
Keputusan Haris mendobrak pintu kamar Alice adalah pilihan yang tepat. Dia bukan hanya merasa cemas karena seharian Alice sama sekali tidak keluar dari kamarnya, tapi Alice juga tidak menjawab panggilan dari pelayan dan juga dari Haris sendiri. Sementara Esme juga tidak mengetahui jika sesuatu hal telah terjadi pada putrinya, sebab dia masih dengan dramanya berpura-pura masih terpuruk dan juga bersedih atas kejadian kemarin. Tanpa mengetahui dengan jelas apakah Alice ada di kamar atau wanita itu sudah pergi dari rumah.
"Kemana Alice? Kenapa dia tidak ada di kamar?" Haris berhasil mendobrak pintu kamar putrinya, tapi alangkah terkejut karena ternyata Alice tidak ada di dalam.
Esme masuk ke dalam kamar Alice dan melihat kalau putrinya memang tidak ada di sana, Haris segera memanggil semua pelayan dan juga petugas keamanan untuk di diinterogasi mungkin saja salah satu dari mereka mengetahui kemana Alice pergi.
"Kemarin malam, kami berdua melihat nona Alice keluar dan naik taksi. Saya mengira kalau nona Alice sudah kembali, dan juga berpikir kalau nona Alice pergi sebentar kemungkinan Nona Alice sengaja kabur apalagi pintu dikunci dari dalam." Dua petugas keamanan memberi kesaksian jika mereka berdua memang melihat Alice yang keluar dari rumah tidak lama setelah itu naik mobil taksi dan entah pergi kemana.
Semua orang terkejut mengetahui jika Alice dengan sengaja kabur dari rumah, karena pintunya sendiri dikunci dari dalam sehingga wanita itu sepertinya keluar melalui jendela yang memang tidak dikunci.
"Ya Tuhan, kemana dia pergi kemarin malam? Sampai-sampai dia belum juga pulang." Haris masih belum mempercayai jika putrinya sudah kabur dari rumah. Mungkinkah dia merasa tertekan berada di rumah sehingga memutuskan untuk pergi dan tak sekarang ada di mana.
Kabar mengenai kaburnya Alice sudah diketahui oleh orang serumah bahkan sampai ke telinga Mike. Tentu saja hal tersebut membuatnya semakin khawatir saja, sebab dari kemarin malam ponsel Alice memang tidak bisa dihubungi dan Mike berpikir bahwa sekarang kondisi Alice sedang tidak baik-baik saja.
"Aku tidak mau tahu, kalian cari putriku, kemanapun sampai dia ditemukan." Mike juga turun tangan untuk mencari keberadaan Alice yang dia sendiri tidak tahu ke mana harus mencarinya.
__ADS_1
Mike semakin merasa bersalah karena sudah menyebabkan Alice merasa tertekan sehingga kabur dari rumah, tanpa baik ketahui jika kemarin malam saat dirinya bersama dengan dua sahabatnya Alice mendengar pertanyaan Johan mengenai kedekatannya dengan Alice. Sebuah pertanyaan yang membuat Alice salah paham akhirnya memilih untuk tidak pulang dan sengaja pergi ke hotel untuk menenangkan diri.
"Apakah kau sudah mengerahkan semua anak buahmu untuk membantu mencari Alice?" ujar Haris pada Mike, melalui sambungan telepon.
"Sudah, Ayah. Sebenarnya dari kemarin malam ponsel Alice tidak bisa dihubungi, bahkan sampai hari ini pun masih tetap belum aktif." Mike dengan malas menjawab pertanyaan ayahnya, karena dia masih marah sebab Haris yang sudah mengusirnya.
Tapi saat ini situasinya sedang genting, Mike melupakan sejenak kekecewaannya pada Haris. Dan memilih untuk fokus mencari keberadaan Alice. Dia kembali mendatangi beberapa tempat yang sekiranya mungkin Alice ada di sana. Tapi wanita itu tidak ada di tempat yang entah sudah sampai mana Mike mencari.
