
Kembali ke masa sekarang
Mansion utama Roy
Cooper hanya bisa menarik kasar kerah bajunya, dia mencoba meraih rokok yang ada di atas meja tepat dihadapan nya tersebut.
Laki-laki itu mengeluarkan rokok tersebut dari kotaknya lantas meraih satu batang rokok dan meletakkannya di pinggir bibirnya kemudian secara perlahan Cooper langsung menyambar sebuah pematik.
Bisa dilihat bagaimana laki-laki tersebut mulai menyulutkan api di ujung rokok nya.
Lalu laki-laki tersebut mulai menghisap rokoknya Secara perlahan, dia memilih untuk berjalan mendekati kaca jendela besar dan mendongakkan kepalanya untuk beberapa waktu.
Pemikiran Cooper jelas berkecamuk menjadi satu saat ini, selain karena tekanan yang membuat dia terbebani atas kasus kematian Chriss dimana belum tahu siapa pembunuh yang sebenarnya.
Dia juga harus kembali terbebani saat adik nya ikut bergerak membantu memecahkan kasus dengan memanfaatkan diri sendiri untuk mendekati Felix.
Bagi Cooper itu jelas cukup berbahaya fikir nya, dia takut sesuatu yang buruk terjadi kepada adik nya tersebut.
Sebab hingga sejauh ini dia belum tahu apakah benar Felix terlibat dalam pembunuhan Chriss, jika iya maka apa alasan nya?.
Tapi jika bukan Felix, maka siapa yang ada dibelakang laki-laki tersebut, siapa yang sebenarnya ada dibalik kematian Chriss dan apa motif pembunuhan adik nya malam tersebut.
__ADS_1
Dan Chriss kenapa harus memanfaatkan Elia, menipu semua orang dan membuat dirinya harus membenci Elia dan memilih Menikahi Rihanna
"Kak"
Kanna tiba-tiba secara perlahan menyentuh bahu Cooper, gadis itu memilih untuk bergerak menyamping dan berdiri tepat di sisi kiri kakak nya.
"Jangan khawatir soal apapun"
Ucap Kanna pelan.
Bola mata gadis itu kemudian langsung ikut menatap lurus ke arah depan.
Sedangkan orang lain yang ada di ruangan tersebut memilih untuk menyingkir dan membiarkan kakak dan adik itu mendapat kan kesempatan untuk bicara berdua dan berdiskusi bersama.
"Apa seorang kakak harus mengabaikan keselamatan adik nya?"
Tanya Cooper pelan sambil melirik ke arah Kanna.
Dia melepas kan hisapan rokoknya, Membiarkan Jemari kanan nya menahan rokok miliknya.
Kanna balik melirik kearah kakak nya, gadis itu kemudian mengembangkan senyuman nya.
__ADS_1
"Tentu saja tidak, bukankah Papa selalu berkata jika seorang kakak yang baik tidak boleh mengabaikan adik nya dan begitu pula sebaliknya"
Jawab Kanna sambil kembali membuang pandangannya dari sang kakak nya, gadis itu kembali membiarkan bola matanya menatap kearah depan.
"Tapi untuk kasus ini, bukankah kita juga tidak boleh kehilangan kepedulian untuk mengungkap siapa pembunuh Chriss sebenarnya? terlalu indah bagi sang pembunuh harus bebas melanglang buana kemanapun yang dia mau dan dia tidak menerima hukuman atas perbuatannya? ditambah lagi dia telah menyulitkan banyak orang termasuk putri pertama Pratama, Elia"
Mendengar ucapan adiknya, membuat Cooper terdiam.
seperti ucapan Kanna, itu memang kenyataannya.
Terlalu menyenangkan untuk pelaku sebenarnya bebas kemana-mana tanpa beban setelah membunuh adik nya.
Mereka harus secepatnya membuka kasus tersebut dan menangkap pelakunya.
Cooper kembali menghisap rokok miliknya untuk beberapa waktu, kemudian laki-laki itu secara perlahan menekan sisa rokok ditangan nya ke sisi kanan nya dimana ada sebuah meja yang di atas nya terdapat sebuah asbak Kaca.
Dalam hitungan detik sisa api rokok tersebut hilang dan hancur karena tekanan yang diberikan oleh Cooper.
"Jadi bagaimana rencana berikut nya?"
Tanya Cooper kemudian sambil kembali menoleh kearah Kanna.
__ADS_1
Mendapat kan pertanyaan seperti itu dari Kakak nya, seketika membuat gadis itu mengembang kan senyuman nya.