
Tidak semua orang yang menjalani hubungan percintaan akan berjalan mulus, pasti ada gesekan atau pertengkaran. Begitu juga dengan hubungan terlarang yang dijalani oleh Mike juga Alice. Waktu berjalan dengan begitu cepat, keduanya memang terlihat bahagia. Tanpa mereka sadari jika ada resiko besar atas keputusan dan jalan yang sudah mereka berdua putuskan, menjalani hubungan terlarang. Bahkan, keduanya sering sekali melakukan hubungan layaknya suami-istri.
Pagi ini saat Alice bangun tidur, entah kenapa tubuhnya terasa lemas sekali, seperti tidak ada tenaga. Padahal semalam dia baik-baik saja, tapi Alice berfikir jika hal tersebut mungkin karena kecapean saja. Sehingga dia tidak ingin memanjakan tubuhnya, memilih pergi ke kamar mandi untuk mengguyur sekujur tubuhnya dengan air hangat, agar lebih segar dan tenaganya kembali pulih.
"Aku ini kenapa? Padahal sudah mandi air hangat, tapi rasanya lemas sekali. Seperti orang yang habis begadang saja." Alice menggerutu, dia memilih kembali merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
Semalam dia pulang ke rumah setelah makan diluar sama Mike, dan tidak ada kegiatan apapun. Alice memilih pergi tidur, karena Mike yang memintanya untuk istirahat. Jadi Alice masih bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya hari ini.
Mike baru saja selesai mandi, setelah dirasa sudah siap, dia keluar dari kamar hendak turun ke bawah untuk sarapan. Tapi Mike mengurungkan niatnya untuk turun ke bawah, dia pergi menuju ke arah kamar Alice untuk melihat apakah wanita sudah siap atau belum.
"Apa kau baik-baik saja, kenapa terlihat lemas seperti itu? Apa kau sakit?" Mike menyentuh kening Alice yang sedikit hangat, saat dia melihat Alice yang meringkuk di kasur. Tapi tidak mungkin sampai Alice lemas begitu kalau hanya hangat saja.
"Aku juga tidak tahu, badanku rasanya tidak enak saat bangun tidur, padahal semalam kau juga tahu, jika aku baik-baik saja. Hari ini aku izin tidak masuk kerja, dulu." Alice menjawab dengan suara pelan dan terlihat tidak bersemangat.
"Kalau begitu aku juga tidak akan bekerja, aku akan menemanimu di rumah. Lihat, wajahmu terlihat sangat pucat. Semalam saat pulang, kau tidak bergadang kan? lingkaran hitam di bawah matamu, seperti orang yang tidak tidur semalaman." Mike benar-benar khawatir, jika Alice harus tetap pergi kerja dengan kondisinya yang lemas.
"Tidak, aku langsung tidur semalam. Aku tidak papa, kau bisa pergi bekerja. Lagipula ini hanya tidak enak badan, bukan sakit yang serius," jawab Alice, dengan suara yang masih lemas.
"Apa kau yakin? Tapi aku cemas, jika meninggalkanmu sendiri di rumah." Mike mengelus punggung Alice, wanita itu memejamkan matanya. Menikmati elusan Mike.
__ADS_1
"Iya, aku hanya butuh istirahat. Nanti juga agak baikkan, sana sarapan dulu. Setelah itu baru berangkat kerja. Hati-hati di jalan." Alice mendorong pelan tangan Mike, agar pria itu segera berangkat ke kantor.
"Baiklah, jaga kesehatanmu selagi aku pergi bekerja, ya," ujar Mike terlihat tidak bersemangat.
Akhirnya Mike pergi meninggalkan kamar Alice, dia juga mengingatkan kalau butuh sesuatu dan ada apa-apa, secepatnya mengabari Mike. Barulah setelah berpesan demikian, Mike turun ke bawah untuk sarapan.
"Loh, mana Alice. Kenapa dia tidak sarapan?" tanya Haris yang menanyakan keberadaan putrinya.
