Terjebak Cinta Saudara

Terjebak Cinta Saudara
TCS 22


__ADS_3

Dua bulan paling berat dalam hidup Alice sudah berhasil dilalui. Alasannya tidak lain karena Mike yang terus menjadikan Alice sebagai pelampiasan nafsu terlarang. Setiap hari, disaat ada kesempatan Mike selalu saja melakukan hal tidak senonoh kepada gadis yang berstatus adik berbeda ibunya itu.


Alice bukan tidak mau mengadu pada orang tua mereka, tetapi sejauh ini Esme tidak pernah menunjukkan rasa peduli. Wanita itu terlalu bahagia karena kini sudah resmi menjadi nyonya satu-satunya di kediaman keluarga Haris.


Mereka tidak lagi sungkan mengumbar kemesraan seolah memang itu yang seharusnya terjadi. Kematian Raina justru membuat segalanya menjadi lebih mudah, setidaknya bagi Esme.


Setelah digempur semalaman, Alice terbangun dengan tubuh pegal luar biasa. Gadis itu memang sudah lelah melawan hingga terkesan pasrah, tetapi bukan berarti lantas menikmati setiap perlakuan yang Mike berikan. Andai saja mereka berbuat atas dasar cinta satu sama lain, tentu Alice akan memberikan respon berbeda. Namun, di sini posisinya hanya Alice yang mencintai Mike. Sedangkan Mike menganggap Alice tidak lebih dari boneka untuk melampiaskan rasa benci dan hasrat seksualnya saja.


Pagi yang sama di kamar Mike, lelaki itu tengah berdiri sembari memandang ke luar jendela. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana kerja yang lelaki itu gunakan.


Melihat ketidak pedulian Esme terhadap Alice belakangan ini, Mike merasa rencananya menjadikan Alice sebagai senjata penghancur tidak berjalan mulus. Kenyataannya, wanita itu senang-senang saja dan semakin bersikap semaunya.


Oleh karena itu, Mike bertekad untuk mengubah apa yang selama ini sudah dia jalankan. Mulanya dia harus meminta maaf dan bersikap baik terhadap Alice terlebih dahulu.


Mike keluar dari kamar bersamaan dengan Alice yang juga baru muncul. Gadis itu juga sudah rapi mengenakan blouse dan celana panjang. Rambutnya dibiarkan terurai tanpa aksesoris berarti.


Alice segera membuang muka dan hendak berbalik. Namun, dengan cepat Mike menahan lengannya. Senyum manis tersungging di bibir Mike.


"Ke-kenapa, Kak?" tanya Alice terbata. Hari masih sangat pagi dan dia belum siap menghadapi kegilaan sang kakak.


"Bagaimana tidurmu? Apakah nyenyak?" Mike berkata dengan amat lembut hingga Alice nyaris kehilangan kemampuan bernapas. Mulut gadis itu membuka dan menutup, tetapi tidak ada satu pun kata yang keluar dari sana.


Biasanya Mike akan marah saat Alice memanggilnya dengan sebutan kakak, tetapi kali ini pria itu tak menanggapi semua itu sama sekali, Mike justru memberikap sikap yang berbeda dari biasanya pada Alice.


"Kaget, ya?" Mike terkekeh ringan kemudian melepaskan pegangannya.


Alice sontak mundur dua langkah. Area di depan kamar Mike sepi tanpa ada orang sama sekali.


"Maaf, Kak." Alice memutar pandangan gugup. Perubahan yang ditunjukkan Mike justru menimbulkan ketakutan di benak Alice. Lelaki itu ..., tidak sepantasnya bersikap seperti sekarang.


"Seharusnya aku yang meminta maaf kepadamu. Aku tahu selama ini aku sudah memperlakukanmu dengan buruk dan seharusnya aku tidak bersikap seperti itu."

__ADS_1


Rahang Alice seolah jatuh. Mike dan permintaan maaf seperti sebuah paduan yang tidak sepadan mengingat bagaimana perilakunya selama ini. Anehnya, Alice merasa hatinya menghangat.


"Umm, apa kepala Kakak habis terbentur sesuatu?" tanya Alice takut-takut.


Mike tertawa. "Apa aku terlihat seperti orang yang baru saja kehilangan ingatannya?" balas Mike geli.


"Kakak sedikit aneh hari ini," jawab Alice jujur.


"Apa yang aneh dari seseorang yang sedang merasakan penyesalan?Aku baru sadar kalau aku sebenarnya menyukaimu. Hanya saja selama ini aku salah mengekspresikannya. Kau harus tahu Alice jika perasaanku ini tulus. Lebih dari perasaaan seorang kakak kepada adiknya." Mike menunjukkan penyesalan yang dibuat-buat. Sebelah tangannya meraih jemari Alice kemudian mengecupnya pelan.


