya hanya dengan hitungan menit sedangkan kamu sudah membuang waktu berharga ku selama berjam-jam." Geram Dirga.


"Memangnya aku minta kamu ajari? Aku bisa belajar sendiri memakai perantara lain, entah manequeen atau melalui youtube." Umpat Nindya dalam hati.


Pada saat mengumpat itulah Nindya akhirnya bisa sukses menyimpul dan mengikat dasi namun ia pikir simpulnya salah dan menarik dengan keras karena jengkel dan geram, alhasil membuat Dirga tercekik.


"UHUK!" Teriak Dirga yang lehernya tercekik.


"Nindya.... Kamu mau bunuh suami mu!!! Kamu marah!!! Kamu dendam!!!" Teriak Dirga.


"Ti-tidak Tuan Dirga, maaf... Maafkan saya, saya tidak sengaja, saya pikir simpulnya salah, Pak Dirga marah-marah terus saya jadi bingung dan tertekan, jadi saya salah gerak, mau saya lepas malah saya tarik." Kata Nindya berbohong.


"Kamu nyalahin siapa? Aku?!" Kalimat tanya yang penuh intimidasi dari Dirga.


"Bu... Bukan begitu Tuan Dirga..." Kata Nindya kelabakan.


"Ulangi lagi sampai bisa." Perintah Dirga.


"Tapi Tuan... Kaki saya mulai kesemutan..."


Dirga diam tak menggubris dan hanya menjawab dengan tatapan tajam pertanda Nindya harus tetap melanjutkan.


Akhirnya Nindya tidak punya pilihan lain, ia juga tahu bahwa hidupnya kini hanya lah patuh pada titah sang suami, tidak punya hak untuk membantah karena tekanan dari Dirga dan tentu saja ia tidak mau di hukum dengan cara-cara yang di lakukan Dirga padanya.


Nindya kembali sibuk belajar, membuat Dirga pun kembali merasakan kebosanan, kemudian pria itu menyentuh pinggang Nindya membuat Nindya tersentak.


"Kenapa..." Tatap Dirga dengan tegas.


Nindya hanya menelan ludahnya dan melanjutkan belajar mengikat dasi. Namun tangan Dirga mulai nakal dan perlahan jemari kuat itu menyibak dress milik Nindya dan masuk ke dalam underwear.


 


 


~bersambung~

__ADS_1


__ADS_2