Terlambat Menikah

Terlambat Menikah
Episode 4


__ADS_3

Pagi harinya seperti biasa Erania sedang membantu para pelayan menyiapkan sarapan. Nyonya Aselin keluar dari kamar.


‘Nia, gimana dengan keluargamu ? Ada masalah apa? Tanya Nyonya Aselin


“Kakek saya sedang sakit nyonya dan mereka harus merawat kakek saya. Juga karena ada tawaran kerja dari untuk pindah ke kantor cabang maka keluarga saya akan pindah” jawab Erania sedih.


“Ah, saya turut berprihatin. Lalu kamu bagaimana? “


‘Saya akan tetap di kota ini sampai kuliah saya selesai dan kemudian menyusul”


Tampak keceriaan di wajah nyonya Aselin mendengar jawaban Erania.


“Benarkah begitu? Saya sangat senang mendengarnya. Hmm, berarti jika akhir pekan kamu akan tetap di sini bukan? Erania kemudian mengangguk.


“ Bagus kalau begitu. Oh iya, sekarang kamu siap – siap. Dandan yang rapi kamu temani saya” lanjut nyonya Aselin berlalu tanpa menunggu jawaban Erania. Erania kemudian segera ke kamar dan melakukan perintah nyonya Aselin.


Mereka berangkat diantar supir. Sepanjang jalan mereka asyik bercerita tentang banyak hal. Tak terasa mobil mereka tiba di sebuah gedung bertingkat.


“Ayo turun” Nyonya Aselin kemudian keluar dari mobil diikuti oleh Erania.


“Maaf nyonya, kita mau ngapain ke sini?” tanya Erania ragu.


“Kita mampir sebentar, saya ada urusan” jawab nyonya Aselin kemudian menggandeng tangan Erania.


Karyawan yang berpapasan dengan nyonya Aselin menundukkan kepala menyapa nyonya Aselin. Mereka tampak berbisik – bisik. Ini pertama kalinya mereka melihat ibu pak Dito Bersama seorang wanita yang tampak masih muda dan cantik walaupun dengan penampilan yang sederhana.


Nyonya Aselin dan Erania sampai di ruang dengan tulisan CEO. Mereka masuk ke dalam setelah sebelumnya dipersilahkan oleh Dimas.


“Ma, kok gak kasih kabar dulu kalau mau ke sini?” kata Dito mencium pipi mamanya sambil melirik Erania.


“Emang ada aturan kalau mama harus izin dulu jika ingin ke kantor anak sendiri?” jawab mama Dito dengan wajah merajuk.


“Ya gak juga, cuman Dito kaget saja mama tiba – tiba datang”.


“Mama mau belanja sama Erania kebetulan dekat kantor kamu. Jadi sekalian saja mama mampir. Kalau gak gitu kapan lagi mama ketemu sama kamu” sindir mama Dito.


Dito hanya terkekeh mendengar sindiran mamanya. Sementara Erania duduk di sofa melihat drama ibu dan anak.


‘Baiklah ma, hari ini Dito nginap dan akan sering – sering pulang ke rumah”


Mama Dito yang mendengar senang, namun ia pura – pura berekspresi biasa.


“Benarkah? Kamu slalu saja seperti itu tapi apa kenyataannya? Ucap mama Dito dengan nada mengejek.


Dito yang melihat ekspresi mamanya menjadi canggung. Selama ini memang kenyataannya seperti itu.


“Ya sudah, ayo sayang kita pergi sekarang. Saya juga sekarang sudah gak peduli kalau anak ini mau pulang atau tidak” lanjut mama Dito menarik tangan Erania.


Dito yang melihat mamanya langsung berdiri memeluk mamanya.


“Ya mama kok gitu sih. Aku tuh anak mama masa iya kayak gitu. Dito janji deh malam mini Dito bakal pulang ke rumah”.


“Kalau kamu sudah di rumah baru mama percaya”

__ADS_1


Nyonya Aselin kemudian keluar dan pergi ke salah satu mall yang dekat dengan kantor Dito. Terlihat nyonya Aselin begitu antusias berbelanja.


“Erania, kamu pilih ya baju yang kamu suka” Nyonya Aselin berkata dengan mata fokus memilih pakaian.


Erania yang mendengar menjadi tidak enak hati, pasalnya ia tahu harga pakaian di tempat mereka sekarang mahal. “Ah, mending uangnya buat aku tabung,” guman Erania.


“Kok bengong sih. Ayo pilih.” Ucap nyonya Aselin ketika melihat Erania hanya berdiri.


Selesai memilih pakaian untuknya, nyonya Aselin lalu menarik tangan Erania ke jejeran pakaian untuk anak muda. Kemudian memilihkan beberapa gaun. Erania hanya pasrah saja karena ia tahu sifat nyonya Aselin yang tidak bisa ditolak.


Puas berbelanja pakaian, mereka kemudian tas, make up dan asesoris lainnnya. Nyonya Aselin terlihat sangat bersemangat. Setelah itu, mereka memutuskan untuk makan siang sambil beristirahat di salah satu restoran yang masih berada di dalam mall.


“Kamu tahu Erania, saya sangat senang. Sudah lama saya tidak melakukan ini karena tidak ada teman” ucap nyonya Aselin sedih.


Erania yang mendengar menjadi prihatin. Ia mengenggam tangan majikannya kemudian berkata “ nyonya tidak usah sedih, mulai  sekarang saya akan menemani nyonya kemanapun nyonya inginkan” .


