
Bab ini 90% berisi Narasi.
ALULA POV
Atif sekarang membuka konveksi kecil-kecilan. Ia mengambil potongan kain dari konveksi besar dan di jahit sendiri di rumah. Ada 2 orang yang membantunya berkerja, Sebagai tukang setrika dan tulang obras, 1 lagi juga menjahit sepertinya.
Kadang saat ia menjemputmu pulang dari kuliah, juga sekalian mengambil potongan kain dari bosnya yang lokasinya searah. Terkadang juga aku dibawanya mengambil ke lokasi yang agak jauh. Ada tiga tempat, tidak hanya satu orang bosnya.
Usnul juga sudah dapat mengejar ku, dia sudah mendapatkan sangsangan. Calon suaminya masih satu desa dengan Arifin, cuma beda kampung saja.
Teman-teman satu kelaskupun banyak yang menikah, termasuk Bu Him dan Mas Rowi.
Waktu kuliah Minggu lalu, kami dan Pak Den berdiskusi tentang PKL, lebih tepatnya tentang jalan-jalan setelah PKL.
Tujuan PKL kita adalah MIN Malang dan MAN Malang, beliau menanyakan kepada kami setelah PKL selesai kita mau liburan di Malang sekalian atau mau ke Bali. Kalau masih di Malang tidak nambah biaya, sedangkan kalau ke Bali, kita hanya menambah 150 ribu rupiah.
Tentu saja hampir semua Mahasiswa menghendaki liburan ke Bali, dan memang banyak dari kami yang belum pernah menginjakan kaki di pulau Dewata tersebut. Sehingga keputusan liburan usai PKL kita ke Bali.
Bali I'am coming.
Seperti biasanya, Pukul setengah tujuh pagi harus sudah berada di depan kampus, karena pukul tujuh bus yang membawa kami sudah berangkat.
Kutaruh tas ransel yang berisi pakaianku di bagasi bus yang terparkir di pinggir jalan raya depan kampus, aku belum punya koper. Aku naik dan masuk ke dalam bus.
Di setiap kursi sudah tersedia tas cangklong, eh tas selempang maksudnya, block note dan ballpoint untuk peserta. Kita boleh memilih tempat duduk yang kita sukai. Aku duduk di deretan kursi ke 3 dari depan dekat jendela kanan. Tidak lama kemudian Imas duduk di sebelahku.
"Aku duduk bareng Mbak Lula ya?" tanya Imas memohon.
"Iya, nggak apa-apa. Bebas kok." jawabku.
Dari Pekalongan ada dua Armada, untuk Kabupaten dan kota. Jumlah keseluruhan ada 9 Armada yang membawa kami, Kabupaten Pekalongan, Kota Pekalongan, Kabupaten Batang, Kendal, Kudus, Jepara, Pati, Rembang dan Semarang sendiri.
Sebelum pemberangkatan, Pak Den memimpin doa naik kendaraan bersama dan memberikan nasehat kepada kita untuk berhati-hati dalam setiap perkataan maupun perbuatan selama nanti kita berada di Bali.
Bus berangkat dari daerah masing-masing, tetapi masih 1 biro perjalanan wisata. Kami berkumpul saat jam makan siang di sebuah rumah makan di Solo. Di sana kami beristirahat untuk makan dan sholat.
Perjalanan dilanjutkan kambali, selama dalam perjalanan aku hanya tertidur. Pukul setengah lima sore kami sudah tiba di Hotel Garuda Malang. Aku dan teman-temanku di antar menuju ke kamar. Satu kamar dihuni 4 orang.
Aku hendak mandi, kebetulan aku sedang libur sholat. Usai mandi dan berganti pakaian aku keluar kamar, kulihat sudah banyak antrian untuk mengambil makan malam. Takut nggak keduman lauk, akupun ikut mengantri di barisan paling belakang. Akhirnya aku makan malam sebelum malam datang.
Malam hari habis maghrib ada acara pembekalan dari Dapak Dosen di Ballroom hotel. Tetapi karena ruangannya sudah penuh, aku mengikutinya di kursi paling belakang, tidak tahu apa isi pembekalannya.
