
Sang resepsionis pun tertawa tak percaya hingga menutup mulutnya.
"Aku tidak tahu pendapatan seorang pengemis sebesar itu hingga bisa membeli ponsel seharga 1 buah motor. Apa kamu memberi makan anakmu dengan baik?" Cela resepsionis itu.
Nindya masih menghubungi Felix berulang kali, namun lagi-lagi Felix belum juga mengangkatnya.
"Pergi! Jangan membuatku harus bertindak kasar! Jangan membuang-buang waktu! Kami sangat sibuk!" Kata security tersebut mengusir dengan tangannya sembari mendorong-dorong Nindya.
Hingga sedikit demi sedikit Nindya harus berjalan mundur karena Security serta Resepsionis itu terus saja mendorong-dorong tubuhnya.
Tak berapa lama sang security yang lain pun datang dari dalam perusahaan dan memanggil temannya bahwa boss akan pergi.
Nindya masih menggigit bibirnya dan kebingungan, ia tidak tahu harus bagaimana di tengah perusahaan yang besar, jika pun pulang ia bingung harus menghubungi sopirnya bagaimana, dan dimana letak basementnya.
Tak berapa lama terlihat Dirga berjalan cepat dari arah dalam, diikuti Felix yang sedang sibuk menelfon seseorang karena akan ada pertemuan lagi di luar.
Nindya melihat itu adalah sosok yang ia kenal, dan benar itu adalah Dirga, ia pun sontak berteriak.
"Dirga! Dirga!" Teriak Nindya.
Namun Dirga tak mendengar, bahkan Felix juga tidak mendengar dan hendak membuka pintu mobil untuk Dirga.
Semua itu karena Nindya sudah cukup jauh dari tempatnya berdiri ketika pertama kali ia datang, tempat yang sudah cukup jauh dari pintu masuk.
Karena matahari makin terik akhirnya membuat panas dan keringat di sekujur tubuh Zidan, Zidan pun merasa sesak dan menangis kencang, sedangkan sang resepsionis berlenggang pergi untuk ikut berbaris mengantar Dirga.
"Ssstt... Sstt... Sayang... Kita pulang... Kita pulang." Kata Nindya sembari menggoyang-goyangkan Zidan.
Dirga yang hendak masuk ke dalam mobil mendengar suara anak bayi menangis pun terkejut dan mencari arah suara itu.
Dalam fikirannya kenapa ada suara bayi di perusahaannya.
"Apa ada yang membawa bayi untuk ikut bekerja?" Tanya Dirga dan berdiri melihat satu persatu pada karyawannya.
"Saya sudah menyuruhnya pergi tapi wanita itu tidak mau Tuan." Kata sang resepsionis.
Dirga pun mengernyitkan dahi dan melihat pada wajah tegang Felix.
Kemudian Felix berbalik dan mencari di mana arah suara itu.
Ternyata Nindya sudah berteduh di sisi yang lain, lobby yang sedikit menjorok ke dalam untuk berlindung dari panas.
Felix pun berlari ke arah suara bayi tersebut ,di susul Dirga yang memotong barisan dan sedikit mendorong para karyawannya.
Dirga berjalan cepat dan mendapati Nindya sedang berdiri sembari membuka perlahan selimut yang membuntal tubuh Zidan karena kepanasan.
Perasaan Dirga seketika merasa hancur, kembali melihat Nindya yang terlihat cukup menyedihkan di matanya.
__ADS_1
Nindya pun terkejut melihat Dirga sudah berdiri di hadapannya tepat di bawah terik sinar matahari dengan berkacak pinggang dan menarik nafas dalam-dalam.
Sedangkan Dirga, kini melihat pada para karyawannya yang semua mata tertuju padanya.
"Kemarilah." Kata Dirga sembari melepaskan jasnya.
Nindya pun pasrah dan berjalan menuruni beberapa anak tangga menuju pada Dirga, kemudian Dirga membentangkan jas nya pada kepala Nindya dan anaknya agar mereka tidak kepanasan.
Dirga mengajak Nindya masuk ke dalam perusahaan dan berbicara dingin di depan Felix.
"Pecat semua yang membiarkan anak dan istriku kepanasan di luar." Kata Dirga.
Para pelaku hanya terbelalak dan terkejut, mereka memohon untuk dikasihani dan meminta maaf.
Ketika Dirga sudah masuk ke dalam Lobby perusahaan, Nindya pun menghentikan langkahnya.
