
Kenyataan yang harus diterima oleh Alice saat sebuah rahasia yang selama ini ditutupi dari semua orang, mengenai hubungannya dengan Mike. Dan sekarang ibunya telah mengetahui itu semua, Alice berada di kamarnya masih menangis karena kejadian ini harus ia hadapi. Padahal dua hari lalu dia baru saja menikmati kebersamaan dengan Mike dan ia merasa sangat bahagia.
Alice dikamarnya menangis, mengurung diri. Dia merasa bersalah pada Esme, sangat menyesal sekali. Karena sudah membuat ibunya menangis seperti itu. Meski hubungannya dengan Esme tidak terlalu baik, tapi Alice tidak bisa mengabaikan begitu saja tentang tangisan Esme.
Pertengkaran antara Haris dan juga Mike sungguh membuat Alice merasa bersalah, dia sendiri tidak menginginkan situasi berubah menjadi panas. Kemarahan Esme dengan menunjuk ke arah wajah Mike sudah menjawab pertanyaan di hati Alice, jika Ibunya sudah mengetahui tentang hubungannya dengan Mike.
"Aku harus minta maaf kepada Mama." Alice sudah merasa tenang, setelah menangis dalam waktu cukup lama.
Alice keluar dari kamar, untuk secepatnya minta maaf pada ibunya. Karena sudah membuat kesalahan besar sehingga Esme menangis histeris, memarahi Mike yang telah menghancurkan hidupnya. Alice tahu kalau lambat laun rahasianya pasti akan terbongkar, hanya saja Alice belum siap menghadapi semua orang mengenai hubungannya dengan Mike.
"Mama pasti ada di kamarnya, dia pasti sangat terpuruk sekali. Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan sampai orang tuaku menangis seperti itu?" Penyesalan selalu datang belakangan, itulah yang sekarang sedang dirasakan oleh Alice.
Di kamar lainnya, Esme tengah duduk di sofa dengan santainya. Menikmati. waktu nyaman setelah melakukan adegan drama tangisannya, Esme memejamkan kedua matanya. Dia tidak menyadari kalau Haris tidak menutup rapat pintu kamarnya. Jadi Esme hanya fokus menikmati waktu luangnya di kamar, dia masih ingat betapa cemasnya Haris melihat kondisinya yang bersedih, dengan tubuh lemas. Sehingga Haris memintanya untuk istirahat di kamar.
__ADS_1
"Skenario untuk adegan menangis sudah selesai, tinggal menunggu adegan lainnya. Tentunya lengkap dengan skrip dari penulis skenario. Mereka pikir aku benar-benar bersedih dengan apa yang menimpa pada Alice, sama sekali tidak. Aku tidak peduli padanya sama sekali." Esme tengah bergumam seorang diri di kamarnya.
"Bahkan, aku senang sekali karena sudah berhasil membuat Mike keluar dari rumah ini. Tanpa perlu membuat keributan, sebab yang mengusir Mike adalah ayahnya sendiri …" Esme tertawa penuh kepuasan, dia tetap menyandar pada sofa yang ada di kamarnya.
*
"Tumben sekali Mama tidak menutup rapat pintu kamarnya? Di dalam ac-nya pasti sedang menyala, dan Mama sangat tidak menyukai pintu kamar terbuka. Apa sesuatu hal yang buruk terjadi kepada mama? Atau Mama lupa tidak menutup rapat pintu kamarnya?" Alice berasumsi sendiri, dia akan menanyakannya nanti saat sudah ada di dalam.
Alice berniat masuk ke dalam kamar Esme yang pintunya terbuka sedikit, tangannya terulur hendak mengetuk pintu. Tapi tubuhnya seketika menegang, dia terkejut mendengar sesuatu yang Esme katakan. Meski suaranya pelan, tapi karena pintu yang terbuka juga suasana di rumah sedang sepi, sehingga gumaman Esme terdengar jelas oleh telinga Alice.
Tangan Alice bergetar, dia belum sempat mengetuk pintu kamar ibunya. Karena dia mendengar sesuatu yang membuatnya sakit hati. Rupanya air mata Esme hanya dusta belaka, dia berpura-pura untuk menarik simpati Haris. Serta tujuannya adalah agar Haris dan Mike bertengkar dan Haris mengusir putranya.
