
Efek heroin yang ada di dalam tubuh Dirga mulai kian menghilang, perasaan melayang yang dialami Dirga pun sudah kembali normal. Mata Dirga sedikit demi sedikit terbuka penuh.
Melihat semua berkumpul di hadapannya dan melihat Nindya serta anaknya menjadi sandera, sedikit demi sedikit ingatan Dirga kembali pulih.
"Zidan..." Kata Dirga dengan suara lirih.
"Tenang tuan, kami sedang berusaha membebaskan Zidan dan juga Nona Nindya." Kata Felix.
Namun, tak berapa lama terdengar suara sirine polisi dan membuat Farhat Jaya pun terbelalak. Sebuah helikoper pun mengudara tepat di depan jendela apartmen itu. Joe kemudian berlari membuka tirai besar yang menutup kaca jendela. Helikopter dengan lampu yang menyorot membuat malam itu menjadi semakin mencekam.
"Menyerahlah kalian sudah terkepung." Perintah seseorang dari helikopter menggunakan pengeras suara.
Ferdi berniat kabur namun para pengawal terlatih serta para polisi yang menggunakan seragam serba hitam juga sudah menerobos masuk ke apartmen. kemudian polisi membekuk Ferdi terlebih dulu.
Farhat Jaya menarik Nindya dan mengarahkan pisau ke arah leher Nindya, Joe mengarahkan pistolnya pada semua orang.
"Jangan macam-macam atau aku akan membunuh mereka berdua, aku tidak sudi masuk bui!." Teriak Farhat.
Para pengawal yang terlatih dan memakai sergam serba hitam pun turun menggunakan tali dari atap gedung dan membuka kaca dengan alat khusus guna melubangi jendela besar apartment, beberapa dari mereka pun masuk.
"Aku tidak sudi masuk penjara!!!" Teriak Farhat dan berniat menusukkan pisau nya pada Nindya karena panik.
Dirga maju dengan cepat, meraih pisau yang ada di tangan Farhat menekuk tangan Farhat dan membebaskan Nindya, sedang Zidan menangis sejadinya. Apartmen menjadi sangat gaduh dan kacau.
Farhat mengambil pistol Joe dan ingin menembakkan pada Nindya namun Dino menghalangi, kemudian Dirga pun ikut menghalangi, berdiri di depan Dino serta Nindya.
Felix memiting Joe, sedangkan Nuel pun menarik pistolnya dengan kecepatan yang menggagumkan dan kemudian menembakkan ke arah Farhat dan tepat mengenai tangan Farhat, membuat farhat terduduk di lantai dengan sebelah tangannya memeganggi tangan yang terluka dengan wajah penuh kesakitan.
"Brengsek!" Umpat Farhat.
Saat itulah para polisi membekuk para pengawal Farhat dan juga Joe.
Seorang pria paruh baya pun kemudian datang.
"Papah..." Kata Dino lirih.
Dirga juga terkjeut melihat Hartono Jaelani datang.
Hartono mendekati Farhat dan menginjak jemari Farhat yang terluka karena tembak.
"Beraninya kau menyentuh keluarga ku dan ingin melenyapkan cucu ku!" Kata Hartono menggeram marah. Hartono menggilas jemari Farhat menggunakan sepatunya.
"Aargh!!" Teriak Farhat.
Semua terkejut dengan penuturan Hartono, sedangkan beberapa pengawal wanita pun datang untuk menenangkan Nindya, dan juga Zidan mereka membawa Nindya ke tempat yang lebih aman.
****
Setelah kejadian itu Dirga langsung mendapatkan perawatan khusus di rumah sakit, hingga beberapa hari kemudian Dirga masih terbaring di rumah sakit, luka-lukannya pun sembuh lebih cepat, apalagi ia juga di suntik dengan heroin dosis yang cukup tinggi oleh Ferdi, membuat Dirga harus mendapatkan serangkaian pemeriksaan. Sedangkan hubungannya dengan Dino perlahan membaik, Dino juga berada di sana bersama Hartono Jaelani.
