
Alice diam terpaku di tempatnya, manatap Mike yang mengabaikannya setelah mengatakan pada Alice jika Mike sedang tidak ingin diganggu. Maka meski Alice merasa sedih, tapi dia tak bisa melakukan apapun. Mungkin hal tersebut keputusan yang terbaik untuk keduanya, sehingga Alice tak bisa memaksakan kehendaknya.
"Sikapmu seakan mempertegas jika hubungan kita telah berakhir, aku sadar memang kita tak lagi bisa bersama," lirih Alice menyimpulkan mengenai sikap Mike padanya, yang terlihat memang demikian.
Alice pergi tak lagi memperdulikan sekitar, dia yang memang hendak makan siang, akhirnya memilih berlalu menuju satu tempat dan sepertinya Alice harus segera mengisi perutnya. Meski suasana hatinya sedang tidak baik, tapi Alice tidak boleh egois pada kesehatan tubuhnya sendiri. Setidaknya perut dia terisi sekedar beberapa suap saja.
Mike tersenyum puas dari dalam ruang kerjanya melihat Alice tersakiti, kesedihan yang teramat dalam dari wajah Alice, itulah yang Mike inginkan. Menyakiti batin wanita itu adalah sebuah hal kebahagiaan bagi hatinya Mike.
"Ini sangat bagus sekali untukmu, Alice. Aku sangat puas melihat kau tersakiti seperti itu. Tapi ini masih belum seberapa, karena aku akan menambah dengan yang lebih sakit lagi." Mata Mike begitu tajam, nampak kebencian terkumpul disana. Entah dengan hati kecilnya saat ini, apakah juga merasa senang melihat Alice menderita atau justru ikut juga merasa sakit.
Semuanya hanya bisa diketahui oleh Tuhan dan Mike sendiri, semua sikap dingin dan angkuhnya sudah menyakiti hati Alice. Bahkan Mike tak mempedulikan seperti apa rasa sakit yang dirasakan oleh Alice, yang Mike tahu jika Alice begitu menderita dengan semua perbuatannya.
Alice tak bisa menghabiskan makanannya, hanya beberapa suap saja yang berhasil dia telan. Itupun karena dipaksa, sebab Alice tak ingin sampai jatuh sakit akibat mengabaikan perutnya. Setelah dirasa sudah selesai, maka Alice memutuskan kembali untuk melanjutkan pekerjaannya.
Tiba saatnya jam pulang kantor, Alice butuh waktu untuk sendiri dulu. Sehingga dia memutuskan untuk tidak akan pulang ke rumah, tapi dia akan pergi ke sebuah tempat yang bisa memberikan rasa nyaman dan tenang untuk suasana hatinya saat ini.
__ADS_1
"Aku tidak pulang ke rumah malam ini, aku menginap di luar." Alice menghubungi Esme dan memberitahukan jika dirinya akan menginap di luar.
"Ya, terserah kau saja. Lakukan apapun yang kau inginkan," jawab Esme sama sekali tak peduli dengan putrinya, bahkan Esme tidak bertanya Alice akan menginap di luar dimana.
Sikap acuh dan abai Esme pada Alice sudah lama dia lakukan, seolah Alice tak lagi berarti untuknya. Sungguh, ternyata didunia ini ada seorang ibu yang bahkan tak memperdulikan putrinya sendiri. Tapi Alice seperti sudah terbiasa dengan sikap acuh ibunya, jadi Alice merasa biasa saja.
Alice membuang nafas panjang, disaat seperti ini. Hanya tempat itu yang mampu mengembalikan semangat Alice, apalagi besok weekend, jadi pilihan untuk menginap di luar adalah sebuah keputusan tepat yang Alice pilih. Kalaupun jika dia tak memberi tahu Esme, ibunya tak akan mungkin merasa cemas bahwa putrinya tak pulang ke rumah, dan berada ditempat lain yang dia sendiri tidak tahu Alice ada dimana.
