Terjebak Cinta Saudara

Terjebak Cinta Saudara
TCS 29


__ADS_3

Beberapa jam Alice menunggu Mike tidak kunjung pulang. Ia kemudian merebahkan tubuhnya di kasur sambil memandangi langit-langit kamar. Ia terus teringat dengan perlakuan Esme dan Haris yang seolah memojokkan dirinya. Alice merasa ia tidak memiliki keluarga, meskipun di dalam rumah ini ada Esme, Haris dan Mike.


“Mike kau dimana? Aku membutuhkanmu sekarang,” ucap Alice lirih.


Malam ini suasana terasa sunyi dan sepi bagi Alice yang hanya berdiam diri di kamar meratapi nasibnya. Tidak terasa air mata terus membasahi pipi Alice sampai akhirnya ia ketiduran karena matanya terasa berat akibat menangis.


Sementara itu, Mike melirik jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 00.00 malam. Ia memutuskan untuk pulang karena besok pagi ia masih harus pergi ke kantor. Mike memacu mobilnya membelah jalanan kota yang sedikit lengang, sebab ini sudah memasuki tengah malam.


Sepanjang perjalanan pulang, Mike terus teringat akan ucapan Brandon beberapa waktu lalu yang menasehatinya tentang karma.


Sebenarnya, ia merasa terganggu dengan ucapan Brandon yang membicarakan soal karma kepadanya, rapi di sisi lain ia merasa tidak percaya dengan karma itu. Seharusnya Esme yang mendapatkan karmanya bukan?


Flashback On


Ketika Mike sedang menikmati segelas whisky dan sebatang rokok di balkon apartemen Johan, tiba-tiba Brandon menghampirinya dan duduk di samping Mike. 


“Sedari tadi ponselmu terus berbunyi, tapi kenapa kau tidak mengangkatnya?” tanya Brandon, ia meraih segelas whisky yang ada di tangan Mike.


“Itu Alice, bukan hal yang terlalu penting,” sahut Mike, yang tidak peduli dengan panggilan masuk yang berasal dari Alice.


“Sudahlah Mike, lebih baik kau hentikan semua rencana burukmu terhadap Alice,” ucap Brandon yang sedari tadi terus menentang keras rencana Mike.


“Memangnya kenapa? Aku menikmati permainan ini,” sahut Mike.


Lama-lama Mike merasa curiga karena Brandon terus membela Alice seolah ia menyukai Alice, tapi Brandon menyangkalnya dan mengatakan jika ia memiliki kekasih.


“Ayolah Mike, apa kau tidak mempercayai karma? Bagaimana jika karma berbalik padamu? Apa kau siap menanggung semuanya?” tanya Brandon.

__ADS_1


Mike terkekeh mendengar ucapan Brandon. “Apa kau masih percaya dengan takhayul semacam itu?” sahut Mike meledek.


“Terserah jika kau tidak  percaya dengan apa yang aku katakan, tapi setidaknya aku sudah memberitahumu sejak awal,” tukas Brandon lalu meninggalkan Mike sendirian di balkon apartemen Johan


Mike hanya tersenyum sinis memandang Brandon yang berlalu pergi meninggalkan dirinya. Bagi Mike, ia tidak  mempercayai apa yang dikatakan Brandon barusan. Yang ada di dalam kepalanya saat ini adalah membalaskan dendamnya pada Alice dan Esme yang sudah menghancurkan kebahagiaan dalam keluarganya.


Flashback Off


Seketika Mike menyadari jika Alice adalah adiknya, akan tetapi entah kenapa Mike sama sekali tidak merasakan sedikitpun rasa sayang layaknya seorang kakak terhadap adiknya. Oleh karena itu mudah bagi Mike untuk menyakiti Alice.


Mungkin karena ia sangat membenci Esme dan Alice jadi ia tidak merasakan hubungan persaudaraan antara dirinya dan Alice, meskipun mereka satu ayah.


“Tidak, sampai kapanpun aku tidak akan sudi menerima dia sebagai adikku, apalagi menerima Esme menjadi ibu sambungku,” gumam Mike dengan rasa penuh kebencian, ia memukul setir mobil miliknya meluapkan kekesalannya terhadap Esme dan Alice.


Membayangkan mereka berdua saja membuat Mike tidak bisa mengontrol emosinya sendiri.


