
Lula tengah berada di semester akhir masa kuliah, skripsinya baru pengajuan judul dan sudah di ACC. Kini ia sedang membuat bab 1. Kebetulan ada rombongan mahasiswa yang mau bimbingan ke Semarang. Sebelum datang untuk konsultasi bimbingan, ia harus punya janji dengan dosen pembimbing. kebetulan ada 7 orang yang pembimbingnya sama.
Lula ikut rombongan bimbingan skripsi, mereka berangkat dengan mobil, Pak Den yang menyetir mobilnya. Lula dan kawan-kawan berangkat pukul 9 pagi dari rumah Pak Den. Ada 9 orang yang akan maju bimbingan.
Rombongan sampai di kampus sudah hampir waktu Dhuhur, mereka memutuskan untuk istirahat sekalian makan dulu di warung nasi di depan kampus. Setelah itu melaksanakan sholat dhuhur bagi yang sholat.
Sekitar jam satu siang baru rombongan menuju ke ruang dosen yang berada di kantor lantai 2. Lula dan Bu Sri kebetulan dosen pembimbingnya sama yaitu Pak Dekan langsung yang saat itu dijabat oleh Bapak Prof. Asro'i Thohir, MSI.
Sesuai dengan janji di SMS, bahwa Pak Asro'i akan menerima bimbingan skripsi bakda dhuhur.
Mereka duduk di kursi yang disediakan untuk menunggu giliran maju ke ruangan dosen pembimbing. Lula yang merasa grogi memilih untuk maju terakhir kali.
Satu persatu mulai terkikis, kini giliran Lula untuk masuk ke ruangan Pak Dekan. Lula duduk di kursi dengan keringat dingin merembes melalui pori-pori kulitnya. Ia menyodorkan proposal skripsi di hadapan Pak Dekan.
Pak Dekan langsung memeriksa proposal skripsinya Lula. Beliau nampak menuliskan catatan pada beberapa lembar yang harus diperbaiki.
"Buku panduannya mana?" tanya Pak Dekan.
Lula segera mengambilnya dari dalam tas kemudian menyodorkan di depan Pak Dekan.
"Ini, Pak," ucap Lula.
Pak Dekan mengambil buku tersebut, lalu menuliskan sesuatu pada kolom catatan.
"Perbaiki sistematikanya! di buku panduan penulisan skripsi sudah ada," tukasnya pada Lula.
"Baik, Pak. Terimakasih," ucap Lula.
Lula paling terakhir sendiri saat bimbingan, sehingga ketika ia keluar dari ruangan dekan, mereka sudah menunggu di warung sebagai tempat transit, hanya Bu Sri yang menunggunya di depan ruangan tempatnya menunggu antrian tadi.
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore ketika Lula sampai di bawah, mereka memutuskan untuk sholat ashar terlebih dahulu.
Pukul lima sore akhirnya mobil rombongan telah meninggalkan kampus.
Dua Minggu kemudian masih dengan personil yang sama, rombongan kembali ke kampus Semarang untuk konsultasi bimbingan skripsi, ternyata milik Lula masih tetap revisi.
Lula mengetik skripsinya dengan komputer milik MI, karena ia belum mampu membeli laptop yang waktu itu paling murah harganya mencapai 35 juta rupiah, berbeda dengan jaman sekarang, 2,5 juta saja sudah bisa dapat notebook baru.
Lula mengetiknya saat teman-teman kantornya sudah pada pulang, ia pulang sore hari sendirian.
Kebetulan Mbak Sholihah mengajak bimbingan menyewa mobil. eh, bukan menyewa mobil ding, pakai mobil dia cuma menyewa sopir itupun temannya sendiri.
Jumlah yang mau bimbingan ada empat orang, Lula, Bu Sri, Mbak Shol dan Imas besar. Saat perjalanan berangkat ke Semarang tiba-tiba mobil yang mereka tumpang mogok ketika sampai di wilayah Kabupaten Batang. Setelah menunggu kira-kira satu jam, akhirnya mobil dapat berjalan kembali.
Hasil bimbingan kali ini Lula sudah dipersilahkan untuk membuat bab II, Alhamdulillah. Bisa pulang dengan perasaan lega.
Saat perjalanan pulang, Mbak Shol meminta kepada Mas Yasir, sang sopir untuk mampir di sebuah desa di kecamatan Kaliwungu Kendal untuk membeli kerupuk pasir atau kerupuk usek khas kaliwungu.
