
Serapat apapun mengubur bangkai, pasti akan tercium juga baunya. Kedekatan Mike dengan Alice tidak ada yang curiga, bagi orang-orang luar hal tersebut wajar karena Mike adalah kakaknya Alice. Tapi tidak demikian bagi Esme. Selama ini dia memang seolah tidak peduli pada putrinya, tapi sebagai ibu tentu saja Esme punya kepekaan yang sangat tajam, saat ada yang tidak beres menurut pandangan kacamatanya sendiri.
Seperti saat dirinya keluar kamar untuk pergi ke dapur karena lupa membawa air minum, Esme berdiri mematung di tangga, sengaja tidak melanjutkan langkahnya. Dia melihat Mike yang baru saja keluar dari kamar Alice. Dahi Esme mengernyit menatap heran tentang apa yang sedang dilakukan oleh Mike di kamar Alice. Tapi Esme tak terlalu menghiraukannya, dia kembali berjalan dan masuk kamar.
Esme berpikir jika Mike adalah kakaknya Alice, jadi mungkin ada yang perlu disampaikan pada Alice mengenai pekerjaan mendadak, sehingga harus mendatangi Alice dikamarnya.
"Sudahlah, memangnya kenapa kalau seorang kakak masuk kamar adik perempuannya? Bukankah itu hal yang wajar?" gumam Esme yang kembali merebahkan tubuhnya dan tertidur.
Kejadian itu terlupakan begitu saja, karena Esme tak melihat hal mencurigakan lainnya. Jadi dia kembali bersikap seperti biasanya, Mike dan Alice berangkat dan pulang kerja bareng, sama yang seperti mereka lakukan setiap harinya.
"Bagaimana pekerjaanmu Mike? Apa semuanya lancar?" Tanya Haris, mereka sedang sarapan bersama.
Mike menaruh sendoknya, menatap ke arah Haris. Kemudian menggunakan kepalanya. Menunjukan senyum sebagai tanda hormat pada ayahnya.
"Lancar, Ayah." Singkat jawaban Mike.
Sementara Esme tidak bicara apapun, setelah sarapan ketiga orang berangkat ke kantor. Esme memperhatikan sikap manis Mike pada Alice. Sangat berbeda sekali, bukan seperti kakak pada adiknya, tapi seorang pria pada wanita yang dicintainya. Hati Esme mulai merasa resah, dia curiga jika antara Mike dan Alice ada sesuatu. Tapi lagi-lagi alam bawah sadar Esme mengingatkan, kalau itu tidaklah benar.
"Jika masih berada di sekitar rumah, jangan bersikap manis seperti itu. Aku rasa Mama memperhatikan kita saat kau merangkul pinggangku, Mike." Alice menegur sikap Mike yang seolah lupa jika sedang ada di rumah.
__ADS_1
"Aku lupa, maaf. Tadi hanya gerakan reflek agar kau kamu tidak jaga jarak denganku, maka dari itu aku merangkul pinggangmu agar lebih dekat lagi denganku." Mike juga baru menyadari jika sikapnya sudah kelewatan.
"Tapi, kan. Karena masih di area rumah, maka dari itu aku berusaha menjaga jarak." Alice mendengus kesal, karena dia benar-benar khawatir jika Esme sudah mulai curiga dengan perbuatan keduanya.
"Iya, aku minta maaf, Alice." Mike menyesal.
Keduanya sama-sama terdiam, karen Alice masih kesal pada Mike. Sementara Mike merasa bersalah, dia tak bisa menahan diri untuk tidak bersikap manis pada Alice, dia lupa kalau hubungan keduanya memang disembunyikan dari semua orang termasuk orang tuanya.
Sedangkan Esme masih belum bisa menemukan jawaban atas kecurigaan juga keresahan hatinya, entah kenapa dia belum bisa tenang. Apalagi Alice langsung terkejut saat tangan Mike memeluk pinggangnya, kemudian melihat ke arah Esme yang tengah melihat adegan itu dari pintu. Wajah Alice berubah pias, seperti orang yang tertangkap mencuri.