Pagi-pagi sekali sekitar pukul tujuh kami sudah berpakaian rapi dengan balutan jaz almamater di tubuh kami, sarapan pagi belum siap. Kami keluar hotel untuk menikmati sejuknya kota Malang.
Di depan hotel sudah ada penjual makanan oleh-oleh khas Malang, seperti keripik apel, kremes ubi ungu dan lain sebagainya. Aku belum berminat untuk membeli karena tujuan kami masih 4 hari lagi termasuk hari ini.
Kami foto-foto di depan hotel, bukan selfi ya, tetapi foto dengan hp atau kamera digital bagi yang bawa. Belum ada yang mempunyai hp android kala itu.
Kegiatan PKL di dua Madrasah berakhir hingga pukul empat sore. Setelah itu rombongan bus pergi meninggalkan Kota Malang menuju ke Pelabuhan Ketapang Banyuwangi.
Saat memasuki pelabuhan, salah satu bus dari rombongan kami ada yang melempari kaca depannya dengan batu. Ternyata menurut penuturan orang-orang, dulu bus dengan nomor polisi tersebut pernah menabrak seorang anak hingga tewas.
Kami turun dari bus dan berjalan kaki menuju kapal feri. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam saat kami sampai di lantai 3 yang merupakan kantin kapal feri tersebut. Aku duduk di deretan kursi yang disediakan.
Aku baru pertama kali naik kapal, ternyata goyang-goyang. Suasananya sangat mencekam, ada laki-laki asing yang terus memandang ke arah kami. Aku melihat jam di HPku, ternyata di tengah laut berubah sendiri, padahal tadi sudah menunjukkan pukul 12, kenapa sekarang kembali ke jam 11?
Tiba-tiba aku kebelet pipis, toiletnya berada di sebelah pinggir kiri belakang. Aku masuk dan langsung menutup pintu. Angin bertiup sangat kencang, dan kurasakan kapal semakin oleng. Aku belum selesai bersih-bersih tiba-tiba saja pintu terbuka sendiri, kudorong kuat-kuat pintu tersebut dan kukunci kembali. Aku menyelesaikan bersih-bersih dan kembali ke tempat duduk tadi.
30 menit kemudian sampailah kita di Pelabuhan Gilimanuk Bali. Kami turun dari kapal dan berjalan menuju ke daratan, Kami berhenti untuk menunggu bus kami tiba. Kami segera naik ke dalam bus ketika bus kami tiba. Bus pun berjalan meninggalkan pelabuhan.
Pukul 4 pagi kami tiba di Pantai Soka. Kami transit di pantai tersebut untuk melaksanakan sholat shubuh dan mandi, tentu saja antriannya panjang sekali.
Selesai mandi aku keluar, Kutaruh pakaian kotor dan tas ranselku di bagasi bus. Banyak orang lalu lalang memakai jaz warna hijau toska, terapi tidak kutemukan teman-temanku. Aku hanya menemukan Nina yang satu bus denganku.
"Nin, sendiri? Mana teman-teman?" tanyaku pada Nina.
"Kata mereka di pantai, Mbak." jawab Nina. "Kita ikuti jalan ini saja yuk, Mbak." ajaknya menunjuk jalan yang ber undakan ke bawah.
__ADS_1
"Ayo," Sahutku.
Kami berdua menuruni jalan berundak tersebut bersejajar. Di sisi kiri dan kanan jalan kulihat sudah ada patung dan sesajen, menandakan bahwa aku sudah menginjakkan kaki di pulau Bali.
"Mbak Lula, Nina Stop!" Seru seseorang tiba-tiba.
Ternyata Mbak Izah dan teman-teman di tepi pantai sedang berfoto ria.
"Berhenti di situ tak foto." seru Mbak Izah lagi.
Kamipun berhenti.
Aku dan Nina
Setelah semua peserta berkumpul di bus, kami dibawa ke rumah makan untuk sarapan pagi. Aku mulai merasakan tenggorokanku sakit ketika masuk ke dalam bus, apalagi ketika AC dinyalakan. Untuk mengurangi rasa sakit tersebut, aku makan permen yang kubawa dari rumah.
