Terjebak Cinta Saudara

Terjebak Cinta Saudara
TCS 28


__ADS_3

Mike menghabiskan waktu di apartemen Johan cukup lama hingga larut malam. Ia sengaja melakukan itu untuk mengetahui apakah Alice akan mengkhawatirkan dirinya. Bahwa Mike sengaja mematikan ponselnya. 


“Mike, kau tidak  pulang?” tanya Brandon.


“Sebentar lagi, aku masih ingin disini,” sahut Mike.


“Ah, kau sedang menghindar dari Alice?” timpal Johan.


“Tidak. Aku hanya merasa bosan di rumah, tidak ada hiburan apa-apa. Jadi lebih baik aku menghabiskan waktu disini bersama kalian,” sahut Mike.


Mike kembali meneguk segelas wiski sambil menghisap sebatang rokok, meskipun para wanita panggilan itu telah diusir dari apartemen Johan, mereka bertiga masih berkumpul menikmati pesta itu. 


Sementara itu, di rumah Alice sedang gelisah menunggu Mike yang tidak kunjung pulang. Sedari tadi ia hanya berjalan mondar-mandir di kamarnya sambil sesekali melihat keluar jendela apakah mobil Mike sudah nampak. 


“Kau sebenarnya pergi kemana, Mike,” gumam Alice gelisah.


Alice meraih ponselnya di atas meja, mencari kontak Mike dan mencoba untuk menghubunginya. Beberapa kali ia mencoba melakukan panggilan tetapi Mike tidak menanggapinya. 


“Kenapa kau tidak mengangkat teleponku,” ucap Alice semakin khawatir. 


Karena Mike tidak mengangkat teleponnya, Alice mencoba untuk mengirim pesan singkat. Beberapa lama Alice menunggu, tetap saja pesan itu tidak dibalas. 


Alice yang merasa suntuk di dalam kamar, akhirnya keluar sejenak untuk mencari udara segar. Tetapi saat melewati kamar Raina, ada sesuatu yang mencuri perhatiannya. Ia melihat Esme sedang berada di kamar itu sambil merapikan barang-barang pribadinya. Alice awalnya merasa heran kenapa ibunya memindahkan semua barang-barangnya ke kamar Raina. 


“Apa yang dilakukan mama,” gumam Alice.


Seketika Alice menyadari, dengan tatapan penuh kecewa ia sadar maksud ibunya memindahkan semua barangnya ke kamar ini tidak lain adalah ingin menguasai kamar Raina. 


Alice melihat sekeliling untuk memastikan apakan Haris ada disitu. Alice masuk ke dalam kamar saat ayah tirinya sedang berada di kamar mandi. Seketika Alice menegur Esme yang sedang sibuk merapikan barang-barangnya.


“Ma, apa yang sedang mama lakukan di kamar ini?” tanya Alice.

__ADS_1


“Tentu saja memindahkan barang-barang milikku, kamar ini kan sudah menjadi milikku,” sahut Esme tanpa sedikitpun menoleh ke arah Alice.


“Apa? Maksud mama apa? Ini kan kamar milik mendiang ibunya Mike,” tukas Alice. 


Ia menegur ibunya dan berkata bahwa ibunya sudah sangat keterlaluan. Alice sangat tidak menyukai tindakan ibunya yang semena-mena di rumah ini, padahal mereka adalah pendatang di sini.


“Mama sangat keterlaluan sekali. Bagaimana jika Mike tahu? Ia pasti akan marah jika melihat kamar mendiang ibunya di pakai oleh mama,” ucap Alice.


“Kau ini terlalu banyak bicara. Raina sudah meninggal, jadi biarkan mama yang menempati kamar ini. Lagipula Haris juga tidak mempermasalahkan jika mama menempati kamar ini,” sahut Esme yang mulai kesal.


Alice terus berusaha menyangkal ibunya yang tetap bersikukuh ingin menempati kamar mendiang Raina.


“Tidak bisa seperti itu Ma!” ucap Alice.


Ibunya seketika marah karena Alice terlalu ikut campur urusannya. Pertengkaran keduanya pun tidak terhindari. Esme terus membela dirinya sendiri karena ia merasa bahwa ia adalah nyonya di rumah ini dan berhak mendapat semua yang ia mau.


