Terjebak Cinta Saudara

Terjebak Cinta Saudara
TCS 58


__ADS_3

Setelah kepergian Mike yang diusir oleh Haris saat pria itu mengetahui apa yang sudah dilakukan oleh putranya kepada Alice, Haris mengatur nafasnya yang masih memburu karena dikuasai oleh kemarahan. Dia terhenyak karena mendengar isak tangis Esme. Wanita itu terlihat hancur mengetahui kenyataan bahwa putrinya sudah kehilangan masa depan akibat perbuatan Kakaknya sendiri. Bagaimanapun juga Esme adalah ibu dari Alice yang pastinya tidak akan terima siapapun yang sudah melakukan perbuatan jahat terhadap putrinya.


Haris menghampiri istrinya dan berusaha untuk menenangkannya, harus tahu jika semua ini sulit diterima oleh Esme. karena dia juga seorang perempuan tentu saja akan merasa hancur ketika seorang pria yang bukan suaminya merenggut kesucian dari si wanita itu, Haris harus segera mencari jalan keluar dari semua kekacauan yang terjadi hari ini. Dia bukan hanya memikirkan nasib Alice, tetapi juga menyelamatkan nama baiknya serta bisnisnya yang tentu saja saling berkaitan karena jika sampai video itu tersebar luas maka bisnisnya hancur dan tidak akan ada orang yang mau lagi bekerja sama dengan hotel miliknya.


"Tenangkan dirimu, Esme. Aku mengerti jika ini pasti sangat sakit dan berat untukmu, kita harus kuat agar kita bisa melewatinya bersama-sama." Haris menyentuh pundak Esme, wanita itu masih terisak. Rasanya melihatnya membuat Haris ikut sesak.


"Ini semua karena kesalahanku, aku yang sudah teledor tidak mengawasi kedekatan mereka berdua. Aku mengira bahwa Mike begitu dekat dengan Alice karena dia sudah menerima kenyataan bahwa Alice adalah adiknya, Aku bodoh sekali karena sudah tertipu oleh kata-kata Mike yang mengatakan saat aku memergokinya dia keluar dari kamar Alice. Bahkan kamu sendiri mendengarnya, jika Mike ke kamar Alice hanya untuk memastikan jendela kamar Alice sudah ditutup. Dan bodohnya aku percaya begitu saja, aku yang seharusnya disalahkan karena semuanya ini memang karena kecerobohanku." Esme terisak dan menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang terjadi pada Mike dan juga Alice.


"Maafkan aku, Esme. Karena tadi aku memarahimu, sekarang kau istirahat saja. Biar masalah ini aku yang mengurusnya." Haris memeluk istrinya dan merasa bersalah karena tadi sempat memarahi Esme.


Esme kembali menangis, mengingat saat ini Alice sudah tidak lagi perawan, dan yang merenggut masa depannya adalah kakaknya sendiri. Hal itu yang masih belum bisa diterima oleh Esme. Pengakuan Mike jika dia mencintaiku Alice, begitu juga sebaliknya. Menyisakan rasa pedih dihati Haris. Jika cinta itu sebagai kakak pada adiknya tentu saja akan membuat Haris bahagia, tapi ini tidak. Cinta Mike pada Alice sebagai sepasang kekasih, tanpa mereka peduli ada ikatan darah di antara keduanya.

__ADS_1


"KajĀ  istirahat saja dulu. Tubuh dan hatimu pasti lelah sekali, jangan sampai sakit. Karena hal itu akan semakin membuat aku merasa sangat bersalah, kenyataan ini saja sudah menjatuhkan aku hingga ke dasar, menjadi orang tua yang tidak becus dan gagal. Entah apa yang akan aku sampaikan pada Tuhan saat aku mati nanti, kecolongan seperti ini." Haris juga berlinang air mata, meski dia lebih bisa cepat menguasai dirinya sendiri.


"Bagaimana dengan Alice? Apakah dia akan terima dengan kepergian Mike yang sudah kau usir?" Esme bertanya dengan suara lirih, dia menghapus air matanya. Menarik nafas dalam-dalam, agar bisa melegakan hatinya.


