
Seorang wanita tengah menunggu kedatangan seorang pria disalah satu tempat yang sebelumnya sudah mereka sepakati, wanita yang meski usianya sudah kepala empat. Tapi kecantikan begitu paripurna karena selalu melakukan perawatan rutin ke salon.
"Aku sudah sampai, aku tunggu kedatanganmu."
Wanita itu mengirim pesan pada si pria, senyum terukir dari bibirnya yang berwarna merah bak pualam, siapapun pasti akan terpesona oleh kecantikannya. Tak ada yang tahu apa yang akan dia lakukan dengan pria yang hari ini mengajaknya bertemu
Tiga puluh menit kemudian, seorang pria gagah turun dari mobil mewahnya. Berjalan santai ke sebuah tempat untuk bertemu dengan wanita yang sudah lebih dulu sampai. Dia tersenyum, saat melihat wanita yang masih sangat cantik di usia kepala empat.
"Apa kabar? Maaf aku sedikit terlambat. Tadi ada urusan sebentar." Sapa pria itu dengan menjabat tangan si wanita.
"Kabarku baik, malah semakin baik. Seperti yang kau lihat." Jawab di wanita dengan menunjukan senyum manisnya.
Keduanya memesan minuman, yang akan menemani sepanjang obrolan mereka. Hanya minuman saja, karena apa yang akan keduanya dapatkan dari pertemuan itu adalah sesuatu yang jauh lebih cukup, dari sekedar makanan.
"Apakah tugasmu berjalan lancar, sehingga memintaku bertemu disini?" Wanita itu menatap lekat pria dihadapannya, pria yang seumuran dengan seseorang yang dikenal dekat oleh si wanita.
Usia mereka berdua sangat berbeda jauh sekali, tapi tidak nampak terlihat karena si wanita yang memang rajin berolahraga serta merawat kecantikannya. Sehingga bisa menutupi usianya yang sudah kepala empat.
"Tentu saja, seperti yang sudah kita berdua sepakati sebelumnya. Aku membawa sebuah bukti yang akan melemahkan lawan kita. Lihatlah nanti." Pria itu menunjukkan sebuah rekaman video, dan dia yakin jika orang yang akan dia dan si wanita hancurkan itu pasti tak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
"Kerja yang bagus, tampan. Aku suka dengan cara kerjamu. Sudah lama aku menantikan sebuah kesempatan agar bisa menghancurkan dua orang ini. Ayahmu pasti sangat senang karena rivalnya akan hancur." Si wanita tertawa setelah melihat rekaman video itu.
Begitupun yang dilakukan oleh si pria, keduanya sama-sama tertawa karena mendapat kartu AS untuk menghancurkan dua pria yang memang menjadi sasaran mereka.
"Haris akan mendapatkan balasan atas apa yang sudah dia lakukan sebelumnya, aku sudah lama menunggu waktu untuk kehancuran dia dan juga putranya. Rahasia besar ini akan kita gunakan sebagai senjata, supaya Haris dan putranya saling membenci satu sama lain. Jadi tujuanku bisa lebih mudah dan tentu saja tanpa sepengetahuan mereka." Si wanita tersenyum sinis, tak bisa dibayangkan seperti apa kekacauan nanti saat Haris mengetahui tentang perbuatan busuk putranya.
"Aku dan ayahku juga sama, menunggu kehancuran pria itu, termasuk anaknya yang sombong dan angkuh, aku muak sekali melihat wajahnya yang sok tampan. Dan aku harus menahan nya untuk sebuah tujuan yang tentu banyak memberi kita keuntungan." Si pria itu menimpalinya, wajahnya terlihat menahan segala rasa benci juga dendam pada putra dari Haris.
Selanjutnya mereka membicarakan mengenai rencana untuk menghancurkan Haris dan putranya, tentu dengan hati-hati dan tersusun rapi dan rapat-rapat. Bahkan, semut pun jangan sampai tahu. Dengan satu kartu AS maka mereka berdua yakin jika rencana mereka berhasil, dan melihat bagaimana hubungan anak dan ayah akan hancur saling bermusuhan.
