
Alice masih memegangi pipinya yang baru saja ditampar oleh ibunya, dia merasa sudah muak dan juga lelah hidup dalam penuh kesedihan dan juga tekanan atas semua ulah serta perbuatan ibunya. Esme tak pernah sekalipun memperdulikan Alice sebagaimana seorang ibu pada putrinya, Esme selalu saja mengatakan kepada Alice, bahwa yang dia lakukan semata-mata hanya untuk kebahagiaan dan juga kelangsungan hidup mereka berdua. Tapi Alice tidak ingin serta tak mau atas apa yang selama ini ibunya lakukan.
"Mama keterlaluan," ucap Alice sambil menangis dan menatap pilu ke arah Esme yang membuang mukanya ke arah lain.
"Renungkan kesalahanmu, Alice. Mama melakukan ini karena kamu sudah keterlaluan, enyahlah dari hadapanku. Sebelum aku semakin murka dan melakukan perbuatan yang jauh lebih parah dari pada hanya menamparmu," desis Esme yang kembali duduk, dia terlihat baru saja melakukan kejahatan.
Alice tak menanggapi ucapan ibunya, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya. Seolah tak menyangka kalau Esme bisa bertindak diluar batas seperti ini. Hancur hati Alice, ketika seorang ibu justru tak lagi peduli pada perasaan putrinya sendiri. Wanita yang berstatus ibu, tapi tak mempunyai nurani serta belas kasih sedikitpun.
Esme bersikap biasa saja setelah dia menampar dengan begitu keras di pipi putrinya, tanpa berkata apapun Elis memutuskan untuk pergi ke kamarnya dengan berurai air mata dan darah terus saja keluar dari sudut bibirnya.
Sakit, sudah pasti. Tapi luka akibat tamparan itu tidak sepadan dengan luka di hati dan juga mental alis karena seumur hidupnya dia tidak pernah merasakan bahagia seperti mereka yang seumurannya, tak ada tempat untuk berbagi meski hanya sekedar mencurahkan isi hatinya.
"Kepada siapa aku harus bercerita, mengeluarkan semua kegundahan serta rasa sesak yang selama bertahun-tahun bagaikan hukuman? Bahkan satu orang teman pun aku tak punya, tak ada yang ingin berteman dengan seorang anak dari wanita simpanan seperti ibuku." Alice menangis, dia sudah tidak tahan lagi dengan semua keegoisan Esme, seolah menghalangi semua mimpi dan keinginan Alice.
__ADS_1
"Apa dosaku, Tuhan? Sehingga harus mendapatkan seorang ibu yang egois dan tak punya perasaan, aku diperlakukan seperti anak tiri, bahkan binatang sekalipun mampu melindungi anaknya dari terkaman hewan buas. Tapi yang Mama lakukan justru tidak mencerminkan sosok seorang ibu." Alice bergumam seorang diri, menangisi nasib hidupnya. Siapapun tak ada yang ingin berada diposisi seperti Alice, tapi itulah jalan hidup yang harus dijalani.
Alice hanya ingin hidup normal seperti yang lainnya, tanpa ada bayang-bayang tentang Esme. Tak ada cibiran atau hinaan mengenai Esme yang terkenal sebagai wanita simpanan, tidak masalah jika Alice hidup sederhana tapi dia bahagia dan menjalani kehidupan tenang, damai juga tentram.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak mungkin hidup seperti ini terus, dan bertahan di rumah ini." Alice berpikir sejenak, dia harus segera memutuskan tentang hidupnya sendiri tanpa harus dicampuri oleh ibunya.
Akhirnya, Alice memutuskan untuk pergi dari rumah Mike. Dan dia akan menyewa apartemen yang sekiranya uang sewanya murah, setidaknya dia tak perlu lagi melihat sikap dan perilaku Esme yang menyebalkan. Dan juga tidak mendapatkan tatapan murka penuh kemarahan serta kebencian dari Mike.
