
Mansion utama cooper
Cooper terlihat menatap dalam beberapa foto yang ada dihadapan nya saat ini, bahkan dia kembali memperhatikan beberapa rekaman yang dia lihat sejak semalam.
Laki-laki itu kini meremas sebuah kertas yang ada di tangan nya untuk beberapa waktu, bola matanya kemudian menatap tajam kearah Arlan.
"Bergerak dan secepat nya cari tahu soal semuanya"
perintah Cooper kemudian.
Arlan yang mendapatkan perintah langsung menundukkan kepalanya, laki-laki itu secara perlahan beranjak pergi dari dalam ruangan tersebut.
ketika laki-laki itu telah beranjak pergi, bola mata cooper sekarang tertuju ke arah sisi kanannya.
Seorang laki-laki terlihat duduk begitu Santai di atas kursi sofa didalam ruangan yang sering digunakan laki-laki tersebut sebagai tempat bekerja.
"Bukankah aku sudah bilang dulu?. kematian adik mu mencurigakan"
Ucap laki-laki itu tiba-tiba.
Itu adalah teman baik cooper, pertemuan terakhir mereka saat di club malam Kemarin.
Mendengar penuturan temannya Cooper terlihat diam.
laki-laki itu kini berjalan mendekati kursi sofa duduk di sisikanan temannya bersandar pada lengan kursi sofa tersebut secara perlahan.
__ADS_1
"Kamu selalu hanya bicara tanpa memberikan bukti-bukti yang autentik"
Ucap Cooper sambil memijat pelan kedua pelipis nya.
Mendengar ucapan cooper laki-laki itu terkekeh pelan.
"Come teman, apa.aku terlihat seperti seorang detektif handal?! Instingku kuat tapi aku tidak pernah bisa bekerja seperti seorang detektif"
Ucap laki-laki itu kemudian.
"dari sejak awal Bukankah aku sudah bilang kematian Chriss sedikit ganjil dan mengganjal? tapi kau terlalu keras kepala untuk percaya pada ucapanku"
Lanjut laki-laki itu lagi sambil menyesap perlahan minuman nya.
Cooper tampak diam, laki-laki itu secara perlahan meraih gelas minuman nya.
Entahlah Cooper tidak terlalu peduli pada pemikiran yang tidak mendasar, dia fikir kematian adiknya mungkin benar terjadi, mengingat bagaimana Elia begitu dingin menghadapi Saudara nya.
Sejak awal Cooper fikir Elia punya motif untuk melakukan pembunuhan tersebut , apalagi semua orang tahu bagaimana cara Elia memperlakukan saudaranya di masa lalu.
jadi menjadikan Elia sebagai tersangka utama atas kematian saudaranya menjadi alasan yang paling bijak dan masuk akal.
Tapi kini kenapa seolah-olah bukti menghilang dan tidak mengarah ke pada perempuan tersebut.
Seolah-olah Elia menjadi korban yang lebih menderita di balik kematian adiknya.
__ADS_1
Saat ini fokus nya bukan karena dia kasihan pada Elia, dia sama sekali tidak peduli soal itu, sebab sejak awal tidak ada cinta didalam hati nya untuk perempuan tersebut.
Tapi fokus nya jelas pada siapa yang menjadi tersangka utama pembunuhan saudara nya malam itu.
Jika Elia tidak melakukan nya, berarti benar seseorang memanfaatkan kan Elia dan mengkambing hitamkan Perempuan itu secara bodoh.
Dan Elia dengan tolol nya percaya dan sanggup mengikuti permainan laki-laki tersebut.
"Yang menjadi pertanyaan ku, kenapa perempuan itu bisa menjadi sebodoh itu?"
Tanya Cooper kemudian.
Laki-laki itu menyambar rokok dan pamatik yang ada di atas meja, dia secara perlahan mulai menyulut api dari pamatik nya.
Satu hisapan di dapatkan oleh Cooper dari rokoknya, kemudian dengan gerakan perlahan laki-laki itu mulai membuang asap rokok nya.
"Tentu saja bisa menjadi bodoh, jika seseorang bergerak di bawah alam sadarnya untuk mengelabui nya"
Ucap laki-laki itu lagi dengan suara yang begitu tenang.
Mendengar penuturan laki-laki itu seketika membuat Cooper mengerut kan keningnya.
"Maksud kamu, Roy?"
Tanya cooper kemudian.
__ADS_1
Alih-alih menjawab laki-laki yang dipanggil Roy tersebut kembali menyesap minuman nya.