Terjebak Cinta Saudara

Terjebak Cinta Saudara
TCS 21


__ADS_3

Suara tangisan Alice memenuhi kamar. Wanita itu merasakan pedih di tubuh dan hatinya setelah Mike memerkosanya tanpa rasa manusiawi sedikit pun, hanya seperti penyalur nafsu yang tidak ada bedanya dengan hewan liar.


Mike merapikan celananya yang satu-satunya dibuka ketika bersetubuh dengan Alice. Dia sama sekali tidak mempedulikan apa yang terjadi pada wanita sampah itu setelah memperlakukannya seenaknya. Nafsu dan sebagian dendam pria itu terpenuhi, sekarang tinggal menutup mulut wanita itu agar tidak pernah menceritakan perbuatan Mike pada siapapun.


"Diam, berhenti menangis!" hardik Mike dengan penuh penekanan.


Alice mendengar perkataan Mike, tapi perasaannya tidak langsung mau menuruti perkataan itu, terutama rasa sakitnya yang masih berdenyut nyeri di dalam dirinya. Wanita itu akhirnya membekap mulutnya sendiri dan meredam tangisannya di ntara kedua tangannya yang gemetaran.


"Bagus, ternyata kamu masih penurut juga."


Mike terdiam, begitu juga dengan Alice yang sudah berhasil mengurangi volume tangisannya menjadi tarikan nafas yang tersendat. Pria itu akhirnya mengatakan sesuatu yang membuat Alice tidak bisa memilih untuk melupakan kejadian malam ini, selamanya.


Mike mengancam Alice, memegang dagunya dengan kuat sehingga mata keduanya bisa saling bertatapan. "Tutup mulutmu mengenai kejadian ini, jangan ceritakan pada siapapun, termasuk Haris dan ibumu yang busuk itu. Anggap saja apa yang kulakukan saat ini adalah penebusan dosa bagimu."


"Penebusan ... dosa? Siapa ... yang telah melakukan dosa, Kak?"


Mike menatapnya tajam. "Kamu masih bertanya juga? Apa kamu memang sebodoh ini sejak lahir atau kamu hanya berpura-pura polos sehingga dilepaskan dari kesalahanmu?"


Alice menggeleng. Dia sama sekali tidak mengerti dengan maksud Mike melakukan perbuatan nista ini pada dirinya sebagai penebusan dosa, ketika dirinya saja tidak melakukan apa pun selain masuk ke dalam keluarga Haris.


Esme juga tidak pernah menceritakan apapun sebelumnya mengenai sosok ayah dan kakak lelaki yang ternyata dimiliki Alice selama ini. Dia tentu tidak punya pilihan untuk menolak karena sudah sejak lama mendambakan keluarga yang lengkap, terutama ketika melihat ibunya yang tampak senang ketika membicarakan Haris sebelum mereka pindah.


Jika Alice tahu kalau masa sekarangnya akan seperti ini, wanita itu tentu akan menolak untuk mengikuti Esme atau kabur sejauh mungkin menuju kehidupan mandiri yang tidak terlalu menakutkan jika dibandingkan situasinya saat ini.


Sekarang, yang bisa Alice rasakan adalah sisa pengalaman yang begitu kejam dan menyakitkan dalam masa kehidupannya yang baru beranjak dewasa.


"Yah, tetaplah seperti itu, aku tidak peduli kalau kamu hanya pura-pura tidak tahu mengenai dosa yang telah kamu perbuat. Asalkan kamu tetap menutup mulut, maka tidak akan ada hal buruk yang langsung terjadi pada ibumu."


Alice menatap Mike dengan takut-takut. "A-apa yang akan kamu lakukan pada ibuku, Kak?"

__ADS_1


"Entahlah. Aku akan memutuskannya ketika kamu membocorkan sedikit saja kejadian ini pada orang lain, entah siapapun itu. Yang pasti, kamu dan ibumu tidak akan berakhir dengan terusir dari rumah ini saja," ancam Mike dengan santai, puas dengan ekspresi ketakutan yang ditampilkan oleh wanita bodoh itu.


Alice tidak melihat ekspresi santai Mike dan hanya kepikiran dengan beberapa hal buruk yang mungkin dilakukan oleh saudara tirinya itu. Mulai dari menggugat Esme entah karena apa sampai melakukan perbuatan keji yang sama pada ibunya. Mau yang mana pun, Alice tidak tega membiarkan ibunya mengalami kejadian seperti itu. Cukup dirinya saja yang seperti ini dan menanggung semuanya.