Alice segera membereskan semua barang-barangnya ke dalam koper, sebelum Esme mengetahuinya. Tak banyak barang yang Alice bawa, setidaknya cukup untuknya memulai hidup baru tanpa ada lagi aturan dan tekanan dari Esme.
"Apa yang sedang kau lakukan, Alice? Jangan bilang kalau kau mengemasi semua pakaian ini, karena kau ingin pergi dari rumah ini? Jawab." Esme berteriak sambil berkacak pinggang, dia terlihat murka melihat apa yang sedang dilakukan oleh putrinya.
"Jika sampai kau berani pergi dari rumah ini, maka Mama tidak akan pernah menganggap dan mengakuimu sebagai putriku lagi. Kau berani melawan padaku yang telah mengandung dan membesarkan." Esme marah, meski Alice tak berkata apapun. Tapi Esme tahu kalau Alice memang hendak pergi dari rumah ini.
__ADS_1
Tapi sepertinya ancaman Esme berhasil, karena Alice menghentikan tangannya yang semula sedang memasukan pakaian ke dalam koper. Kemudian menaruhnya kembali ke lemari, Esme tersenyum karena Alice takut dengan ancamannya. Kemudian Esme keluar dari kamar Alice, menutup pintu dengan kencang sehingga menimbulkan suara dentuman yang cukup keras.
Tubuh Alice luruh ke lantai, dia tak berdaya. Dia tak punya sanak famili, sehingga ancaman Esme mampu melemahkan dirinya. Alice belum siap jika harus hidup seorang diri, jauh dari keluarga satu-satunya yang dia miliki yaitu Esme.
"Ya Tuhan, sampai berapa lama lagi aku harus menjalani kehidupan seperti ini? Aku lelah, aku tak sanggup lagi." Alice menangis, dia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
Bahu Alice terguncang, dia harus bisa menerima jalan hidup yang begitu pahit dan sulit. Bukan karena kesulitan keuangan, melainkan tak adanya cinta serta kasih sayang yang Alice dapatkan dari ibunya. Jika anak lain akan senang menghabiskan waktu berdua dengan ibunya, pergi ke salon, shoping, memasak dan lain sebagainya bersama dengan ibu mereka. Tapi tidak dengan Alice. Esme selalu beralasan sibuk dan membiarkan Alice tumbuh seorang diri, tanpa didampingi selama masa pertumbuhannya.
Dalam kesedihannya, hanya satu orang yang Alice. Ingat, dia adalah Mike. Alice rindu sekali dengan lelaki itu, dan ingin bercerita banyak hal. Alice berdiri, mencari ponselnya kemudian berusaha untuk menghubungi Mike. Tapi tidak ditanggapi.
"Apakah kau juga begitu membenci aku, Mike? Apakah kamu juga sama seperti Mama, yang tidak peduli padaku?" Lirih Alice, menatap ponsel yang masih dia genggam.
Alice masih belum lupa, seperti apa wajah Mike yang penuh dengan kebencian ketika lelaki itu pergi meninggalkan rumah, setelah marah karena kamar mendiang ibunya ditempati oleh Esme, hingga semua barang milik Raina digantikan oleh barang Esme, lalu Mike melemparkan semuanya sampai hancur dan berantakan.
__ADS_1
Sebuah ungkapan juga tindakan atas marahnya seorang anak, saat semua milik ibunya tergantikan oleh kehadiran wanita lain di rumah itu. Jadi wajar saja jika Mike semarah itu, tapi Esme sama sekali tak mau peduli. Meski Alice sudah berusaha menyadarkan juga mengingatkan ibunya, untuk tidak bertindak sesuka hati dan mencampuri semua yang berkaitan dengan mendiang Raina. Tapi tetap saja Esme tak merasa bersalah, yang ada dia justru menyalahkan Alice dan menganggap jika Alice sudah bersikap kurang ajar padanya.