Terjebak Cinta Saudara

Terjebak Cinta Saudara
TCS 49


__ADS_3

Alice hanya diam saja saat mobil Mike mulai berjalan perlahan meninggalkan parkiran hotel, tak ada percakapan diantara keduanya. Alice ikut dengan Mike, semata hanya ingin tahu saja. Apa yang akan pria itu sampaikan yang katanya penting. Sehingga dengan terpaksa, Alice masuk ke dalam mobil Mike.


Mata Mike fokus pada jalanan di depannya, kendaraan roda empat saling berlomba-lomba melaju cepat dari kendaraan lainnya. Tapi Mike melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Alice mulai sadar jika jalanan yang dilewatinya bukan menuju ke rumah, entah kemana Mike akan membawanya. Alice tak berani bertanya, karena takut bisa mengganggu konsentrasi Mike.


"Aku tahu kau pasti bertanya-tanya, kan. Kemana aku akan membawamu? Tapi kau sengaja menyimpan pertanyaanmu itu." Mike membatin, saat ekor matanya melihat kegelisahan dari wajah Alice. Ketika mobil memasuki jalan yang mengarah ke luar kota.


Perjalanan terasa lama, karena keheningan yang menemani keduanya. Alice berharap kalau Mike akan memulai obrolan lebih dulu, tapi ternyata pria itu tetap saja bungkam semenjak meninggalkan parkiran hotel.


Tapi Alice lebih memilih diam sambil melihat pemandangan yang ada di luar, Alice melihat dari kaca samping dan hal tersebut cukup membantunya sedikit mengurangi rasa bosan karena tidak ada percakapan antara dirinya dengan Mike.


"Ini adalah Vila keluargaku, turunlah. Kita akan beristirahat sebentar, setelah itu barulah aku akan mengatakan hal penting padamu." Mike keluar dari mobilnya kemudian disusul oleh Alice yang berdiri tertegun melihat pada bangunan Villa yang ada di hadapannya.


"Tidak, aku tidak akan masuk ke dalam. Lebih baik sekarang juga kau katakan saja hal penting apa yang ingin kau sampaikan padaku? Kenapa harus ke tempat sejauh ini?" Suara Alice terdengar bergetar, dia terlihat ketakutan karena dia khawatir jika Mike akan memperkosanya lagi sama seperti kejadian saat di hotel sebulan yang lalu.

__ADS_1


Alice memperhatikan ke sekitar lokasi, dan suasananya sangat sepi sekali. Sehingga semakin membuatnya bertambah takut. Kejadian sebulan lalu di hotel, masih belum bisa Alice lupakan. Bagaimana kasar nya Mike, dan tatapan kebencian serta kepuasan dari wajah Mike.


Mike bisa menangkap ketakutan dari wajah Alice, dan hal tersebut sangat wajar sekali jika Alice berpikir demikian. Akan tetapi Mike tidak berniat seperti itu, karena dia memang sengaja membawa Alice ke Villa milik keluarganya. Supaya lebih leluasa bicara dari hati ke hati pada wanita itu.


"Kau tenang saja, Alice. Aku tidak akan berbuat macam-macam padamu, karena tujuanku bukan untuk itu, ayo kita masuk." Mike meyakinkan Alice, lalu dia berjalan lebih dulu ke villa tersebut.


Alice menangkap keseriusan dari kata-kata Mike, sehingga dia pun akhirnya mengikuti langkah Mike masuk ke dalam. Alice melihat-lihat tentang villa itu saat sudah ada didalam, Mike memegang tangan Alice dengan begitu lembut, tatapan matanya sangatlah membius Alice.


"Aku ingin mengatakan hal penting, Alice."


"Katakanlah, bukannya kau membawaku ke tempt ini hanya ingin mengatakan sesuatu itu?" tanya Alice dengan wajah yang benar-benar dingin.


Alice tertawa saat mendengar pernyataan pria itu, sungguh. Alice merasa lucu saat seorang Mike yang selama ini dia kenal, begitu membencinya, menginginkan hidupnya hancur berantakan, tiba-tiba bicara apa tadi, cinta?