Sementara Esme diam saja, seperti biasanya. Tidak pernah mau peduli dengan apapun tentang Alice. Esme terlihat santai menikmati sarapannya, tidak ada perasaan cemas atau khawatir padahal Alice sedang tidak enak badan.
"Dia izin gak masuk kerja hari ini, karena sedang tidak enak badan. Jadi aku memintanya di rumah saja, biar dia istirahat." Mike menjawab sambil menyendokkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
Haris menganggukkan kepalanya menanggapi jawaban Mike, karena memang sudah seharusnya Alice istirahat jika sedang tidak enak badan.
"Jangan memberi contoh yang tidak baik untuk pegawai di hotel, dengan alasan kekuasaan jadi kau bisa seenaknya tidak masuk, harusnya kau mencontohkan jika kau atasan yang rajin dan selalu tepat waktu, pergilah." Alice sedikit memaksa agar Mike baru berangkat kerja.
Karena paksaan Alice, akhirnya Mike pergi juga. Meski dia harus datang terlambat ke kantor. Sebab sempat saling adu argumen dulu sama Alice, dan Mike yang mengalah.
"Selamat pagi, pak Mike," sapa para pegawai hotel.
__ADS_1
"Pagi." Mike berjalan menuju ke ruang kerjanya. Setelah menjawab sapaan para pegawainya.
Sesampainya di ruang kerja, Mike merasa jika ada yang janggal dengan ruang kerjanya itu. Tapi entah itu apa, karena Mike masih belum menemukan dimana letak keanehan tersebut. Kemudian Mike menemui sekretarisnya yang berada disamping ruang kerjanya.
"Pak Mike, ada apa pak? adakah yang bisa saya bantu?" tanya seorang wanita yang merupakan sekertaris Mike.
"Apakah ada orang yang sudah masuk ke ruang kerjaku?" tanya Mike dengan menyelidik ke arah sekertarisnya.
"Tidak ada, pak. Memangnya kenapa pak?" Wanita itu balik bertanya, karena penasaran kenapa Mike menanyakan hal tersebut.
"Tidak apa-apa, lanjutkan pekerjaanmu." Mike kembali menuju ke ruang kerjanya.
Setelah memastikan kalau Mike sudah pergi dan kembali masuk ruang kerjanya, wanita itu segera mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya, mencari nomor seseorang dan dia terlihat menghubungi orang tersebut, yang entah itu siapa.
"Sepertinya, pak Mike mulai sedikit curiga. Dia baru saja datang ke ruanganku, menanyakan apakah ada orang yang masuk ke ruang kerjanya atau tidak. Bagaimana ini? Aku takut," bisik wanita itu, dia bicara dengan pelan agar tidak ada orang yang mendengar percakapannya dengan orang di seberang telepon sana.
Wanita itu tampak ketakutan, sebab dia sudah berani bermain-main dengan Mike. Sebab dia tahu Mike itu orang seperti apa, tapi mau bagaimana lagi. Dia sudah melakukan satu perbuatan itu, dan hanya bisa meminta perlindungan pada orang yang sedang dia hubungi.
"Kalau begitu, mulai sekarang kau harus lebih hati-hati lagi. Bersikaplah seperti biasanya, jangan menunjukkan gelagat aneh yang bisa mengundang kecurigaan dari pak Mike, tutup teleponnya sekarang juga, sebelum ada yang curiga." Orang itu mematikan sambungan teleponnya.
__ADS_1
Sementara sekretarisnya Mike, berusaha mengatur nafasnya. Menetralkan detak jantungnya yang berdegup kencang, saat Mike menanyakan mengenai sesuatu yang mungkin sudah terasa janggal bagi Mike, sehingga pria itu menemuinya.
"Semoga saja, pak Mike. Tidak lagi bertanya atau mengungkit hal yang sama seperti barusan, karena aku tidak bisa menjamin kalau bisa bersikap biasa, seolah-olah memang tidak tahu apa-apa tentang kejanggalan di ruang kerjanya," gumam wanita itu kembali melanjutkan pekerjaannya, meski hatinya merasa takut. Tapi dia harus bisa bersikap biasa saja, agar Mike tidak menaruh curiga atau mengintrogasinya lagi.