"Tidak, mereka adalah kakak beradik. Tidak mungkin sampai melakukan hal sampai sejauh itu, kan," gumam Esme seolah kecurigaannya sudah mengarah tentang kedekatan hubungan Mike dan Alice yang tidak normal, layaknya kakak adik.
Alice berjalan ke rumah lebih dulu, meninggalkan Mike yang baru saja keluar dari mobilnya. Pria itu menatap Alice dan sudah mengerti jika Alice tengah kesal dan merajuk, Mike harus segera mengembalikan keceriaan Alice. Mike tidak bisa dan tidak sanggup jika diperlakukan seperti ini sama Alice.
Esme harus menanyakan mengenai kecurigaannya, karena beberapa kali dia pernah memergoki Mike yang keluar kamar Alice saat malam hari, jadi Esme akan menanyakannya saat makan malam nanti.
"Apa yang kau lakukan malam-malam seperti ini dikamar Alice?" tanya Esme menyelidik.
Mereka semua sedang makan malam bersama, jadi menurut Esme ini adalah waktu yang tepat untuk menjawab tentang kecurigaan mengenai kedekatan Mike dan Alice yang menurut Esme tidak wajar.
__ADS_1
"Aku hanya memastikan jika jendela balkon kamar Alice sudah ditutup, karena dia selalu saja lupa menutupnya." Mike menjawab dengan santai, tanpa peduli jika Esme menatapnya dengan curiga.
Haris tak menanggapi, sementara Esme tidak percaya dengan jawaban Mike. Mana mungkin hampir setiap malam Mike datang ke kamar Alice hanya untuk memastikan jendela kamar yang katanya sering lupa ditutup, bukankah bisa diingatkan lewat pesan tanpa harus masuk ke dalam kamar Alice?.
Setelah makan malam, Alice dan Mike duduk ditaman belakang rumah. Keduanya sama-sama resah setelah mendengar pertanyaan Esme. Meksi Mike menjawab dengan tenang dan berbohong, tapi tetap saja bagi Alice kalau ibunya memang sudah merasa jika antara dan Mike memang menyembunyikan kedekatan mereka.
"Bagaimana ini, Mike? Sungguh, aku sangat takut sekali. Jika mama akan mengetahui tentang hubungan kita." Alice cemas, dia sampai memainkan jari jarinya untuk sedikit mengurangi kecemasannya.
"Sebenarnya, aku juga takut. Apalagi tadi mata Esme menatapku seolah tengah memastikan apakah jawabanku benar atau sedang berdusta, meski aku sudah menjawab dengan tenang. Tetapi tetap saja Esme pastinya tidak akan mungkin percaya begitu saja, sebab dia sering memergokiku saat keluar dari kamarmu."
"Tapi aku juga tidak bisa melepaskanmu ataupun mengakhiri hubungan kita, aku sangat mencintaimu, Alice. Dan tidak mau kehilanganmu." Mike berkata lirih, cintanya begitu besar untuk Alice. Meski dia tahu jika hubungan keduanya terlarang.
"Sebaiknya kita harus menjaga jarak untuk sementara, jangan lagi ke kamarku di malam hari, karena aku takut mama akan memergokinya lagi. Kita bisa pergi ke tempat lain untuk bertemu atau menghabiskan waktu, agar mereka tidak mengetahui tentang hubungan kita." Alice memberikan usul, semua demi kebaikan bersama.
"Baiklah, mulai besok kita akan menjaga jarak. Aku janji tidak akan membuat Esme curiga lagi. Sebab aku ingin tetap seperti sekarang. Mencintaimu adalah hal terindah dalam hidupku." Mike menatap Alice penuh memuja.
"Masuk sana, ini sudah malam. Jangan lupa tutup jendelanya," ujar Mike, seraya mengelus kepala Alice dengan lembut..
Alice mengangguk dan masuk ke dalam, dia berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya. Sementara Mike masih di taman belakang rumah, dia memastikan juga meyakinkan dirinya, jika keputusannya ini adalah jalan yang terbaik, agar Esme tak lagi menaruh curiga pada mereka berdua.
__ADS_1