"Sudahlah, Mike. Tidak perlu bersandiwara sampai sejauh ini, untuk apa kau berpura-pura menyatakan cinta? Tidak mungkin pria sepertimu mencintai wanita sepertiku." Alice tidak percaya atas ungkapan perasaan cinta Mike padanya.

__ADS_1


Alice teringat seperti apa perlakuan dan perbuatan jahat Mike padanya, betapa bengis dan kasar Mike pada Alice. Sumpah serapah juga ucapan kotor yang Mike tujukan pada Alice, jadi sangat mustahil sekali jika Mike bersikap selembut itu.


Mike memegang bahu Alice dengan kuat, menatap ke dalam manik mata wanita yang ada di hadapannya. Mike menunjukkan sikap tulusnya dan juga rasa cinta yang teramat besar untuk Alice, sungguh perasaan ini teramat menyiksa Mike karena cinta itu tumbuh di tengah kebencian dan juga kemarahan Mike kepada Alice.


"Sungguh, Alice. Aku mengatakan yang sebenarnya, betapa rasa cinta ini sangat menyiksaku sampai-sampai aku sendiri tidak menyadari kapan cinta ini tumbuh. Aku sedang tidak membual atau pun menggodamu, Aku benar-benar mencintaimu, Alice. Susah payah Aku berusaha membuang perasaan ini, tapi semakin aku mencoba untuk menampiknya maka rasa cinta itu justru semakin kuat dan aku kesulitan serta tidak bisa mengabaikannya. Sikapmu yang acuh dan juga dingin membuatku tersiksa bahkan semalam aku pergi ke apartemen, mencoba melupakan perasaan ini dengan mabuk-mabukan. Tapi perasaan ini tidak bisa aku lupakan." Mike berkata lirih sekali, seolah dia tengah patah hati karena Alice tidak percaya dengan ungkapan cinta Mike.


"Aku berjanji, akan berubah dan bersikap baik padamu. Perasaan ini sudah membuat aku sadar, jika hanya kau yang mampu meredam amarah serta kebencian yang ada dalam diriku. Percayalah, jika aku benar-benar mencintaimu, Alice." Mike meraih tangan Alice, meremasnya dengan lembut. Dia sedang berusaha meyakinkan Alice, jika dirinya sedang tidak bersandiwara atau membual.


Hati Alice mulai luluh dengan kejujuran Mike juga ketulusan pria itu, karena sebenarnya sampai saat ini rasa cinta di hati Alice untuk Mike, masih tersimpan didalam hatinya, dan itu hanya untuk Mike seorang.


"Cinta ini datang begitu saja, Alice. Maafkan aku karena sudah membuatmu kecewa, marah juga benci, lupakan masa lalu, lupakan apa yang pernah terjadi sebulan yang lalu. Lupakan semua keburukan yang pernah aku lakukan padamu. Jadilah kekasihku, Alice. Kita mulai dengan kisah yang baru, jalani semua rintangan di depan." Mike mengelus kepala Alice, terdengar tulus sekali saat dia menyatakan sekuatnya. Alice bisa merasakannya.


"Aku takut, Mike. Kita …. Kita ini saudara, bagaimana bisa menjalani hubungan ini." Alice menggelengkan kepalanya, dia gusar dengan pernyataan cinta dari Mike, sebab dirinya juga merasakan hal demikian.


"Ada aku, Alice. Kau tidak usah takut, kita jalani sama-sama. Biarkan mereka hanya tahu jika kita atas dan bawahan, di rumah pun sebagai kakak adik, mereka tidak bisa menghalangi cinta yang merupakan anugerah dari Tuhan. Kita saling mencintai dan itu tidaklah salah." Mike menenangkan Alice, wanita itu terlihat gusar dan cemas.

__ADS_1


Keduanya saling bertatapan, dan tidak ada kebohongan dari mata Mike. Alice yakin dengan ketulusan pria dihadapannya, sehingga rasa yang semula takut berubah menjadi sebuah keyakinan, bahwa Mike mampu memberi perlindungan serta kenyamanan, terlebih keduanya memang saling mencintai.


Akhirnya Alice bersedia, menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih dengan pria yang merupakan kakak, saudara satu ayahnya itu, ia melupakan nasihat dari Ibu panti yang sudah menasehatinya beberapa hari lalu.


__ADS_2