Terjebak Cinta Saudara

Terjebak Cinta Saudara
TCS 64


__ADS_3

Suasana hati Haris masih kacau, dia dan beberapa orang suruhannya sedang mencari keberadaan Alice saat ini. Ternyata sejak kemarin malam wanita itu kabur dari rumah dan tidak ada satu orang pun yang mengetahuinya, barulah hari ini saat hari merasa curiga dan juga cemas karena Alice tidak juga keluar dari kamar sehingga memutuskan untuk mendobrak pintu kamar Alice. Di dalam kamar tidak ada satu orang pun, lalu dari pernyataan dua petugas keamanan yang memang melihat Alice keluar dari rumah menaiki taksi.


Suara notifikasi pesan masuk ke ponsel Haris, sebenarnya dia enggan untuk membuka ponselnya tapi khawatir jika itu adalah pesan dari salah satu orang suruhannya yang sekarang tengah mencari keberadaan Alice. Rupanya itu adalah pesan dari nomor yang sama, yang sebelumnya pernah mengancam Harris serta mengirimkan video intim antara Mike dan juga Alice. Membaca pesan tersebut membuat hari spanik, dia gelagapan karena pesan kali ini lebih menantang dari pesan sebelumnya.


"Sial! Siapa sebenarnya orang yang mengancamku ini? Aku tidak akan mungkin membiarkan video ini tersebar dan diketahui oleh banyak orang, bisa-bisa reputasiku hancur begitu juga dengan bisnis hotel yang sudah bertahun-tahun aku rintis mulai dari nol. Aku harus secepatnya mencari tahu orang yang sudah mengancamku seperti ini." Di tengah suasana hatinya yang belum sepenuhnya tenang, ini Haris dihadapkan kembali dengan sebuah ancaman yang dikirim dari nomor yang sama sekali tidak dikenalnya.


Haris kita menanggapi pesan tersebut, biar urusan itu ada orang lain lagi yang akan membantu memecahkannya. Sekarang hari Haris segera pulang ke rumah karena dia khawatir Esme, sejak kejadian terbongkarnya hubungan terlarang antara Mike dan juga Alice. Mulai saat itu pun sikap Esme berubah murung dan lebih banyak menghabiskan waktu dalam diam. 


Esme sedang dalam perjalanan pulang ke rumah, dia masih belum mendapatkan kabar mengenai keberadaan Alice saat ini. Tentunya hal tersebut membuatnya lega karena sekarang dia bisa jauh lebih bebas di rumah praja, apalagi semenjak Mike  diusir oleh Haris membuat Esme tak lagi merasa terganggu oleh kehadiran Mike dan juga Alice yang sampai saat ini belum juga ditemukan.

__ADS_1


Esme sudah tahu kalau hari lebih dulu sampai ke rumah, sehingga dia kembali memakai topeng untuk berakting di hadapan pria itu. Menunjukkan jika dirinya benar-benar tertekan dan juga stres menghadapi permasalahan di keluarganya ditambah lagi dengan Alice yang kabur dari rumah.


"Kenapa kamu menangis?" Haris menghampiri Esme yang baru saja masuk ke rumah dengan keadaan menangis tersedu-sedu.


Melihat istrinya menangis membuat Haris panik, karena sudah dua hari ini wanita itu tetap saja bungkam dan terlihat bersedih tidak seperti hari biasanya yang selalu menunjukkan wajah ceria dan juga senyum yang mempesona. Haris merasa seperti kehilangan sosok perempuan yang dicintainya, untuk itulah ketika melihat Esme menangis. Haris cemas dan juga khawatir dan dia pun menanyakan apa alasan yang membuat Esme menangis.


"Kalau terus-terusan seperti ini, aku bisa gila. Haris! Belum juga masalah kaburnya Alice yang sampai saat ini belum ada yang mengetahui keberadaannya, aku harus dihadapkan dengan satu masalah lainnya … Yaitu tentang ancaman dari orang yang tidak dikenal. Beberapa pesan masuk ke ponselku dari nomor yang juga mengirim pesan ancaman padamu, aku benar-benar terpuruk dan sebentar lagi mungkin aku akan gila." Esme menangis sambil menjatuhkan bokongnya ke sofa.