Sampailah kami di sebuah rumah makan. Kami sarapan dengan menu halal di restoran muslim. Restoran yang sudah berkerjasama dengan pihak tour and travel. 30 menit kami habiskan di sana.
Ketika meninggalkan rumah makan, di bus kami sudah ada seorang Tour guide bernama I Putu Satya. Kami memanggilnya Bli Putu, wkwkwk. Ada yang nyeletuk, "Beli putunya, Bang."
Tujuan pertama kita adalah ziarah ke makam seorang perempuan yang berjasa dalam penyebaran ajaran agama Islam di Pulau Bali. Putu bercerita tentang Bali dan sejarah tentang Bali. Kemudian dia bercerita tentang Tokoh Raden Ayu Pemecutan atau Raden Ayu Siti Khotijah.
Dari tempat parkir ke komplek makam, kita harus berjalan kaki kurang lebih 100 meter. Sesampai di komplek makam, aku tidak ikut masuk ke dalam, karena wanita yang sedang haid dilarang masuk. Kami yang sedang berhalangan hanya menunggu di luar.
Setelah selesai ziarah bus dan tour guide membawa kita ke sebuah komplek patung raksasa GWK (Garuda Wisnu Kencana)
ini fotonya Mbak Izah saat di GWK, fotoku sudah lunturðŸ¤ðŸ¤, dulu patung raksasa Dewa Wisnu dan burung Garuda belum disatukan, nggak tahu sekarang kayak apa.
Setelah dari GWK, kita diantar menuju pusat oleh-oleh khas Bali yaitu Galuh Art Shop. Kita di sana hingga pukul Empat sore. Aku membeli Sepatu bordir motif Dayak, gantungan kunci dan beberapa gelang manik-manik untuk oleh-oleh.
Kebetulan Aku sekamar dengan Mbak Izah, Bu Fatkhiyah, dan Bu Kartini.
Bu Kartini itu guruku sewaktu duduk di bangku MTs, sedangkan Bu Fatkhiyah aku pernah diajar olehnya waktu di kelas VI Madrasah ibtidaiyah.
Bu Kartini seorang janda beranak 3, suaminya seorang tentara yang meninggal sesaat setelah pemakaman neneknya. Masih di area pemakaman ia ambruk dan ternyata meninggal.
Bu Kartini selalu tidur dengan memegang tasbih milik almarhum suaminya untuk berdzikir. Dan malam ini dia tidak bisa tidur karena tasbihnya tertinggal di rumah, kasihan dia.
Mbak Izah menawarkan tasbih yang dibawanya, mungkin bisa membantu. Bu Kartini pun menerimanya, ia mencoba berdzikir dengan memegang butir demi butir tasbih milik Mbak Izah. Akhirnya dia terlelap juga.
🌸🌸🌸🌸🌸
Hari kedua di Pulau Bali,
Pagi hari di depan hotel sudah perjajar penjual kaos barong dan kawan-kawan. Aku kira harga barang-barang di sini mahal, karena pabriknya kebanyakan berada di Jawa. Ternyata harganya rata-rata sepuluh ribu rupiah.
Aku beli lima buah dengan jenis yang berbeda-beda, 1 kaos oblong, 3 setelan kaos anak dan 1 daster kerut untuk bayi.
Pagi ini, tujuan pertama kita adalah menuju Istana Tampak Siring. Dari Hotel tempat kami menginap memerlukan waktu 1 jam untuk sampai ke Istana ini.
Istana ini terletak di Desa Tampak Siring, Kecamatan Tampak Siring, Kabupaten Gianyar, Bali. Di istana ini, kita bisa merasakan kesejukan dan melihat suasana singgasana orang nomor satu di republik ini.
Istana Tampak Siring merupakan satu-satunya istana yang dibangun setelah Indonesia merdeka. Adalah Presiden Soekarno yang menggagasnya. Istana Tampak Siring berada di areal berbukit, di atas ketinggian 700 meter dari permukaan laut.
Entah mengapa aku merinding saat memasukinya.🤣🤣🤣
Setelah puas mengelilingi Istana Tampak Siring, kita akan segera naik ke dalam bus, sungguh suasana yang menjadi momok buatku, karena permenku sudah habis.