"Jangan pecat mereka." Kata Nindya.
Dirga hanya diam dan mengernyitkan alisnya.
"Mereka hanya menjalankan tugas, jika mereka tahu aku adalah istrimu mereka tidak akan bertindak seperti itu."
Dirga kemudian meraih Zidan dari gendongan Nindya.
"Baiklah." Kata Dirga.
Kemudian mereka kembali berjalan masuk, Felix pun menekan tombol lift khusus.
Nindya hanya mendesahhkan nafas, sedikit demi sedikit kepalanya yang meletup-letup karena panas dan berkeringat serta tubuhnya yang sudah seperti banjir keringat pun perlahan menjadi dingin karena terpaan pendingin ruangan yang ada di dalam perusahaan.
"Maafkan saya Nona, karena sibuk menggunakan ponsel berbicara dengan para relasi." Kata Felix meminta maaf saat mereka berada di lift.
"Tidak apa-apa Felix aku mengerti, dan ini bukanlah sesuatu masalah yang berat." Kata Nindya tersenyum.
Setelah melewati begitu banyak permasalah rumit dan beberapa kali mengancam jiwanya, permasalahan-permasalahan yang ada di dalam kehidupan Nindya seolah bukan lagi momok menyeramkan.
Dirga menggosok kepala Nindya pelan, sesaat kemudian lift terbuka dan mereka masuk menuju ruangan Dirga.
Ruangan kantor yang besar dan mewah.
Felix pun menunggu di luar bersama sang sekretaris.
"Aku pikir kantor dan perusahaanmu sama seperti yang ada di pabrik dulu." Kata Nindya.
Dirga masih menggendong Zidan yang kembali nyaman, bayi itu mengedip-ngedipkan mata lucunya. Dirga tersenyum dan menciumnya.
"Jadi kamu berinisiatif mengantarkan ponselku kemari?" Lanjut Dirga.
__ADS_1
"Iya, ku pikir hanya sebesar pabrik yang dulu." Kata Nindya malu dan duduk merapatkan kakinya di sofa.
Dirga tersenyum sembari masih menggendong Zidan dan menciuminya.
"Kamu mau melihat perusahaanku yang lain?" Tanya Dirga tersenyum pada Nindya.
Nindya melirik ke sisi kiri untuk berfikir, juga berniat memalingkan wajah dari Dirga yang semakin hari justru semakin terlihat tampan, apalagi ketika Dirga menggendong Zidan.
"Ini ponselmu." Nindya meletakkan ponsel itu di atas meja.
"Aku harus pulang, Zidan masih bayi dan tidak boleh terlalu lama di luar rumah."
Dirga tertawa geli.
"Ini di dalam gedung Nindya, ruanganku aman, bersih, dan tidak ada debu kamu bisa mengeceknya." Kata Dirga.
"Tapi bukannya kamu sibuk dan harus pergi, tadi ku lihat kamu sudah akan menaiki mobil."
"Sekertaris ku akan mengurus itu, apa gunanya memiliki sekertaris kalau tidak bisa mengurus pekerjaan?" Sahut Dirga lagi.
Tiba-tiba Zidan pun menangis kembali.
"Haus? Haus ya?" Tanya Dirga.
Kemudian Dirga memberikan Zidan pada Nindya agar Zidan bisa minum asi.
"Apa ada ruangan tertutup lain?" Tanya Nindya sembari menggendong Zidan dan menggoyangkannya pelan.
Dirga masih berdiri dan kemudian tersenyum, sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Apa yang mau kamu tutupi dari suamimu?"
"Saat kamu melahirkan aku di sampingmu sepanjang waktu, dan kamu juga sedang menyusui Zidan, saat di apartmen aku juga ada di sisimu."
"Aku, hanya merasa aneh, ini bukan tempat biasanya, seperti sedang berada di ruangan pemangsa."
Dirga tertawa.
"Cepatlah Zidan menangis, kasihan." Kata Dirga.
Nindya pun kemudian mulai menyusui Zidan, mengeluarkan payud*r*nya yang putih dan mulus, serta terlihat lebih besar karena memang sudah penuh.
Dirga melihat itu dan hanya bisa menelan ludahnya, kemudian pria itu pergi menuju meja kerjanya.
Dada pria itu cukup berdesir dan bergejolak. Nafasnya mulai tidak tenang dan semakin memburu.
Dirga bersandar di tepi mejanya dan masih mengamati Nindya memberikan asi pada Zidan.
__ADS_1
~bersambung~