
Tenaga Alice kalah kuat dengan tenaga Mike, sehingga pria itu berhasil merobohkan apa yang menjadi pertahanan Alice. Mike tidak peduli sekeras apapun Alice menolak dan menangis serta memohon agar pria itu tidak menyentuhnya, melakukan perbuatan yang seharusnya tidak boleh pada saudara nya sendiri. Tapi kemarahan serta kebencian Mike bergumul jadi satu bersamaan dengan birahi yang memuncak menguasai dirinya.
"Sakit, Mike. Hentikan, aku mohon. Argh." Alice mencengkeram sprei dengan sekuat tenaga, untuk menghalau rasa sakit akibat benda asing yang menerobos paksa pada masuk dengan kondisi tegang.
Area ******** Alice mengencang, tidak ada kelenturan sama sekali. Akibat Mike yang menekan serta mendorong paksa. Sontak saja Alice kembali berteriak meski di sela-sela teriakannya ada ******* yang Alice sendiri tidak menyadarinya.
"Nikmati saja, Alice. Karena kau juga pasti menikmatinya," bisik Mike dengan suara terputus-putus, karena tubuhnya sedang dikuasai oleh birahi yang terus saja menuntut untuk diselesaikan.
"Sakit, akh. Hmm …. " Sekali lagi suara itu meluncur pelan dari bibir Alice, tapi mampu membuat Mike tersenyum penuh arti.
"Sebentar lagi, Alice. Bertahanlah, maka kau juga akan menikmatinya." Dengan nafas ngos-ngosan, Mike memacunya dengan cepat hingga dia melepaskannya dengan penuh kepuasan.
Saat penyatuan itu terjadi Mike melakukannya secara kasar rintihan kesakitan yang meluncur dari bibir Alice, seolah menjadi Irama bagi Mike terus saja melajukan gerak tubuhnya saat desakan itu mulai meningkat, bahkan dia seolah kehilangan logika serta daya ingatnya tentang sebuah kenyataan bahwa antara dirinya dengan Alice memiliki satu nasab.
Mike menggulingkan tubuhnya ke samping Alice yang masih menangis sejak tubuhnya ditindih paksa oleh pria itu, tanpa memperdulikan isakan tangis Alice, Mike langsung meraih pakaiannya yang tergeletak di lantai. Kemudian mengenalkannya dengan cepat lalu Mike Hanya duduk melihat Alice yang masih menangis.
__ADS_1
"Jangan pergi sebelum membersihkan tubuhmu," ujar Mike dengan menyeringai sambil berlalu menuju ke arah kamar mandi.
Alice tak menjawab, dia hanya sedang berusaha untuk mengontrol diri. Tubuhnya terasa sakit semua, tulang-tulangnya remuk seperti baru saja dipukuli oleh orang banyak, untuk meraih selimut saja tangannya seolah kehilangan tenaga.
"Kemana tenagaku, kenapa jadi lemas seperti ini?" Lirih Alice tetap berusaha meraih apapun benda yang ada di dekatnya, untuk menutupi seluruh tubuhnya yang tak memakai apapun.
Alice menguasai dirinya, dengan tubuh yang terasa remuk setelah pergulatan di atas tempat tidur yang kasar dan juga panas, Alice memakai kembali pakaiannya, ekspresi wajahnya begitu datar dan dingin.
"Maafkan aku, Tuhan. Aku tidak mampu mengalahkan kemarahan lelaki itu, sehingga aku harus tersentuh oleh pria yang seharusnya melindungiku. Tapi dia justru sudah menghancurkan hidupku, membuatku terjatuh terhina juga kotor." Alice luruh menangis mendekat tubuh dengan kedua tangannya, menenggelamkan wajahnya.
Dari dalam kamar mandi, Mike tersenyum puas seakan-akan apa yang baru saja dilakukannya berhasil merobek hati alis dan juga membalaskan sakit hati Mike kepada wanita itu. Setelah Mike membersihkan tubuhnya kemudian dia keluar dari kamar mandi dan masih melihat Alice yang tengah berdiri membelakanginya.
