
Ada kepuasan di hati Mike melihat Alice terpuruk, sikap Mike yang arogan membuat Alice bersedih. Mike menyukainya, dia lebih memilih untuk menyakiti hati wanita itu daripada menyakiti fisiknya, tanpa memperdulikan jika perbuatannya sungguh membuat Alice mulai merasa tak lagi percaya diri.
Tujuan Mike dengan bersikap demikian, tak lain hanya untuk menyakiti Esme. Melalui Alice, karena yang Mike tahu sebagai seorang ibu, tentu saja Esme akan merasakan kesedihan yang dialami oleh putrinya, tanpa Mike sadari jika perbuatannya pada Alice, sama sekali tidak dipedulikan oleh Esme. Mike lupa jika tidak semua ibu, bisa bersikap baik pada anaknya seperti mendiang ibunya.
"Ini belum seberapa, Alice. Kau akan mendapatkan kejutan yang jauh lebih menyakitkan dari yang kau rasakan sekarang, aku tidak akan membiarkan kau bisa tersenyum, aku akan membuatmu menderita karena sudah berani memasuki kehidupan keluargaku." Mike menatap dari kejauhan, bagaimana wajah Alice yang menahan kesedihan.
Amukan Mike pagi tadi meninggalkan bekas dihati Alice, bahkan lelaki itu melontarkan sumpah serapah serta kata-kata kepada Esme, mengatakan jika perempuan itu murah dan seorang ******. Sehingga menimbulkan cemoohan dari para pegawai hotel, dan Alice yang terkena imbas dari ulah Esme.
Mike senang karena dengan sikapnya pasti sudah memporak-porandakan hati Alice, dia bahagia sudah menyiksa batin wanita itu. Dengan sikap kasar dan arogannya, jelas sekali terlihat dari wajah Mike tentang kepuasan atas perbuatannya tersebut.
"Kita tinggal lihat saja, apa yang akan ibumu lakukan ketika melihat putrinya menderita akibat perbuatannya sendiri." Mike tersenyum sinis, masih jelas terlihat ketika dia pergi dari rumah dan menemukan Alice yang berdiri di balik tembok dengan tatapan penuh luka.
Mike membuka laptopnya, dia ingin melihat seperti sikap para pegawai hotelnya. Menunjukan respon pada Alice yang hari ini pasti datang ke hotel, Mike penasaran menatap rekaman CCTV saat Alice sampai dan langsung mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari pegawai hotel yang lainnya.
__ADS_1
"Dasar wanita murahan, putri dari wanita ******. Yang menjadi penyebab kematian nyonya Raina. Wanita tidak tahu malu, masih berani-beraninya menunjukkan wajah tak berdosanya disini. Seharusnya wanita seperti dirimu dan juga ibumu yang harus lenyap dari muka bumi ini, jangan malah nyonya Raina yang harus menerima hukuman atas kejahatan ibumu." Cibiran dari para pegawai hotel, ketika Alice tiba dan dia hanya diam saja, tak punya keberanian untuk melawan atau melakukan pembelaan.
Entah kenapa, Mike marah dan tidak terima atas bullying yang dilakukan oleh para pegawai hotel kepada Alice. Bukankah dia sendiri yang menginginkan kalau Alice menderita atas perbuatan ibunya? Lantas, kenapa hati Mike merasakan sakit melihat mata wanita itu yang berkaca-kaca?. Tapi Mike Justru diam saja, dan membiarkan mereka mencibir Alice, dengan begitu akan semakin menambah derita wanita itu.
Sepanjang bekerja, tak ada satu patah kata pun yang Alice lontarkan pada pegawai lainnya. Dia benar-benar bungkam, berusaha sekuat tenaga agar telinganya tidak mendengar cemoohan apapun dari mereka, dia harus menahan dan membiarkan mereka menghinanya hingga puas, tidak ada gunanya juga Alice bersuara, sebab mereka sudah kadung membencinya.
