Terjebak Hasrat Kakak Ipar

Terjebak Hasrat Kakak Ipar
Tarik ulur


__ADS_3

Disisi lain


mendengar kata permintaan terakhir jelas membuat Kanna terdiam, dia menata laki-laki yang ada di hadapanmu untuk beberapa waktu.


Kanna mulai memundurkan tubuhnya saat dia melihat Helix menatap nya dengan tatapan yang begitu membunuh.


Seolah-olah dia tahu tengah berada didalam ancaman besar saat ini, gadis tersebut berusaha untuk membuat perlindungan diri.


"Helix, apa yang kamu bicarakan?"


tanya gadis itu sambil berusaha bersikap setenang mungkin, dia pikir berlaku paling atau bertindak gegabah jelas akan merugikan dirinya sendiri.


apalagi dia belum paham betul bagaimana sikap Helix sebenarnya.


"apa kau tidak mendengarnya?"


Helix bertanya sambil menaikkan ujung alisnya.


"aku bilang apa kau tidak memiliki permintaan terakhir?"


laki-laki tersebut mengulang pertanyaannya yang tadi.


Kanna tidak menjawab, fokus bola matanya tertuju pada Helix tapi otaknya saat ini mencoba berputar dengan sebaik mungkin.


dia pikir dia butuh satu ide untuk bisa melarikan diri atau pergi dari tempat ini, dia harus mengelabui laki-laki tersebut bagaimanapun caranya.


"aku tahu kau tidak akan melukai atau menyakiti ku, Helix"

__ADS_1


sejenak bola mata Kanna mencoba untuk meneliti ruangan tersebut.


"tentu saja aku bisa, kau fikir aku tidak mungkin melukai atau menyakiti kamu hah?"


Helix mulai bicara dengan nada yang sedikit tinggi, tangan kanan nya menggenggam erat senjata api miliknya sejak tadi.


Kanna fikir gadis manapun pasti akan ketakutan saat melihat seseorang memegang senjata di tangannya.


"No... aku tahu kamu orang yang baik, kamu tidak akan melukai sembarangan orang begitu saja, Helix"


Kini gadis tersebut bicara sambil kembali menatap wajah laki-laki dihadapan nya tersebut.


Dia fikir ketimbang mencoba melarikan diri tapi hasilnya akan sia-sia bahkan bisa jadi risiko melarikan diri menjadi lebih besar, Kanna berusaha mencoba sedikit menggunakan intrik untuk mengelabui laki-laki dihadapan nya itu.


"seperti halnya kau menyakiti Chriss di masa lalu, aku tahu kamu melakukan itu karena terpaksa bukan?"


"Apa?"


Seolah-olah terkejut dengan apa yang dia dengar, Helix langsung membulatkan bola matanya.


"Bagaimana kau..?"


Helix fikir bagaimana bisa gadis dihadapannya itu mengenal Chriss.


Alih-alih menjawab pertanyaan Helix, Kanna mencoba menggiring pertanyaan.


"Aku fikir kamu tidak mungkin melakukan hal yang buruk pada Chriss juga bukan? manusia sebaik kamu tidak mungkin bisa melakukan hal yang jahat, aku bisa melihat nya dari balik bola mata kamu"

__ADS_1


Lagi Kanna bicara, dia berusaha menyentuh lembut tangan kanan Helix.


"Bagaimana kamu tahu soal Chriss?"


Tidak peduli apa yang diucapkan oleh Kanna, Helix berusaha untuk balik bertanya.


"Apa kau mengenal nya?"


mendapatkan pertanyaan seperti itu jelas saja membuat Kanna berfikir dan berkata dalam hati.


Jelas saja dia mengenal baik laki-laki tersebut, kakak kandung nya, orang yang begitu melindungi nya, bagaimana mungkin dia tidak mengenal nya.


Jika saja dia tidak waras mungkin saat ini dia sudah berteriak kearah Helix dan berkata jika Chriss adalah kakaknya.


"Hanya tahu tapi tidak begitu mengenal nya"


Kanna secara perlahan menyentuh pistol yang ada di tangan Helix sembari bola matanya masih tetap fokus menatap bola mata Helix.


"Mari kita pergi dari sini, mencari tempat aman untuk kita berlindung bersama, aku tahu kamu tidak menginginkan hal seperti ini"


Bujuk Kanna secara perlahan.


Kini tangan nya secara perlahan meraih Pistol yang ada di tangan Helix.


Laki-laki itu jelas lengah, masih berfikir atas ajakan Kanna, bola matanya menatap balik dalam bola mata Kanna.


Tanpa laki-laki tersebut sadari Pistol di tangan nya perlahan berpindah tangan tapi tiba-tiba sebuah suara mengejutkan mereka.

__ADS_1


"Kau masih belum memusnahkan gadis itu?"


__ADS_2