Alice mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamar Esme dan meminta maaf pada wanita itu, setelah mengetahui tentang kenyataan jika keributan tadi memang yang diinginkan oleh Esme. Untuk sebuah tujuan yang memberi keuntungan padanya.
__ADS_1
"Mama jahat sekali, apa alasannya, Ma? Kenapa Mama senang melihat ayah mengusir Mike dari rumah?" gumam Alice membalikan tubuhnya, berlari meninggalkan kamar Esme.
Alice kembali lagi ke kamarnya, dia menutup rapat pintu dan menjatuhkan diri ke atas kasur. Alice menangis lagi, karena ternyata Esme tak peduli padanya dan tak pernah peduli sama sekali, air matanya palsu. Esme bersandiwara dengan begitu sempurna, sampai-sampai Alice tertipu.
Tangisnya pecah, bahunya naik turun. Tubuhnya juga ikut bergetar, seakan sesak di dadanya sudah tak bisa lagi Alice tahan. Orang yang Alice anggap adalah dia yang begitu peduli pada dirinya, rupanya hanya sedang bersandiwara untuk keuntungannya sendiri. Pantas jika Alice begitu kecewa pada Esme, wanita yang telah melahirkannya.
"Aku mengira, Mama sudah mulai peduli padaku. Ternyata justru Mama senang dengan situasi seperti ini, apa yang sebenarnya Mama inginkan? Di hadapan ayah, seolah Mama tersakiti dengan apa yang sudah Mike lakukan padaku, tapi itu semua hanyalah akting. Mama tidak sungguh-sungguh. Mungkin jika aku mati sekalipun, Mama akan sangat bahagia." Alice tidak tahu apa yang ada dalam pikiran ibunya, di situasi seperti ini Esme justru tak sedetikpun menunjukan simpati. Yang dia tunjukkan hanyalah akting saja.
"Aku kecewa sekali kepada Mama, Padahal tadi aku sempat merasa bersalah karena sudah membuat Mama menangis. Tapi ternyata tangisan itu hanyalah kedok untuk meyakinkan ayah, sebagai bentuk menunjukkan rasa sakitmu sebagai seorang ibu yang mengetahui jika putrinya sudah dinodai oleh Kakaknya sendiri." Alice menangis karena merasa kecewa kepada ibunya.
Alice ingat dengan gumaman yang terucap dari mulut ibunya, jika es Mi merasa senang karena sudah berhasil menyingkirkan Mike dari rumah ini. Sehingga Alice berniat untuk menemui Mike dan menanyakan mengenai hal ini. Sekaligus mencari tahu dari mana orang tuanya bisa mendapatkan video itu.
"Aku tidak bisa diam begitu saja, aku harus keluar dari rumah dan mencari di mana Mike sekarang berada. Dia harus membantu aku mencari tahu siapa orang yang sudah mengirimkan video itu kepada ayah? Karena pasti ada orang yang dengan sengaja ingin membuat hubungan ayah dan juga Mike menjadi panas, selain mama tentunya pasti ada orang lain yang turut terlibat dalam permasalahan ini." Alice sangat yakin sekali Jika Kejadian ini pasti ada campur tangan orang lain yang sangat membenci ayahnya dan juga Mike.
__ADS_1
Alice diam-diam kabur dari rumah, setelah memastikan jika suasana rumah sepi dan para pelayan sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. petugas keamanan yang tidak mengetahui mengenai kejadian keributan beberapa menit lalu, tidak menaruh curiga saat Alice keluar dari rumah hanya membawa ponselnya saja. Mereka mengira Kalau Alice akan pergi keluar sebentar sehingga tidak bertanya banyak karena itu memang bukan urusan mereka.
"Kita harus bertemu, Mike. Masalah ini harus secepatnya kita selesaikan dan Aku membutuhkan bantuanmu." gumam Alice yang sekarang sedang berdiri di pinggir jalan menunggu taksi untuk mengantarkannya ke tempat di mana Mike sekarang berada.