TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS

TERJEBAK CINTA 2 PEWARIS
Bunuh Diri?


__ADS_3

Nindya berada di kamar mandi terdekat, kamar mandi dengan ukuran yang cukup besar dengan interior yang mewah.


Perut Nindya seperti selalu di aduk hingga terus tertarik ke atas ingin memuntahkan isi dalam perutnya. Nindya yang terduduk lemah di depan closet berukuran sedang dengan bentuk lebih pendek dan mewah hanya bisa merasakan tubuhnya semakin lemas karena keinginan muntah membuatnya tidak bisa beranjak.


Dino dengan setia menemani Nindya dan memijat bahu Nindya, pria itu memegangi rambut Nindya agar tidak mengganggu wajah Nindya.


Dengan isyarat tangannya yang lemah, Nindya mendorong Dino untuk menjauh, ia tidak ingin Dino merasa jijik.


Alih-alih Dino pergi justru ia dengan setia masih memegangi rambut Nindya dan berjongkok di belakang Nindya dengan masih memijat bahu Nindya secara pelan menggunakan tangan yang lain.


"Hoeekk... Hoeekkk..." Nindya masih terus ingin memuntahkan semua isi perutnya.


Setelah di rasa perut Nindya lebih tenang, Dino mengambilkan tisu untuk Nindya dan menekan flush closet.


Dino hanya diam dan menuntun Nindya kembali ke kamar, sembari menyuruh pelayan memanggil Mbok Winarsih.


"Masih kuat? Perlu ku gendong Nin?" Tanya Dino.


Nindya hanya menjawab dengan isyarat tangannya dan menggelengkan kepala pertanda jika tidak perlu di gendong.


Setelah Nindya berbaring di ranjang, Dino mengambil ponselnya yang ada di saku celana dan menelfon Farel. Tak berapa lama Mbok Winarsih datang.


"Mbok Nindya muntah-muntah mungkin masuk angin, aku sedang menelfon Farel." Kata Dino yang masih memasang ponselnya di telinga.


"Non apa yang dirasain?" Tanya Mbok Winarsih.


"Pusing Mbok, perut juga mual, badanku lemes." Kata Nindya menjawab sayu.


"Saya bikinin teh anget dulu Non..."


"Tidak usah Mbok, saya minta di kerokin saja..." Pinta Nindya.


Mbok Winarsih ragu dan cemas.


"Maaf Non, bagaimana kalau nanti saja Non... Emm... Setelah Dokter Farel datang dan periksa Non Nindya habis itu saya kerokin, saya takut salah-salah..." Jawab Mbok Winarsih.


Nindya hanya mengangguk lemah, dan kini matanya pun perlahan menutup, Nindya merasa lemas dan selalu mengantuk.

__ADS_1


Tak berapa lama pun Dokter Farel datang, pria itu memeriksa Nindya yang sudah bangun dan sedang meminum teh hangatnya.


Perlahan Farel memeriksa Nindya setelah Farel menyuruh Nindya berbaring. Farel menekan nadi Nindya, dan memeriksa Nindya dengan stetoskopnya, kemudian membuka mata Nindya dan melihat pupilnya, dokter itu juga mengeluarkan alat tensinya Lalu memeriksa pwrut Nindya, ia sedikit menekannya secara perlahan. Tak cukup dengan itu Farel juga memeriksa lidah Nindya.


"Kapan terakhir kamu datang bulan Nindya?" Tanya Farel.


Nindya mulai mengingat dan tidak yakin selama menikah ia baru sadar jika dirinya belum pernah datang bulan.


"Selama menikah aku belum datang bulan, mungkin karena stres. Terlebih saat itu terlalu banyak masalah aku tidak memperhatikan diriku sendiri." Kata Nindya.


"Aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya, ini berita baik atau sebaliknya untukmu. Menurut diagnosaku, kamu hamil dan untuk memastikannya kamu harus ke klinikku atau ke rumah sakit ku." Kata Farel.


Dino yang berdiri di samping Farel dengan menyedekapkan tangannya seketika terkejut dan melihat ke arah Farel.


Kemudian Farel pun membalas tatapan Dino.


Sedangkan Nindya belum bisa mencerna kabar tersebut, ia masih tidak percaya bahwa dirinya mengandung anak dari pria yang paling ia benci dan ingin ia lupakan.


"Tolong periksa kembali... Anda pasti salah." Kata Nindya.


Kemudian Farel mengeluarkan kotak perlengkapannya, dan mengambil sebuah tespek digital dan menaruh nya di atas meja kecil di samping tempat tidur Nindya.


