
Keduanya sudah resmi menjadi sepasang kekasih, melupakan kenyataan bahwa hubungan mereka merupakan sebuah hubungan terlarang. Ikatan darah yang begitu kuat di antara Mike dan Alice, tidak menghalangi langkah keduanya untuk menjalaninya secara diam-diam.
Mike dan Alice sepakat jika akan menjalani hubungan ini serta bersikap biasa dari orang-orang luar, begitu juga kedua orang tua mereka. Biarkan mereka hanya tahu bahwa keduanya sebagai kakak dan adik, tanpa perlu tahu mengenai tentang kisah cinta terlarang keduanya.
"Ingat Alice, kita tidak salah. Cinta ini pemberian Tuhan, bagaimana mungkin Tuhan salah memberikan rasa ini pada kita. Biarlah mereka taunya kita kakak adik yang saling menjaga serta melindungi. Kasih sayang seperti layaknya saudara." Mike tengah memeluk Alice dari belakang, tangannya meremas tangan Alice.
Ada rasa bersalah dari diri Alice, dia tahu jika hubungan ini terlarang. Tapi cintanya yang begitu besar pada Mike, membuat Alice lupa pada Esme, termasuk pada Tuhan. Dia sudah melewati sebuah batasan sebagai manusia, bahkan nekat melewati penghalang dengan mencintai pria yang merupakan kakaknya sendiri, meski beda ibu. Keduanya tetap saja berasal dari benih yang sama, sehingga ikatan mereka sangatlah kuat sebagai saudara.
"Maafkan aku, Ma. Aku tahu ini salah, tapi rasa cintaku pada Mike tidak bisa aku buang, aku sangat mencintainya. Bahkan berada disisinya membuat aku bahagia, membuat aku hidup kembali setelah kemarin-kemarin aku terpuruk. Tuhan, ampuni aku." Alice merasa berdosa pada Esme, terlebih pada Tuhan. Alice ingat tentang jawaban ibu panti mengenai hubungan saudara satu ayah, yang sekarang sedang dijalani. Tapi semua pesan dan nasihat ibu panti, seperti hanya angin lalu saja. Semuanya menguap entah kemana.
Alice sedang berdiri, menatap jauh pemandangan serta hamparan hijau yang ada di depannya. Sejuk dan tenang, suasana di vila ini begitu nyaman, sangat cocok sekali untuk tempat rehat setelah berkutat dengan pekerjaan yang melelahkan.
Mike tersenyum, dia berjalan menghampiri wanita yang sekarang sudah resmi menjadi kekasihnya. Meski hubungan keduanya, tentu saja ditutupi dari orang luar termasuk Esme dan Haris. Bukan hanya Alice saja yang lupa pada Tuhan, Mike juga demikian. Dia terbuai dengan perasaan cinta yang menggebu, tanpa memperdulikan jika telah memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan terlarang. Sudah pasti itu melanggar norma agama.
__ADS_1
"Disini kau rupanya, aku sudah mencarimu dimana-mana," bisik Mike dari belakang.
Alice melihat sekilas bayangan Mike yang berjalan mendekatinya, tapi mata Alice kembali menikmati pemandangan yang menyegarkan mata. Alice merasakan tangan kekar Mike meremas pundaknya, kemudian jarak keduanya semakin dekat dan tidak ada jarak lagi.
Mike menaruh dagunya di pundak Alice, kemudian erat memeluk wanita itu, sehingga nafasnya begitu panas mengenai telinga Alice. Ada rasa yang menggelitik serta membuat bulu-bulu halus di sekujur tubuh Alice meremang, Alice mendesis ketika jari Mike bergerak pelan, naik turun menyusuri tangannya, kemudian menyibak rambut Alice kebelakang dan Mike mengecup leher bagian belakang.
"Mike …" Alice lirih mengatakan itu, hampir tidak terdengar. Tangannya terkepal dengan sensasi rasa yang luar biasa menggelitiknya.
