Terjebak Cinta Saudara

Terjebak Cinta Saudara
TCS 33


__ADS_3

Esme kembali ke kamarnya yang semula. Ia membanting barang-barang miliknya dengan frustasi. Amarah Esme seketika memuncak ketika mendengar jika ternyata 70% harta kekayaan milik Raina telah diwariskan kepada Mike. 


“Sialan kau Mike!” gumam Esme sambil mengepalkan kedua tangannya.


Esme mengamuk kesal di kamarnya saat mengetahui ternyata Mike lebih berkuasa atas harta kekayaan keluarga Praja. Selama ini ia sudah bersusah payah mengambil hati Haris agar ia dapat menguasai harta kekayaan keluarga ini, namun semua rencananya menjadi berantakan karena Mike.


“Akhh!! Apalagi yang harus aku lakukan untuk menguasai kekayaan keluarga Praja?” tanya Esme dalam hati. 


Esme terdiam sejenak berusaha menenangkan dirinya, lalu mulai memikirkan cara untuk dapat mengambil alih kekuasaan Mike di rumah ini. Ia sudah berjalan terlalu jauh untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, maka ia tidak ingin mundur begitu saja. 


“Jika Haris saja bisa aku taklukan, maka Mike pun juga pasti bisa dengan mudah ku taklukkan,” ucap Esme.


Ia kemudian mengambil ponselnya, awalnya Esme merasa ragu namun pada akhirnya ia mulai menggerakan jari-jarinya mencari kontak seseorang. Ia terlihat menghubungi seseorang dan mengatakan semua informasi yang ia ketahui tentang keluarga Praja. 


Tut.. Tut..Tut..


“Halo,” terdengar suara seorang pria dari dalam telepon.


“Halo, ada berita buruk,” ucap Esme dengan nada serius.


“Apa maksudmu?” ucap pria itu, seketika suaranya berubah menjadi serius.


“Apakah kau sudah mengetahui kabar terbaru tentang warisan keluarga Praja?” tanya Esme memastikan.


“Kabar terbaru tentang warisan keluarga Praja? Tidak aku sama sekali tak mendengar kabar apapun tentang itu,” sahut pria itu.


“Pagi tadi Mike mengatakan padaku jika ternyata 70% harta kekayaan milik keluarga Praja sudah di wariskan atas nama Mike,” ucap Esme.


“Apa?” teriak pria itu terkejut.

__ADS_1


Orang yang berada di dalam telepon itu mendengus kesal ketika mendengar informasi yang disampaikan oleh Esme. Ia semakin membenci Mike dan Haris. Baginya, jika kekayaan keluarga Praja telah jatuh ke tangan Mike, maka akan semakin sulit untuk menjatuhkan dirinya. 


“Akh!! Sialan! Kenapa baru tahu sekarang,” ucap pria itu.


“Aku juga terkejut, jika Mike tidak berkata demikian aku juga tidak akan pernah tahu jika warisan itu sudah jatuh ke tangannya,” sahut Esme.


“Lalu apakah Haris juga sudah mengetahuinya sejak awal?” tanya pria itu menyelidik.


“Haris pun baru mengetahuinya pagi ini karena ternyata mendiang Raina tak pernah menyebutkan nama Haris dalam surat wasiatnya,” tukas Esme.


***


“Jadi apa yang harus kita lakukan setelah ini?” tanya Esme yang sudah buntu tak bisa menemukan cara lain.


Pria yang sedang bercakap dengan Esme dalam telepon itu terdiam sejenak. Di seberang telepon pria itu sedang mengetuk-ngetuk meja kerjanya dengan jari-jarinya, tanda ia sedang berpikir. Hingga tiba-tiba terdengar suara berdehem.


“Ehm, baiklah dengarkan aku. Kau tetap berusaha untuk mendekati Haris, jangan sampai ia menaruh curiga padamu. Soal Mike, biar aku nanti yang mengurus,” ucap pria itu.


“Jangan khawatir, kau akan tetap aman di rumah itu. Lakukan saja tugasmu sampai aku memberikan perintah lagi padamu,” sahut pria itu.


“Apakah aku bisa memegang ucapanmu?” tanya Esme.


“Ya, kau bisa pegang ucapanku. Lakukan saja perintahku,” ucap pria itu.


