Terjebak Cinta Saudara

Terjebak Cinta Saudara
TCS 55


__ADS_3

Jalinan cinta terlarang yang Mike dan Alice jalani memang membuat mereka bahagia, seolah tidak takut akan badai yang sebentar lagi pasti menghantam keduanya, menghancurkan juga meluluhlantakkan semua perasaan serta rasa cinta pada diri keduanya. Ketika manusia sudah melawan aturan Tuhan, maka tinggal menunggu saja kapan waktu yang tepat bagi si pelaku menerima hukumannya.


Hari libur dimanfaatkan oleh Mike dan juga Alice, untuk menghabiskan waktu bersama tanpa takut lagi diketahui oleh Esme. Sebab wanita itu sepertinya sudah mencium bahwa ada yang tidak beres dengan kedekatan putri dan juga anak tirinya.


Mike sudah memberi tahu Alice semalam, lewat pesan singkat. Kalau hari ini mereka akan pergi kesalah satu tempat dengan pemandangan indah, tidak ada orang yang dapat mengenali keduanya sebagai kakak beradik, melainkan sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara. Pepatah mengatakan jika cinta bisa membuat orang gila, mungkin itulah yang sekarang dirasakan oleh Alice dan Mike.


Keduanya benar-benar gila, menjalin cinta terlarang. Melanggar norma serta agama, tapi keduanya tak memperdulikan hal itu. Seolah menantang Tuhan dengan tetap melakukan dosa besar. Entah apakah sudah tumbuh janin dalam rahim Alice atau belum, sebab keduanya sudah sering melakukan hubungan suami-istri. Bagaimana hukum janin yang nanti Alice kandung? Sementara sang ayah biologis atau Mike, adalah kakaknya Alice sendiri. Keduanya saudara satu ayah, sudah jelas kuat sekali ikatan darah pada mereka.


"Sudah siap? Kebetulan sekali Esme sedang pergi, ayah juga sedang diluar kota. Jadi kita bisa pergi seharian tanpa takut mengundang kecurigaan dari orang tua kita." Mike masuk ke kamar Alice, untuk melihat apakah wanita itu sudah siap atau belum.


"Sudah, ayo kita berangkat." Alice menggandeng tangan Mike dengan leluasa, karena dirumah sedang tidak ada orang selain para pelayan dan petugas keamanan.


Mereka semua tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh Mike dan Alice, yang mereka tahu jika Mike dan Alice adalah saudara satu ayah, jika pun terlihat dekat rasanya sangat wajar sekali. Itulah yang mereka pikirkan.


Mike membukakan pintu mobil untuk Alice, dan dia berlari kecil menuju ke pintu kemudi. Lalu keduanya meninggalkan halaman rumah, Mike menyetir dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya menggenggam tangan Alice. Benar-benar sangat romantis, kebersamaan keduanya seperti layaknya sepasang kekasih, hanya saja hal itu mereka lakukan tanpa dilihat banyak orang, termasuk orang tuanya.


"Mau kemana kita hari ini?" Alice menyelipkan rambut ke atas telinganya, dia tersenyum manis melihat ke arah Mike yang sedang fokus menyetir.

__ADS_1


"Rahasia, nanti kamu juga tahu," jawaban Mike dengan mengedipkan sebelah matanya.


Alice tergelak, merasa lucu dengan tingkah konyol pria itu. Padahal hanya biasa saja, tapi apapun yang dilakukan oleh Mike, mampu memunculkan senyum dari bibi Alice. Hal-hal lucu selalu Mike tunjukkan pada Alice, sebab dirinya akan sangat senang melihat Alice yang tersenyum.


Keduanya sudah sampai di salah satu tempat yang sangat sejuk nan romantis, ada semacam rumah dengan bentuk kapsul yang berada ditengah-tengah hutan Pinus, udara sejuk membuat Alice nyaman berada disana. Mike sudah memesan kamar itu untuk mereka istirahat selamat menikmati hari liburnya.


"Minum jusnya dulu, kau pasti haus sejak tadi belum minum, kan." Mike menyodorkan gelas yang berisi jus stroberi yang tentu saja rasanya sangat segar.