“Raina sudah meninggal dan sekarang aku yang berhak atas semua hal di rumah ini. Aku nyonya di rumah ini!” bentak Esme.


“Tidak Ma! Mama tidak berhak menguasai semua yang ada di rumah ini karena ini adalah hak milik Mike,” bantah Alice. 


“Sudahlah Alice berhenti untuk mendebatku. Kau nikmati saja semua yang ada. Aku melakukan ini semua juga kebaikanmu, agar kau bisa mendapatkan hidup yang layak,” ucap Esme.


“Aku tidak butuh ini semua, jika mama mendapatkannya dengan cara yang kotor,” tegas Alice.


Plakk!


Tangan Esme mendarat tepat di pipi kiri Alice yang membuatnya seketika terkejut. Air mata mulai membasahi pipi Alice, ia tidak menyangka ibunya tega bertindak kasar padanya.


“Jagan ucapanmu, Alice!” bentak Esme.


Rupanya suara keributan antara Esme dan Alice terdengar oleh Haris yang sedang berada di kamar mandi. Haris keluar dari kamar mandi dan bertanya-tanya tentang apa yang terjadi.

__ADS_1


“Hei, ada apa ini? Kenapa ribut malam-malam begini?” tanya Haris.


“Sayang, apakah aku tidak boleh menempati kamar Raina? tanya Esme dengan wajah sedih, berusaha mencari muka di depan Haris.


“Tentu kau boleh menempati kamar ini sayang,” sahut Haris sambil membelai rambut Esme.


Haris membela Esme di depan Alice, dan itu membuat Alice semakin kecewa dengan perlakukan keduanya.


“Tapi, Pa..” sahut Alice sebelum akhirnya dipotong oleh Haris


.


“Sudahlah Alice, kenapa kamu mempermasalahkan hal sepele seperti ini? Kamar ini kan sudah tidak ditempati, jadi daripada kosong biarkan mamamu yang menempati kamar ini,” sahut Haris mencoba memberi pengertian pada Alice. 


Haris dan Esme terus seolah terus memojokkan Alice. Sedangkan Alice hanya terdiam membisu karena tidak ada satupun yang membela dirinya. Seketika ia teringat dengan Mike, andaikan saja saat ini Mike berada disini pasti ia tak akan merasa sendiri terpojok seperti ini.


Alice yang awalnya diam, perlahan air mata membasahi pelupuk matanya, dada nya terasa sesak. Ia pun berlari menuju kamarnya, meninggalkan Haris dan Esme sambil menangis.


“Memang anak tak tahu diri,” gumam Esme.


“Sudah sayang, jangan kau pikirkan tentang Alice. Jika kau memang suka dengan kamar ini, kau boleh menempatinya,” ucap Haris.


“Lalu, bagaimana dengan Mike? Bagaimana jika ia tak suka melihatku menempati kamar ini?” tanya Esme dengan wajah pura-pura sedih.


“Kau tak perlu khawatir sayang. Rumah ini adalah milikku, jadi aku yang berhak dan berkuasa disini,” sahut Haris.


Di kamarnya Alice kembali membuka ponselnya untuk memastikan apakah ada balasan dari Mike, tapi sayang Mike masih mengabaikannya. Ketakutan mulai menghantui diri Alice. Ia takut jika Mike akan kembali marah jika tahu kamar almarhum mamanya kini telah ditempati oleh Esme. 


“Bagaimana jika Mike mengetahui hal ini? Pasti dia akan marah besar,” gumam Alice.


Alice duduk terdiam sambil menatap keluar jendela, dilihatnya gugusan bintang-bintang di langit. 

__ADS_1


“Maafkan aku, aku tidak bisa mencegah ibuku untuk tidak mengambil semua hal yang berharga di rumah ini. Sungguh, andaikan aku bisa memutar waktu, aku tidak ingin masuk ke dalam keluarga. Aku tidak ingin menghancurkan keluarga kalian,” ucap Alice sambil memandang ke langit.


Entah kenapa hati Alice terasa sakit, lagi-lagi merasa bersalah pada almarhum Raina dan Mike. Alice selalu merasa bersalah akan sikap ibunya yang telah mengambil semuanya dari Mike dan almarhum Raina.


__ADS_2