Terjebak Cinta Saudara

Terjebak Cinta Saudara
TCS 30


__ADS_3

Seperti biasa, Mike bangun lebih dulu dari semua orang agar tidak ada yang melihatnya keluar dari kamar Alice. Dengan langkah goyah karena masih merasa sedikit mengantuk, Mike berjalan melewati kamar mendiang Mamanya.


Di sisi lain, Esme dan Haris yang baru selesai mandi bersama karena telah melakukan kegiatan panas semalaman. Mereka tertawa ria di dalam kamar Raina yang baru saja mereka tempati tadi malam.


Sebelumnya Esme merengek ingin menempati kamar Raina, karena Raina sudah meninggal Haris pun mengizinkan Esme melakukan apa yang dia inginkan, karena itu rumah Haris.


"Kau memang sangat menggoda, sayang," ujar Haris seraya tersenyum penuh arti, ia memeluk tubuh Esme dari belakang.


"Keringkan dulu rambutmu," kata Esme melepaskan pelukan Haris dari tubuhnya.


Haris pun melangkah mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambutnya yang basah.


Semalaman mereka tidak tidur, Esme ters menggoda Haris, sampai-sampai Haris tidak bisa berhenti menggagahi Esme. Bahkan Haris sampai merasa lemas sekarang akibat semalaman terus menggagahi Esme.


Begitupun Esme, ia juga merasa senang karena ia bisa menempati kamar Raina, sebentar lagi ia bisa menguasai rumah ini dan menguasai kekayaan keluarga ini, sungguh Esme tidak sabar waktu itu datang saat Esme menguasai kekayaan Haris.


"Raina, Raina, dasar wanita lemah, kau sangat bodoh," gumam Esme yang hanya terdengar olehnya sendiri.


Menurut Esme, Raina adalah wanita yang lemah, ia pura-pura kuat di hadapan Esme padahal ia adalah wanita lemah. Sampai-sampai Raina mengakhiri hidupnya sendiri karena tidak tahan melihatnya dengan Haris.


Esme sangat berharap Raina bisa melihatnya di atas sana, melihat Esme dan Haris bercinta semalaman di ranjangnya. "Apa kau akan mengakhiri hidupmu yang kedua kalinya, Raina?" ujar Esme dalam hatinya seraya tertawa penuh mengejek kepada Raina yang memilih mengakhiri hidupnya alih-alih membalasnya.


Esme tertawa di dalam hatinya. "Aku yakin di atas sana pun kau pasti meraung-raung menangis, Raina," ujar Esma di dalam hatinya.


Esme mendekati kotak perhiasannya, hendak memakai cincin pemberian Haris waktu itu, tapi ia tidak menemukannya. Mungkin masih tertinggal di kamar lamanya.


"Sayang, aku keluar sebentar ya," kata Esme kepada Haris yang sedang mengeringkan rambut basahnya.


"Keluar kemana?" tanya Haris.


"Cincin pemberianmu tertinggal di kamarku yang lama, aku mau mengambilnya sebentar," kata Esme.

__ADS_1


Haris menganggukkan kepalanya. "Jangan lama-lama," kata Haris, yang masih ingin tidur memeluk Esme, apalagi mereka baru saja mandi, dan Haris masih merasa kedinginan.


"Iya sayang," jawab Esme.


Sedangkan Mike, yang hendak masuk ke kamarnya, ia tidak sengaja melihat ke arah kamar mendiang Mamanya. Mike menyadari pintu kamar almarhum Mamanya hendak terbuka, Mike mengerutkan keningnya, ia tidak bermimpi dan sudah sadar dari tidurnya.


"Aku tidak sedang bermimpi kan," gumam Mike seraya berjalan mendekati kamar Mamanya yang hendak terbuka itu.


Mike sangat berharap Raina yang keluar dari kamarnya, Mike berharap kematian Raina waktu itu hanya mimpinya saja.


Saat Mike mendekat ke arah kamar Mamanya saat itulah bersamaan dengan Esme yang keluar dari kamar Raina–Mamanya dengan tersenyum lebar.


Mike mematung beberapa detik karena Esme yang keluar dari kamar Mamanya, detik berikutnya Mike baru sadar, sepertinya Esme menempati kamar ibunya, karena pagi-pagi buta seperti ini, Esme keluar dari kamar Mamanya.