Alice tidak lupa ekspresi bahagia Esme ketika tiba di rumah Haris. Seakan, semua hal yang diinginkan ibunya itu hanya berasal dari rumah ini dan sosok ayahnya yang juga mencintai ibunya.


"Aku berjanji ... Kak. Aku akan ... menutup mulut, mengenai apa pun yang terjadi di kamar ini."


Perasaan sayang Alice pada Esme sebagai seorang anak satu-satunya, membuat wanita itu mengambil keputusan untuk merahasiakan semua perbuatan Mike dan menyimpan dukanya dalam-dalam di lubuk hatinya.


***


Alice merasakan nyeri di tubuhnya merambat ke seluruh tubuh, kemudian tanpa disadari menjadi demam yang membuat kepalanya pusing. Dia tidak mungkin bisa masuk ke kantor dalam keadaan sakit.


Dalam keadaannya yang seperti itu, Alice berusaha membuat dirinya bangun dan merapikan tempat tidurnya. Menyingkirkan selimut yang ternoda darah ke kamar mandi lalu menggantinya dengan yang baru. Dia juga membersihkan tubuhnya meski sambil menggigil, tidak ingin bukti kejadian kemarin ketahuan oleh siapa pun dan mengganti baju.


"Alice, kamu tidak masuk kantor?" tanya Esme.


Alice tidak tahu kenapa ibunya menanyakan keadaannya ketika perhatian wanita yang hampir menyentuh usia kepala empat itu lebih banyak diberikan pada Haris dan dirinya sendiri, tapi tentu saja Alice tidak bisa diam saja.


"Aku tidak enak badan, Bu ...," ucap Alice sekenanya, tidak tahu harus memberikan alasan seperti apa untuk meyakinkan Esme yang tiba-tiba perhatian.


"Oh. Tidur lah kalau begitu, ibu tidak akan membangunkanmu supaya kamu bisa beristirahat."


"Baik, Bu."


Alice menghembuskan nafas lega ketika mendengar suara langkah kaki ibunya menjauh lalu kembali berbaring ke tempat tidurnya untuk beristirahat.


***

__ADS_1


"Di mana wanita sampah itu?"


Sekretaris Mike tampak bingung dengan pertanyaan Mike. "Siapa yang Anda maksud, Pak?"


"Alice."


Asistennya segera mencari tahu informasi mengenai kehadiran Alice ke kantor dan menemukan kalau wanita itu sedang tidak masuk kantor.


"Mungkin dia kecapekan setelah menerima banyak tugas dari Anda, Pak," ucap sekretarisnya, tampak simpati pada keadaan Alice.


Mike menggebrak meja dan langsung pergi menuju mobilnya, kembali ke rumah. Walaupun Alice sudah berjanji semalam, tapi dia masih takut jika wanita itu memiliki keberanian untuk melaporkan perbuatannya.


"Sial."


Mike segera berderap menuju kamar Alice dan membukanya dengan paksa. Wanita itu terlihat sedang berbaring dengan lelap, tapi suhu tubuhnya terasa terlalu hangat.


"Apa yang terjadi padanya?" tanya Mike pada salah satu ART yang lewat.


"Dia sakit, Tuan. Nyonya meminta agar kami membiarkannya istirahat."


Mike menggertakkan giginya karena ART itu menyebut Esme sebagai nyonya rumah, tapi mau tidak mau mengabaikannya dan segera memanggil dokter ke rumah untuk memeriksa keadaan Alice. Wanita itu jauh lebih penting untuk rencana balas dendamnya.


"Tolong obati dia dan beri suntik KB, Dok."


"Apa ... nona ini sudah setuju dengan hal ini, Pak? Saya tidak bisa sembarangan menyuntik KB tanpa persetujuan pasien."


Mike tampak dingin supaya dokter yang dipanggilnya itu tidak bertanya lagi. "Saya walinya. Apa saya harus menunjukkan buktinya, Dok?"


Dokter itu akhirnya setuju setelah Mike memberikan pernyataan tersebut lalu melakukan semua yang diminta oleh Mike. Mike sengaja meminta semua itu agar Alice dapat bertahan lama sebagai budak seksnya serta tidak mengandung benihnya sedikit pun.

__ADS_1


__ADS_2