Terjebak Cinta Saudara

Terjebak Cinta Saudara
TCS 32


__ADS_3

Haris berlalu pergi tanpa sepatah katapun meninggalkan Mike dan Esme yang masih terus berdebat. Hal itu semakin membuat Esme terpojok karena tidak ada yang membela dirinya di hadapan Mike. Mike menatap ke arah Esme dengan tatapan amarah penuh kebencian.


“Kenapa kau hanya diam? Kau takut karena tak ada yang membelamu di rumah ini?” tanya Mike mencibir.


“Jangan sok berkuasa di rumah ini,” sahut Esme membela diri.


Esme terus berusaha membela dirinya di hadapan Mike. Meskipun sebenarnya ia tak bisa menyembunyikan rasa kesalnya setelah mendengar jika Mike yang berkuasa penuh atas segala sesuatu yang ada di rumah ini. 


“Memang aku yang sekarang punya kuasa di rumah ini! Kau seharusnya yang berlutut padaku karena aku masih membiarkanmu tinggal di rumah ini. Jika aku mau, aku bisa mendepakmu saat ini juga,” ucap Mike. 


Alice yang masih bersembunyi di balik tembok hanya terdiam mematung mendengar Mike yang beradu mulut dengan Esme. Ketakutan Alice benar-benar terjadi pagi itu. 


“Apa yang harus aku lakukan,” gumam Alice dengan suara lirih berusaha menahan tangis.


Mike memanggil pelayan di rumah itu dan memintanya mengeluarkan semua barang-barang Esme yang sudah ia rapikan di kamar Raina. Ia tidak memperdulikan Esme yang terus berusaha menahan Mike agar tak mengeluarkan barang-barangnya dari kamar Raina.


“Pelayan! Cepat kemari!” teriak Mike dengan emosi.


“Iya Tuan,” sahut pelayan dengan wajah ketakutan.


Mike menyuruh supaya menyingkirkan barang-barang Esme dari kamar ini. Dan mengembalikan semua barang mamanya yang telah disingkirkan ke dalam gudang ke kamarnya seperti semula, jika tidak ia akan dipecat.


“Kalian keluarkan semua barang-barang wanita ****** ini dari kamar mamaku sekarang juga!” perintah Mike.


“Baik Tuan,” sahut para pelayan.


“Kau tidak bisa seenaknya mengeluarkan barang-barangku dari sini Mike!” bentak Esme.


“Tentu aku berhak karena aku yang berkuasa di rumah ini. Dan kalian para pelayan ambil kembali barang-barang mamaku di gudang,” sahut Mike tanpa memperdulikan Esme. 

__ADS_1


Esme akhirnya hanya bisa diam dan pasrah, sepertinya percuma untuk melawan Mike. Para pelayan itu akhirnya mengeluarkan barang-barang Esme dari kamar Raina. Dengan kesal, Esme kembali mengemasi barang-barangnya dan memindahkan ke kembali kamarnya seperti semula.


Mike berlalu pergi dari kamar Raina dan menuju ke kamarnya untuk beristirahat. Ia berjalan melewati Alice yang masih bersembunyi di balik tembok. Saat melintas, Mike menyadari jika ada sesuatu yang berdiri di balik tembok dan ternyata itu Alice. Mike sekilas menoleh ke arah Alice dengan tatapan penuh kebencian.


“Mike,” ucap Alice dengan lirih.


Mike hanya diam, tak menggubris Alice dan berlalu pergi melewatinya begitu saja. Sikap Mike seketika berubah pada hari itu dan Alice menyadarinya. Alice mencoba untuk menahan tubuh Mike dengan menarik tangannya, namun dengan sigap Mike menarik tubuhnya menjauh dari Alice. 


“Mike dengarkan aku dulu,” ucap Alice.


Alice yang menyadari hal itu seketika tubuhnya membeku, akhirnya hal yang ia takutkan benar-benar terjadi dimana Mike kembali marah padanya karena sikap Esme yang keterlaluan.


Dengan langkah gontai, Alice berjalan kembali menuju ke kamarnya. Semalaman ia tidak bisa tidur dan terjaga hingga pagi karena pikirannya dipenuhi tentang Mike. Ia hanya berjalan mondar-mandir di kamarnya, berusaha mencari cara untuk bicara dengan Mike.