"Makan buah yang banyak Dirga ini bagus untuk penyembuhanmu." Kata Yasmine mengiriskan apel dan beberapa buah lainnya di atas piring Dirga.
__ADS_1
"Bagaimana papah bisa tahu." Tanya Dino yang duduk di sofa.
"Aku bertemu dengan Mbok Winarsih dia menceritakan semuanya, kami terbang ke sini untuk bertemu cucu kami dan sesuatu pasti sedang terjadi, para pengawal menelusuri semuanya."
"Aku tidak ingin basa-basi, terimakasih kamu sudah... Maksudku, papah menyelamatkan anak dam istriku." Kata Dirga sembari memandangi apel di depannya, karena canggung.
"Dia cucu papah Dirga, dia juga menantu papah, sudah lama papah ingin cucu, jadi dia anggota keluarga Hartono."
Dino merasa tidak nyaman dan memilih untuk pergi.
Di koridor depan, Nuel serta Felix menunggu tepat di depan kamar Dirga.
"Nuel, kamu ikut denganku, Felix tetap di sini, siapa tahu Dirga membutuhkan mu." Kata Dino.
Sedangkan Nindya yang berada di apartmen pun baru saja menyelesaikan menyusui Zidan, bayi itu sudah tertidur pulas. Nindya beranjak pergi ke dapur untuk memasak, setelah kejadian itu Zidan sedikit rewel dan menangis sangat keras.
Tiba-tiba bell apartmen berbunyi danmembuat Nindya sedikit terkejut karena masih dalam keadaan trauma. Namun ingatannya tertuju pada beberapa pengawal wanita yang berjaga di dekat pintu. Nindya melihat keluar dan ternyata itu adalah Dino, kemudian ia membuka pintunya. Dino berdiri sembari tersenyum, pria itu menenteng paper bag berisi makanan.
"Layanan makanan, burger atau steak?" Tanya Dino sembari tersenyum, mengangkat paper bag tersebut lebih tinggi hingga di hadapan wajah Nindya.
"Burger." Sahut Nindya tersenyum.
Kemudian Nindya mengambil 2 piring untuk dirinya dan untuk Dino. Mereka pun makan bersama.
"Aku tahu ini bukan saat yang tepat, tapi boleh aku bertanya Nindya?" Dino meletakkan garpu juga pisaunya.
"Silahkan." Kata Nindya yang juga sudah selesai makan.
Mendengar pertanyaan itu, Nindya tahu dan sangat ingat betul bagaimana ia melalui masa-masa sulit itu justru bersama Dino, membuat hatinya pun seolah tertindih kembali.
"Aku... Ku pikir kamu akan menemukan seseorang yang lebih baik dari pada denganku Dino. Maksudku, aku sekarang memiliki anak, apalagi itu adalah anak Dirga, apa tidak aneh bagimu."
"Sampai hari ini, aku masih sangat mencintaimu Nindya, dan aku jg menyayangi Zidan." Kata dino menggenggam tangan Nindya.
"Aku tidak tahu Dino... Sekarang pikiranku hanya terpusat pada Zidan. Aku bahkan belum memikirkan bagaimana kelanjutan hubunganku dengan Dirga. Maafkan aku Dino." Kata Nindya menyesal.
"Aku tahu, aku yang salah menanyakan hal ini padamu di saat situasinya sedang tidak baik." Kata Dino.
Mereka berdua pun menunduk dan berubah menjadi saling canggung.
"Aku akan kembali ke kantor, sebentar lagi kakek dan nenek Zidan akan datang, sepertinya Dirga juga akan segera pulang." Kata Dino.
"Iya... Terimakasih untuk semuanya." Kata Nindya.
Saat Dino akan pergi, ia bertemu orang tuanya dan juga Dirga di lantai bawah.
"Jangan lupa datang untuk makan malam Dino, papah ingin semuanya berkumpul, menjadi keluarga yang utuh lagi." Kata Hartono mengingatkan Dino.
Dino hanya mengangguk dan pergi.
