
Sesampainya di kantor Dito diikuti Dimas langsung masuk ke dalam ruangan.
“Apa agenda ku selanjutnya Dim?”
“Ah, untuk hari ini sudah tidak ada bos. Tapi ada tuan Max dari perusahaan Green yang ingin membuat janji dengan anda bos”
“Tuan Max dari perusahaan Green?” ulang Dito.
“Iya bos, nama lengkapnya Max Lionel. Dia ingin mengajukan kerjasama dengan perusahaan ini. Untuk itu ia mengundang anda untuk makan malam atau makan siang bos” terang Dimas.
Dito tampak memikirkan sesuatu.
“Apa anda mengenalnya bos? Saya baru mendengar namanya selama saya bekerja dengan anda” tanya Dimas penasaran.
“Entahlah Dim, itu sudah lama sekali. Ia dulu rekan kerja papaku. Mereka sangat dekat, seperti saudara” ucap Dito namun terhenti, ia kemudian berdiri dari kursinya dan duduk di sofa.
“Duduklah Dim” lanjut Dito. Dimas mengangguk kemudian ikut duduk di hadapan Dito.
__ADS_1
“Lalu apa selanjutnya bos? Kenapa sekarang tuan Max baru muncul?” tanya Dimas.
“Dulu saat aku masih kecil kakek ku sakit keras, mama dan papa ku sibuk mengurus kakekku. Tidak hanya itu pengobatan kakek membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Orang tua ku tidak segan – segan untuk
memberikan pengobatan yang terbaik. Tanpa mereka sadari perusahaan kami terbengkalai dan uang yang terpakai sangat banyak. Uang pribadi dan uang perusahaan, meskipun demikian nyawa kakek tetap tidak dapat diselamatkan. Setelah kematian kakek, beberapa waktu papa baru menyadari semua kejadian itu, namun sayang terlambat. Perusahaan kami hampir bangkrut dan butuh suntikan dana yang besar. Papa sudah berusaha mencari pinjaman dari relasinya namun tidak ada yang mau berinvestasi. Bahkan tuan Max yang selama ini banyak dibantu papa juga tidak mau memberikan bantuan bahkan terkesan seperti tidak mengenal papaku” Dito berhenti bercerita, di matanya terlihat kemarahan yang terpendam.
“Jahat sekali mereka bos. Terus bos, bagaimana ceritanya sampai kalian bisa bangkit lagi?” Dimas semakin penasaran.
Tanpa mengalihkan pandangannya Dito menjawab pertanyaan Dimas.
“Bos, apa itu sebabnya bos belum menikah sampai sekarang?” Dimas tampak ragu dengan pertanyaan yang baru saja terlontar.
“Ya begitulah, aku terlalu fokus sama kuliah dan bagaimana agar perusahaan ini semakin berkembang”
“Apa bos juga tidak pernah pacaran?”pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Dimas. Ya memang, selama bekerja dengan Dito, Dimas belum pernah melihat bos mudanya ini dekat dengan wanita manapun. Bahkan tatapan memuja dari wanita – wanita rekan bisnis dan karyawannya pun diabaikan begitu saja.
“Ya begitu” kali ini Dito tampak cuek dengan memberikan jawaban yang sama atas pertanyaan Dimas.
__ADS_1
“Atur saja pertemuan itu dengan tuan Max. Aku mau lihat kerjasama apa yang ia tawarkan sehingga mengajakku bertemu. Sekarang lanjutkan pekerjaanmu” ucap Dito sambil berdiri menuju ke mejanya untuk melanjutkan pekerjaannya.
Dimas mengangguk dan kemudian keluar dari ruangan Dito.
*****
Di kediaman tuan Wardana, Erania sedang berbaring di Kasur karena lelah. Meskipun demikian, ia tetap gembira karena berhasil lulus.
“Ah, tadikan nyonya Aselin memberikan ku hadiah. Apa ya isinya?” Erania kemudian mengambil hadiah yang ada di dalam tasnya.
Ia kemudian membukanya dan Erania sungguh terkejut dengan hadiah itu. Sebuah kalung dengan liontin yang berbentuk huruf V seperti inisial namanya. Kalung yang sederhana namun tampak mahal.
Erania kemudian bangkit dari tempat tidur ke meja riasnya untuk melihat kalung itu ketika terpasang di lehernya.
Saat sedang mencoba, pintu terbuka. Nyonya Aselin tersenyum melihat Erania mencoba kalung tersebut.
“Apa kamu suka dengan kalungnya?”
__ADS_1