Ia masih memiliki Johan yang berada di pihaknya, temannya itu menyetujui rencananya. Setidaknya masih ada orang yang ada di pihaknya untuk membalaskan dendamnya terhadap Esme dan Alice.


Membutuhkan waktu setengah jam untuk sampai ke kediaman keluarganya. Setelah sampai, ia langsung masuk ke dalam rumah, suasana sepi karena semua orang di rumah ini sudah tertidur lelap.


Mike segera naik ke kamarnya, ia membuka pakaiannya dan langsung masuk ke kamar mandi.


Ia menyalakan keran untuk mengisi bathtub. Rasanya Mike memerlukan waktu beberapa menit untuk merilekskan otot-otot yang ada di tubuhnya.


"Sepertinya lain kali aku harus pergi merilekskan otot-ototku, karena akhir-akhir ini tubuhku selalu menegang," gumam Mike.


Setelah membersihkan tubuhnya lalu Mike bersiap ingin tidur karena ia juga sudah merasakan lelah. Sebelum tidur, ia sempat membuka ponselnya dan ia melihat banyak pesan masuk dan panggilan tidak terjawab dari Alice.

__ADS_1


Ia mengerutkan keningnya dan melihat setiap pesan yang dikirimkan oleh Alice kepadanya. Bagi Mike isi pesan itu sangat tidak penting, tapi melihat dari cara Alice mengetiknya, sepertinya wanita itu sangat mengkhawatirkannya.


“Kau mengkhawatirkan aku rupanya, wanita murahan,” gumam Mike sambil tersenyum sinis.


Seketika muncul dalam pikiran Mike untuk lagi-lagi kembali masuk menyelinap ke kamar Alice. Mike beranjak turun dari tempat tidurnya dan menuju ke kamar Alice yang letaknya tidak  jauh dari kamarnya.


Perlahan Mike membuka pintu kamar Alice yang tidak terkunci dan masuk ke dalam. Mike melihat Alice sudah tidur dengan wajah yang terlihat sembab seperti habis menangis.


“Kau mengkhawatirkan aku sampai menangis seperti ini,” ucap Mike dalam hati.


Mike tersenyum saat berpikir Alice menangis karena ia mengabaikan pesan dan panggilan dari Alice. Mike senang ketika berpikir rencananya menyakiti batin Alice perlahan mulai terlihat hasilnya. 


“Akhirnya rencanaku untuk menghancurkan hatimu berhasil,” gumam Mike. "Tunggu waktunya tiba saat aku membuangmu seperti sampah, Alice. Aku tidak sabar melihat kau dan Esme terpukul."


Awalnya Mike ingin keluar dan kembali tidur di kamarnya. Namun entah mengapa rasanya Mike ingin tidur bersama di kamar Alice malam ini. Tanpa sepengetahuan Alice, Mike berbaring di sampingnya sambil memeluk Alice. 


Mike memiliki kebiasaan jika ia ingin tidur bersama Alice ia akan masuk ke kamarnya dan ia akan keluar dari kamar Alice sebelum orang-orang di rumah ini terbangung agar tidak ada orang yang tahu jika selama ini ia selalu melecehkan Alice.


Alice yang saat itu sebenarnya terbangun dengan kehadiran Mike, ia tetap berpura-pura memejamkan matanya seolah ia sedang tertidur. Saat ini ia tidak ingin berbicara dengan Mike.


“Astaga, kenapa kau datang di saat suasana hatiku seperti ini Mike,” ucap Alice dalam hati. 


Alice sebenarnya terbangun saat Mike memeluknya, tapi karena rasa bersalah atas sikap ibunya yang tiba-tiba menempati kamar Raina, maka Alice memilih pura-pura tidur.


Mike mendekap erat tubuh Alice dengan penuh kehangatan. Alice berusaha menahan dirinya agar tidak terbangun. Kepala Alice saat ini dipenuhi dengan ketakutan terus memikirkan bagaimana reaksi Mike jika tahu kamar mendiang ibunya sudah dikuasai oleh ibu Alice.


Alice tidak bisa membayangkan semarah apa nantinya Mike jika tahu Esme telah menempati kamar mendiang Ibunya, apalagi Make selalu sensitif mengenai Ibunya. Mike pasti akan beranggapan jika Esme sengaja mengambil alih semua yang dimiliki oleh Ibunya.

__ADS_1


__ADS_2