Alice akan pergi kesalah satu panti asuhan yang biasa dia kunjungi, maka bagi Alice berkumpul dengan mereka yang tak lagi mempunyai orang tua jauh lebih membuat hatinya bahagia, daripada Alice berada dirumah, bersama kedua orang tuanya, tapi tak ada kebahagiaan dihati Alice.
Alice sudah membayangkan bagaimana wajah anak-anak di panti asuhan akan menyambutnya dengan tersenyum tulus, sehingga Alice tak sabar ingin secepatnya menatap wajah-wajah bagaikan malaikat. Tak lupa Alice juga membawa banyak makanan untuk penghuni panti juga pemilik tempat itu, seperti yang biasa Alice lakukan setiap kali dia datang berkunjung.
"Alice, apa kabar, nak? Lama sekali baru datang lagi," sapa perempuan itu yang langsung memeluk Alice yang juga memeluknya dengan erat.
"Kabar aku baik, Bu. Maaf, baru sempat datang berkunjung. Karena lagi banyak pekerjaan, makanya ini langsung kemari. Kebetulan besok weekend, jadi aku ingin menginap disini. Bolehkan?" Alice melepaskan pelukannya, dan menyampaikan keinginannya.
__ADS_1
"Tentu saja boleh, kapanpun kau ingin menginap disini. Ibu sangat senang sekali. Ayo masuk, anak-anak juga pasti senang karena kakaknya datang." Perempuan itu menggandeng tangan Alice dan keduanya masuk ke dalam untuk menemui semua penghuni panti.
Saat Alice masuk ke dalam, maka semua anak yang ada di panti langsung berhambur menyerbu Alice. Mereka semua berebut ingin memeluk Alice. Hal tersebut membuat rasa sedih dihati Alice berganti dengan kebahagiaan yang mampu menghilangkan kesedihannya. Alice tertawa dengan tingkah anak-anak, diapun balas satu persatu memeluk mereka.
"Kakak bawa makanan untuk kalian semua, ayo kita makan sama-sama. Tolong bantu kakak bawa ke dalam, ya." Alice memberikan kantong plastik pada anak yang usianya lebih tua dari anak lainnya.
Mereka menenteng kantong plastik berisi makanan yang Alice beli saat dijalan menuju pantai, senyum dan kebahagiaan semua anak-anak itu adalah sebuah anugerah bagi Alice yang bahkan bukan seorang yatim piatu, tapi justru anak-anak itu jauh lebih bahagia daripada dirinya yang masih memiliki orang tua lengkap.
Ibu panti menghampiri Alice yang sedang duduk sambil memperhatikan anak-anak yang juga duduk tak jauh dari tempatnya sekarang, mereka semua menikmati makanan yang dibawa oleh Alice. Ibu panti duduk disamping Alice dan keduanya sama-sama tersenyum, seolah perempuan paruh baya itu memahami tentang kesedihan hati Alice.
"Tetaplah disini jika itu mampu menghilangkan kesedihan juga menenangkan hatimu, ibu tentu akan senang dengan kehadiranmu di panti. Begitu juga dengan anak-anak," ucap ibu panti sambil menatap dalam mata Alice yang menyimpan banyak kesedihan.
"Terima kasih, Bu." Alice mengangguk juga tersenyum.
Di panti, Alice merasa begitu tenang dan damai. Padahal mereka semua bukanlah keluarganya, Alice menonaktifkan ponselnya. Dia sengaja melakukan itu agar tak ada yang mengganggu ketenangannya saat ini, tubuhnya begitu lelah, sama seperti batinnya . Perlakuan Mike seolah menghempaskan semua kebahagiaan dalam hidupnya setelah Esme tak pernah peduli padanya.
__ADS_1
"Aku istirahat dulu ya, Bu. Selamat malam." Alice pamit pada Ibu panti, dia menuju kamar yang biasa ditempati ketika dia sedang berkunjung ke panti itu.
"Iya, istirahatlah. Tubuh dan hatimu sangat membutuhkannya. Selamat malam," ucap perempuan itu dengan suara lirih, kemudian dia pun pergi ke kamarnya setelah memastikan jika semua anak-anak masuk ke kamarnya masing-masing.