
Alexa berjalan menyusuri lantai marmer yang mahal, menggunakan pakaian yang mengundang mata liar para lelaki.
Wanita itu mendatangi ruangan VIP yang tak lain adalah tempat dimana Dirga sedang duduk meminum alkoholnya.
Pengawal yang berdiri menjaga pintu menahan Alexa namun setelah mendapatkan konfirmasi bahwa Dirga lah yang mengundangnya mereka akhirnya membuka pintu dan mengijinkannya masuk.
"Aku tahu kamu akan merindukanku Beib..." Sapa Alexa dan duduk di samping Dirga bersandar di dada pria itu, sembari menempelkan tubuh seksinya. oenuh kemanjaan dan merayu.
"Aku menyuruhmu datang bukan untuk menjual diri. Katakan padaku Alexa, bagaimana kamu tahu semua tentang keluargaku." Kata Dirga menekan rahang Alexa dengan tangan kirinya. Penuh ketenangan dan sikap yang dingin.
"Ap... Apa maksud mu..." Tatapan Alexa menciut.
"Kamu pikir aku tidak tahu siapa yang mengirim catatan itu pada mamaku?"
"A... Aku... Tidak tahu maksudmu." Jawab Alexa.
Dirga kemudian mendorong Alexa dengan kasar, hingga wanita itu terbaring di atas sofa, kepala Alexa membentur sofa dengan cukup keras, lalu Dirga mencekik leher Alexa.
"Katakan Alexa..." Suara Dirga dingin.
Alexa mencoba melepaskan diri, wanita itu terbatuk-batuk. Wajahnya sudah memerah karena Dirga semakin kuat mencekiknya. Kemudian Alexa menganggukkan kepalanya.
Setelah Dirga melepaskan cengkramannya Alexa terbatuk batuk dan memegangi lehernya. Wajahnya masih memerah. Wanita itu menarik nafas sedalam mungkin.
"A... Aku melakukannya karena aku marah padamu... Aku kesal padamu Dirga! Sa..Saat kamu datang ke apartmen dan memberikanku hadiah 2 buku nikah mu dengan pelacurr desa itu." Kata Alexa terengah-engah.
"Lalu... Pengawalku mendapatkan informasi dari file papaku dan mengirimkannya padaku..." Sambung Alexa lagi dengan perasaan takut.
"Biar aku ralat, Farhat Jaya sendirilah yang memberikan informasi tentang keluarga Hartono Jaelani agar kamu bisa menggunakannya untuk menekan ku bukan, kalian pikir aku tidak tahu, kamu mendekatiku hanya karena uang dan perusahaan, dan kamu pikir aku tidak tahu perusahaan Farhat Jaya sedang di ujung jurang kehancuran dan akan pailid." Dirga mendekatkan wajahnya, mata pria itu menatap nanar pada Alexa seolah siap merobek semua tubuh Alexa.
Alexa ketakutan dan ingin menjauh namun dengan cepat Dirga menarik tubuh Alexa mendekat dan pria itu berbisik.
"Aku bisa menolong keluargamu, tapi semua itu tidak gratis..." Bisik Dirga di telinga Alexa.
Seketika wanita itu bergetar, tubuhnya menggigil.
"Ap... Apa mau mu..."
__ADS_1
"Pengawalku akan menghubungimu nanti, sekarang pergilah aku tidak suka dengan wanita yang sudah bermain dengan temanku sendiri."
Alexa membelalakkan matanya.
"Kamu pikir aku bodoh kan? Aku tahu permainan panasmu dengan Ferdi." Kata Dirga santai dan memalingkan wajah acuhnya.
Kemudian Dirga memberikan isyarat dengan tangannya agar Alexa secepatnya pergi dari ruangan.
Setelah kepergian Alexa Dirga kembali meminum alkoholnya. Pria itu mengingat kembali kejadian saat Nindya melarikan diri dengan Dino.
Lalu pria itu melempar botol alkoholnya.
"PYARR!!"
Botol itu pecah berserakan di lantai.
Tak berapa lama seorang pengawal yang Dirga panggil pun datang. Pengawal yang sudah lama meminta untuk pensiun dan menetap di luar negeri. Pengawal tersebut memiliki usia kira-kira 40 tahun namun tubuhnya tegap berotot.
"Tuan Dirga saya kembali..." Kata Xavier memberikan salamnya.
"Hm... Aku punya tugas untukmu." Katanya.
