Terjebak Cinta Saudara

Terjebak Cinta Saudara
TCS 36


__ADS_3

Lelah menangis semalaman, membuat Alice tertidur meringkuk dengan mata sembab. Dia bangun dengan kepala sakit, tapi berusaha untuk tetap bangun. Sebab Alice harus kembali bekerja. Dan dia tidak ingin kalau sampai Mike memarahinya jika telat. Meskipun Mike sedang pergi keluar kota untuk sebuah pekerjaan.


Alice memaksa tubunya yang lemah, karena semalam dia tak sempat makan dan menangis dalam waktu yang lama. Jadi wajar saja kalau Alice seperti tak punya tenaga, Alice masih ingat kejadian semalam yang membuatnya harus mendapatkan tamparan keras dari tangan ibunya, perih. Masih terasa hingga sekarang, bahkan dari sudut bibirnya terlihat sedikit lebam. Alice mengelusnya dan dia tutup menggunakan bedak tipis agar tidak kentara.


"Aku harus kuat, aku gak boleh lemah. Ayo Alice. Bersemangat lah," bisiknya pada dirinya sendiri memberi semangat.


Setelah selesai bersiap untuk pergi bekerja, Alice keluar dari kamarnya. Dia memilih tidak sarapan di rumah karena Alice lagi malas untuk bertemu sama Esme, kejadian semalam masih membekas di hati dan tentu saja pipi Alice. Jadi dia lebih baik menghindari ibunya dari pada nanti emosinya terpancing.


"Sarapan dulu, Alice," seru Haris, saat melihat Alice keluar dari kamar dan berjalan melewati ruang makan.


"Aku buru-buru, jadi sarapan di tempat kerja saja. Aku berangkat dulu." Alice pergi begitu saja, menyisakan banyak tanya dibenak Haris.


Sementara Esme sama sekali tak menanggapi alasan Alice, karena Esme tahu jika putrinya sengaja menghindari dirinya. Dan itu tak menjadi masalah bagi Esme, biar saja Alice seperti itu, agar dia menyadari kesalahannya dan jangan mengulanginya lagi.


Alice sudah sampai di hotel, dia merasa heran karena tidak melihat beberapa pegawai yang kemarin membullynya, tanpa Alice ketahui jika yang kemarin terjadi karena ulah Mike. Lelaki itu senang menyiksa batin dan menyakiti hati Alice, tapi Mike marah juga tidak terima kalau ada orang lain yang menyakiti Alice.


"Syukurlah, kalau mereka gak ada lagi. Jadi aku bisa fokus kerja dan perlu lagi takut sama mereka," gumam Alice, dia melenggang masuk ke dalam hotel dengan perasaan tenang. 

__ADS_1


Tak ada lagi yang memandangnya dengan tatapan sinis, dan juga penuh kebencian. Sehingga Alice bisa mengangkat kepalanya, tanpa menundukkan kepalanya lagi. Alice berharap jika orang-orang tidak akan kembali lagi bekerja di hotel yang sama dengannya.


***


Kemarin saat masih di luar kota Mike langsung menyuruh sekretarisnya untuk memecat para karyawan yang membully Alice, entah kenapa ia tidak menyukainya, Mike hanya akan puas jika dirinyalah yang menyakiti Alice.


"Pecat semua orang yang sudah berbuat jahat sama Alice, aku tidak akan membiarkan ada orang yang bekerja saling merendahkan seperti itu, aku sudah melihat rekaman CCTV-nya. Dan pastikan jika mereka semua secepatnya enyah dari hotel." Mike memerintahkan pada sekretarisnya, untuk segera melakukan perintahnya lewat telepon kemarin.


"Baik, pak. Saya kerjakan sekarang," jawab sekretaris Mike.


Maka semua orang yang ikut membully Alice dipanggil untuk bertemu dengan sekretarisnya Mike, karena dia sudah mendapatkan perintah dari atasnya. Mereka semua heran dan tidak tahu apa yang membuat mereka sampai dikumpulkan seperti ini.


