TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS

TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS
Penyelamatan Zidan


__ADS_3

Mobil-mobil berurutan melaju dengan cepat melewati jalan-jalan yang basah karena hujan baru saja reda.


Nindya merasakan dejavu, teringat kembali peristiwa dimana Dirga menyuruhnya datang karena pria itu menawan orang tuanya dan tubuh Nindya kembali gemetar, sedangkan Dino yang melihat tubuh Nindya sudah menggigil kemudian melepaskan jas nya dan memakaikan pada Nindya, Dino memeluk Nindya dengan tangan kirinya.


Setelah mobil sampai di tepi pantai jalanan beraspal, dengan cepat Nindya serta Dino pun keluar, tak lupa para pengawal juga berjaga.


Felix serta Nuel mengitari pantai namun nihil, tidak ada siapapun.


Angin pantai sangat kencang dan membuat rambut Nindya berterbangan.


"Kita terlambat tuan, sepertinya mereka sudah pergi."


Nindya kembali panik.


"Bagaimana jika Zidan lapar, apa Dirga tidak memikirkan itu!" Geram Nindya.


Dino hanya diam dan memeluk Nindya.


"Bagaimana sekarang?" Tanya Dino.


"Saya akan melacaknya lagi tuan." Sahut Felix.


Tak berapa lama, ponsel Felix bergetar, ada seseorang yang menghubunginya atas nama Dirga dan menyebutkan bahwa Dirga sedang bersamanya. Dino melihat perubahan pada mimik wajah pada Felix membuat Dino mengangkat alisnya menunggu penjelasan dari Felix.


"Tuan Dirga ikut di tawan." Kata Felix.


"Apa maksudnya?" Dino tidak mengerti.


"Seperti nya dendam masa lalu tuan."


Nuel kembali memeriksa tabletnya.


"Panggilan itu sudah terlacak!"


"Aku tahu kalian bisa di andalkan, ponsel paling mudah untuk di lacak dan di sabotase." Kata Dino.


Semua orang memasang wajah tegang dan kembali masuk ke dalam mobil untuk menuju lokasi tersebut.


Perjalanan membutuhkan waktu cukup lama karena banjir menggenang di jalan-jalan ibu kota metropolitan.


Tak berapa lama, sampailah mereka di sebuah gedung yang mewah dan memiliki lantai berlapis-lapis.


"Apa mereka membawa anakku kemari?" Tanya Nindya mendongakkan kepalannya.


Bangunan yang menjulan tinggi itu di jaga oleh pengawal di depan dan di dalam gedung.


Beberapa pengawal Dino masuk dengan senyap, dan mematikan semua CCTV serta membius dan melumpuhkan para penjaga dan pengawal apartmen.


Setelah bersih dan aman, salah satu komandan pengawal pun menghubungi Felix jika mereka bisa masuk.

__ADS_1


Dino tahu tidak bisa mencegah Nindya, dan ia juga tahu dengan sifat Nindya, ia tidak akan mau jika menunggu di mobil.


Akhirnya mereka semua masuk, naik menggunakan lift dan sampailah di sebuah apartmen yang di duga Zidan berada di sana.


Seorang pengawal pun memasang bom berbahan ledak ringan untuk membuka pintu apartmen.


"BOOMM!!"


Pintu pun terbuka dan terpental.


Asap masih menyelimuti dan tidak dapat membuat mereka bisa melihat apa yang ada di dalam apartmen.


Para pengawal masuk lebih dulu di susul Felix di depan lalu Dino serta Nindya, paling belakang Nuel serta beberapa pengawal lagi.


Ruangan sangat gelap, kemudian pengawal menekan saklar lampu dan terlihatlah seseorang tepat di ruangan tengah.


"Dirga..." Rintih Nindya sembari menutup mulutnya.


Dino menarik Nindya dalam pelukannya dan tidak mengijinkan Nindya melihatnya.


Dirga dalam keadaan terikat di kursi, tanpa baju hanya menggunakan celana panjang, tubuhnya pun sudah penuh luka dan memar, darah mengalir dimana-mana.


Felix serta Nuel melepaskan tali yang mengikat Dirga, dan melepaskan sumpalan di mulut Dirga.


Seorang pengawal mengambilkan selimut untuk Dirga, dan memapah Dirga duduk di atas sofa.


"Dirga dimana Zidan..." Tanya Dino.


Felix memeriksa Dirga dan melihat pupil mata Dirga.


"Sepertinya tuan Dirga di suntik heroin tuan."


Nindya menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata menggenang di kedua pipinya, melihat Dirga yang memiliki tubuh kuat menjadi lemah tak berdaya, sedangkan Dino memijit tengkuknya.


