
Setelah beberapa jam lebih semua orang menunggu dengan kecemasan dan pikiran mereka masing-masing.
Seorang dokter wanita pun keluar bersama seorang perawat membawa beberapa dokumen bersamanya. Dokter tersebut kemudian membuka masker serta sarung tangan latex nya. Semua orang seketika berdiri dengan tegang untuk mendengar kabar dari sang dokter dengan telinga mereka baik-baik.
"Siapa ayah dari bayi Nyonya Nindya?" Tanya dokter tersebut.
"SAYA!"
Jawab Dirga, Dino, serta Rudi secara bersamaan dan mendekat pada sang dokter.
"Wow..." Sang dokter pun terkejut dan menahan tawanya.
Sedangkan Tante Susi tak kalah syock melihat ke-3 pria itu saling mengaku secara bersamaan. Kemudian Tante Susi menepuk punggung Rudi dengan kasar dan cukup keras.
"Apa yang kamu lakukan Rud!" Kata Tante Susi.
Rudi pun hanya diam tak bisa menjelaskan.
"Kalau begitu, siapa suami dari Nyonya Nindya." Kata sang Dokter.
"Saya suaminya, Dirga Hartono Putra Jaelani." Kata Dirga antusias.
"Maaf Dokter, tapi dalam rekam medis Nyonya Nindya wali nya bernama Rudi Hernando."
"Untuk tuan Rudi bisa masuk dan menjenguk anak serta istrinya." Kata Sang dokter.
"Kenapa tidak bilang dari tadi suster, sebut saja namanya!" Geram Rudi.
"Maksud ku itu mamah, rekam medis Nindya wali nya adalah diriku." Kata Rudi menjelaskan pada mamahnya.
"Tapi maaf dokter saya bukan suaminya hanya walinya saja saat mengantarnya periksa. Biarkan suaminya yang lebih ber hak untuk masuk."
Sang dokter dan suster pun kebingungan dan kemudian mempersilahkan siapa saja pria yang menjadi suami dari Nindya.
Dirga pun masuk menjenguk Nindya yang sudah terbaring lemah selepas melahirkan secara normal, sedangkan bayi tersebut berada di dalam dekapan Nindya tepat di atas dadanya. Proses itu di namakan IMD, skin to skin contact, bayi dibiarkan mencari sendiri dan mendekati putiingg susu ibu untuk melakukan proses menyusui pertama kali.
Dirga mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, melihat bagaimana malaikat kecil yang masih polos tanpa sehelai baju berada di atas dada Nindya.
"Aku tidak peduli siapa ayah biologis dari bayi ini, tapi aku janji akan selalu menyayanginya jika kita kembali bersama Nindya." Kata Dirga sembari mencium kening Nindya.
Dirga telah jatuh cinta pada pandangan pertama pada bayi mungil tersebut, bayi polos tanpa dosa, bayi yang memiliki kulit putih bersih dan sangat lucu, dan bayi laki-laki yang sangat tampan.
Bayi itu masih berada di atas dada Nindya, kemudian Dirga duduk sembari memeluk mereka berdua dan berbisik pada Nindya.
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, percayalah padaku." Kata Dirga menempelkan keningnya pada kepala Nindya dengan pasrah.
__ADS_1
Nindya masih diam, ia masih belum bisa menerima kehadiran Dirga, namun melihat bayi mungil yang ada di dekapannya, bayi tanpa dosa dan bayi yang tidak tahu apapun, membuatnya merasa kasihan, bahwa anaknya perlu sosok ayah kandungnya.
"Dia... Adalah anakmu Dirga, dia anak kandungmu..." Kata Nindya, air matanya kembali berlinang.
Dirga kemudian terkejut dan mengangkat wajahnya tepat di depan Nindya. Air matanya pun menetes.
"Aku tahu... Aku tahu dia anakku..." Kata Dirga mencium dan memeluk Nindya serta anaknya.
"Anakku... Aku tahu kamu adalah anakku, aku merasakannya."
Dirga mencium bayi merah itu.
Setelah Nindya di pindah kan ke ruangan lain, dan Dirga jugalah yang memilihkan ruang VVIP, kemudian Tante Susi pun menemani Nindya.
"Aku sudah menghubungi Winarsih, dia bahagia mendengarmu melahirkan, tapi dia juga sangat terkejut mendengar majikannya ternyata juga berada di sini." Kata Tante Susi.
"Terimakasih untuk segala bantuan Tante Susi..."