Mereka semua tentu saja terkejut, sebab tidak menyangka jika perbuatannya kemarin pada Alice. Ternyata justru menyebabkan mereka harus kehilangan pekerjaan, padahal pekerjaan ini banyak sekali memberi keuntungan untuk mereka semua. Tapi sekarang, tak ada lagi yang mereka bisa lakukan, sebab mereka gak mungkin berani melawan Mike.


Alice tentu saja tidak tahu, jika orang-orang yang kemarin membullynya sudah dipecat oleh Mike. Sebelum Alice sampai ke hotel. Sehingga dia tidak melihat seperti apa wajah-wajah terkejut mereka semua, sementara Mike meminta pada sekretarisnya agar jangan sampai Alice mengetahui mengenai pemecatan mereka semua.


"Tenang sekali rasanya tidak ada mereka, jadi aku bisa dengan nyaman bekerja," gumam Alice seraya tersenyum senang.

__ADS_1


Alice segera membereskan pekerjaannya yang sudah selesai, dan dia bersiap untuk makan siang. Apalagi sejak pagi dia hanya makan satu bungkus roti saja, sebagai pengganjal perut. Saat Alice berjalan melewati lorong hotel, tidak sengaja dia melihat bayangan Mike. Lelaki yang begitu dirindukannya, itu artinya jika Mike sudah pulang dari luar kota.


"Mike," lirih Alice, tapi suaranya bisa tertangkap oleh telinga Mike.


Mike menghentikan langkahnya, meminta pada yang lainnya untuk lebih dulu ke ruang meeting. Mike berdiri beberapa saat, menormalkan dirinya yang seperti ingin melakukan sesuatu hal buruk pada Alice. 


"Kamu sudah pulang? Bagaimana pekerjaan kamu di luar kota, apakah semuanya berjalan lancar?" Alice merasa bahagia, karena dia bisa melihat Mike yang berdiri dan menghentikan langkahnya setelah dia menyebut namanya.


Melihat Mike yang diam saja, membuat Alice berjalan mendekati Mike. Sementara Mike tengah berusaha meredam kemarahan dihatinya, dia harus melakukan sesuatu agar Alice kembali merasakan sakit seperti yang kemarin Mike lakukan saat Alice melihat kemarahan Mike di rumah.


"Kamu baik-baik saja kan? Kenapa diam saja?" Alice menjadi cemas, karena dia mengira jika sesuatu hal buruk menimpa Mike sehingga lelaki itu hanya diam saja, tak menjawab pertanyaannya.


Mike sudah menemukan cara, agar dia bisa melihat kesedihan Di Mata Alice. Tanpa berkata-kata, Mike pergi dengan langkah cepat. Tak memperdulikan keterkejutan diwajah Alice. Sontak saja, Alice menjadi sedih. Karena lagi-lagi Mike mengabaikannya. Alice tak bisa menghentikan Mike yang berjalan cepat menuju ke ruang meeting, dan meninggalnya seorang diri tanpa penjelasan.


"Rasakan itu, Alice. Aku tidak akan membiarkan hidupmu bahagia, akan aku buat tersiksa batin dan hati kamu, agar ibumu sadar atas apa yang sudah dia lakukan pada mendiang Mama," gumam Mike tanpa melihat ke belakang, dimana Alice masih berdiri disana.


Alice sedih menatap kepergian Mike, tak terasa air matanya jatuh. Dia kembali menangis setelah semalaman menangisi nasibnya, sampai lupa makan dan berakhir dengan mata sembab juga sakit kepala.

__ADS_1


"Ternyata kau masih marah dan benci padaku, Mike. Aku kira sikapmu akan kembali seperti semula. Karena jujur sakit sekali rasanya ketika kau mengabaikanku dan tidak sepatah katapun kamu ucapkan, padahal aku sangat membutuhkanmu untuk menjadi pendengar semua keluh kesah dan kesedihan hatiku." Alice berlalu, dia pergi untuk makan siang karena perutnya terasa perih. Akibat semalam tidak makan dan paginya hanya makan roti saja.


__ADS_2