Alice tersenyum, kemudian mencoba jus tersebut. Bibirnya terangkat, Mike benar jika jus itu sangatlah segar. Cocok sekali dinikmati di cuaca seperti sekarang. Alice berdiri, merentangkan kedua tangannya. Matanya terpejam menikmati udara segar dengan kabur di sekitar hutan tersebut.


Mike memeluk Alice dari belakang, tangannya erat mendekap tubuh Alice. Dagunya ada di pundak Alice, menghirup aroma sampo pada rambut wanita yang dicintainya. Sambil matanya terpejam. Keduanya tengah bersantai sambil menikmati jus stroberi, juga melihat pemandangan kabut.


"Itu hanya karena kau merasa takut, gara-gara mimpi buruk. Karena itulah kau merasa tidak enak. Tidak usah khawatir, karena mimpi hanya bagian dari bunga tidur." Mike semakin mengeratkan pelukannya, untuk mengurangi ketakutan Alice akibat mimpi buruknya semalam.


Alice pun mengangguk, mungkin yang dikatakan Mike memang benar. Kalau ketakutannya hanya karena mimpi buruk itu, Mike selalu saja bisa menenangkan hati Alice. Keduanya benar-benar menghabiskan waktu seharian di tempat yang jauh dari orang-orang yang kenal keduanya.


"Terima kasih, karena selalu berusaha membuatku bahagia. Aku berharap kau tidak akan meninggalkanku, bagaimanapun keadaannya, dan apapun yang nanti akan terjadi." Alice memeluk tubuh Mike, keduanya baru saja selesai mengarungi lautan kenikmatan. Seperti yang pernah keduanya lakukan sebelumnya.

__ADS_1


Dari rumah berbentuk kapsul itu, keduanya bisa dengan leluasa mengeluarkan suara ******* serta erangan kenikmatan, karena jarak dari rumah kapsul ke rumah lainnya cukup jauh, jadilah mereka tak cemas dan bebas.


"Tentu saja, aku akan selalu bersamamu, Alice." Mike mencium kening Alice. Kemudian, keduanya bergantian mandi karena harus kembali ke rumah sebelum tengah malam.


Wajah keduanya terlihat ceria dan juga bahagia, seharian penuh menikmati waktu bersama. Kembali mengulang keromantisan yang entah untuk yang kesekian kalinya, kegundahan dan ketakutan Alice sudah hilang meluap entah kemana. Kini telah tergantikan oleh kebahagiaan yang tidak terkira.


"Jika Mama bertanya kita dari mana, aku harus menjawab apa?" 


"Katakan saja dari mall, pergi makan dan nonton film. Karena hari libur dan karena kau merasa bosan seharian di rumah." Mike menjawab, dia menghentikan mobilnya. Kemudian tersenyum sambil melirik ke arah Alice.


Alice menganggukkan kepalanya, keduanya berjalan bersamaan. Wajah keduanya terlihat sangat ceria sekali. Tak tahu jika ada kejutan yang siap mereka terima, saling melempar senyum tanpa bisa menyentuh. Karena keduanya khawatir jika Esme akan kembali curiga.


Mobil Haris sudah ada di garasi, tandanya pria itu sudah kembali, setelah melakukan perjalanan ke luar negeri karena ada urusan pekerjaan. Mungkin pekerjaannya sudah selesai, makanya Haris pulang lebih cepat dari jadwal yang seharusnya.


"Aku seperti mendengar orang menangis? Apakah kau juga mendengarnya?" Mike memelankan langkahnya, untuk memastikan jika pendengarannya tidak salah.


"Iya, itu kan suara Mama. Kenapa dia menangis?" jawab Alice, dia panik dan mempercepat langkahnya menuju ke arah dimana suara tangisan ibunya.

__ADS_1


Terlihat Esme yang tengah menangis tersedu-sedu, bahunya naik turun. Sepertinya sangat sakit sekali sampai-sampai menangis seperti itu. Haris melihat kedatangan Mike juga Alice, kedua orang itu berjalan ke arah Esme. Alice hendak menanyakan apa yang terjadi sehingga membuat ibunya menangis.


Tapi sebuah tamparan keras mengenai pipi Mike, dan yang melakukannya adalah Haris. Semua orang terkejut, termasuk Alice. Dia sampai membekap mulutnya.


__ADS_2