"Sekali lagi aku meminta maaf karena terlalu banyak melukaimu. Tolong berikan aku kesempatan untuk menebus semua kesalahanku."


Alice menarik jemarinya dari genggaman Mike. Kupu-kupu seakan berterbangan di perut gadis itu sehingga membuatnya salah tingkah.


"Maaf, Kak. Aku ke kamar dulu."


Alice berbalik dan kembali masuk ke dalam kamarnya. Menjatuhkan diri ke ranjang kemudian berteriak keras. Menjadikan bantal sebagai peredam agar responnya yang menggila tidak terdengar dari luar.  Alice kalang kabut menghadapi Mike yang sekarang. Terlalu manis dan mampu merobohkan pertahanan yang selama ini dibuat dalam sekejap. Cinta yang dimiliki Alice memang sudah sampai di tahap sebodoh itu.


"Apakah Kak Mike juga ikut sarapan?" tanya Alice. Kepalanya menengok kesana kemari seolah mencari sesuatu.


"Tuan Mike juga sudah berada di meja makan," jawab si pelayan sopan.


Alice pun mengangguk dan memerintahkan pelayan tersebut untuk segera kembali bekerja.


Alice menarik napas dalam-dalam sebelum keluar dari kamar. Gadis itu berharap semoga dirinya kuat menghadapi Mike yang tiba-tiba saja berubah seratus delapan puluh derajat.


Sesampainya di meja makan, tampak semuanya sudah menunggu. Haris dan Mike tersenyum menyambut kedatangan  Alice sedangkan Esme cuek saja. Bepura-pura tidak menyadari kedatangan putrinya.


"Ayo sarapan bersama Alice. Kita sudah menunggumu," ucap Haris.


"Duduklah di sini." Mike menarik kursi di sebelahnya, mempersilakan Alice untuk duduk di sana.

__ADS_1


"Terima kasih," balas Alice kemudian mendaratkan bokongnya pada kursi yang sudah disediakan.


Interaksi tersebut tidak luput dari perhatian Haris dan Esme. Haris mengira sudah terjadi sesuatu yang baik pada keduanya sehingga Mike tidak lagi menunjukkan sikap permusuhan. Sedangkan Esme, enggan berpikir lebih jauh mengenai hubungan kedua anak itu. Apa yang ada di benak Esme sekarang hanyalah Haris yang sudah mulai bertekuk lutut padanya.


"Apa aku sudah melewatkan sesuatu?" tanya Haris pada kedua anaknya. Senyum khas seorang bapak terbit di bibirnya.


"Tidak, Ayah. Aku hanya merasa sebagai seorang kakak, sudah sepantasnya aku memperlakukan Alice sebagaimana patutnya. Aku sadar selama ini sudah bersikap keterlaluan dan ingin memperbaiki semuanya. Belum terlambat kan, Ayah?" tanya Mike. Sudut matanya menyipit memandang ke arah sang ayah.


"Tentu saja belum. Aku sungguh senang jika kalian sudah bisa menerima satu sama lain. Justru itu yang menjadi harapanku selama ini. Betul kan, Esme?" Haris berpaling pada sang istri.


Esme hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa. Berpura sibuk mengambilkan makanan untuk suami dan dirinya sendiri.


"Aku sudah meminta pada Alice dan dia memaafkanku. Kami ingin memulai hidup sebagai adik kakak yang saling menyayangi." Mike melirik ke arah Alice penuh arti. Sedari tadi, gadis itu belum mengeluarkan suara sama sekali.


"Syukurlah kalau begitu. Kami sebagai orang tua turut bahagia mendengarnya. Jaga adikmu baik-baik, Mike."


"Pasti, Ayah. Kau setuju denganku kan, Alice?" Mike tidak betul-betul meminta pendapat Alice. Ya hanya agar ayahnya juga percaya jika Mike sudah berubah.


"Iya, Ayah. Kak Mike benar. Maafkan kami jika sering membuat Ayah banyak pikiran. Semoga Ayah selalu sehat," ucap Alice tersenyum tipis.


"Kalian anak-anak yang baik."


Mike bersorak dalam hati.


Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu jika perubahan sikap Mike sekarang memiliki rencana buruk di baliknya. Benar-benar bodoh. Batinnya.




Hai semuanya. Sekedar info, aku sedang ada sedikit musibah di RL, emak dilarikan ke IGD, kumat. Dan sekarang masih di rumah sakit, menunggu keputusan dari hasil CT Scan, karena dari hasil ronsen diduga kanker paru-paru. Tolong pengertiannya jika aku belum sempat up banyak. Bantu doanya semoga semua baik-baik saja, kalian juga jaga selalu kesehatan ya kak. Terima kasih untuk semuanya.🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2