Mereka pun naik ke atas dan menuju apartmen Nindya. Dirga juga sudah ikut kembali pulang, luka-lukanya sudah mulai mengering dan sembuh.
__ADS_1
"Apa sudah sehat dan lebih baik?" Tanya Nindya pada Dirga.
"Aku sudah sangat sehat dan dokter mengijinkanku pulang lebih cepat, aku sangat rindu pada Zidan." Kata Dirga berjalan mendatangi kamar Zidan.
Jasmine dan Hartono pun juga melihat cucunya yang sedang tidur di box bayi. Zidan tidur bagai malaikat kecil yang bening dan memancarkan auranya sendiri. Zidan datang ke dunia dan membuat hubungan para orang tua yang renggang menjadi menyatu kembali, Zidan yang lahir ke dunia merekatkan kembali hubungan kakeknya dengan anak-anaknya dan kini mereka pun sangat bahagia.
"Sangat mirip Dirga sewaktu ia masih bayi." Kata Jasmine menggendong pelan Zidan.
"Benarkah? Apa mirip sekali dengan ku?" Tanya Dirga.
"Ini memang foto copy Dirga." Kata Hartono mencium cucu nya yang masih terlelap.
"Baiklah taruh lagi, aku tidak ingin mengganggu istirahat cucuku." Kata Hartono.
Jasmine pun menaruh Zidan kembali di box bayi.
Jam berdetak cukup cepat, mereka saling mengobrol dan membuat waktu sudah mendekati jam makan malam, acara makan malam kali ini Jasmine memasak di bantu oleh Nindya. Mereka cepat akrab dan sudah saling bercanda.
Nindya merasa Jasmine sosok yang sangat sabar dan keibuan.
Makan malam pun tiba, tepat dimana saat itu Dino kembali dari kantor dan akan ikut makan malam bersama, beberapa masakan pun sudah terhidang di atas meja.
"Istriku memang pintar memasak." Puji Hartono dan mencium tangan Jasmine.
Sedangkan Dirga juga duduk bersampingan dengan Nindya, Dino duduk di paling ujung.
"Bagaimana jika Nindya dan juga Zidan tinggal bersama papah?" Tanya Hartono.
Nindya cukup terkejut mendapatkan pertanyaan yang tiba-tiba, apalagi memberikan tawaran tempat tinggal.
"Itu ide yang bagus, aku tidak khawatir lagi memikirkan mereka ketika sedang bekerja." Sahut Dirga tersenyum.
"Tapi, saya...."
Melihat raut wajah Nindya yang masih bingung dan tidak enak untuk menolak, Hartono pun sudah dapat membaca.
"Pikirkan saja dulu, jangan terburu-buru." Kata Hartono tersenyum.
"Iya Nindya, coba pikirkan dulu, kami tidak akan memaksamu, ini jika kamu mau saja." Kata Jasmine tersenyum penuh pengertian.
"Yang terpenting adalah kebahagiaan cucuku, asalkan dia bahagia dan sang ibu juga krasan, aku tidak apa-apa, pintaku yang penting kalian rukun-rukun dan tetap saling mempertahankan rumah tangga. Papah tidak ingin kalian mengikuti jejak masa kelam papah." Pinta Hartono Jaelani pada anak dan menantunya.
"Pinta papah kalian adalah, kenangan yang lalu biarlah berlalu, kita sudah terlalu banyak merasakan luka, sakit, kecewa dan penyesalan, mari kita melangkah ke depan demi masa depan Zidan dan kebahagiaan Zidan." Kata Jasmine menimpali.
"Aku akan menjaga Nindya juga Zidan pah, aku akan mempertahankan keluarga ini." Kata Dirga yang meraih tangan Nindya dan menggenggamnya.
"Syukurlah." Hartono pun melanjutkan makan malamnya dengan perasaan lega.
Sedangkan Nindya hanya menunduk bingung, ia masih di liputi rasa bimbang, hatinya tidak bisa berbohong, ia masih belum bisa menerima Dirga. Namun ia juga tidak ingin membuat orang tua Dirga kecewa dan juga sedih.
~bersambung~
__ADS_1