Terjebak Cinta Saudara

Terjebak Cinta Saudara
TCS 65


__ADS_3

Pencarian Alice masih belum mendapatkan hasil, mereka seperti kehilangan jejak bahkan orang-orang suruhan Mike juga tidak dapat menemukan jejak keberadaan Alice. Sudah sepekan lebih baik belum juga mendapatkan info tentang Alice, hampir seluruh apartemen dan juga hotel sudah didatangi olehnya dan juga oleh orang-orang suruhannya. Tapi tidak ditemukan nama Alice sebagai salah satu yang pernah check in ataupun menginap di hotel tersebut bahkan apartemen pun tidak ada atas nama Alice.


"Sebenarnya ada di mana kau, Alice? Aku hampir kehilangan kewarasan karena sepekan ini terus saja keliling mencarimu, kita sudah sepakat untuk menghadapi dan juga menjalani ini bersama-sama. Tapi sekarang kenapa kau yang justru menghilang seakan-akan enggan untuk mempertahankan cinta kita ini." Mike menjadi frustasi karena dia seperti tidak berguna karena tidak menemukan jejak keberadaan Alice.


MikeĀ  hampir gila karena setiap hari dia seperti orang linglung yang bahkan lebih banyak diam dan terkadang senyum sendiri tapi setelah itu dia menangis, bukan hanya Mike saja yang merasa kehilangan Alice. Begitupun yang dirasakan oleh Haris karena biar bagaimanapun Alice itu adalah putrinya, tentu saja harus merasa cemas dan juga khawatir serta memikirkan kemana sekarang Alice berada.


Disaat Mike juga Haris sama-sama tengah merasa cemas dan khawatir mengenai hilangnya Alice yang masih belum ditemukan hingga saat ini, tapi tidak demikian dengan Esme. Dia aja suruh terlihat tenang dan malah senang memikirkan rumah keluarga praja yang sudah dikuasainya tanpa kehadiran Mike di rumah tersebut.


"Sebentar lagi, tinggal selangkah lagi aku bisa sepenuhnya menguasai rumah dan juga kekayaan keluarga Praja. Tapi saat ini aku harus tetap bersandiwara dan pura-pura bersedih mengenai hilangnya Alice, untuk menunjukkan dan juga menarik simpatik serta perhatian Haris bahwa aku pun merasakan hal yang sama sepertinya." Esme kembali memasang wajah murung untuk diperlihatkan di hadapan Haris, tapi saat dia sendirian di dalam kamar maka Esme akan tersenyum puas dengan kegalauan dua orang pria yang sama-sama mengkhawatirkan Alice.


Dihadapan Haris, Esme berakting memasang wajah murung dan sedih, tak nafsu makan dan lebih banyak diam, setiap di ajak bicara seolah-olah tidak mendengar dan melamun, padahal dalam hatinya Esme berteriak bahagia, ingin secepatnya menyaksikan Haris yang hancur dan kehilangan putranya, maka Esme akan pergi jauh meninggalkan Haris dalam kesengsaraan.


"Makanlah, jangan menyiksa diri seperti ini terus. Kau harus tetap kuat dan sehat, jangan sampai sakit. Aku akan sedih jika sampai kau jatuh sakit." Haris menyuapi Esme tapi wanita itu terus saja menolak dan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku sudah sakit, Haris. dan penyebab sakitnya aku adalah ulah dua anakmu itu. Mereka benar-benar ingin membuatku mati dengan menyiksaku seperti ini." Mata Esme menatap jauh dan kosong, wajahnya semakin sayu. Lingkaran hitam dibawah mata semakin mempertegas jika dia selalu terjaga setiap malamnya.


Itu bagi Haris yang tidak memahami jika kantung hitam pada mata bisa dimanipulasi menggunakan make-up, sudah dikatakan jika Esme itu wanita yang pandai berakting. Tapi tentu saja Haris percaya saja dan benar-benar menganggap jika Esme memang dalam keadaan hancur dan terpuruk.


