Terlambat Menikah

Terlambat Menikah
#45


__ADS_3

Pengeras suara dari Mushola mengedengarkan suara qori' yang melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an menandakan Maghrib segera menjelang. Lula baru saja pulang dari menjalankan kewajibannya mengajar di TPQ, ia menerima panggilan telepon dari kekasihnya, Atif.


Dengan duduk di sofa ruang tamu, Lula menjawab panggilan dari Atif.


"Wa'alaikumussalam." Lula menjawab salam setelan mendengar salam dari Atif di ujung telepon.


"Darimana? Kok baru jawab." Atif memulai pertanyaan setelah tadi puluhan kali melakukan panggilan tetapi tidak ada satupun yang terjawab.


"Baru pulang dari TPQ, memangnya kenapa? aku enggak bawa HP tadi," jawab Lula agak gugup.


"Nggak apa-apa," sahut Atif singkat.


Dari speaker handphonenya Lula seperti mendengar suara penyanyi orkes dangdut, bising sekali.


"Kok rame, pipih lagi dimana?" tanya Lula penuh selidik.


"Aku di rumah saja, kebetulan keponakanku, anaknya Mbak Rahayu besok pagi nikah."


"Oo..," Lula hanya ber-o ria.


Lula terdiam, ada rona kecewa terpancar dari sorot matanya.


Lalu siapa aku bagimu? Kenapa aku tidak ada di sana saat keluargamu sedang ada acara penting? Kapan kamu memperkenalkanku pada keluargamu? Kapan aku menjadi bagian dari keluargamu?Apa aku bukan orang penting bagimu? berbagai pertanyaan Lula hanya disimpan di dalam hati.


Lula merasa seperti bermimpi ingin lari tetapi kakinya tidak mau bergerak karena kegubet selimut, diam di tempat. Sementara yang lain sudah banyak yang berlari mendahuluinya.


Sabar Lula, tinggal sedikit lagi. Buah dari kesabaran itu sangat maniiis rasanya.


"Mih,"


"Eh,"


Ternyata panggilan masih tersambung, ia lupa.


"Kok diam?"


"Udah Maghrib, Pih. Sandikolo," Ucap Lula hendak menyudahi panggilan. Fikirannya kurang fokus


"Yaudah, assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokaatuh,"


Lula menjawab salam kemudian menyimpan HP nya di kamarnya, sebelum pergi mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat Maghrib.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Seminggu telah berlalu, sore ini sepulang kuliah seperti biasa Lula dijemput oleh Atif, kebetulan jam terakhir kosong sehingga mereka bisa bersantai. Atif membawa Lula melewati jalur timur yaitu jalur yang tidak dilalui trayek angkot, namun dilewati oleh bus setiap 30 menit.


Sampai di depan warung bakso di daerah Kebon Rowo Pucang, Atif memarkirkan sepeda motornya.


Ini mungkin bakso yang waktu itu Bu Him mau nraktir Lula dan kawan-kawan tetapi gagal gara-gara setengah harian Lula memasang kembang kacang di mukanya, Mbesengut.


Atif dan Lula memasuki warung bakso dan duduk di bangku yang kosong.


"Bakso beranak 2 porsi, es teh 1 saja," pesan Atif saat pelayan menghampiri mereka.


Satu gelas berdua? ciuman donk.


"Kok minumannya cuma satu?" protes Lula menatap Atif.


"Kenapa, kamu jijik? Daripada mubazir, nanti sedotannya dua. Kalau kurang boleh pesan lagi kok." jawab Atif.


Iyain aja dech.

__ADS_1


"Baksonya isi bakso atau telur? Minya kuning atau putih?" tanya pelayan lagi.


"Kosongan, Mbak." jawab Lula yang memang tidak begitu menyukai mi.


"Kosongan? mangkok tok?" tanya Atif menggoda.


"Maksudnya bakso kuah aja, enggak pakai mi." jawab Lula mengoreksi.


"Kirain mangkok tok, kita kan nggak usah mampir, di rumahku banyak," seloroh Atif menahan senyum.


"Kamu pikir aku jaran grebek(kuda lumping)." Lula memasang muka masam.


"Yang isinya bakso ya, mbak. Aku minya campur ya." ucap Atif pada pelayan yang masih menunggu pesanan, kemudian pergi.


Tak butuh waktu lama pesanan dua porsi bakso dan segelas es teh manis pun menghampiri Lula dan Atif.




Setelah menghabiskan dan membayar pesanannya, mereka kembali meneruskan perjalanan. Hari sudah menggelap saat mereka sampai di wilayah kecamatan Doro, sebelum sampai di pasar Atif membelokkan motornya ke arah kiri jalan. Lula kaget.


"Kok ke sini?" protes Lula.


Ini kan jalan masuk ke rumahnya Bu Tuzanah.


"Aku belum siap, Pih." seru Lula.


"Tutup mukamu kalau masih malu." titah Atif.


Lula memejamkan mata, menyembunyikan mukanya pada punggung Atif. Perasaannya cpur aduk saat itu, grogi, nervous, minder.


Rasanya aku ingin sekali menaruh mukaku di pantat saja kalau bisa. Kenapa mendadak begini sich? seenggaknya ngomong dulu kek, jadi aku kan bisa mempersiapkan diri, dandan yang cantik, enggak dadakan kayak gini, baru pulang kuliah, belum mandi, dandanan udah luntur. Lula menggerutu di dalam hati.


Sampai di depan gang masuk menuju rumah Bu Tuzanah, Atif memarkirkan motornya di depan rumah yang kedua.