“Terima kasih sayang, kamu memang yang terbaik”.


Pelayan datang membawa makanan yang telah mereka pesan sebelumnya, saat tengah asyik makan tiba – tiba Rinda datang menghampiri


meja mereka.


“Tante apa kabar?” ucap Rinda senang ia ingin memeluk nyonya Aselin namun di tepis.


“Kamu ngapain ke sini, masih berani ya kamu menemui saya. Dasar tidak tahu diri” balas nyonya Aselin marah.


Rinda yang mendapat perlakuan seperti itu di keramaian merasa malu, namun ia tetap berpura – pura cuek.


“Ah, tante Rinda minta ma… maaf Rinda gak bermaksud kok…” lanjut Rinda ragu. Belum selesai bicara langsung dipotong nyonya Aselin


“uh,,, dasar ibu – ibu cerewet awas saja nanti. Bagaimana pun aku gak boleh menyerah” ucap Rinda lalu ikut meninggalkan restoran tersebut.


*****


Tok..tok..tok.  Pintu ruang kerja Dito di ketuk


“Masuk” jawab Dito


“Bos, sudah sore. Apa bos akan pulang sekarang? Tanya Dimas


“Ah, iya. Saya akan pulang ke rumah. Tadi mama ke sini “ jawab Dito berat.


“Dim, bukannya tempo hari kamu bilang perawat mama itu teman Caca kan?”


“Iya bos, kata Caca sih begitu. Ada apa bos?”


“Apakah ia benar– benar baik? Mama ku sepertinya sangat menyukainya. Aku sampai dilupakan, dan sekarang mama malah sudah tidak pernah lagi menelponku meregek ini dan itu”.


“Caca bilang sih begitu, tapi aku belum pernah bertemu dengannya. Bos tahu kan kalo aku sibuk kerja ini dan itu”


Dito melempar pulpen yang ada di depannya mendengar jawaban Dimas.


“Jadi kamu sekarang mengeluh” kata Dito kesal.

__ADS_1


Dimas berhasil menghindar dari lemparan Dito “ Ya gak bos, aku kan hanya bercanda. Gitu saja marah” sambil tersenyum


“Dasar, kalau kamu gak mau kerja lagi aku bisa kok cari asisten lain. Pasti banyak tuh yang ngantri jadi asisten pribadi Aldito Wardana”


“Ya elah kumat lagi PD nya” guman Dimas melihat bosnya


“Gak kok bos, aku senang kerja sama bos, bener deh” sambil mengangkat tangan dengan jari telunjuk dan tengah berdiri.


“Ya sudah, kamu keluar sekarang, aku juga sudah mau pulang kok”


Sampai di rumah, Dito langsung ke kamarnya. Ia mandi dan bersiap – siap turun ke bawah untuk makan malam bersama. Saat hendak membuka pintu tanpa sengaja tangan Erani mengenai wajahnya karena hendak mengetuk kamar Dito.


“Maaf tuan, saya tidak sengaja” kata Erania menunduk


“Ada apa?”


“ Aku di suruh nyonya memanggil tuan untuk makan malam bersama.


“Iya, ini juga mau turun” jawabnya datar.


“Uh, dasar manusia es. Pantas saja belum menikah” ucap Erania yang masih terdengar Dito.


“Apa kamu bilang tadi” Dito berbalik ke arah Erania. Erania kaget,


“Gak kok tuan, aku gak ngomong apa -apa” jawab Erania. Dito kemudian pergi ke ruang makan diikuti Erania karena papa dan mamanya sudah menunggu.


Erania yang hendak ke dapur Bersama pelayan lainnya dipanggil.


“Erania, kamu mau kemana?” tanya Nyonya Aselin.


“ Saya mau ke dapur nyonya” jawab Erania


“Sini, mulai malam ini, kamu makan bersama kami ya”


“Tapi nyonya……”nyonya Aselin memotong pembicaraan Erania


“Gak ada tapi – tapian, duduk di sebelah Dito”


Dito tampak melirik mamanya sementara Erania berjalan pelan menuju kursi. Malam ini mereka makan berempat. Nyonya Aselin terlihat sangat Bahagia. Ia begitu perhatian dengan Erania. Ia menawarkan banyak makanan. Sementara Erania makan dengan gugup. Tuan Wardana hanya tersenyum melihat istrinya sangat bersemangat.


Selesai makan, semua mereka berkumpul di ruang keluarga bercengkrama. Erania kemudian ke dapur


mengambil buah – buahan untuk nyonya Aselin.


“Mama senang deh pa kalau tiap hari seperti ini apalagi papa tahu gak kalau Erania akan tinggal di sini sampai kuliahnya selesai


“Papa juga, sudah lama sekali kita gak  berkumpul. Emang kenapa bisa gitu ma?”


“Seluruh keluarganya sudah pindah pa ke luar kota. Ih, mama suka banget sama Erania pa”


 “Ya papa sih terserah mama saja, asal mama senang” jawab tuan Wardana sambil menepuk – nepuk bahu istrinya. Erania sudah tiba dengan membawa buah – buahan dan meletakkan nya di meja. Saat akan pergi lagi – lagi nyonya Aselin menyuruh Erania duduk. Erania duduk mengikuti perintah nyonya Aselin.


“Ah pa, bagaimana kalo Dito kita jodohkan saja dengan Erania?” lanjut nyonya Aselin

__ADS_1


“APA………” jawab Dito dan Erania bersamaan.


__ADS_2