Sementara disalah satu apartemen, seorang pria dan wanita tengah merayakan kemenangan mereka. Sekarang ditambah lagi kalau Alice kabur dari rumah, dan semua orang sedang mencarinya.
"Pertunjukan yang sangat luar biasa sekali, tapi apakah Haris sudah memberi tanggapan tentang ancaman yang kamu kirimkan kemarin?" Wanita itu beralih menatap pria yang duduk di hadapannya.
Si wanita seolah menemukan cara agar bisa kembali menekan dan menyudutkan Haris, supaya pria itu semakin panik. Sebab bukan hanya di pria saja yang tidak sabar menanti kehancuran hidup Haris, wanita itu juga menginginkan hal serupa.
"Coba kau ingatkan lagi Haris mengenai ancaman itu, kita harus terus-menerus menekannya. Apalagi sekarang situasinya yang sedang genting, putrinya kabur dan semua orang dikerahkan untuk mencari Alice." Si wanita menyilangkan kedua kakinya, bibirnya yang merah semakin menambah kesan seksi pada wanita yang usianya sudah tidak muda lagi, tapi terlihat masih sangat cantik.
__ADS_1
"Ide yang bagus sekali, kenapa aku tidak berpikir demikian." Timpal si pria dengan tersenyum sinis.
Tangan pria itu mengotak-atik ponselnya, desakan dari si wanita membuatnya kembali berencana untuk mengirimkan pesan pada Haris, tentang ancaman yang disertai video yang memang sebelumnya sudah pria itu kirimkan.
"Pastikan, narasi pesannya membuat Haris merasa tertekan dan benar-benar terancam. Tambahkan lagi kata-katanya, agar Haris menganggap jika ancaman ini sangat serius dan bisa mengancam reputasi juga nama baiknya." Si wanita menambahi agar si pria bisa lebih menakutkan lagi untuk ancaman yang kedua kalinya.
Si pria mengangguk, dan mengetik pesan ancaman untuk Haris. Dia bisa membayangkan akan seperti apa reaksi Haris, saat membaca pesan ini. Mungkin saja jika Haris punya riwayat penyakit jantung, bisa jadi Haris berakhir di rumah sakit.
"Semoga saja Haris tetap aman setelah membaca pesan ini, maksudnya. Jantung dia yang aman." Tawa pria itu kembali menggelar, hal serupa juga dilakukan oleh wanita yang masih dengan posisinya.
Setelah dirasa pesan itu lebih menyeramkan dari pesan sebelumnya, maka pria itu menghentikan mengetik pesan. Kemudian dia menekan send dan pesan itu sudah terkirim ke ponsel Haris.
'Kapan kau akan memberikan saham Praja hotel padaku? Karena jika tidak. Maka aku pastikan jika video intim kedua anakmu akan tersebar, dengan memenuhi portal berita dengan judul. "Alice yang merupakan putri dari pemilik praja hotel, menjalin hubungan terlarang dengan Mike, yang merupakan kakaknya sendiri, saudara satu ayah. Bahkan keduanya sering melakukan hubungan layaknya suami istri."
Pesan tersebut telah terkirim, setelah ada centang tanda jika pesannya telah masuk dan terbaca oleh Haris.
__ADS_1
"Rasakan detik-detik jantungmu berhenti berdetak, Haris. Karena kehancuran menanti didepan mata." Tawa si pria begitu terlihat puas, dia baru saja mengirimkan pesan ancaman yang lebih menegangkan lagi.
"Kau memang bisa diandalkan, tidak salah aku memilihmu untuk membantu aku menghancurkan hidup Haris juga putranya." Si wanita tersenyum puas, karena usahanya akan secepatnya mendapatkan hasilnya. Sudah lama dia dan si pria itu menunggu waktu yang tepat, untuk sama-sama menyerang Haris. Bukan dengan tangannya sendiri, tapi melalui perantara hubungan terlarang antara Mike dan juga Alice.