
Sesuatu yang tidak pernah Nindya bayangkan sebelumnya. Nindya tidak pernah juga berfikir bahwa Dirga akan membawa Orang tuanya dan menempatkan mereka sebagai sandera.
Perjalanan menuju lokasi cukup jauh dari hiruk pikuk dan keramaian kota. Nindya dalam keadaan cemas dan sangat tidak bisa mengontrol tubuhnya yang gemetar.
Berulang kali tubuhnya menggigil dan Dino berusaha menenangkannya. Pria itu memeluk Nindya dari samping.
"Tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa." Kata Dino.
Setelah di pertengahan perjalanan. Mereka pun berhenti, sebelum sampai di lokasi Dino harus turun dan memakai mobil lain di belakang.
"Dengar bawa ini... Gunakan saat benar-benar terdesak. Mengerti!" Kata Dino.
Nindya hanya mengangguk dan menerima nya dengan tangan gemetar.
"Pegang dengan kuat pistolnya, tarik pelatuknya dan arah kan pada sasarannya, kamu harus memegang pistol ini dengan kuat atau sasarannya akan meleset!" Kata Dino sambil melihat Nindya dengan raut wajah yang cemas.
"Ak... Aku mengerti." Nindya berkata dengan menggigil, bibirnya bergetar hebat, tubuhnya pun gemetaran, jantungnya terus saja berdebar seolah-olah ingin melompat dari dada nya.
Kemudian Dino keluar dari mobil, ketika pria itu akan turun dan pintu sudah terbuka serta Nuel sudah menunggu. Dino mengurungkan dan berbalik lagi. Pria itu dengan cepat mencium bibir Nindya.
Dino meraih tubuh mungil Nindya ke dalam pelukannya, membuat Nindya terkejut dengan tindakan itu. Dino melumaat bibir Nindya dengan lembut, menyapu dan menyesapnya masuk ke dalam mulutnya dengan perlahan. Dino menutup matanya dan Nindya pun tidak menolaknnya.
"Aku mencintaimu... Aku akan ada di sana mengawasi mu." Kata Dino meraup wajah Nindya.
Pria itu mencium mata, dan bibir Nindya kembali, kemudian Dino keluar dari mobil, Nuel menutup pintu mobil tersebut sedangkan Dino masih berdiri melihat mobil yang membawa Nindya.
"Katakan pada semua pengawal jangan segan-segan untuk membunuh Dirga kalau terjadi apa-apa pada Nindya." Kata Dino berlenggang pergi dan masuk ke dalam mobil membuntuti mobil Nindya.
"Baik Tuan."
Mobil Nindya sampai di suatu tempat, Villa yang jauh dari pemukiman namun bukan villa yang pernah ia tinggali.
Sepanjang perjalanan gelap dan tanpa penerangan seolah mereka sengaja membuatnya seperti itu.
Tak berapa lama beberapa pengawal mencegat mobil milik Nindya di pertengahan jalan.
"Nona... Hanya sampai di sini. Mereka pasti meminta anda untuk turun dan berganti mobil." Kata sang pengawal.
Nindya menarik nafasnya, kemudian seorang pengawal datang mengetuk jendela mobil Nindya, menyuruh Nindya untuk keluar.
__ADS_1
Dengan berat dan gemetar Nindya membuka pintu dan keluar, kaki nya yang jenjang menginjak jalan beraspal. Saat itu suasana sangat gelap hanya ada penerangan dari lampu mobil miliknya, dan tak berapa lama mobil yang akan mengantarnya pun menyala.
"Anda harus berganti mobil, tuan Dirga sudah menunggu." Kata sang pengawal.
Namun sebelum Nindya masuk, seorang wanita cantik menyapanya.
"Halo Nindya, aku Alexa." Kata wanita itu dengan tersenyum.
"Alexa?" Tanya Nindya lirih.
"Ya, kamu pasti sudah pernah mendengar namaku, aku yang akan menemanimu selama perjalanan, karena perjalanan akan cukup jauh dari sini." Kata Alexa.
Nindya tidak memperdulikannya, ia hanya masuk ke dalam mobil dan di susul Alexa.
"Mau minum?" Kata Alexa menyodorkan minuman.
Mobil penjemput cukup mewah, di dalamnya bahkan terdapat beberapa botol minum dan gelasnya.