Di tempat pembuatnya, kerupuk itu dijual 10 ribu dapat 3 bungkus, kalau di pinggir jalan dijual dengan harga 5 ribu per bungkus(dulu).
Lula membeli 6 bungkus untuk oleh-oleh di rumah dan teman-teman di MI.
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸🌸
Waktu terus bergulir
Roda kehidupan terus berputar
Hari berganti Minggu
Minggu berganti bulan
Bulan berganti tahun
Bulan Muharram telah datang, saatnya kita merenung dan memperbaiki diri.
Tahun ini haruslah lebih baik dari tahun kemarin. Perbanyak ibadah dan hindarkan berbuat dosa.
Seperti tradisi sebelumnya setiap tanggal 1 Muharam setiap tahun, BADKO TPQ Kabupaten mengadakan karnaval yang diikuti oleh seluruh TPQ di Kabupaten Pekalongan. Setiap TPQ mengirimkan armada berupa mobil elsafet yang dihias sedemikian rupa.
Pagi-pagi sekali Lula sudah siap dengan pakaian atasan putih dan rok berwarna hitam untuk mendampingi anak-anak siswa TPQ yang ikut karnaval.
Jadwal berangkat jam tujuh pagi ternyata molor sampai jam delapan, karena mobil yang harusnya sudah dihias dari tadi malam, ternyata dipakai dan baru datang jam tujuh pagi, akhirnya nunggu mobil dihias dulu, baru bisa berangkat.
Rombongan berkumpul di alun-alun Kajen sebelum berkeliling di sepanjang jalan dengan rute Kecamatan Kajen, Kecamatan Karanganyar, Kecamatan Wonopringgo, Kecamatan Kedungwuni, Kecamatan Buaran, Kecamatan Karangdadap dan terakhir Kecamatan Doro selanjutnya pulang ke rumah masing-masing.
Lula teringat perkataan Atif waktu itu, setelah ganti tahun Lula dan Atif baru boleh menikah. Lula sudah tidak sabar untuk menanyakannya pada calon suaminya tersebut. Malam harinya ia melakukan panggilan telepon.
Telepon tersambung dan diangkat,
"Assalamu'alaikum, Mih," sapa Atif dari ujung telepon sana.
"Lagi nyambung kain," jawab Atif.
"Nyambung kain? Masih masuk waktu shalat maghrib loh ini, rajin amat," ucap Lula.
"Kan biar bisa dikumpulin," tepis Atif.
"Dikumpulin buat apa?" tanya Lula.
"Buat ngelamar kamu, Mimih," jawab Atif.
"Oh, iya. Kapan itu? Ini sudah ganti tahun lho, Pih," Lula mengingatkan.
"Nanti, Pipih tanya sama Bapak dulu, Mimih yang sabar ya!" jelas Atif.
"Aku selalu sabar kok, Pih. Nunggu bertahun-tahun saja sabar, apalagi yang tinggal beberapa waktu," jawab Lula.
"Udah ya, Mih. Pipih mau melanjutkan cari uang dulu," pamit Atif.
"Iya, Pih. Cari uang yang banyak ya!"
"Siap, Mimihku Cayank," sahut Atif.
Lula menutup panggilan teleponnya dan meletakkannya di meja kamar.
__ADS_1
Bererapa hari kemudian Atif memberi kabar tentang tanggal pernikahannya dengan Lula jatuh pada 17 Februari bertepatan dengan 14 Robiul Awal. Sebulan sebelum hari H datang utusan dari keluarganya untuk menyerahkan Mahar dan biaya pernikahan.
Lula menggunakan uang Mahar tersebut untuk membayar ranjang besi. Mengapa memilih ranjang besi? biar tidak dimakan rayap, di kamar Lula rawan sekali dengan rayap.
Ternyata tanggal pernikahan Lula berada dalam jadwal PPLnya di di Mata Syahid. Jadwal PPL selama satu bulan dari tanggal 10 Februari hingga tanggal 9 Maret. Juga bertepatan dengan acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul Panembahan Ki Ageng Welo, seorang Aulia yang berjasa dalam penyebaran ajaran agama Islam di daerahnya.
Di TPQ juga ada kegiatan ulangan semester, dan pada malam tanggal 13 Robiul Awal akan ada kegiatan pawai obor keliling kampung.
Kepada kepala Madrasah Pak Tardjuki, Lula hanya meminta izin untuk PPL, sementara untuk izin pernikahannya menggunakan undangan, karena hari pernikahannya berada di dalam jadwal PPL.