Tunggu, sejak kapan?


Emosi Mike seketika memuncak, Mike menarik keras tangan Esme menjauh dari kamar Mamanya.


"Lepaskan aku, Mike, sakit!" jerit Esme, ia berteriak kesakitan saat Mike mencengkram erat tangannya dengan begitu kasar, menjauh dari kamar Raina.


Rasanya tulang tangannya seperti akan patah, karena cengkraman Mike begitu kuat. "Lepaskan aku," ujar Esme lagi. Bahkan mata Esme sudah berkaca-kaca.


Haris yang berada di kamar mendiang Mama Mike, mendengar jeritan kesakitan dari Esme langsung panik, ia keluar dari kamar Raina. Haris terkejut melihat tangan Esme yang sedang dicengkram kuat oleh Mike.


"Mike apa yang kau lakukan?" tanya Haris, ia mendekat ke arah Mike.


Mike semakin murka saat melihat Haris juga keluar dari kamar mendiang Mamanya, itu tandanya Papanya juga mengizinkan Esme menempati kamar Mamanya.


Mike tidak percaya itu, ia tidak mengerti dengan pola pikir Papanya yang mengizinkan Esme tinggal di kamar Mamanya. Haris sendiri tahu jika Raina sangat terpukul saat Haris membawa Esme dan Alice ke kediamannya, tapi Haris seakan tutup mata dan malah mengizinkan Esme menempati kamar Raina.


"Apa yang kalian lakukan, sialan!" ujar Mike berapi-api. Ia semakin membenci Esme, sekarang ia juga membenci Papanya sendiri.

__ADS_1


"Kenapa kalian menempati kamar Mama?!" tanya Mike Lagi dengan nada tinggi. Persetan dengan suaranya yang akan mengganggu orang lain, ia tidak peduli sama sekali.


"Lepaskan tanganku, sakit, Mike!" ujar Esme, meringis kesakitan karena Mike masih terus mencengkram kuat tangannya.


Mike tidak bergeming, ia masih mencengkram kuat tangan Esme, melihat Esme keluar dari kamar Mamanya membuat Mike naik pitam.


Sudah jelas Mike membenci Esme, tapi Papanya malah mengizinkan Esme untuk tinggal di kamar mendiang Mamanya, Mike tidak terima itu.


"Siapa yang mengizinkan kau tinggal di kamar Mama?" tanya Mike dengan penuh kebencian.


Alih-alih menjawab pertanyaan dari Mike, Esme justru menatap Haris dengan penuh kesedihan di wajahnya. "Sayang, tolong aku," kata Esme.


"Mike! Lepaskan tangan Mamamu," ujar Haris.


Mike tertawa. "Mama?" tanya Mike. Ia menatap wajah kesakitan Esme. "Aku tidak sudi memiliki Mama murahan sepertinya," ujar Mike.


"Mike!" Bentak Haris.


Mike tidak tahan, ia mendorong Esme menjauh darinya, dengan langkah penuh emosi, Mike masuk ke kamar Mamanya. Emosinya semakin tidak terkendali saat melihat kamar Mamanya penuh dengan barang-barang Esme. Mike bahkan tidak melihat barang-barang mendiang Mamanya.


"Dengarkan aku! Tidak ada gang boleh menyentuh apalagi masuk ke kamar mendiang Mama! Termasuk kau Esme!" Teriak Mike.


Mike langsung mendekati meja rias, dan melemparkan semua alat makeup Esme. Mike bahkan membanting semua barang-barang Emse yang ada di kamar Mamanya.


Mata Mike langsung menatap tajam ke arah bingkai foto yang membingkai Esme dan Haris, dulu bingkai foto itu membingkai wajah Mamanya dan Haris. Mike menggelengkan kepalanya meraih bingkai foto itu dan melemparkannya, sampai-sampai pecahan kacanya keluar dari kamar Raina.


Esme yang melihat pecahan kaca itu, langsung menggenggam erat Haris, agar Haris menghentikan amukan Mike.


"Kenapa kamu tidak menghentikannya?" tanya Esme kepada Haris yang hanya mematung melihat amukan Mike.


Amukan Mike pagi-pagi buta itu membangunkan semua orang yang ada di kediamannya itu, termasuk Alice yang terbangun karena suara pecahan sebuah kaca yang terdengar jelas.

__ADS_1


__ADS_2