"Beri aku kekuatan, Tuhan." Lirih Alice, dalam diamnya.
Tak ada seorang pun yang ingin berteman atas dekat dengannya, bahkan sedikit simpati juga tak Alice rasakan. Semua orang yang ada di hotel, begitu membencinya. Hingga sindiran demi sindiran terus saja terdengar di telinga Alice, seharian dia berpura-pura tuli. Tak memperdulikan apapun perlakuan mereka, diam adalah jalan terakhir yang bisa dilakukan oleh Alice.
"Ibu, boleh aku bicara? Ada yang ingin aku sampaikan kepada Ibu, dan aku harap Ibu bisa bersikap dewasa, jangan hanya mementingkan diri sendiri." Alice berdiri di hadapan Esme yang mengalihkan perhatiannya dari majalah yang tengah dia baca.
"Ada apa? Katakan saja." Esme menunggu, apa yang sekiranya akan disampaikan oleh Alice. Karena Esme tahu jika selama ini Alice tak pernah berani bicara berlebihan padanya.
__ADS_1
"Aku minta tolong, agar berhenti dan jangan lagi mengganggu apapun yang ada hubungannya dengan mendiang Mamanya Mike. Hargai dia sebagai pemilik dari rumah ini, hanya itu saja." Alice berusaha tenang, meski dia tahu jika yang baru saja dikatakan olehnya pasti membuat ibunya tak suka.
Esme manatap Alice dengan marah, dia tidak menduga jika putrinya berani melakukan itu.
"Jangan ikut campur, Alice. Seharusnya kamu mendukung apapun yang aku lakukan, bukan malah menghalangi dan menyalahkan aku, lagipula Raina sudah tiada." Esme marah dan mengatakan dengan suara tinggi, dia menganggap jika Alice tidak berada dipihaknya yang justru menyalahkan apa yang sudah Esme perbuat.
Alice terkejut karena sudah memancing kemarahan ibunya, tapi dia tidak bisa hanya diam terus-menerus. Alice harus menyadarkan Esme, jika wanita itu sudah bertindak gegabah serta mengacaukan semua yang ada di rumah ini, seakan Esme yang lebih punya kuasa atas segalanya.
"Aku tidak bermaksud untuk melawan Ibu, aku hanya mengingatkan agar Ibu sadar dan berhenti untuk tidak lagi mengganggu semua yang ada kaitannya tentang Mamanya Mike, semua kekacauan yang terjadi tadi pagi. Itu karena perbuatan Ibu sendiri, yang sudah melewati batasannya. Yang sudah Ibu lakukan adalah salah." Alice kembali berani bicara banyak pada ibunya, padahal selama ini dia hanya diam saja membiarkan apapun yang dilakukan oleh ibunya.
Mendengar semua ucapan Alice, kembali menambah kemarahan Esme. Dia menganggap jika putrinya sudah berani melawan dengan menyalahkan dan mencampuri urusannya, Esme melempar majalah ke atas meja dan dia segera berdiri dengan wajah merah padam dipenuhi oleh kemarahan.
"Anak kurang ajar! Berani sekali kau mengajariku bagaimana bersikap baik, kau ini hanyalah anak ingusan yang baru kemarin sore dan tidak mengerti tentang kehidupan. Aku peringatkan sekali lagi agar kau tidak perlu mencampuri semua urusanku. " Esme meradang. Bahkan dia sampai menampar Alice, hingga wanita itu meringis kesakitan.
__ADS_1
Alice merasakan jika pipinya berdenyut perih, bahkan Alice melihat ada darah di telapak tangannya. Saat dia memegang pipi kirinya yang baru saja ditampar oleh ibunya, tidak ada sedikitpun penyesalan dimata Esme atas perbuatannya barusan, yang Alice lihat hanyalah wajah penuh amarah. Alice menahan diri agar tidak menangis, sakit bukan karena tamparan itu. Melainkan karena Esme tak merasa bersalah karena perbuatannya sudah menyebabkan kekacauan di rumah ini.