Sore hari sebelum jadwal PPL dimulai, para peserta dikumpulkan untuk tinjau lokasi, ada 10 orang dalam 1 kelompok yang ditempatkan MTs Syahid Doro termasuk Lula. Setiap mahasiswa mengampu minimal 4 jam pelajaran per Minggu.
Benar-benar tak terduga, semua kegiatan bersamaan, sementara di MI sendiri kelas enam sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi Ujian Nasional. Lula sebagai pengampu mata pelajaran umum kelas enam juga harus bekerja lebih giat lagi untuk menggemblengnya.
Hari pertama PPL tiba, acaranya baru pembagian jadwal mengajar dan sasarannya adalah kelas VII. Lula baru mendapatkan 2 jam pelajaran dalam 1 Minggu.
Enam hari kemudian Lula sudah mulai tidak masuk karena di rumahnya sudah ramai, para kerabat sudah datang untuk membantu memasak. Sehabis Ashar rombongan pelamar datang menghantarkan lamaran.
Atif yang baru saja pulang dari ziarah ke makam almarhum bapaknya Lula sempat tertegun memandangi dekorasi pelaminan yang akan ia duduki bersama dengan istrinya besok pagi. Tradisi di daerah setempat, apabila orang tua mempelai putri telah tiada, maka sehari sebelum ijab qobul, calon mempelai putra akan ziarah ke makam orang tua calon mempelai putri untuk meminta ijin.
Pagi hari, Lula sudah didandani dengan riasan sanggul berhiaskan bunga melati dan kebaya berwarna putih serta jarik sogan yang membalut tubuhnya. Ia duduk di bibir ranjang di dalam kamarnya di dampingi oleh saudara dan perias pengantin, menanti untuk dipanggil ke luar.
Sementara di ruang depan orang-orang sudah berkumpul demi menyaksikan proses akad nikah, Atif dengan balutan kemeja putih, jaz hitam dan sarung batik canting khas Pekalongan tengah siap untuk mengucapkan kalimat ijab qobul, meskipun hatinya grogi.
Husnan nampak tidak bisa menahan air mata, saat untuk kedua kalinya ia menggantikan ayahandanya yang telah tiada untuk menjadi wali dari pernikahan adiknya.
Akhirnya dengan satu kali tarikan napas, Atif dapat mengucapkan kalimat ijab qobul.
"Qobbiltu tazwiijaha wa nikahaha Li nafsii bi dzaalik."
Dan para saksi mengucapkan "SAH," do'apun dipanjatkan. Mempelai wanita dipersilahkan untuk keluar dari peraduannya. Atif beranjak untuk menyongsong sang istri, mereka dipertemukan di ruang tengah. Lula mencium punggung tangan Atif, Atifpun mencium kening Lula.
Mereka selanjutnya di antar masuk ke dalam kamar pengantin untuk melakukan sesi foto di sana. Hati Lula sangat bahagia akhirnya dapat menikah dengan orang yang dicintai, namun ia sedih teringat kepada ayahandanya yang tidak bisa melihat kebahagiaanya. itulah sebabnya foto-foto yang dihasilkan tidak ada satupun senyum di wajahnya.
Setelah sesi foto pernikahan selesai, kedua mempelai mengganti busana untuk acara resepsi. kini mereka tengah memakai baju sarimbit pengantin dengan warna hijau botol. Setelah siap, kedua mempelai di giring untuk menuju ke pelaminan.
Mereka duduk di sana hingga acara resepsi selesai. Saat tamu undangan mengucapkan selamat, mereka menyelipkan amplop ke telapak tangan Lula. Satu genggam amplop sudah Lula serahkan kepada adiknya, Nia. Namun yang terakhir masih ia genggam. Saat tukang foto mengarahkan untuk berpose, Lula meletakkan amplop-amplop yang tersisa tersebut di samping tempat duduknya semula.
Acara resepsi telah selesai, Lula dan Atif sudah berganti pakaian sarimbit batik. Lula melayani suaminya makan siang di dalam kamar pengantin.
Meskipun acara telah selesai, namun masih banyak tamu yang datang satu persatu silih berganti, karena kata mereka sekalian mau menghadiri pengajian umum dalam rangka haul dan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Saat waktu asar tiba, suasana rumah sudah sepi, hanya tinggal pengantin baru. Tamu sudah sepi, para rewang dan anggota keluarga yang lain juga sedang menghadiri pengajian. Lula mengajak suaminya sholat berjamaah. Selesai sholat mereka kembali masuk ke dalam kamar.
.
.
Happy reading
__ADS_1
Semoga suka
jangan lupa like n komen