"Benarkah itu, bagaimana bisa? Sampai saat ini aku masih belum mengetahui siapa orang yang sudah mengancamku seperti ini, sekarang dia justru mendasar dan mengancam melalui pesan pada ponselmu." Haris terlihat frustasi dia bahkan menjambak rambutnya saking murka dan kesal dengan semua permasalahan yang datang secara bersamaan.

__ADS_1


"Lihatlah, nomor ini terus-terusan menerorku. Dia juga menekan dan mengancam bahwa akan menyebarkan video itu jika saham Praja hotel tidak diberikan padanya, siapa sekiranya orang yang menginginkan tentang saham di Praja hotel? Mungkinkah dari salah satu musuh rekan bisnismu? Atau mereka yang memang sudah mengincarmu sejak lama?" Esme kembali menangis, kecewa dan sedih membuat wanita itu menjadi stres luar biasa.


Sungguh penampilan dan juga mimik wajah yang sangat mirip sekali dengan orang saat dihadapkan dengan banyak tekanan, Esme terlihat seperti wanita yang tengah mengalami stres dan juga hampir gila dengan berulang kali menangis meraung-raung serta meracau mengenai ancaman tersebut.


"Semuanya gara-gara sikap Alice dan juga Mike yang tidak berpikir sebelum melakukan semua ini, mereka berdua seperti anak kecil yang baru saja mengenal cinta. Padahal tidak seharusnya sebagai seorang kakak melakukan perbuatan keji kepada adiknya sendiri, Alice adalah putriku. Mike juga putramu, mereka berdua anakmu darah dagingmu. Kenapa semua kekacauan ini menimpa keluarga kita?" Esme benar-benar terlihat kacau, hari sampai beberapa kali menenangkan istrinya untuk tidak menangis istri seperti itu demi menjaga kewarasannya.


"Tenang, aku minta kqu tenang dulu. Tolong jangan seperti ini, bukan hanya kau saja yang terluka dan juga kecewa pada Mike serta Alice. Aku pun merasakan hal yang sama, tapi kita tidak bisa membiarkan dan terus-menerus meratapinya. Aku akan mengurus semuanya tapi dengan satu syarat kamu jangan seperti ini karena aku tidak ingin sampai masalah ini membuatmu tertekan." Haris, mengelus punggung wanita itu agar bisa lebih tenang lagi dan tidak menangis histeris seperti itu karena itu semua tidak akan membuahkan hasil.


Esme tersenyum sinis sambil menyusut air matanya, dia memeluk tubuh Harris dan menunjukkan betapa saat ini dialah pemenangnya. Hari sudah mulai panik apalagi saat pesan ancaman tersebut menyerang Esme. Teror pesan yang mendesak agar hari menyerahkan saham praja hotel kepada pengirim pesan tersebut, seakan-akan orang itu mengetahui banyak hal mengenai hubungan terlarang antara Mike  dan juga Alice.

__ADS_1


"Harus …. Haris, kau ini memang bodoh. Bisa tertipu oleh air mataku dan juga tangisan palsu ini. Dari dulu kamu memang seperti pria yang bodoh dan mudah sekali terjebak oleh rayuan wanita, kau bahkan tidak menyadari dan tidak mengetahui sosok wanita yang sudah sejak lama mulai perlahan menghancurkan keluargamu." Esme membatin sambil tetap berpura-pura menangis dan bahunya naik turun.


"Besok aku akan mengerahkan orang-orang untuk mencari keberadaan Alice dan juga melacak siapa pengirim pesan tersebut, baru setelah itu aku akan memutuskan apakah saham Praja hotel tetap akan aku berikan pada orang itu atau aku justru akan memberi pelajaran pada dia yang sudah berani mengancamku," batin Haris. Ia mengelus lembut punggung Esme agar dia merasa tenang.


__ADS_2