Pria itu kemudian mengemasi perlengkapan periksanya dan meninggalkan kamar Nindya, sedangkan Nindya masih memandangi alat tespeck yang ada di atas meja dengan tatapan kosong.


Dino pun tidak kalah terkejut bahkan hati dan perasaannya kembali di koyak setelah ia menahan rasa sakitnya saat mengetahui Nindya menikah dengan Dirga. Rasa sakitnya dan perih serta terkoyaknya hati bahkan lebih parah dari sebelumnya.


Dino duduk di kursi kerjanya kembali, menyandarkan punggung dan kepalanya, pria itu menutup mata dan tangannya memijit dahi, tiba-tiba saja kepalanya terasa sangat pusing.


"Aku sudah mengatakannya padamu Dino..." Kata Farel.


Sedangkan Dino masih memejamkan matanya tidak dapat menjawab apapun.


"Jangan berlebihan Dino, sekarang saat nya kamu harus merelakannya. Kamu tidak bisa menjaga dan merawatnya terus menerus apalagi sekarang dia mengandung anak dari Dirga. Kalau kamu tidak tega, belikan saja dia rumah, dengan seorang pelayan dan pengawal, kamu bisa memastikan dia aman dengan jauh dari Dirga. Lagi pula kamu juga harus memikirkan masa depan mu." Kata Farel membujuk sahabatnya.


"Akan ku pikirkan." Kata Dino


"Pikirkan dengan baik Dino, dia dan anaknya bukanlah tanggung jawabmu." Sahut Farel kembali.

__ADS_1


Setelah kepergian Farel, Dino memikirkan baik-baik kalimat yang di lontarkan sahabatnya. Perasaan dan hatinya memang sudah terluka dan kini luka itu semakin perih dengan kabar kehamilan Nindya. Luka itu belum sembuh dengan sempurna bahkan Luka yang masih basah seolah Dirga sengaja menyiramnya dengan cuka atau mengolesnya dengan garam.


"Dia tahu bagaimana menghancurkanku..." Seringai kebencian Dino akhirnya muncul terlukis di wajah dan sudut bibirnya.


Dino masih memijat kepalanya, ia benar-benar merasa pusing dan memilih untuk masuk ke dalam kamarnya. Memilih untuk mengistirahatkan pikirannya, ia ingin memejamkan matanya sejenak agar pikirannya lebih jernih untuk mengambil keputusan.


Sedangkan Nindya yang berada di dalam kamar, tangannya mulai bergerak dengan perlahan ia mengambil tespeck tersebut. Jari lentik yang putih memegangi tespeck dengan gemetar. Air matanya kembali mengalir.


Leher Nindya mendadak kembali tercekat, dada nya bergemuruh dan ingin sekali ia memukul-mukul dadanya yang kembali merasakan sakit.


Nindya menangis terisak dan menutup matanya sembari tangannya masih memegangi tespeck digital tersebut.


"Aku bisa melalui ini..." Kata Nindya menarik nafas panjang dan mencoba menghentikan air matanya, meski nafasnya masih tersedu.


Perlahan Nindya turun dari ranjang, dan menuju kamar mandi untuk mengambil sample urin.


Setelah ia menaruh urin itu dalam gelas plastik kecil ia berdiri di depan wastafel dan menaruhnya di atas meja marmer yang cukup besar, di depannya cermin besar juga memperlihatkan bagaimana guratan kecemasan di wajahnya.


Dengan tangan gemetar, Nindya mencelupkan tespeck tersebut beberapa detik kemudian ia mengangkat dan menutup matanya.


Setelah di rasa cukup, Nindya membuka mata dan terlihat tulisan kecil di layar tespeck digital pregnant yang artinya Nindya positif hamil.


Nindya memukul kepalanya dan dan jatuh tersungkur. Punggungnya bersandar di meja marmer dan menangis.


Tubuhnya melemah, kakinya bahkan gemetaran tidak sanggup untuk berdiri.


"Ini mimpi kan? Ini pasti mimpi." Kata Nindya.


"Tidak mungkin hidup ku seperti ini. Aku tidak mungkin mempunya anak dari pria kejam itu."


Kemudian Nindya mengelap air matanya, ia berusaha berdiri dengan kaki gemetaran, tangannya meraih gunting yang ada di dekat nya.


Nindya memegang gunting itu dengan erat, dan mengarahkan ujung gunting pada lehernya.


"Aku yakin ini mimpi, setelah aku tusukkan ke leher, aku akan segera bangun dan kembali menjalani kehidupanku yang sederhana seperti biasanya."


Nindya sudah mengarahkannya tepat di leher sisi kanan, dengan menutup mata tangan mungil itu siap menghunuskannya.

__ADS_1


~bersambung~


__ADS_2