"Nanti aku akan mulai bergerak, secara pelan-pelan. Haris pasti akan terkejut tentang apa yang sudah putranya lakukan dibelakangnya, sebuah perbuatan kotor dan menjijikkan. Aku saja tidak habis pikir bagaimana mungkin dia bisa melakukannya. Apakah kau yakin kartu as ini tak akan mempengaruhi wanita itu?" tanya si pria pada wanita yang ada di hadapannya.
Rencana itu sudah matang keduanya bicarakan, bahkan sudah bisa dipastikan tidak akan gagal. Sebab kartu as yang mereka pegang mampu membungkam mulut Haris dan putra kesayangannya itu, sehingga mereka yakin sekali seratus persen.
Setelah semua rencana yang keduanya bicarakan sudah selesai, mereka memutuskan untuk pulang. Si wanita sudah menyiapkan diri, dengan berakting yang akan semakin menambah keseruan drama ayah dan anak.
"Aku akan tersenyum puas, melihat kehancuran kamu. Haris, melalui putramu sendiri. Rasakan akibatnya, dulu kamu pernah melakukan hal buruk, dan sebentar lagi kamu akan terima akibatnya," gumam si wanita saat baru saja duduk di dalam mobil.
Mobil kedua orang itu sama-sama meninggalkan lokasi, dimana mereka baru saja bertemu. Merencanakan sebuah kejahatan untuk membalaskan dendam mereka pada Haris dan putranya.
__ADS_1
Sementara, di tempat lain. Lebih tepatnya di luar negeri, Haris yang memang sedang ada urusan pekerjaan di sana, pria itu menunda sejenak pekerjaannya. Karena menerima pesan dari seseorang yang tidak dikenali.
"Nomor siapa ini? Kenapa dia mengirimkan video padaku?" Gumam Haris, dia melihat layar ponselnya dengan lekat. Nomor tak dikenal berderet terpampang di layar ponsel miliknya.
Karena perasaan dengan video yang pria itu kirim, ditambah lagi ada nada ancaman di bawah video tersebut. Akhirnya Haris membuka videonya. Baru juga diputar, mata Haris melotot. Seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat.
"Astaga! Apa-apaan ini? Mike! Kau sudah membuat malu, kau keterlaluan." Haris menggeram, tangannya mengepal kuat. Giginya bergemeletuk karena emosi yang menyeruak di dadanya. Matanya membulat sempurna, karena tidak percaya dengan pesan yang dikirim oleh orang tak dikenal, ditambah lagi dengan video itu.
Haris memasukan ponselnya ke dalam saku celananya, matanya merah. Dipenuhi oleh kemarahan, nafasnya naik turun karena emosi yang menggunung. Ingin rasanya dia cepat sampai ke rumah dan memberi putranya pelajaran, selama ini Haris percaya jika Mike bisa mengemban tugas dan tanggung jawabnya. Tapi dia justru memberi kekecewaan pada Haris.
"Siapkan tiket sekarang juga, aku harus segera pulang karena ada hal penting." Titah Haris pada sekertarisnya.
"Baik, Tuan," ucap si sekertaris, yang segera mengurus tiket kepulangan atasnya.
Haris memutuskan untuk pulang detik itu juga, tak bisa lagi dia menunggu. Ancaman itu, membuat Haris tidak tenang. Bagaimana bisa keburukan putranya ini mampu meluluhlantakkan hati dan jiwa Haris.
"Kenapa kau melakukan ini, Mike? Dimana akal sehatmu? Perbuatanmu akan menghancurkan semuanya." Haris membuang nafas kasar, dia masih tidak habis pikir dengan apa yang sudah Mike lakukan.
Perjalanan pulang ke rumah, rasanya sangat lama sekali. Beberapa kali Haris melihat jam tangannya, hanya untuk memastikan apakah dia masih lama atau akan cepat sampai.
__ADS_1