"Ya …" Mike juga demikian, suaranya terdengar serak. Entah apa yang sekarang terjadi pada mereka.
"Kamu senang?" Mike membantu menyisir rambut Alice yang basah, wanita itu tersipu malu. Tersenyum melihat ke arah cermin, Mike begitu mempesona sehingga membuat Alice terlena. Terlebih penyatuan keduanya mengarungi samudera dengan penuh gairah dan juga cinta.
Alice mengangguk, sisa-sisa air dari rambutnya masih menetes membasahi kedua pundaknya. Begitu juga dengan Mike, pria itu sangat gagah sekali saat seperti ini. Sehingga Alice jatuh semakin dalam pada sebuah kenyataan yang terlupakan.
__ADS_1
"Kita makan malam sekarang, aku lapar sekali setelah menghabiskan banyak tenaga." Mike menggandeng pundak Alice, keduanya menuju ruang makan. Dimana sudah tersedia menu makanan yang disiapkan oleh orang yang mengurus vila itu.
Mike memperlakukan Alice begitu romantis, sebenarnya Alice lelah. Setelah beberapa kali mencapai puncak dari segala rasa dalam dirinya, penyatuan antara dia dan Mike sangatlah sempurna, seperti candu yang melenakan, sampai-sampai Alice ingin terus mengulanginya. Tapi apa daya, tenaganya sudah terkuras habis setelah menghabiskan tiga jam pertarungan panas itu.
"Makan yang banyak, agar tenagamu terisi lagi. Sebab aku tidak akan membiarkan kau tertidur pulas malam ini." Mike menyendok sayur ke piring Alice, sambil matanya mengerling nakal.
Lagi-lagi Alice dibuat tersipu, mata keduanya saling beradu. Seolah tengah mengungkapkan cinta dari mata masing-masing, Alice terbang dengan perhatian serta semua perlakuan manis Mike. Lelaki itu memperlakukan dirinya sangatlah baik, lemah lembut serta tatapan yang penuh pemujaan.
Dua hari keduanya menghabiskan waktu di vila, ingin rasanya tetap berada disana, tapi mereka harus kembali melakukan aktivitas seperti biasa. Tanpa harus mengundang kecurigaan Esme ataupun Haris, lagi pula Mike tetap harus datang ke kantor begitu juga dengan Alice.
"Rasanya seperti sedang bulan madu, aku enggan kembali ke dunia kenyataan yang memaksa kita harus menjaga jarak, membuat penghalang setinggi mungkin agar semuanya tetap aman, meski hal tersebut sangat menyiksaku. Karena aku tidak bisa bebas mendekapmu seerat ini." Mike memeluk Alice sangat erat, menikmati waktu bersama setelah nanti keduanya kembali pada dunia nyata.
Hari terlalu singkat, bagi Mike dan Alice. Menghabiskan waktu saling bertukar rasa serta yang lainnya, merenda mimpi indah layaknya pasangan kekasih pada umumnya. Hanya dua hari yang bisa mereka lewati dengan tenang dan bebas, tanpa harus berpura-pura dan memberi jarak saat dihadapan orang-orang.
__ADS_1
"Dua hari sudah cukup, aku sangat senang sekali, tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Akan jadi sedekat ini bersamamu. Meski setelah ini aku harus bisa menahan diri agar tidak memeluk atau menciummu di sembarang tempat, menjaga jarak serta hal yang dapat membuat mereka menatap dengan penuh tanya. Tetaplah menjadi Mike yang seperti ini, jangan marah-marah. Karena aku takut," ujar Alice seraya menyandarkan kepalanya di dada bidang Mike yang selalu memberikan kenyamanan untuk Alice.
Tangan kekar Mike, merengkuh tubuh mungil Alice. Keduanya akan kembali pulang ke rumah, setelah dua hari menghabiskan waktu juga menguras tenaga untuk setiap pertarungan panas di atas ranjang, suara ******* Alice merupakan irama lagu yang membuat Mike bisa tertidur pulas.