“Baiklah, akan aku lakukan sesuai perintahmu,” sahut Esme kemudian menutup teleponnya.


Pagi harinya tanpa berpamitan dengan orang-orang di rumahnya termasuk pada Alice, Mike memutuskan pergi keluar kota untuk melakukan perjalanan dinas. Hal itu disusul oleh Alice yang kemudian memutuskan untuk pergi menginap di hotel selama beberapa hari kedepan. Akibat kekacauan yang terjadi semalam di rumah, Alice memilih pergi sejenak dari rumah untuk menenangkan dirinya dengan menginap di sebuah hotel.


Bahkan hari ini Alice memutuskan untuk tidak berangkat ke kantor. Pikiran Alice semakin kacau ketika Mike sama sekali tidak berkabar dan mengirimkan pesan apapun padanya sejak tadi.

__ADS_1


Alice memacu mobilnya meninggalkan rumah dan mencari hotel di sekitar kota. Mobilnya menembus ramainya jalanan kota di pagi hari. Alice tengah berada di tempat yang ramai, namun ia merasa hatinya sepi tanpa Mike di sisi nya.


Beberapa saat kemudian Alice check in dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Alice meraih ponselnya dari dalam tas dan mencoba untuk menghubungi Mike. Namun, rupanya ponsel Mike mati sehingga Alice tak dapat menghubunginya.


“Sebenarnya kau pergi kemana Mike?” gumam Alice yang semakin khawatir.


Alice memandang ke arah luar jendela seketika ketakutan Alice semakin menjadi, ia mulai berpikir bahwa semuanya telah berakhir termasuk hubungannya dengan Mike.


‘Apakah semua akan berakhir sampai disini? Tapi sungguh aku tak siap kehilangan dirimu” ucap Alice sambil mengacak-acak rambutnya karena merasa frustasi.


Suara dering ponsel seketika menyadarkan Alice dari lamunannya. Awalnya ia berpikir jika itu adalah Mike, rupanya saat ia melirik ke layar ponselnya itu adalah Esme. Alice masih merasa kesal dengan tindakan Esme. Karena tindakannya, Mike menjadi marah dengannya. Akhirnya Alice hanya mengabaikan panggilan telepon dari ibunya.


Hari berikutnya Alice memutuskan untuk berangkat ke kantor dengan perasaan yang bercampur aduk. Ketika sampai di kantor, ia heran karena tak melihat Mike. Ia semakin bertanya-tanya sebenarnya Mike pergi kemana. 


“Kemana kau sebenarnya,” gumam Alice sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.


Ketika Alice sedang memasuki lantai atas di ruang kerjanya, mendadak semua orang memandang dirinya dengan tatapan yang aneh. Beberapa dari mereka saling berbisik satu sama lain.


“Ada ada? Kenapa mereka memandangiku dengan tatapan seperti itu?” gumam Alice heran.


“Kalau aku jadi dia, aku tidak akan berani menampakkan wajahku di kantor ini,” ucap salah satu pegawai.


“Dia kan sudah tak punya malu, sama seperti ibunya yang ****** itu,” timpal yang lainnya.


Ternyata gosip tentang dirinya dan Esme yang tinggal di rumah Mike sudah menyebar di kantor. Kini semua orang-orang di kantor memandang Alice dengan sinis. Alice yang sudah tidak peduli dengan itu semua hanya mengabaikan cibiran dari beberapa orang yang menyindirnya sebagai putri seorang wanita ******.


“Berhenti menatapku dengan tatapan seperti itu,” ucap Alice pada salah seorang karyawan.


Alice lalu masuk ke dalam ruangan kerjanya dan mendengus kesal. Sungguh ia merasa semakin kesini hari-harinya menjadi kacau, entah itu di rumah maupun di kantor. Dan kini Alice menyadari bahwa orang-orang telah membenci dirinya, karena tingkah laku ibunya. 

__ADS_1


“Andaikan kau ada disini Mike, andaikan kau tahu apa yang sedang kurasakan saat ini,” gumam Alice.


Tak terasa air mata membasahi pelupuk mata Alice, perlahan air mata itu tumpah membasahi pipinya. Ia sudah tak sanggup menahan semua ini sendirian.


__ADS_2