“Aku harus meminta maaf padanya,” gumam Alice.


Sementara itu di kamar, Mike sedang berusaha menenangkan dirinya sendiri. Ia tak habis pikir Esme berani melakukan itu di rumah ini. Baginya, Esme sudah terlalu berani untuk bertindak sesuka hati disini.


Mike memandang foto ibunya yang terpajang di meja sebelah tempat tidurnya. Entah mengapa tiba-tiba Mike merasakan sesak di dadanya. Sepertinya kesedihan bercampur amarah menyelimuti dirinya. 


“Tenang saja Ma, aku akan memperjuangkan apa yang menjadi hak kita di rumah ini. Dan aku tidak akan membiarkan si ****** itu berkuasa untuk mengambil semua yang kita punya” ucap Mike sambil memandang foto Raina.


Suara dering ponsel Mike seketika menyadarkan ia dari lamunannya. Ia melirik ke arah ponselnya, rupanya itu adalah kolega bisnisnya. 


Kring.. Kring.. Kring..


“Halo,” ucap Mike.


‘Halo Mike, pagi ini partner bisnis kita mengajak untuk membahas proyek pembangunan gedung terbaru. Jadi kurasa kita harus pergi keluar kota hari ini juga,” ucap kolega nya.

__ADS_1


“Ah, begitu ya. Baiklah akan kusampaikan pada sekretarisku untuk menyiapkan semuanya,” sahut Mike.


“Bagus. Kau bersiaplah sekarang. Sampai jumpa disana,” ucap kolega nya.


“Ya aku akan bersiap berangkat sekarang,” sahut Mike lalu menutup teleponnya.


Tanpa menunggu lama, pagi itu Mike segera mengemasi barang-barangnya untuk pergi keluar kota. Momen ini sekaligus dimanfaatkan untuk sejenak pergi menjauh dari orang-orang di rumahnya.


Sementara itu, Alice tengah memberanikan diri untuk bicara dengan Mike. Ia merasa bersalah dan ingin meminta maaf, meskipun ini semua bukan salahnya melainkan salah ibunya.


Alice berjalan keluar menuju ke kamar Mike, perlahan ia mengintip ke dalam kamar karena pintu kamar Mike yang sedikit terbuka. Alice penasaran kenapa Mike mengemasi barang-barangnya. Ia pun membuka pintu dan masuk ke kamar Mike.


“Mike, kau mau pergi kemana?” tanya Alice.


“Beraninya kau masuk kamarku tanpa izin?” ucap Mike emosi.


“Mike, aku ingin meminta maaf padamu karena kejadian semalam. Aku tahu ibuku sudah sangat keterlaluan menggunakan kamar mendiang ibumu tanpa izin,” sahut Alice dengan menyesal.


“Kau dan ibumu yang ****** itu sama-sama tak tahu malu ,” sahut Mike dengan nada sinis.


“Kenapa kau sangat membenciku Mike? Aku tahu aku dan ibuku salah, tapi aku sudah meminta maaf padamu,” ucap Alice.


Mike seketika menghentikan aktivitasnya mengemasi barang-barangnya dan mengalihkan pandangannya ke Alice. Ia berjalan ke arah Alice dengan tatapan marah. Alice yang menyadari bahwa sepertinya ia salah bicara refleks berjalan mundur.


“Kau pikir dengan meminta maaf dapat mengembalikan semua yang telah di renggut oleh ibumu dari keluargaku? Apa kau kira dengan ucapan maafmu itu bisa mengembalikan  nyawa ibuku?” ucap Mike sambil mencengkram bahu Alice.


Alice hanya terdiam, ia tak mampu berkata-kata sebab apa yang diucapkan oleh Mike memang benar. Mike lalu melanjutnya untuk mengemasi sisa barang-barang yang akan ia bawa keluar kota. 


Tanpa sepatah katapun keluar dari mulut Mike, ia pergi begitu saja meninggalkan Alice sambil membawa barang-barangnya turun. Saat ia hendak keluar, Mike sempat berpapasan dengan Haris. Mereka berdua hanya saling tatap dan memang Mike tidak memiliki niatan untuk banyak bicara dengan Haris. 

__ADS_1


Alice masih terdiam membisu di kamar Mike menatap kepergian Mike yang mengabaikan ia begitu saja. 


__ADS_2