Terlambat Menikah

Terlambat Menikah
Episode 20


__ADS_3

Nyonya Aselin dan Erania benar-benar menghabiskan waktu berdua. Mereka tidak hanya makan siang tetapi juga


berbelanja. Nyonya Aselin membelikan banyak pakaian kerja untuk Erania.


“Ma, kok banyak banget sih pakaian yang dibeli?” Ungkap Erania melihat belanjaan mereka yang kini sudah menjadi beberapa paper bag.


“Gak apa – apa sayang, kamukan sekarang sekertaris Dito. Jadi kamu harus menjaga penampilan kamu sayang. Oke? Erania hanya mengangguk, melihat keceriaan nyonya Aselin ia menjadi tidak tega menolak.


Hari ini mereka tidak hanya berbelanja pakaian tetapi juga sepatu, tas dan tak ketinggalan kosmetik. Nyonya Aselin


sangat bersemangat sampai lupa waktu. Mereka selesai saat hari sudah gelap.


“Ma, sekarang sudah malam, Nia jadi tidak ke kantor?” Erania cemas.


Nyonya Aselin menenangkan Erania yang terlihat cemas “Sudah kamu tenang saja, nanti mama yang bicara sama Dito. Ayo kita pulang sekarang. Erania kembali mengangguk, Mereka pulang dengan belanjaan yang memenuhi bagasi serta kursi bagian belakang.


Sesampainya di rumah aura gelap memenuhi ruangan. Saat Aselin membuka pintu rumah, Dito sudah ada duduk di ruang tamu dengan pakaian yang masih lengkap. Tatapan tajam ke arah mamanya dan juga Erania.


“Maafkan mama sayang, habis kamu tidak mau segera mewujudkan segera keinginan mama” ucap Aselin dalam hati  namun ia membuat ekspresinya sedatar mungkin agar Dito tidak tersinggung.


“Nak, kamu baru pulang?” Aselin pura-pura tidak mengerti. Ia ingin memeluk Dito tapi Dito menghindar. Walaupun Aselin sedikit kecewa namun dalam hati ia tertawa dengan penolakan anaknya. Toh ia


tahu memang kesalahannya.


“ Ma, mama kenapa ngajak karyawan aku untuk pergi di jam kerja dan meninggalkan pekerjaannya. Mama tahu, Dito itu butuh sekertaris ma” ucap Dito kesal pada mamanya.


“Dan kamu, bos kamu itu aku apa mama sih?” Lanjut Dito dan menunjuk Erania yang sudah bersembunyi di belakang nyonya Aselin.


“Dito, sudahlah. Mama hanya mengajak Erania buat belanja keperluan kerjanya. Kan kasian, kamu liat dia bahkan belum berpakaian yang bagus layak nya sekretaris. Kalau dia berpakaian bagus kan kamu sebagai bosnya juga bangga punya karyawan yang cantik kayak Erania” Ucap Aselin sambil mengelus kepala Dito meredam kekesalan anaknya.


“Maafkan saya tuan” hanya itu yang Erania ucapkan kepada bosnya sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


“Maaf ! kamu….” Dito tidak melanjutkan karena Nyonya Aselin langsung memotong ucapak anaknya, “Nak, nanti saja dilanjutkan lagi. Sekarang kamu mandi dulu trus kita makan malam. Lagian kan


Erania juga baru pulang. Masih capek, nanti saja ngomongnya.” Nyonya Aselin kembali mengelus punggung anaknya karena melihat kemarahan anaknya itu.


Dito akhirnya mengikuti kata-kata mamanya, entahlah Dito tidak pernah bisa menolak apa yang mamanya kecuali soal jodohnya. “ Erania, sudah ya, sekarang kamu juga mandi setelah kamu panggil adik-adikmu kita makan bersama” Erania hanya mengangguk dan pergi ke kamarnya dengan tangan yang penuh dengan belanjaan tentunya.


Makan malam kali ini sedikit berbeda dari biasanya. Tuan dan Nyonya Wardana, Dito , Erania dan kedua adiknya duduk dengan hening. Tidak ada yang memulai pembicaraan seperti biasanya. Sampai selesai makan Dito orang pertama yang meninggalkan meja makan.


“Dito sudah kenyang ma, Dito ke ruang kerja dulu. Banyak kerjaan” Ucap Dito kemudian berlalu ke ruang kerjanya. Erania hanya bisa menundukkan kepalanya karena merasa bersalah.


“Erania, kamu tenang saja ya, biar nanti mama yang bicara sama Dito. Vian dan Vano habis makan langsung belajar ya sayang” Nyonya Aselin menenangkan Erania.


Tok…to..tok.. Erania memberanikan diri mengetuk ruang kerja Dito.


“Malam tuan, ini aku bawakan kopi” Dito mengacukan kehadiran Erania, Dito menyibukkan diri dengan berkas-berkas di mejanya.


“Maa,,,maafkan aku tuan” Erania tertunduk, jari-jarinya saling bertaut karena ia meremasnya. Takut bercampur gugup yang bergemurih di hatinya. Ia sadar, apa yang dilakukannya hari ini adalah sebuah kesalahan.