"Kamu harus memikirkannya dengan baik Nindya, harus memikirkan anak itu juga, kamu harus bisa mengambil keputusan yang paling baik, apakah kamu akan kembali pada suami mu atau kamu akan tetap menetap di sini. Aku tidak melarangmu tetap di sini, tapi jika kamu memilih pergi tugas ku sudah selesai untuk menjagamu." Kata Tante Susi mengupas buah untuk Nindya.
Sedangkan di tempat lainnya Dirga di bantu Joe masih mengurus administrasi pendataan serta melihat anaknya dari luar, dimana anak tersebut sedang di observasi di ruangan terpisah.
Tak berapa lama Dino pun masuk ke dalam ruangan Nindya. Tante Susi faham dan undur Diri. Felix serta Nuel berjaga di depan pintu.
"Aku tahu, situasi yang serba kebetulan ini pasti mengejutkanmu." Kata Nindya.
"Ya, sangat. Untungnya pria yang bersamamu adalah Rudi dan aku mengenalnya. Lalu kenapa kamu pergi dari rumah?"
"Aku... Hanya tidak ingin terlalu nyaman di sana, terlebih aku sedang hamil, apalagi Farel mengatakan kamu..."
"Aku gegar otak?" Dino tersenyum menyeringai.
Lalu Dino membuang nafasnya kasar.
"Saat aku terbangun dan sudah berada di USA, aku benar-benar memukul Farel, saat itu lah aku merasa Farel benar-benar bukan berada di pihakku, dari awal aku merasa Farel memang sengaja ingin merusak semua rencanaku."
"Apa maksud nya?"
"Aku tidak pernah mengalami gegar otak, atau apapun itu. Itu hanyalah alasan Farel untuk memisahkan kita, dia mengkhianatiku."
"Lalu..."
"Lalu aku kembali ke sini, dan mendapati kamu sudah pergi, pun aku juga tidak menemukan Mbok Winarsih, informanku mengatakan Mbok Winarsih sudah pindah bersama suaminya, lalu aku pun menemukan mereka, namun sejauh aku mendesak Mbok Winarsih untuk jujur, dia tetap tidak mau mengatakan kemana kamu pergi."
"Aku menyesal mendengar itu, tapi aku juga takut jika saat kamu pulang dan tidak mengenaliku, pasti akan sulit bagiku dan juga untukmu..."
__ADS_1
Dino kemudian meraih tangan Nindya dan menciumnya .
"Dan aku pastikan hanya kamu yang ada di hatiku."
"Tapi, saat itu aku hamil dan orang tua ku..."
"Aku tahu, dan aku mengunjungi pusaranya. Aku turut berduka Nindya. Tapi kamu tidak akan pernah sendiri lagi, aku janji tidak akan pernah meninggalkanmu."
"GLODEK!"
Terdengar pintu berbunyi cukup keras, dan itu adalah benturan dari tubuh Felix.
"DApa itu Dirga?..." Tanya Nindya lirih.
Dino mengecup tangan Nindya dan kemudian keluar.
"Bisa kamu mengontrol emosimu Dirga, ini rumah sakit."
"Ini adalah urusan pribadiku dengan pengawalku yang berkhianat." Kata Dirga ketus.
"Dia sekarang pengawalku dan aku juga akan ikut campur saat orang lain mengganggunya."
Dirga menyeringai.
"Bukankah Papah sudah memberimu peringatan Dirga." Kata Dino.
"Aku tidak akan patuh padanya, semua masalah ini berawal dari perbuatannya dan kebohongannya." Kata Dirga.
"Setidaknya sekarang kita tahu, bahwa kita satu darah, dan jangan membuat masalah lagi, apa belum cukup semua masalah yang timbul dan merugikan salah satu pihak! Apa kamu tidak merasa menyesal telah menjadikan seseorang menjadi yatim piatu!" Geram Dino.
Dirga tertawa menyeringai.
"Dan sekarang kamu bangga mengguriku? Aku masih sangat ingat, dulu kamu adalah biang masalah dan aku lah yang selalu menyelesaikannya, kamu lupa? Bagaimana kamu menabrakku, demi bapalan liar itu?"
Ingatan itu membuat Dino menciut.
"Ingat Dino, Nindya adalah istriku dan akan tetap menjadi istriku, jangan harap kamu bisa memilikinya, dan anak itu adalah anakku, semuanya akan kembali pada semestinya, dan kamu adalah orang asing yang ada di antara kami."
"Kamu melucu tentang apa Dirga, bahkan aku tidak akan membiarkan Nindya kembali pada psychopath seperti dirimu."
"Kita lihat saja!" Kata Dirga.
Kini Dirga serta Dino hanya saling menatap penuh kebencian. Kebencian yang justru semakin membara di antara mereka.
~bersambung~
__ADS_1