__ADS_1
"Imas, kamu punya permen, tidak?" tanyaku pada Imas. "Tenggorokanku sakit kalau bis sudah jalan, kalau aku makan permen agak mendingan. Tapi permenku sudah habis." ungkapku.
"Iya ya, Mbak Lula. Suara Mbak Lula kok habis gitu seperti habis nyinden, padahal di bus belum nyanyi sekalipun." ucap Imas membenarkan ucapanku. "Cah, ada yang masih punya permen nggak, kasihan ini Mbak Lula. Suaranya habis karena alergi AC." seru Imas pada teman-temanya.
Alhamdulillah, meskipun sisa-sisa permen yang terkumpul ada sepuluhan butir, lumayan.
"Terimakasih ya, taman-teman." ucapku dengan suara serak.
Dari Istana Tampaksiring kita dibawa ke sebuah pantai.
Ada yang tahu nggak ini pantai apa?
Yap betul sekali ini pantai dreamland.
Yang bikin kami malu di sini, ada tenda payung sama tikar kami tempati, ternyata punya orang dan disewakan.
Karena suasananya terik banget, maka kami memutuskan untuk kembali ke parkiran. Kami menunggu teman-teman berkumpul di sana, duduk di rerumputan di pinggir jalan.
Aku nggak ikut foto, takut kobaran hasilnya. ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
Setelah semua peserta sudah berkumpul dalam bus, tidak ada yang absen. Bus siap membawa kami ke tujuan berikutnya.
Aku membuka ponselku, ada pesan dari Mas Husnan.
[Kalau mampir di joger, kamu ada uang lebih, tolong Mas belikan kaos joger, nanti Mas ganti kalau sudah sampai rumah.]
Kenapa nggak nitip pas berangkat saja?batinku.
Aku membalas pesan kakakku singkat.
[Iya]
send.
Kami dibawa ke pusat oleh-oleh Joger, pabrik kata-kata. Saat ikut mengantri masuk, petugas memeriksa isi tas kami. Saat itu aku membawa gunting kuku, dia menyita gunting kukuku.
"Nanti bisa di ambil di pos security ya, Mbak." katanya, akupun mengangguk mengiyakan.
Aku masuk, lama kami di sana. Sambil melihat-lihat aku juga berfikir, menimbang-nimbang isi dompetku. Puas melihat-lihat harga yang tertera, aku hanya mengambil 2 buah kaos oblong warna putih ukuran L pesanan Mas Husnan dan satu lagi buat Izur, kalau nggak ya buat Atif.
Setelah membayar di kasir kaos yang ku ambil, aku keluar dari galery.
Di luar aku bertemu dengan Bu Sri dan teman-teman lainnya yang mengajakku untuk memilih kaos di pertokoan sekitar joger. Aku menunggu di luar toko saja. Beberapa saat kemudian ada yang memberitahukan, dari sini ke Pantai Kuta bisa naik kendaraan sejenis odong-odong yang sejak tadi hilir mudik melewati jalan di depan joger.
Akupun menurut, kami naik kendaraan tersebut dengan ongkos hanya Tiga Ribu Rupiah sekali putaran, dari komplek joger ke Pantai Kuta, nanti kembali ke joger lagi.
Sampai di Pantai Kuta, aku hanya berdiri memandang lautan dan para bule yang sedang berjemur di sana.
Waktu semakin sore, kami memutuskan untuk pulang kembali ke joger. Kami kembali naik kendaraan sejenis odong-odong tadi, tetapi berbeda sopir.
Saat pulang, jalan yang kita lalui berbeda dengan jalan yang sebelumnya. Deretan lapak penjual sovenir berjejer di sana. Semula kukira hanya sovenir biasa, hingga Bu Sri menunjuk ke arah gerombolan sovenir yang menggantung di setiap toko, bentuknya seperti mutu, atau anak ulekan sambal, setelah kuamat-amati dengan seksama,
"Astaghfirullahal'adzim, mata suciku ternodai." seruku.
.
.
.
Terimakasih udah mau membaca
__ADS_1
jangan lupa like n komenya
Sebenarnya mau kubuat 1 bab tapi kok nggak bisa.