“Apa begini kualitas lulusan terbaik kampusmu? Sangat tidak bertanggung jawab. Apa mentang-mentang mama yang menyukaimu jadi kamu jadi besar kepala heeh!! Bentak Dito, mendengar suara Dito


“Bukan begitu tuan, aku hanya…….” Erania hanya bisa menangis Ia tidak mampu melanjutkan karena hatinya begitu sakit. Luka kepergian kakek dan kedua orang tuanya masih terasa sehingga ia menjadi sensitif.


“Keluarlah, aku tidak ingin diganggu” Erania kemudian langsung membalikkan badannya untuk keluar mengikuti perintah Dito.


Erania kemudian menuju taman belakang dengan air mata yang masih membasahi pipinya. Entah mengapa hanya karena bentakan kecil yang dialami membuatnya menangis seperti itu.


Erania duduk di bangku tamam, malam ini rembulan bersinar dengar terang  namun tidak dengan hati Erania.”Ibu dan ayah, apakah kalian sedang memandangiku? Hati Nia masih sakit, apakah Nia salah bu kalau Nia terlalu mengikuti kata-kata mama Aselin? Mama Aselin begitu baik pada kami.


Duduk di bawah sinar rembulan membuat hati Erania menjadi hangat sampai melupakan hari sudah hampir berganti.


Sementara Dito yang melampiaskan seluruh kemarahannya dengan bekerja juga tidak menyadari hal yang sama. Dito sebenarnya heran kenapa ia bisa semarah itu dengan Erania karena masalah yang sangat sepele sampai ia bisa membentak Erania di rumahnya sendiri.

__ADS_1


Setelah pekerjaannya selesai Dito segera meninggalkan ruang kerjanya, saat akan menaiki tangga Dito melihat diluar cahaya rembulan yang begitu indah. Ia kemudiaan mengalihkan langkahnya menuju taman untuk menikmati ciptaan Tuhan itu.


Langkah Dito terhenti kala melihat Erania duduk di bangku taman di tengah malam seperti ini. Bayangan Erania yang menangis kembali terbersit di benaknya.


Dito lalu melangkahkan kakinya mendekati Erania, namun belum sampai Erania sudah berdiri dan berbalik kembali ke dalam rumah. Dito yang melihatnya tiba-tiba berdiam, Dito ingin menyapa Erani tapi bibirnya terasa berat untuk berucap.


“Aku permisi tuan” sapa Erania saat mereka berpapasan. Dito hanya diam tanpa menjawab sapaan Erania. “Ah, kenapa sih aku jadi seperti ini?” teriak Dito kesal dengan dirinya sendiri.


Dito lalu duduk termenung di bangku tempat Erania tadi. Pikiran Dito kacau, Erania yang sapaannya tidak di balas semakin menyakinkan dirinya kalau memang bosnya benar-benar marah kepada dirinya.


Pagi ini Erania bangun dengan cepat. Ia kemudian membantu menyiapkan sarapan pagi dan ke berangkat ke kantor.


“Kak, kok sudah mau berangkat ke kantor? Tidak sarapan dulu?” tanya Vian kepada Erania yang sepertinya terburu-buru padahal jam masih pukul 6.30.


Erania tersenyum,”Iya dek, kakak banyak kerjaan. Kalian belajar yang rajin ya. Takut macet jadi akak sarapan di kantor saja. Ini sudah siapkan” jawab Erania sambil menunjukkan bekalnya.


Vian dan Vano mengangguk bersamaan sambil memakan sarapan mereka. Ya Vian dan Vano memang ke sekolah di antar oleh supir yang disiapkan oleh nyonya Aselin.


Erania mencium kening kedua adiknya kemudian berangkat ke kantor.”Loh kakak kalian mana sayang?” Nyonya Aselin turut bergabung di meja makan.


“Sudah berangkat ma” Vian dan Vano juga sekarang memanggil mama kepada nyonya Aselin atas permintaannya.


“Tumben pagi-pagi banget”


“Katanya kakak banyak kerjaan ma, dan takut macet”


Nyonya Aselina hanya mengangguk-anggukan kepalanya kemudian melanjutkan sarapannya.


“Pagi semua” sapa Dito yang juga ikut bergabung. Pandangan mata Dito diedarkan seperti mencari sesuatu.”Erania sudah berangkat, katanya banyak kerjaan dan takut macet” Aselin sepertinya tahu apa yang


dicari anaknya. Dito hanya diam, “Kenapa dia pergi pagi-pagi sekali” guman Dito dalam hati.

__ADS_1


Mereka melanjutkan sarapan, Dito segera berdiri saat sarapannya telah habis.”Selesaikan masa kalian, dan jangan terlalu keras padanya. Erania tidak salah, mama yang tiba-tiba mengajaknya”


Dito tidak kembali tidak menjawab mamanya, ia hanya mencium pipi mamanya kemudian berangkat ke kantor.


__ADS_2