"Sakit sekali rasanya. Dia, pria yang masih saja aku cintai, dan betapa bodohnya aku karena tidak bisa membuang perasaan ini. Andai aku pergi jauh darinya, mungkin ini tidak akan terjadi. Atau aku memang harus membayar semua rasa sakit yang dia rasakan akibat perbuatan Mama? Apakah dengan dia menghancurkan masa depanku, mampu membalaskan sakit hatinya itu?" gumam Alice yang hanya terdengar olehnya. Setetes air mata, kembali jatuh ke pipi Alice.
Tangannya terkepal, dia marah, kecewa dan segala bentuk rasa dalam hatinya untuk lelaki yang baru saja mengambil kehormatannya tanpa rasa bersalah, Alice tidak menyangka jika Mike akan melakukan hal ini padanya.
__ADS_1
"Bersihkan tubuhmu, dan rapikan dandananmu. Aku tidak ingin kalau sampai ada yang melihatmu dalam kondisi kacau seperti ini." Mike berjalan, dia baru keluar dari kamar mandi. Mengabaikan rasa sakit yang sedang mendera Alice.
Alice tetap bergeming di tempatnya, di tengah mengumpulkan kekuatan agar mampu melawan pria yang sudah berubah seperti monster, jiwa Alice hancur begitu juga dengan hidupnya, bahkan untuk berkata-kata pun Alice seolah tak ada kekuatan, tubuhnya terlalu rapuh karena diperlakukan seperti wanita lajang oleh pria yang dicintainya.
Alice membalikan tubuhnya, berjalan dengan merasa sakit serta tidak nyaman dari bagian bawah tubuhnya. Dia menatap lurus ke arah Mike yang juga menatapnya dengan penuh kebencian, dalam hati Alice berkata agar jangan menangis.
"Apakah kau puas, Mike. Apa kau sudah puas melakukan hal buruk ini padaku? Katakan, jika kau masih belum puas. Lakukan lagi, ayo. Lakukan berapa kali pun yang kau inginkan." Alice menatap tajam ke arah Mike, tanpa ekspresi.
Mike diam saja, dia seolah merasa bahwa sudah melakukan perbuatan buruk sehingga membuat Alice tak lagi bicara dengan lemah lembut padanya, ada luka dari sorot kedua mata Alice, dan wanita itu masih lekat menatap ke arah Mike.
"Terima kasih, karena kau sudah benar-benar berhasil menghancurkan hidupku. Aku rasa dengan kau melakukan ini padaku, bisa mengobati rasa sakit hatimu pada Mama. Jadi dengan ini aku anggap semuanya impas karena kita sama-sama Tersakiti. Dan aku minta semuanya berakhir sampai di sini," sambung Alice, mengatakan tanpa ekspresi dan suara yang begitu dingin.
Mike tertegun mendengar ucapan Alice, hatinya terasa tersentil karena perubahan sikap dan ekspresi wajah Alice yang menatapnya dengan pandangan kosong. Seketika tubuh Mike membeku.
"Sekali lagi aku katakan, aku minta semuanya sudah selesai. Aku harap dengan kau melakukan ini padaku, impas semuanya," lirih Alice, dia berusaha agar tidak menangis di hadapan Mike. Karena rasanya percuma juga, Mike tidak akan memperdulikannya.
__ADS_1
Alice berjalan, tapi bukan ke arah kamar mandi, melainkan menuju ke arah pintu kamar. Alice hendak pergi, sebab dia merasa urusannya dengan Mike sudah selesai, setelah pria itu mengambil kehormatan Alice yang selama ini dia jaga hanya untuk suaminya saja, ketika tangan Alice akan menggapai pintu kamar. Suara Mike yang penuh penekanan juga ancaman, mampu menghentikan langkah Alice.
"Pergi saja, jika kamu ingin rekaman video panas kita di atas kasur tersebar luas, maka hidupmu bukan hanya hancur, tapi ibumu juga akan ikut merasakan buah dari apa yang sudah dia lakukan pada mendiang Mama ku." Suara Mike membuat Alice berdiri Kaku, kakinya seperti kehilangan tenaga dan dia hanya bisa memegang tembok untuk menopang tubuhnya yang lemas.