Seorang pengawal yang memeriksa apartmen membawa seorang bayi di gendongannya, bayi itu menangis sangat keras.


"Anakku..." Teriak Nindya dengan cepat menghampiri sang pengawal.


Kemudian Nindyal mengambil anak itu dari gendongan sang pengawal.


"Anakku..." Nindya menciumi anaknya berulang kali dengan menangis.


"Saya menemukannya di almari tuan." Kata sang pengawal menundukkan kepala.


Dino geram dan makin kesal, ia masih belum menemukan siapa dalang dari semua ini.


"Jika Dirga di sini seharusnya Joe juga berada di sini kan." Kata Dino.


"Bisa kita pergi dari sini sekarang juga!" Kata Nindya panik dan cemas karena Zidan tidak mau menyusu dan terus saja menangis.

__ADS_1


"Kita pergi sekarang, ini sangat aneh!" Kata Dino.


Sebelum mereka semua beranjak pergi lampu apartmen bahkan lampu semua gedung mati. Menjadi gelap gulita. Pandangan mata berjuang dengan cepat untuk beradaptasi.


"Nindya!!!" Teriak Dino dan berusaha menggapai serta mencari.


Setelah beberapa menit seluruh bangunan apartmen kembali menyala. Dino melihat dan mengedarkan pandangannya kemudian melihat Nindya sudah berada di ujung ruangan bersama seseorang.


Pria baruh baya dan juga Joe, ia menyandra Nindya yang masih menggendong Zidan, bayi itu menangis terus menerus.


"Berisik sekali bayi itu!" Kata pria paruh baya itu tidak sabar.


Nindya menangis, sedang Dino serta para pengawal juga tidak bisa berkutik semua sudah terkepung di luar pun sudah banyak pengawal yang mengepung mereka.


"Kita terkepung tuan." Bisik Felix.


Nuel masih menjaga Dirga yang masih dalam penurunan kesadaran.


"Aku sudah menebaknya itu adalah kamu Joe. Lepaskan Nindya dan anaknya, aku tidak tahu masalahmu apa tapi jangan libatkan Nindya, aku juga tidak tahu kamu bekerja untuk siapa sekarang, tapi jika kamu berani menyakitinya, kamu akan menyesal." Ancam Dino berusaha untuk tetap tenang dalam situasi yang tidak menguntungkannya.


"Anak muda sombong, kamu sudah tidak bisa bergerak masih saja sok pahlawan dan menyombongkan omongan." Kata pria paruh baya itu.


"Kenalkan, aku adalah Farhat Jaya ayah dari Alexa yang mati karena ulah kakakmu."


"Jadi kalian ingin balas dendam? Kenapa melibatkan orang yang tidak bersalah, lepaskan Nindya dan anaknya."


Farhat Jaya semakin kesal dan berteriak.


"Apa kamu tidak bisa membuat bayi itu diam!" Teriak Farhat Jaya pada Nindya sembari menodongkan pistolnya.


Nindya menutup mata dan merapatkan mulut namun air mata masih terus mengalir.


"Jangan coba-coba!!!" Teriak Dino yang hendak maju dan membuat semua pengawal bersitegang.


"LEPASKAN DIA JOE! BAYI ITU LAPAR, BIARKAN NINDYA MENYUSUI DI KAMARNYA!" Teriak Dino.


"TIDAK ADA YANG BOLEH PERGI DARI SINI MESKI HANYA SATU JENGKAL!!!" Teriak balik Farhat Jaya.


Semua memegangi pistol mereka, namun kemudian Dino mencoba memprovokasi Joe.


"Apa yang membuatmu seperti ini Joe, aku mengenal baik dirimu sudah lama kamu bersama Dirga, apa kamu tidak memiliki sedikit rasa keluarga?"


"Dirga tidak pernah menganggapku keluarga, jika dia menganggapku keluarga, Xavier tidak akan mati!" Teriak Joe.


"Xavier aatu-satunya keluarga yang ku miliki, karena semua ide bodoh Dirga, aku kehilangan Xavier!" Ucap Joe.


"Kamu juga tahu Joe, Nindya pun kehilangan kedua orang tuanya, semua ini adalah salah paham yang berkelanjutan membuat Dirga hilang akal."


"Persetan dengan orang lain! Yang ku tahu adalah Xavier tidak bisa hidup kembali!" Geram Joe masih mencengkram lengan Nindya dengan kuat.

__ADS_1


Tak berapa lama keadaan Dirga berangsur-angsur normal, meski matanya masih sayu. Melihat semua orang saling bersitegang, melihat, Nindya dan anaknya menjadi tawanan, ia kembali mengingat kejadian yang baru saja ia alami.


~bersambung~


__ADS_2