"Setidaknya, makanlah agar kau memiliki sedikit tenaga. Bantu aku dengan tetap sehat dan selalu ada di sisiku." Haris masih mencoba agar Esme mau makan, tapi wanita itu menggeleng lagi. Lalu pergi keluar dan duduk di taman belakang rumah.


Haris menghela nafas panjang, dia keluar dari kamar dan menyerahkan piring yang isinya masih utuh pada pelayan. Dia sudah memerintahkan orang-orangnya untuk mencari Alice, juga mencari siapa pelaku yang sudah mengancamnya. Tapi masih belum ada laporan dari mereka.


Sementara dari tempat lain, yang jauh sekali dari pusat kota. Lebih tepatnya di sebuah desa terpencil dimana para relawan turun langsung serta membantu merawat pada lansia dari salah satu panti jompo yang ada di desa tersebut, salah satu relawan itu adalah Alice.


"Kenapa kamu bersedih, apakah ada masalah? Nenek sering melihatmu menyendiri, lalu menangis." Salah satu lansia yang dekat serta akrab sekali dengan Alice menghampiri. Dan menanyakan mengenai alasan Alice yang sering menangis sendiri.


Wanita tua itu sangat menyayangi Alice, dia juga senang dirawat oleh Alice. Sehingga sudah menganggap Alice seperti cucunya sendiri, dan kali ini wanita tua itu mendapat kesempatan untuk bertanya langsung pada Alice.

__ADS_1


"Katakan kepada nenek, ceritakan. Dengan begitu sesak di dadamu akan sedikit berkurang." Wanita tua itu mendesak Alice untuk bercerita.


Akhirnya Alice menceritakan semua yang terjadi padanya, tentang hubungan terlarang yang dia jalani dengan saudara satu ayah serta kekecewaan Alice pada ibunya juga Mike, hingga membuat Alice kabur dari rumah dan berada di panti jompo tersebut.


"Aku sedih sekali, nek. Aku merasa kecewa terhadap ibuku sendiri dan juga pria yang aku cintai. Mereka berdua sama saja, hanya memanfaatkan serta menggunakan aku sebagai alat untuk memenuhi keinginan mereka." Dengan berderai air mata, Alice menangis dihadapan wanita tua itu.


Alice langsung menceritakan alasan kenapa dia pergi dari rumahnya kepada nenek-nenek itu.


"Nenek memahami kesedihan dan kekecewaan kamu, tapi nenek juga menyalahkan keputusan yang sudah kamu ambil dengan menjalin hubungan terlarang ini. Sebab, tidak seharusnya kamu mau saja menurut pada pria itu. Meski tidak ada yang salah dengan rasa cinta, tapi kamu salah menempatinya. Ya Tuhan, ini adalah hukuman karena kamu sudah melanggar apa yang Tuhan benci." Si nenek menenangkan Alice yang masih menangis, tapi dia juga banyak menyalahkan keputusan Alice dengan menjalin hubungan terlarang dengan kakaknya sendiri.


Alice juga sadar jika dia sudah mengambil keputusan yang salah, dia mau saja dimanfaatkan oleh Mike. Padahal pria itu juga sama jahatnya seperti Esme. Bahkan Mike mendekati Alice hanya untuk sebuah tujuan tertentu.


"Sekarang aku sengaja menjauh dari mereka semua, agar tidak lagi merasa sakit dan juga kecewa." Alice menunduk, menghapus sisa air matanya.

__ADS_1


"Tetaplah disini, jika bisa membuat hatimu tenang. Nenek sangat senang sekali dengan kehadiran kamu di panti jompo ini, kamu ditinggalkan oleh anak-anak kami di tempat ini, dengan berbagai alasan. Dan kamu adalah salah satu orang yang begitu peduli pada kami, wanita-wanita tua yang hanya tinggal menunggu ajal saja." Wanita tua itu memeluk Alice, mengusap punggung untuk memberi ketenangan pada Alice. Keduanya sama-sama berpelukan, seolah memiliki nasib yang sama. Karena sama-sama tidak diinginkan lagi, makanya di buang jauh serta hidup terasingkan.


__ADS_2