"Tidak." Jawab Nindya singkat.
Setelah perjalanan yang di lalui cukup jauh, mereka sampai di Villa tengah puncak hampir mirip dengan Villa yang berada di pertengahan hutan pinus.
Nindya melihat Villa yang terbungkus dengan mewah, Alexa keluar dan mempersilahkan Nindya pula untuk mengikutinya.
"Dimana orang tua ku..." Kata Nindya sedikit ketus.
Nyali nya harus kuat dan mentalnya tidak boleh lemah, karena itu akan memperlihatkan ketidakberdayaannya dan orang lain akan siap menekannya.
"Ada..." Kata Alexa tanpa menoleh masih menunjukkan jalannya.
Nindya masuk ke dalam Vilaa bernuansa modern, dimana warna yang di dominasi adalah cokelat dan Villa itu memiliki bagunan yang hampir semuanya terbuat dari kayu yang sudah di plitur secara mengkilat.
"Dimana mereka!" Nindya gemetar, sehingga membuat intonasinya sedikit meninggi.
"Di sana..." Kata Alexa menunjuk sebuah ruangan
Ruangan itu memiliki pintu besar yang terbuat pula dari kayu dan di jaga oleh 2 pengawal yang bertubuh besar.
Ketika Nindya akan pergi ke ruangan itu, Alexa menahan Nindya.
__ADS_1
"Kamu harus masuk dalam keadaan bersih..." Kata Alexa.
Kemudian salah satu pengawal yang mengantar mereka pun memeriksa Nindya dan mengambil pistol yang ada di balik baju Nindya.
Alexa hanya berdiri menyedekapkan tangannya dan mencibir Nindya.
"Periksa sekitar Villa..." Kata Alexa pada pengawal itu.
Tanpa memperdulikan pistolnya, Nindya masuk ke dalam ruangan dan membuka pintu itu.
Terlihat ruang meja makan yang besar dengan lampu gantung antik, lampu yang tidak cukup terang menerangi ruangan itu.
Di atas meja panjang itu sudah tersedia makanan yang banyak, daging, ikan, buah-buahan, dan segala jenis hidangan ada di sana, seorang pelayang pun melayani Dirga makan.
Kemudian terlihat emak dan bapak Nindya duduk bersebelahan di sisi kiri Dirga, wajah mereka menunjukkan rasa tekanan yang kuat.
Mereka melihat Nindya datang dan Tri Ningsih hendak berdiri, ingin memeluk Nindya namun ia tidak dapat melakukan itu.
Tatapan nanar Dirga meruntuhkan keberaniannya, sedangkan Wagiman hanya tertunduk lesu, tangannya gemetar saat menyendok makanan masuk ke dalam mulutnya.
"Maakk.... Bapakk..." Kata Nindya dan berlari mendatangi mereka. Nindya memeluk Emak dan bapaknya.
Mereka bertiga saling berpelukan, Nindya berada di tengah antara kursi Emak dan Bapaknya, mereka saling berpelukan.
"Aku senang kamu datang tepat waktu, kita sedang makan malam. Ini adalah impianmu kan? Kita makan bersama dengan mereka, duduk lah di sampingku." Kata Dirga dengan tenang dan dingin.
"Lepaskan mereka Dirga, aku akan menuruti semua perintahmu..." Kata Nindya menghapus air matanya.
"Duduk dan makanlah tanpa banyak suara atau aku tidak segan-segan menyakiti mereka..." Kata Dirga.
Nindya tidak dapat berbuat apapun, ia terpaksa menurut pada titah Dirga dan duduk di sebelah sisi kanannya.
"Makan dengan tenang." Sahut Dirga.
Nindya menarik nafasnya dengan dongkol, melihat makanan yang ada di hadapannya dan melihat ke arah Dirga dengan tatapan penuh amarah.
"Tenang saja makanan ini tidak beracun." Dirga kemudian menyendokkan makanannya ke dalam mulut.
Orang tua Nindya sesekali menyuapkan nasi pada mulut mereka karena takut pada ancaman Dirga, sedangkan Nindya tetap tidak mau makan apapun dari apa yang sudah di suguhkan.
__ADS_1
Setelah acara makan malam selesai, Dirga mengelap mulutnya dengan serbetnya.
~bersambung~