"Pergilah bersama Joe ke sebuah desa dan bawa orang tua itu..." Kata Dirga dengan ketenangan yang dingin sembari menyesap alkoholnya.
"Saya akan melaksanakannya..." Kata Xavier.
"Dan satu lagi, ku pikir setelah hukuman itu Felix akan kembali, ternyata dia tetap memilih berada di pihak Dino, jika kamu bertemu dengannya... Bunuh saja dia."
"Baik tuan..."
***
Pagi itu Tri Ningsih dan Wagiman sedang berada di rumah nya setelah pekerjaan panjangnya setelah beberapa hari, karena sekarang adalah musim penghujan mereka lebih banyak berada di rumah.
Sedangkan hutang piutang yang mereka miliki telah di lunasi memakai uang yang di berikan oleh Dirga. Mau tak mau mereka harus menggunakannya karena para depkolektor terus saja meresahkan dan mengganggu mereka.
Wagiman sedang memberi makan pada kambing-kambingnya di belakang rumah, sedang Tri Ningsih sedang menyapu teras rumah. Pagi yang masih cukup gelap dan embun masih sangat tebal. Udara dingin namun tak sedingin di wilayah puncak.
__ADS_1
Tak berapa lama, beberapa mobil beriringan pun datang terparkir berjajar di jalan tepat di depan rumah mereka. Saat itu keadaan kampung sedang sepi, mungkin karena semalaman hujan turun dengan lebat, sehingga membuat para warga masih terlelap tidur di balik selimut hangat mereka, warga memilih untuk berada di dalam rumah dan malas untuk keluar..
Para pria yang berpakaian lengkap menggunakam jas dan headset di telinga kemudian turun dan langsung menutup mulut Tri Ningsih. Sisanya yang lain masuk ke dalam mencari Wagiman.
Dengan cepat para orangtua itu di masukkan ke dalam mobil dan mobil-mobil itu pergi dari kampung.
Sedangkan untuk rumah sendiri di buat seolah-olah para orang tua itu meninggalkannya rumah mereka karena memang ingin pergi. Semua pakaian dan semua yang bisa memperyakin bahwa mereka pergi ke kota di tata atau di bawa sedemikian rupa. Seorang pengawal dengan menggunakan sarung tangan bekerja sangat teliti di bantu satu pengawal lainnya.
Para orang tua itu di bekap dan di bius agar tidak berteriak, mobil melaju dengan cepat entah mereka akan di bawa kemana dan siapa mereka para orang tua itu tidak tahu.
Sedangkan di tempat yang lain Dino sedang mengatur isi rumahnya, para pengawal dan pelayan sudah di tempatkan di posisi mereka masing masing.
Tak berapa lama pun Farel datang, untuk memeriksa Nindya.
"Kamu sudah datang." Kata Dino.
Mereka saling memeluk dan bersalaman ala pria.
"Aku sudah dengar dari Nuel, sebelum kembali dia menelfonku dan aku juga sudah menduganya dari awal, untungnya kamu tidak apa-apa." Kata Farel.
"Aku baik-baik saja."
Para pria itu pun berjalan menuju kamar Nindya, dimana ia sudah selesai membersihkan tubuhnya dan memakai pakaian yang sidah tersedia.
Di dalam kamar ada Mbok Winarsih yang membantu Nindya, dan ketika pinti di ketuk kemudian Mbok Winarsih membukannya.
Dokter Farel tersenyum ramah dan masuk bersama Dino, sedangkan Nindya masih duduk di tepi ranjang dan Mbok Winarsih pamit pergi setelah tugasnya selesai.
Farel mulai mengeluarkan alat stetoskop dan memerika Nindya yang kini sudah berbaring. Setelah selesai dokter itu sedikit lama terdiam dan bertanya pada Nindya.
"Boleh aku bertanya sesuatu, tapi pertanyaan ini sedikit pribadi?" Kata Farel.
"Silahkan..." Nindya kemudian duduk.
Dino yang berdiri tal jauh dari mereka pun membantu Nindya untuk duduk, pria itu menaruh beberapa bantal di punggung Nindya untuk bersandar.
"Kapan pertama kali kalian... Maksud ku adalah kapan pertama kalinya kamu dan suami mu melakukan hubungan badan."
__ADS_1
Nindya terkejut, ia tidak percaya Farel menanyakan hal itu di depan Dino. Seketika Nindya merasa malu dan melihat pada Dino, pun Dino yang tidak menyangka Farel menanyakan hal itu di depannya.
~bersambung~