"Anterin pulang saja yuk, Pih." ajak Lula mencoba menolak.


Lula turun dengan pergerakan yang sangat lambat, bahkan lebih lambat dari bekicot. Tak bisa dilukiskan dengan kata-kata bagaimana bentuk mukanya saat ini.


"Sudah terlanjur ke sini masa mau pulang, mereka pasti sudah melihat kita. Ayo masuk!" bujuk Atif.


"Pipih duluan lah," pinta Lula.


Atifpun segera menggandeng tangan Lula dan menyeretnya perlahan masuk lewat pintu samping, sampai di ruang tengah. Tak berhenti di situ, Atif masih menggenggam tangan Lula menuju ke ruang tamu. Ternyata di dalam rumah sudah berkumpul keluarga Atif.


"Perhatian, ada yang mau kenalan nih." seru Atif yang membuat pandangan mereka yang ada di sana beralih fokus pada Atif dan Lula.


Lula merasa tubuhnya seperti di atas bongkahan es.


Ya Allah, beri aku kekuatan supaya tidak pingsan.


Mau tidak mau Lula akhirnya melepaskan tangan kanannya dari genggaman Atif, dan memaksakan tangannya meraih dan mencium tangan mereka yang ada di sana satu persatu sambil mengucapkan kata " Alula."


Kemudian duduk di salah satu resbang kuno bersebrangan dengan tempat duduk bapaknya Atif dan Ibu Tirinya.


"Pulangnya mana?" tanya pria yang usianya kira-kira 50 tahun ke atas, Lula yakin itu bapaknya Atif.


"Welo, Pak." jawab Lula singkat.


"Dia anaknya Almarhum Pak Muri, Pak." Atif menimpali.


Mbak Rahayu yang ada di ruang tengah bergegas ke ruang tamu.

__ADS_1


"Oh, anaknya Pak Muri, berarti kakaknya Husnan?" tanyanya.


Kakaknya Husnan kan sudah meninggal, namanya Laila.


"Saya adiknya Mas Husnan, Mbak," tutur Lula.


Apa wajahku terlalu tua, sehingga banyak orang yang mengenal kakakku bilang kalau aku ini kakaknya, huh. gerutu Lula dalam hati.


"Pak Muri itu guruku dulu waktu di MTs, Husnan itu adik kelasku." tutur Mbak Rahayu.


"Apa Njnengan kenal Lek Badriyah juga?" tanya Lula.


"Iya, dia teman sekelas ku." jawab Mbak Rahayu.


Akhirnya entah sejak kapan, hilang sudah ketegangan, grogi, minder dan lain-lain dari tubuh Lula, karena kehangatan sambutan mereka.


Ternyata mereka berkumpul saat ini karena hendak melakukan sangsangan atau Talenan ke rumah calon istrinya kakaknya Atif, Amin Fadholi yang berada di Desa Dororejo.


Dan rumah yang mereka tempati saat ini bukan rumahnya Atif melainkan rumah pamannya Atif yang bernama Abu Mudah.


Setelah sholat maghrib rombongan pengiring sangsangan pergi meninggalkan kampung. ini. Tinggallah di rumah pak leknya Atif hanya Lula dan Atif. Mereka pun juga akhirnya pergi meninggalkan rumah tersebut, karena Atif mengantarkan Lula untuk pulang.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Satu Minggu kemudian lagi, masih hari yang sama. Lula baru sampai di kampus. Saat memasuki kelas sudah ada Yanti di sana.


"Bu Lul, Bu Sri mana? katanya mau nglotek, nih tak bawakan mangga." seru Yanti menanyakan Bu Sri.


"Tadi Bu Sri ijin tidak masuk, kenapa nggak bilang sama aku? kalau bilang kan aku buatkan sambalnya." sesal Lula yang tiada guna. "Mana mangganya?" tanyanya.


Yanti menaruh di meja mangga yang tadi diumpetin di bawah bangku, masih terbungkus kantong kresek hitam. Lula mengambil kantong tersebut lalu membukanya.


"Wuih, Pelem adas atau cengkir(Indramayu). Udah gemadung(hampir matang) lagi," seru Lula kegirangan. "Buatku saja satu ya!" pintanya.


"Ambil saja semua, sudah terlanjur kubawa, daripada kubawa pulang lagi, mplesirke pelem tok(Ngajak piknik mangga doang)." seloroh Yanti.


"Ini nanam sendiri, Yan? Satu saja dech, yang lain juga pengen kali." Lula hanya mengambil satu dan dimasukan ke dalam kantong kresek yang selalu dibawa di kantong tasnya buat jaga-jaga kemudian dibawa di dalam tasnya.


"Iya, aku metik di halaman rumah." jawab Yanti.


.


.


Sepulang kuliah,


Seperti biasa Atif menjemput Lula di depan kampus, tetapi kali ini ia membawa motornya melewati jalur barat. Saat sampai area pasar Kedungwuni, dia memarkirkan motornya di depan salah satu toko depan pasar.


"Ayo!" Atif menarik tangan Lula, tidak sabar menunggu pergerakan Lula yang seperti cacing. Ia menyeret masuk ke dalam sebuah toko emas.


Kasar banget sih sama pacar, nggak ada romantis-romantisnya. Gerutu Lula.


.


.


.


Ajaklah kekasih untuk kencan,


Meski tiap hari bertemu dengannya.


Terimakasih kuucapkan,

__ADS_1


Atas like dan komennya.


Tararengkiuh๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2