"Nanti aku pikirkan lagi, saat ini biarkan dia tenang dulu. Pasti dia juga sedih, semoga saja Alice sadar akan kesalahannya yang sudah mencintai kakaknya sendiri. Sekarang kita ke kamar, kau harus istirahat." Haris memeluk tubuh Esme, menuntut wanita itu yang terlihat lemas.


Tanpa Haris ketahui, jika wanita yang dia khawatirkan itu tersenyum menyeringai. Karena drama ini berjalan dengan sempurna, akting Esme meyakinkan Alice dan juga Haris, padahal semuanya dia lakukan bukan atas dasar sedih karena putrinya sudah tidak perawan lagi dan yang melakukannya adalah kakaknya sendiri.


"Aku senang sekali, karena hubungan Haris dan Mike menjadi buruk seperti sekarang, ini adalah yang aku inginkan. Menghancurkan kamu, Haris. Membuat situasi tegang antara kau dengan Mike, dan aku harus melibatkan Alice ke dalam permasalahan ini, tapi tidak masalah. Sebab Alice sangat banyak membantu dalam hal ini." Esme membatin, dia berjalan ke kamar pura-pura lemas.


"Ini baru permulaan saja, setelah ini kau akan jauh merasa terpuruk. Dan semua karena perbuatan putramu, aku senang sekali. Sangat senang, berkat bantuan seseorang. Maka video itu sampai ke tanganmu." Esme masih membatin, dia berpura-pura hancur dan terpuruk dengan kejadian hari ini.

__ADS_1


Esme berakting, layaknya seorang ibu yang menangis histeris atas nasib buruk putri kesayangannya, memasang wajah terluka agar semua orang percaya jika dirinya hancur, bahkan mereka tidak mengetahui jika air mata itu hanyalah dusta.


"Aku sama sekali tidak merasa bersedih akan apa yang terjadi pada Alice, karena ini hanyalah air mata palsu." Esme tersenyum yang dia sembunyikan dengan menyandarkan kepalanya di dada Haris.


Haris mengira jika Esme yang kondisinya menurun karena baru saja menerima kabar buruk tentang Alice, padahal Esme tengah menikmati kemenangannya. Menciptakan pertengkaran antara Haris dan Mike. Aktingnya sungguh mengesankan, sangat cocok sekali untuk memerankan mertua jahat kepada menantunya.


"Istirahatlah, jangan banyak pikiran. Aku akan pergi keluar sebentar, untuk membereskan masalah ini secepatnya. Kalau butuh sesuatu panggil saja pelayan dan kau tetap harus berada di kamar sampai aku pulang." Haris mencium kening istrinya kemudian dia pergi meninggalkan Esme sendirian di kamarnya.


"Hati-hati di jalan." Esme Melambaikan tangannya saat Haris hendak menutup pintu kamar.


Esme merebahkan tubuhnya bukan karena dia merasa Terpukul Atas kejadian barusan, dia justru sangat senang sekali jadi untuk meyakinkan aktingnya. Esme harus tetap berada di kamar beristirahat seperti yang baru saja dikatakan oleh Haris.

__ADS_1


Semua orang Lupa seperti apa sikap Esme pada Alice selama ini, wanita itu sama sekali tidak pernah memperdulikan apapun yang terjadi pada Alice. Bagi Esme tak ada yang perlu dikhawatirkan mengenai Alice yang pasti bisa mengurus dirinya sendiri, bahkan Esme juga acuh ketika melihat perlakuan kasar Mike kepada Alice. Jadi sangat mustahil sekali Jika wanita itu berubah menjadi simpati atas nasib putrinya.


"Aku harus tetap bersandiwara beberapa hari ke depan, untuk meyakinkan orang-orang bodoh itu jika aku bersimpati pada Alice." Esme menarik selimutnya untuk beristirahat bukan karena masalah tadi. Tapi dia memang lelah setelah pertemuannya dengan seorang pria yang sudah membantunya.


__ADS_2